
Setelah menghabiskan opor ayam pemberian ibu Alysa. Shata dan Tara memutuskan untuk berkeliling desa. Mereka memang terbiasa untuk berkeliling desa pada malam hari. Selain untuk alasan keamanan, ini adalah cara mereka untuk menghilangkan rasa bosan.
"Tumben sepi banget malam ini" Kata Shata memulai obrolan dengan sahabatnya yang sedari tadi hanya melihat kanan kiri.
"Iya nih, biasanya gak se-sepi ini. Jadi, kelihatan horor banget desa ini" Jawab Tara.
Tidak lama kemudian terdengar suara jeritan seorang wanita dari sebuah rumah yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri saat ini.
"Sayaanggg...!!Bangunn...!!Toloonggg...!!Toloongg....!!" Teriak wanita itu memecah keheningan malam.
"Kamu dengar?" Kata Tara
"Sepertinya dari rumah itu, ayo cepat kesana..!!"Jawab Shata dengan berlari menuju rumah yang dimaksud.
Sesampainya di rumah yang dimaksud. Mereka sangat syok karena melihat seorang pria yang sudah terkapar dengan bekas luka sayatan yang cukup besar dan dalam di pergelangan tangan serta lehernya. Hal inilah yang membuat darah berserakan dimana-mana.
"Ini kenapa? Ada apa?" Tanya Tara.
"Tolong suami saya..!! Cepat..!! Tolongggg.."Suara wanita itu yang kini mulai terdengar lirih akibat menahan rasa sesak di dadanya, melihat suami yang dicintainya telah sekarat.
Disisi lain, Shata hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Memberikan isyarat bahwa pria itu telah meninggal dunia.
"Tidaakkkk... !!! Tidakkk mungkinn... !!! Sayanggg....!!!! Kenapaaa....!!!" Jeritan wanita itu terdengar kembali.
Suasana malam itu sangat mencekam. Tetapi, anehnya tidak ada satupun tetangga mereka yang keluar dari rumah untuk membantu wanita tersebut meskipun suara jeritan sang wanita itu terdengar sangat lantang.
Pada saat memegang tangan pria tersebut, Shata menemukan sebuah kertas di genggamannya yang ternyata merupakan surat bunuh diri bergambar mawar hitam disetiap sisi kertasnya. Kemudian, dia berikan kertas tersebut kepada sang wanita.
Setelah membantu membersihkan jasad pria tersebut, merekapun pulang. Tidak ada sepatah katapun yang terucap selama diperjalanan.
Sesampainya dirumah.
"Aneh banget ya, apakah tetangga tidak ada yang mendengar suara jeritan selantang itu? Benar-benar tidak ada yang keluar rumah, Apa rasa kemanusiaan mereka sudah hilang?" Tanya Tara.
__ADS_1
"Entahlah, tapi ketika aku memegang tangan pria tadi, aku menemukan surat bunuh diri bergambar bunga mawar hitam di setiap sisi kertasnya dan aku berikan kepada wanita itu. Setelah membaca kertas itu, barulah wanita itu terdiam yang membuatku heran seketika. Padahal, kamu juga taukan tadi dia menangis dan menjerit sejadi-jadinya" Jawab Shata.
"Surat bunuh diri bergambar bunga mawar hitam di setiap sisinya"? Bukankah orang-orang menyebutkan siapa saja yang menolong membersihkan jasad orang seperti itu akan bernasib sama?" Jawab Tara menatap Shata dengan melotot.
"Apaaa mungkin kita akan berakhir seperti pria tadi? Ih.. Aku tidak mau, malam ini aku akan berdoa secara terus menerus kepada Dewa agar dihindarkan dari hal-hal seperti itu" Sambung Tara.
"Hussstt.. Ada-ada saja kamu ini. Itukan cuma rumor, buktinya aku tidak papa selama ini. Ini bukan pertama kalinya aku melihat surat bunuh diri dengan gambar bunga mawar hitam di setiap sisinya. Aku pernah melihatnya beberapa bulan lalu dengan kejadian yang sama persis seperti pria tadi, ada bekas sayatan di pergelangan tangan dan lehernya" Jawab Shata.
"Ha? Serius kamu? Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya kepadaku?" Jawab Tara.
"Untuk apa aku bercerita? Menurutku itu bukanlah hal yang penting. Saat ini yang membuatku penasaran adalah kenapa surat bunuh diri bergambar mawar itu hanya ada pada kejadian kematian para saudagar yang kaya? Apakah memang kebetulan atauu...." Jawab Shata.
"Atau jangan-jangan ini sebenarnya adalah kasus pembunuhan yang sudah di rencanakan?" Sahut Tara.
Shatapun hanya terdiam memikirkan hal yang sama dengan apa yang diucapkan oleh Tara.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan juga, sepertinya ini benar-benar kutukan bukan kasus pembunuhan berencana. Lebih baik kita ke kamar masing-masing dan meminta perlindungan dari Dewa, aku tidak mau kita berdua mati seperti pria itu" Sahut Tara.
Kemudian, mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Sesuai dengan perkataanya, Tara langsung memanjatkan doa sepanjang malam untuk meminta perlindungan dari Dewa. Sedangkan Shata, dia masih penasaran dan memikirkan ucapan Tara yang dipikirnya lebih masuk akal yaitu kasus pembunuhan berencana.
Beberapa hari kemudian, semua kembali normal. Seperti biasa Shata pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan yang mulai menipis di rumah. Dia membeli sekarung beras, beberapa butir telur, sayuran, dan ikan. Dia selalu mendapatkan diskon ekstra dari para pedagang sebab ketenarannya sebagai Sang Mata Panah.
*braakkk....*
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya memakai pakaian khas kerajaan menabrak Shata dengan sangat kasar. Kemudian wanita itu berkata "Dasar anak durhaka, tidak tahukah kamu seberapa menderitanya ayahmu selama ini? Akibat kecerobohan yang kamu perbuat ayahmu harus menanggung kepedihan di dunia ini". Setelah menyelesaikan perkataannya, wanita paruh baya itupun pergi meninggalkan Shata. Shatapun hanya terdiam dan bingung dengan apa yang telah di ucapkan wanita paruh baya tersebut. Tidak ada hujan, tidak ada angin tiba-tiba saja seseorang yang tidak dia kenal memarahinya dengan sangat kasar.
Shatapun melanjutkan perjalanan pulang, selama di perjalanan dia hanya diam dan merenungkan ucapan wanita paruh baya tersebut. "Apa yang telah aku lakukan? Bukankah ayah yang memutuskan untuk meninggalkanku sendiri? Bukankah selama ini ayah yang tidak mau ku temui?" Batin Shata.
Sesampainya dirumah, diapun bergegas untuk merapikan semua belanjaannya, memberikannya kepada Tara dan pergi ke halaman belakang rumahnya untuk berlatih memanah, meskipun dia telah mendapatkan julukan "Sang Mata Panah", dia tetap rajin berlatih dan meningkatkan kemampuan memanahnya.
"Nih, belanjaanya.. Kamu yang masak, aku mau berlatih memanah di belakang" Kata Shata.
"Bukannya kamu sudah jago memanah? Kenapa harus berlatih terus? Apa kamu mau memenangkan 100 juta ya? Lombanya tinggal 1 minggu lagi" Jawab Tara penuh semangat.
__ADS_1
Shatapun pergi ke halaman belakang rumahnya tanpa menjawab pertanyaan dari sahabatnya yang membuat Tara merasa sangat jengkel kepadanya.
Ketika sedang asyik memanah, tiba-tiba dia teringat ucapan wanita paruh baya yang mengenakan pakaian khas kerajaan. Ucapan yang dia tidak tahu apa maksudnya dan mengapa dia mengucapkan kalimat seperti itu, padahal ini pertama kalinya mereka bertemu. Dia berniat untuk menceritakan kejadian ini kepada sahabatnya, tetapi dia berpikir apakah hal semacam ini penting untuk diceritakan.
Tidak terasa 2 jam sudah berlalu, bau harum dari masakan Tara sudah tercium hingga belakang rumah. Membuat perut Shata menjadi keroncongan. Diapun mengakhiri berlatih memanahnya dan bergegas menuju dapur.
Ketika Tara hendak membuka pintu belakang, tiba-tiba Shata muncul.
"Aduhh..!! Sialan kamu, bikin kaget saja.. Baru saja aku mau memanggilmu untuk makan bersama, ternyata sudah disini" Ucap Tara dengan spontan.
"Hehehe.. Maaf, tadi harum masakanmu sampai keluar. Aku jadi lapar.. yuk cepet makan" Jawab Shata.
Mereka berduapun menyantap masakan sederhana yang telah di buat oleh Tara. Disela-sela makan, Shata mencoba untuk menceritakan kejadian yang dia alami di pasar pada sahabatnya.
"Eh bro.. Tadi ketika dipasar aku ditabrak sama wanita paruh baya, wanita itu mengenakan pakaian khas kerajaan" Ucap Shata sambil mengunyah makanannya.
"Suka sama kamu mungkin, katamu kamukan pria paling tampan yang pasti nomor dua setelah aku, hahahaha" Jawab Tara.
"Yee.. Gak nenek-nenek juga kali.. Tapi anehnya wanita itu tiba-tiba menyebutku anak durhaka dan membuat ayahku menjadi menderita hidup di dunia" Jawab Shata.
Seketika itu Tara menatap ke arah Shata.
"Serius?? Kenapa dia bilang begitu?" Tanya Tara keheranan.
"Aku juga gak tahu, setelah mengucapkan hal itu kepadaku, dia langsung pergi, akupun tidak sempat untuk menanyai apa maksudnya" Jawab Shata.
"Kalau dia memakai pakaian khas kerajaan, bisa jadi dia tinggal di kerajaan. Bagaimana kalau kamu.." Jawab Tara.
"Ssstttt.. Aku tidak pernah berpikir akan masuk ke kerajaan apalagi menjadi bagian dari mereka. Itu tidak akan terjadi" Sahut Shata.
"Ya daripada mati penasaran, lebih baik bertanyakan" Jawab Tara.
"Aku bisa bertanya pada ayahku, aku akan menemuinya sebelum perlombaan dimulai, aku akan berusaha membujuknya agar dia mau menemuiku" Jawab Shata.
__ADS_1
Merekapun melanjutkan untuk menghabiskan makanannya. Kemudian, berkeliling desa seperti biasa. Mereka berkeliling hingga larut malam dan keadaan desa lebih ramai. Setelah berkeliling merekapun pulang kerumah untuk mengistirahatkan badan dan pikiran mereka. Meskipun sebenarnya, pikiran Shata tidak pernah beristirahat karena dia selalu memikirkan mengapa ayahnya kini tidak mau menemuinya ditambah lagi dengan ucapan wanita paruh baya yang dia temui di pasar. Hal itu membuat pikirannya semakin ramai.