Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 214


__ADS_3

Dengan penuh cinta Ayyub menuntun istrinya keluar kamar menuju ruang makan. Meski sudah mandi ternyata tidak menutupi wajah lelah dari muka Neera.


"Duh.. yang habis ibadah, digandeng terus ya takut terlepas, gak ada penyembrangan disini" sindir Mama Ayyub saat mereka melewati ruang keluarga yang penuh dengan manusia yang sudah menahan tawa mereka.


"Bagus toh mbak, biar nambah cucu lagi" sambung Ama yang juga keluar sifat isengnya.


"Makan yang banyak kak, biar gak lemas mukanya" Uni yang entah dari mana datangnya ikut menimpali.


"Iri bilang Boss" cuek Ayyub yang tetap menuntun istrinya yang sudah memerah diwajahnya.


"Heleh.., jangan mau dikadalin Kak. Baik-baik tapi ada maksudnya" sindir Mama Ayyub kembali yang mendapat tatapan kesal dari putranya.


Rindu sekali rasanya Mama bercanda dengan putra kesayangannya itu. Beruntung kehadiran menantu terbaiknya telah mencairkan kebekuan yang selama ini terbentuk antara dirinya dan Ayyub.


"Apa, Papa, Abang, istrinya tolong dikondisikan itu, pada iri semua butuh kasih sayang tuh" kesal Ayyub yang kepalang tanggung sedari tadi sudah menahan malu akibat bullyan dari kedua mamanya.


Ucapan pria jangkung dan tegap itu menyulut tawa semua orang yang lagi berkumpul di ruang keluarga. Sementara dua sejoli itu sudah berlalu menuju meja makan untuk mengisi perut mereka.


Meski letih namun Neera tidak melupakan kewajibannya. Membuatkan kopi dan menyiapkan sarapan dipiring suaminya sementara Ayyub menarik kursi istrinya mendekat dan menyuapi wanita yang sangat dicintainya itu bergantian dengan dirinya.


Entah kenapa Ayyub selalu senang memanjakan Neera apapun alasannya. Ia begitu bahagia bisa melakukan hal kecil untuk istrinya itu dengan begitu dia merasa sedikit bisa menebus waktu yang hilang karena kesalahannya dimasa lalu yang membiarkan anak dan istrinya berjuang tanpa dirinya.


"Sayang yang banyak makannya. Muka Neera pucat sekali. Ayo buka mulutnya lagi" paksa Ayyub yang melihat istrinya kurang semangat.


Meskipun tidak mau Neera memaksa untuk makan demi melihat muka suaminya yang penuh harap. Ia hanya tidak ingin mengecewakan lelaki yang sudah mengisi ruang dihatinya itu.


Selesai makan dan membereskan meja makan Ayyub membawa istrinya yang sudah berwajah cerah itu ke ruang keluarga.


"Mana triplets Ma ?" tanya Ayyub yang tidak mendapati ketiga buah hati mereka.

__ADS_1


"Mereka jalan bersama kedua adik dan ponakanmu, katanya mau keliling kampung, mau lihat-lihat kerbau disawah" jawab Ama.


Lama mereka saling berbincang hingga akhirnya Ayyub mulai membuka pembicaraan serius kepada orang tua dan mertuanya.


"Pa, Ma ada yang ingin Ayyub bicarakan" buka Ayyub pada kedua orang tua dan mertuanya.


"Apa itu Nak ?" tanya Apa yang sudah mengalihkan perhatiannya dari laptop yang ada di meja. Lelaki paruh baya itu sengaja membawa pekerjaannya ke rumah setelah tadi pagi absen ke kantor.


"Ayyub ingin untuk memberitahukan tentang penikahan kami ke publik Pa, Ma" ujar Ayyub yang diangguki oleh keempat orang tua mereka.


"Bagus juga pemikiran kamu Nak, sehingga nantinya tidak ada lagi fitnah ataupun berita miring jika kalian pergi keluar" ujar Papa.


"Benar kata Papa kalian, lagi pula sekarang kalian berdua sudah sama-sama punya nama. Kedepannya akan banyak rintangan dan badai yang menerpa rumah tangga kalian. Dengan mengumumkan perihal pernikahan kalian mungkin saja dapat menyingkirkan duri yang mungkin saja bisa menamcap disana. Toh juga kabar baik itu harusnya disiarkan" sambung Apa.


"Mama juga setuju, tapi bagaimana dengan Neera apakah kakak baik-baik saja dengan hal ini mengingat belakangan berita tidak sedap terus menerpa keluarga kami. Nama kakak akan ikut terseret kedalam masalah ini Nak" sedih Mama Ayyub.


Ayyub dan Papa yang sebelumnya tidak berfikir sampai kesana menjadi bungkam. Benar juga apa yang dikatakan oleh mama perihal kasus yang akan memperburuk citra istrinya dimata publik. Sementara Neera sudah susah payah berjuang untuk mencapai kariernya.


"Benar yang dikatakan Ama kalian, kita memiliki niat baik. In Syaa Allah ada kebaikan juga yang mengiringinya. Jangan ragu untuk melakukan sesuatu yang benar. Toh bisa jadi dengan hal ini bisa menutup semua masa lalu yang sudah kita berusaha perbaiki" saran Apa yang diangguki kedua besannya.


Papa dan Mama sangat bersyukur sekali akan kehadiran Neera di keluarga mereka. Tidak hanya mendapatkan cucu yang pintar, sholeh dan lucu mereka juga diberikan keluarga yang baik. Bahkan dengan apa yang telah mereka lakukan di masa lalu tidak lantas membuat keluarga besannya itu dendam malah mendukung dan membantu mereka melewati badai besar ini. Sungguh keluarga hangat dengan hati yang besar dan ketulusan yang nyata.


Mama lantas memeluk Ama dengan menyusut air mata yang menggenang dipelupuk matanya.


"Terima kasih kalian sudah menerima kami dengan sangat baik. Kami akan selalu mengingat kebaikan keluarga kalian sampai kapanpun. Terima kasih juga sudah sudi memaafkan kesalahan kami terutama saya dimasa lalu" tangis Mama yang masih setia dipelukan Ama.


"Sama-sama Mbak, yang berlalu biarkanlah berlalu dan menjadi pembelajaran bagi kita. Mati kita tatap masa depan dengan bersama membesarkan anak dan cucu kita" balas Ama sembari mengusap lembut punggung besannya.


"Yasudah kalau begitu, Papa akan siapkan press conference ujung minggu ini. Berarti kalian akan ikut Papa dan Mama pulang ke ibu kota" ujar Papa.

__ADS_1


"Iya Pa, tapi Ayyub rasa Ayyub tidak akan membawa serta triplets. Mereka biar tinggal disini karena Ayyub tidak berencana mengenalkan mereka ke publik. Biar mereka menikmati masa kecilnya dulu nanti pada saat dibutuhkan baru akan kami kenalkan. Ayyub takut akan keselamatan mereka jika sekarang Ayyub mengexpose mereka Pa, Ma" ujar Ayyub yang kembali diangguki orang tua mereka.


"Apa rasa itu keputusan yang baik. Lagian kalau nanti publik tau mereka bisa menjadi sasaran para pencari berita dan kehilangan kebebasan bermain mereka" ujar Apa.


"Baiklah kalau kalian sudah sepakat seperti itu. Kita akan berangkat ujung minggi ini yang berarti lusa karena Papa juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama" ujar Papa.


"Baiklah Pa, Ama Apa kami titip triplets disini ya Pa, Ma untuk dua tiga hari. Kami akan berusaha secepatnya kembali" pinta Ayyub pada mertuanya.


"Tenang saja Nak, triplets aman disini. Tentu saja Apa dan Ama akan memberikan yang terbaik untuk cucu yang menggemaskan itu. Kalian jangan khawatir dan ambil waktu kalian" balas Apa sembari menepuk bahu menantunya.


"Terima kasih banyak Apa, Papa, Ama, dan Mama kami sangat beruntung sekali memiliki orang tua seperti Apa Papa Ama dan Mama" ucap Ayyub yang hendak menyalimi orang tuanya.


Namun pergerakan itu terhenti tatkala ia sadar bahwa perempuan disampingnya yang dari tadi menunduk dan bersandar ternyata sudah tertidur di lengannya.


"Loh, Ama kira tadi istrimu lagi khusyuk mendengarkan kita ternyata malah asik tidur. Aneh sekali dia" tawa Ama yang juga menyadari bahwa putrinya telah tertidur.


"Haha lucu sekali putri kita ini" sambung Papa yang juga terhibur melihat kelakuan menantunya.


"Sudah, sudah tidak usah dibangunkan Nak. Bawa saja istrinya tidur ke kamar dan biarkan dia istirahat" ujar Apa yang diangguki Ayyub.


Setelah pamit pada keempat orang tuanya yang masih tertawa Ayyub menggendong istrinya ala bridal style menuju kamar mareka untuk ditidurkan.


"Ditidurkan ya Nak jangan ditiduri" kekeh Mama yang masih usil pada putranya.


Perlahan Ayyub membaringkan istrinya yang terlihat lelap sama sekali tidak terganggu dengan pergerakan mereka.


"Haha Neera lucu sekali sih sayang, bisa-bisanya tertidur saat semua orang lagi berbincang" gemas Ayyub yang masih memandangi wajah pulas istrinya yang terlihat sangat cantik.


Apalagi bulu matanya yang lentik saling bertabrakan saat kelopak mungil itu tertutup. Hidung yang mungil tapi sedikit mancung dan bangir, bibir yang mungil membuat wajah itu terlukis sempurna.

__ADS_1


Berkali-kali Ayyub mengusap lembut wajah istrinya sembari mengecup lembut karena gemas namun istrinya sama sekali tidak terganggu dan masih pulas dalam tidurnya.


__ADS_2