Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 117


__ADS_3

Malam itu manager umu hotel tengah disibukkan oleh panggilan pada bos besar pemilik hotel yang tak kunjung dijawab. Berkali kali ia mencoba untuk memberitahuan bahwasanya ada orang yang mencari istrinya dengan berbagai alasan bahkan alasan kenalan dekat.


Sebagai pegawai tentunya ia takut salah jika memang benar itu keluarga atau kenalan dekatnya tantu saja akan jadi masalah jika tidak diinfokan akantetapi jika tidak maka lebih parah lagi.


Bagaikan makan buah simalakama mereka manantikan sambungan akan diangkat oleh suara tegas itu bukannya suara mbak operator yang terus mengusik mereka.


Akhirnya mereka memutuskan untuk meminta saja data diri penanya tersebut dan berjanji akan menginformasikan jika nanti dapat mengabari orang yang dimaksudkan oleh tiga orang perempuan asia itu.


Sedangkan di negara lain pihak kampus Neera juga tengah sibuk menghubungi dosen muda itu mengabarkan hal penting perihal ia yang menjadi pembicara seminar ilmiah mengetahui penelitian mereka terakhir kali.


Hingga pagi barulah mereka sadar bahwasannya ponsel mereka mati entah sejak kapan dan lupa untuk diisi baterainya.


Selapas subuh Neera sudah mengisi daya ponsel mereka dan segera ia menghidupkan takut jika nanti ada telepon penting.


Benar saja, sebuah pemberitauan mendadak karena jadwal tiba-tiba badan institusi dunia mengenai perihal penelitian tim mereka akan datang untuk menindak lebih jauh.


Oleh sebab itu mau tidak mau Neera harus segera pulang agar bisa sampai tepat waktu walau bagaimanapun ia lah ketua tim penelitian tersebut. Tidak mungkin ia melimpahkan tanggung jawabnya pada rekan yang tergabung juga.


Dengan lemah lembut Neera memcoba meminta izin pada Ayyub untuk mempercepat jam terbang mereka secepat mungkin karena tidak mungkin ia mangkir dari tugas utamanya sebagai dosen.


Sebenarnya Neera takut berbicara pada Ayyub bahkan takut Ayyub akan tersinggung karena terkesan lebih mementingkan pekerjaannya tapi dengan do'a yang terus dirapalkan didalam hatinya Neera mencoba menjelaskan pada Ayyub duduk permasalahannya. Ayyub termasuk dalam kategori suami yang tegas disamping sifat manjanya pada Neera.


Bukannya marah Ayyub malah menawarkan untuk menggunakan jet pribadi agar sampai lebih cepat dan nyaman untuk anak-anak.


Tidak ada pilihan lain terpaksa Neera menyetujui usulan tersebut dengan syarat bukan Ayyub yang membawa karena ia tau suaminya itu masih sangat lelah dan jam terbangnya sudah penuh untuk dua minggu kebelakang karena bagi seorang pilot ada jam terbang maksimal tersendiri untuk menjaga keamanan dan kesehatan pilot itu sendiri dan orang lain.


Maka diputuskanlah mereka akan berangkat satu jam lagi yang artinya mereka sudah harus mengemasi barang pribadi mereka.


Sementara tim yang lain Neera biarkan bersantai sejenak disini dan akan kembali lusa untuk berjaga jika ada sesuatu yang sekiranya masih belum selesai diurus.


Neera dengan segala ketangkasannya bergerak kesana kemari mengemasi barang mereka semua dan menyatukannya dalam satu travel bag besar.

__ADS_1


Ayyub yang awalnya berniat membantu seketika cengo menyaksikan istrinya yang bergerak cepat tanpa peringatan.


Tidak membutuhkan waktu lama semua sudah selesai dibereskan bahkan pakaian ganti mereka juga sudah ia siapkan beserta topi, sunglasess dan sepatu semua lengkap dijejer si sofa.


Tinggal mereka mandi dan bersiap ke bandara. Dengan hati yang sedikit tidak tega terpaksa Neera membangunkan triplets dan memandikan mereka dibantu Ayyub.


Setelah selesai Neera memakaikan mereka baju dengan model dan warna yang sama. Baju model jumsuit berbahan jeans dengan tali ketas, bagian dalam dipasang kaos panjang dengan warna kuning dan bagian kaki kiri sedikit diangkat tinggi.


Dengan dipadu sepatu kets lucu dan topi dengan warna yang sama membuat mereka terlihat imut namun trendi.


Sementara Neera menggunakan blazer semi formal dengan bawahan celana dan tentu saja lengkap dengan hills. Terlihat simple namun mewah dengan hijab yang rapi dan riasan naturalnya.


Tidak lupa ia mengenakan sunglases dan masker sebagai penutup identitas diri. Sedangkan Ayyub seperti biasa menggunakan pakaian casual dengan warna yang sama dengan Neera.


Dengan langkah pasti mereka kembali melintasi lobi hotel dipagi itu melewati kesibukan orang-orang yang tengah berada di lantai bawah hotelnya.


Segera Ayyub membukakan pintu belakang dan membiarkan Neera dan triplets masuk sementara ia sendiri akan duduk dikursi penumpang bagian depan mengingat tripleta dan saat itu masih ngantuk dan gelendotan dengan bunda mereka.


Baru saja ia memegang tuas pembuka saat itu juga terdengar seseorang memanggilnya dari belakang dan baru ia sadari ternyata itu adalah Hanna diikuti kelurganya dan kelurga Ayyub sendiri.


Sesaat Ayyub tercengang sekaligus kaget bagaimana bisa ia berada pada posisi saat ini. Neera yang bingung kenapa Ayyub terlalu lama segera memanggil suaminya.


"Ayah, ada apa ? Kenapa lagi sekali yah?" teguran itu membuat Ayyub tersadarkan dari keterkejutannya.


Beruntung keluarganya masih di tengah lobi dan belum terlihat oleh Neera begitulah pikir Ayyub.


Saat itulah Ayyub kembali dilema, disisi lain ia ingin membawa Neera kehadapan keluarganya namun keadaan tidak memungkinkan karena disana juga ada keluarga Hanna.


Ia tidak ingin keadaan malah semakin runyam dan sulit untuk diselesaikan, ditambah lagi saat ini Neera juga sedang diburu waktu. Ia bingung harus memutuskan antara pergi dengan keluarga kecilnya dan mengabaikan keluarganya atau meninggalkan Neera dan anak-anaknya untuk menemui keluarga besarnya.


Neera yang memahami situasi segara mengetok jendela dan menyuruh Ayyub masuk sejenak.

__ADS_1


"Kenapa, ayah ada urusan penting yang harus diselesaikan ya ?" tanya Neera lembut.


"I..i...iya sayang, ayah harus menanda tangani beberapa berkas, tadi Mr. Edwar manager hotel nelpon ayah" gagap Ayyub yang terpaksa membohongi istrinya.


"Yasudah, kalau begitu baiknya kami bagaimana yah ?" tanya lembut Neera yang tidak ingin langsung memutuskan.


"Bagaimana kalau Bunda dan anak-anak berangkat duluan takutnya terlambat sampai bandara lagian bunda juga diburu waktu kan, kalau sempat nanti ayah susul ke bandara tapi jika tidak ayah pulangnya belakangan. Gapapa kan sayang ?" putus Ayyub sekaligus bertanya untuk memastikan pada istrinya.


"Iya gapapa yah, kami izin berangkat ya" putus Neera yang menyalami tangan Ayyub diikuti triplets.


"Iya sayang, hati-hati ya. Nanti telpon ayah kalau ada apa-apa. Semua sudah ayah pastikan siap dan di bandara nanti juga sudah ada yang menunggu untuk membawa kalian kepesawat" seru Ayyub pada Neera setelahnya menutup pintu itu


"Bye Ayaaah., Assalamu'alaikum" seru triplets dengan muka sedihnya.


Namun sebelum Ayyub benar-benar beranjak dari tempatnya Neera membuka jendela dan memanggil Ayyub kembali, Neera meminta tangan Ayyub dan meletakkan sesuatu ditelapaknya.


"Ohiya ayah handphonenya kelupaan, tadi kan ayah titip ke bunda habis nelpon jet pribadi ayah" tutur Neera dengan senyuman setelahnya ia menutup jendela dan memerintahkan sopir untuk jalan.


Saat itulah Ayyub terdasar akan kekhilafannya, diluar dugaannya ternyata Neera mengetahui kebohongannya. .


Entah alasan bodoh apa yang ia katakan bahwa manager hotel menelponnya sementara ponselnya sendiri dipegang oleh Neera sedari tadi.


Bahkan jika ia tidak salah kira Neera juga sudah mengetahui bahwa ada yang memanggil dirinya dan itu Hanna.


Salahnya membohongi istri yang begitu pintar malah ia terseret sendiri dalam kebohongannya seperti seorang idiot.


Ingin menghubungi istrinya namun saat itu Hanna sudah menghampirinya dan kembali gelendotan dilengannya meskipun langsung ia tepis.


Tepat saat itu Neera melihat dari spion tengah dan meneteslah air mata yang sedari tadi coba ditahannya.


Beruntung saat itu ia menggunakan kaca mata hitam dan maskernya, sehingga mampu menyembunyikan bulir bening yang menetes dengan sendirinya.

__ADS_1


Sembari mengeloni triplets yang bersandar padanya mencoba mengikhlaskan segalanya dan menyemangati hatinya sendiri.


__ADS_2