Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 144


__ADS_3

Rumah besar keluarga Kaisar saat ini terasa suram setelah kejadian beberapa saat yang lalu. Semua orang tengah pergi ke guanya masing-masing.


Sementara di ruangannya Tuan Kaisar masih sendiri setelah dua putranya keluar dan memastikan keadaanya baik-baik saja.


Cukup lama ia memikirkan bagaimana caranya membawa menantu dan cucunya kembali lagi agar ia tidak kehilangan mereka terlebih saat ia melihat betapa sedihnya istrinya yang bahkan belum sempat mencurahkan isi hatinya pada Neera tetapi harus menelan kekecewaannya lagi.


Lelah dengan pemikirannya lelaki paruh baya yang masih terlihat bugar diusianya itu segera beranjak menuju jendela besar yang menghadap kolam renang dan taman yang ada disekitarnya.


Disanalah Ayyub sering menghabiskan waktu semasa kecilnya. Putranya itu sangat menyukai olahraga air. Bahkan setiap ia memiliki banyak pikiran atau tidak bisa tidur, Ayyub akan berenang dan selalu menjadi pemandangan yang tidak pernah ia lewati dari atas ruangannya.


Drrrttt... drttt....


Tiba-tiba lamunanya terhenti oleh bunyi ponsel dari saku celanya.


Ayyub Calling...


"Assalamu'alaikum Pa, Papa dan Mama bagaimana keadaanya. Apakah semua baik-baik saja disana" ujar Ayyub dengan salam pembukanya yang menanyakan keadaan orang serumah.


"Wa'alaikumsalaam Nak, Alhamdulillah Papa baik, Mama sepertinya agak sedikit shock. Justru Papa mau tanya sama kamu, bagaimana dengan Neera dan anak-anakmu saat ini. Papa sangat mencemaskan mereka" balas Papa.


"Alhamdulillah mereka sangat baik. Triplets sedang tidur dan Neera sedang memasak di dapur. Ini juga Ayyub telepon Papa karena ada satu hal yang ingin disampaikan, Neera meminta Ayyub untuk mengundang Papa dan Mama makan malam di apartemen itupun jika Papa dan Mama tidak keberatan karena katanya ini tidak sopan tapi Ayyub tanyakan saja dulu. Jadi bagaimana Pa, apakah Papa dan Mama bisa ?" tanya Ayyub dengan nada ragu.


"Tentu saja bisa Nak, dimanapun itu asalkan makan bersama keluarga tidak ada salahnya. Toh Neera kalian juga sudah berkunjung ke kediaman utama. Tapi apakah benar Neera yang mengundang, apakah dia tidak masalah dengan hal yang terjadi tadi" tanya Tuan Kaisar tidak yakin.


"Kalau soal itu Papa tanyakan saja nanti pada orangnya langsung. Tapi undangan dinner ini memang darinya" tegas Ayyub pada Papanya.


"Baiklah, nanti InsyaAllah Papa dan Mama akan datang" jawab Papa Ayyub.


"Alhamdulillah jika begitu, kami tunggu di rumah ya Pa. Kirim salam untuk Mama, Ayyub tutup ya. Assalamu'alaikum" salam Ayyub.


"Baiklah, Wa'alaikumsalaam" tutup Tuan Kaisar dengan wajah sumringah.


Segera ia berjalan kerluar ruang kerja untuk menemui istrinya yang saat ini masih setia dengan tangis dan penyesalannya di kamar mereka.

__ADS_1


"Ma..., sudah dong nangisnya. Papa punya berita bagus ini buat Mama" seru Tuan Kaisar begitu masih mendapati istrinya masih berurai air mata.


"Memangnya ada berita bagus apalagi Pa, setelah semua yang terjadi" desah Mama.


"Hmmm, anak dan menantu kita mengajak kita makan malam di tempat mereka" ujar Papa antusias.


"Huhhh.... Papa ada-ada aja, tentu saja mereka akan makan bersama kita, wong mereka tinggalnya dengan kita semua" ujar Mama kembali.


"Lah, Ayyub kan tidak tinggal disini ma" bingung Tuan Kaisar.


"Hah ? Ayyub ? Bararti Neera yang mengundang kita makan malam ya Pa ?" kaget Nyonya Kaisar.


"Tentu saja, memangnya bisa siapa lagi" seru Tuan Kaisar.


"Kenapa bisa Pa, apa dia sudah tidak marah pada Mama ?" bingung Nyonya Kaisar.


"Sudahlah Ma, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Bukankah sudah Papa bilang, menantu kita itu memiliki hati selembut kapas" ujat Tuan Kaisar lembut.


"Baiklah, kalau begitu kita harus menyiapkan makan malam ini dengan baik, Mama akan suruh chef memasak dan mengantarkannya kesana" antuasias nyonya Kaisar.


"Ahh benarkah, apakah dia tidak lelah memasak sendiri Pa" bingung Mama.


"Mama....mama.... you know her better Ma" ujar Papa.


"Iya Pa, bagaimana mungkin mama tidak tau itu" desah nyonya Kaisar lagi.


"Yasudah, jangan sedih lagi. Mari kita bersiap-siap agar punya banyak waktu disana" ujar Papa.


"Apakah hanya kita berdua yang pergi Pa ?" tanya Mama.


"Papa rasa lebih baik begitu, Mama tau sendiri mereka tinggal di apartemen" ujar Papa.


"Baiklah, Mama akan bersiap dengan cepat" putus Mama.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu yang lama, keduanya telah rapi dengan pakaian santai namun elegant berjalan beriringan menuju pintu keluar.


Namun ditengah jalan mereka berjumpa dengan Nola yang sedang sibuk diruang televisi.


"Ma, Papa sama Mama mau kenapa" sapa anak perempuan mereka dengan riang tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Hanya hening yang menjadi jawaban, kedua orang tua itu mengacuhkan perkataan putrinya seakan tidak ada yang berbicara.


"Ma, mama kenapa sih gitu banget. Ya sorry sih masalah yang tadi. Biasanya Mama juga oke dengan hal itu. Jangan lebay deh Ma" cerocos Nola yang masih tidak mendapatkan respon.


"Ma, apaan sih. Apa karena sudah tua telinganya mulai budeg" ujar Nola yang seketika membuat Papanya murka.


"Apa begini cara kamu berbicara dengan orang tua, dimana letak sopan santun dan tata krama mu ?" hardik Tuan Kaisar yang membuat gadis itu tersentak.


Selama ini ia tidak pernah mendapatkan kemarahan Ayahnya sebelum masalah Neera terungkap. Ia terbiasa mendapatkan dukungan ibunya dan selalu dibiarkan melakukan apapun.


"Jawab, dimana mulut kurang ajar kamu yang berbicara kasar pada orang tua mu tadi" seru Tuan Kaisar lagi.


"Ma...Mama...." lirih Nola yang sudah sangat ketakutan melihat kilatan kemarahan di mata ayahnya.


Hanya keheningan yang ia dapat, Mama hanya bergeming dalam kebisuan tidak seperti biasanya akan membela apapun yang dilakukannya. Saat itulah ia mulai sadar bahwa ia tidak akan bisa selamat dari amukan Papanya.


"Mulai sekarang, kamu tinggal di kamar mu sampai kamu benar-benar menyadari kesalahanmu dan Papa akan menarik semua fasilitas termasuk kartu-kartu dan handphonemu. Bukankah seharusnya kamu sudah cukup dewasa untuk ini" ujar Papa tegas.


"Tapi Pa, mana bisa seperti ini" protes Nola.


"Kalau kamu tidak bisa segera tinggalkan rumab ini tanpa membawa apapun" final Papa Ayyub yang membuat Nola bungkam.


"Mama.... bantuin aku dong Ma" bisik Nola yang masih berusaha mendapatkan backingan.


"Tidak ada yang bisa membantumu kecuali dirimu sendiri. Jika kedapatan Riezka atau siapapun yang membantunya kalian lihat akibatnya. Semua orang disini akan mengawasi kalian termasuk cctv dirumah ini" ujar Papa yang kemudian berlalu diikuti Mama.


"Ish nyebelin banget sih Mama, ngapain cuma diam saja. Biasanya juga bantuin" rutuk gadis itu.

__ADS_1


Sementara nyonya Kaisar hanya mampu menelan air mata yang ingin keluar lagi. Beginilah hasil didikannya selama ini yang membuat putrinya bersikap seenaknya dan kurang ajar. Sungguh ia menyesali kenapa dulu ia tidak mengajarinya dengan baik.


Biarlah sekarang Papanya yang turun tangan sugguh rasa hormat putrinya sudah terkikis padanya hingga bisa melontarkan perkataan seperti tadi. Sudah cukup ia menjerumuskan mereka saatnya membetulkan apa yang sudah salah.


__ADS_2