Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 88


__ADS_3

Malam yang tenang mengantarkan keluarga kecil yang tengah tertidur nyenyak menuju peraduan.


Terlihat raga yang lelah beraktifitas seharian itu sedang mengistirahatkan setiap sel tubuh. Tiga malaikat kecil yang dijaga oleh kedua tubuh orang tuanya pada setiap sisi.


Sesekali terdengar binatang malam ditaman atau bahkan suara kendaraan membuat seorang gadis kecil terbangun merasakan lapar di perutnya.


Neera yang awalnya tertidur nyanyak sedikit terusik dengan gerakan tangan kecil yang menari mencari sesuatu didadanya.


"Kenapa sayangnya bunda bangun nak ?" tanya Neera yang mendapati gadis kecilnya dengan rambut berantakan yang terlihat sangat lucu.


"Bunda, neenee bunda" rengeknya sambil mengusapkan tangan pada matanya.


"Baiklah sayang, tapi berhentilah mengusap matamu cinta. Matamu nanti akan sakit" cegah Neera yang menghentikan gerakan tangan mungil itu.


"Bunda.., Qal mau neenee bunda" rengeknya lagi yang hampir menangis.


"Oh baiklah cintaku, kesinilah bunda akan memberikan apa yang putri kecil ini inginkan" akhir Neera yang tidak ingin seantoro rumah ini terbangun akibat lengkingan suara tangisan Qalundra.


Memang benar Neera ingin menyapih mereka. Karena bagaimanapun dua tahun adalah waktu untuk mencukupi ASI.


Tapi karena terlalu lama untuk membuat susu formula maka ia langsung saja memberikan ASI nya. Toh mereka juga masih dua tahunan terlebih lagi ASInya masih tetap keluar. Biar waktu saja yang menghentikan mereka.


Selain mereka tidak rutin seperti dulu ASI nya, menyusui juga berperan dalam KB alami. Toh saat memproduksi ASI tubuh akan mengalami peningkatan hormon tertentu.


Setengah jam menyusui, akhirnya si gadis kecil itu tertidur dengan posisi telungkup diatas bundanya.


Dengan perlahan Neera membenarkan posisi tubuhnya agar tidak sakit ketika bangun, juga memperbaiki pakaiannya agar nanti tidak ada tangan atau mulut nakal yang menyalahgunakannya.


Hingga pagi menjelang mentari menyeruak malu menampakkan semburat jingga menghiasi kelamnya langit Edinbrug.


"Bunda, neenee nda" rengek seorang bocah kecil yang menyelusupkan dirinya kepelukan Neera.

__ADS_1


"Wah sayangnya bunda sudah bangun, do'a dulu anakku sayang" tuntun Neera yang kemudian membacakan do'a dan mencium dahi putranya itu.


Ya, Qeenan yang terbangun dan langsung meminta susu sehabis dari tidurnya. Tanpa basa basi segera Neera memberikan ASI, bukan tanpa alasan.


Pertama ia begitu malas bangun dari tempat tidur, kedua toh ia sudah bertekad akan membiarkan waktu menghentikan mereka.


Lagian ini hal bagus juga sehingga bisa mencegah kehamilan, karena ia tidak ingin menggunakan KB apalagi sekarang anaknya masih terlalu kecil.


"Loh sayang, kok malah ASI lagi yang ?" suara yang memecah keheningan di pagi itu.


"Iya yah, biarin ajalah. Kasian juga mereka lagian gak tiap saat juga seperti dulu" jelas Neera.


"Yah..., Ayah harus berbagi lagi dong" sesal Ayyub.


"Ayah, ayah kenapa mau neenee bunda juga ?" kali ini suara Qaivan yang memotong protes Neera.


"Iya, ayah kan sudah besar. Tidak boleh neenee lagi" kesal Qalundra yang mendengar perdebatan saudara dan ayahnya.


"Itu beda, badan ayah sudah besar" balas Qal lagi.


"Iya, ayah juga sudah bisa bikin susu sendiri" dukung Qaivan.


"Iya ayah nanti malu kalau sudah besar masih neenee bunda, nanti ditertawakan teman ayah" satu kata menohok dari Qeenan yang secara gamblang menghentikan perdebatan mereka.


Ayyub seketika shock dan terdiam semenara Neera berusaha menahan tawanya melihat wajah jahil suaminya yang hendak mengerjai anaknya malah kalah telak oleh bocah tiga tahun.


"Sayang, anak kita kenapa mulutnya pedas sekali sih" bisik Ayyub ditelinga Neera.


"Lagian Uda, mulutnya gak dijaga dekat anak-anak rasain sendirikan akibatnya" ejek Neera.


"Kamu ya yang, nanti bakal Uda..." bisikan itu terputus oleh toyoran tanga mungil yang mengambil posisi ayah mereka.

__ADS_1


Ya, Qalundra. Gadis kecil itu juga ingin memeluk bundanya. Meskipun kini sang bunda masih menyusui kedua saudaranya.


Sungguh pemandangan yang menghangatkan, namun disisi lain juga menelangsakan bagi Ayyub.


Jelas saja, ia ingin bermanja-manjaan dengan Neera, terlebih lagi bermesraan merajut kasih. Siapa yang tahan sebagai suami jika didepannya dihadapkan dengan istri cantik nan sangat seksi apalagi dengan wajah bantalnya itu, sungguh menggemaskan.


Imannya sungguh tergoda melihat Neera pagi ini, tetapi ia harus mengalah demi buah hatinya. Salahnya juga mengatakan hal aneh pada ketiga bocah pintar itu. Sebenarnya mereka begitu turun dari siapa sih, terlalu pintar juga tidak baik untuk orang tuanya.


Jadilah Ayyub bangun duluan, membersihkan diri di kamar mandi dan melaksanakan ibadah subuh disusul Neera dan triplets.


Selesai sholat ketiga anak mereka sibuk bermain kejar-kejaran sementara bunda mereka juga sibuk di dapur, menyisakan Ayyub yang bekerja di ruang kerja yang dimilikinya dirumah itu setelah melakukan renovasi.


Jangan lupakan, selain pilot ayah tiga anak itu merupakan seorang pengusaha. Meskipun ia terlihat tidak selalu dengan seragam kantornya.


Saat ini ia memegang tiga perusahaan, satu perusahaan maskapai penerbangan tempat ia bekerja, kedua perusahaan orang tuanya dan yang terakhir perusahaan yang dirintisnya sendiri.


Perusahaan yang bergerak dibidang otomotif yang menjual berbagai kendaraan hingga menaunungi beberapa perusahaan lain seperti ekspor-import barang, travel, jasa sewa dan beli private jet beserta helikopter yang awalnya ia rintis untuk mencari istrinya yang hilang.


Hingga sampai saat ini Neera tidak pernah tahu bahwa ia memiliki perusahaan ini, yang istri cantiknya itu tahu bahwa ia seorang pilot dan memiliki saham di perusahaan penerbangannya itu.


Menariknya Neera, ia tidak pernah kepo mengenai pekerjaan Ayyub. Ia akan mempercayai jika suaminya itu mengatakan akan bekerja, maka hingga ia selesai sama sekali tidak ada gangguan kecuali panggilan untuk makan atau hantaran minum dan snack yang disiapkannya.


Bahkan triplets sendiri tidak pernah mengganggu bahkan sekedar memanggil jika ia sedang berada di ruang kerjanya. Entah bagaimana istrinya itu mengatur anak mereka.


Satu hal yang Ayyub syukuri ia merasa sangat nyaman berada di rumah ini. Karena istrinya itu selalu tau dan mengerti apa yang ia butuhkan tanpa harus ia ucapkan.


Benar-benar tempat ternyaman dimuka bumi ini adalah rumah. Meskipun Neera tidak pernah melarang untuk melakukan 'me time' bersama teman-teman tetap saja ia selalu ingin cepat-cepat pulang bersama anak dan istrinya.


Meskipun begitu ada hal yang selalu dikhawatirkan Ayyub. Istrinya itu terlalu mandiri dan tegar untuk ukuran seorang wanita bersuami.


Bagaimana tidak, ia bahkan bisa mengerjakannya sendiri. Contohnya saat ini, dipagi ia harus berangkat kerja ia juga mampu menyiapkan triplets sekolah dan setelahnya mengantarkan mereka jangan lupakan dengan sarapan dan bekal yang ia bawa.

__ADS_1


Meskipun ia sudah minta izin, tetap saja terasa begitu ringan peran Ayyub sebagai suami. Mungkin memang kehidupan yang membetuk ia seperti itu tetapi ia juga sudah berusaha menguranginya meskipun bagi Ayyub belum seberapa perubahannya.


__ADS_2