
Perjalanan terasa sedikit lengang saat triplets sudah tertidur di belakang dan kini tinggalah ayah dan bundanya yang saling berpegangan tangan.
Begitu juga saat sampai Ayyub dan Neera bekerjasama menurunkan ketiga buah hati mereka dan menidurkan mereka di kamar.
Sementara itu kedua orang tua mereka juga memasuki kamar masing-masing dan menyisakan para lelaki yang masih harus menurunkan barang.
Keluarga Uni Neera juga sudah berlalu ke kamar mereka begitu juga dengan Neera dan Ayyub yang sudah selesai menurunkan semua barang.
Keduanya memasuki kamar mandi bersama untuk menggosok gigi, mengambil wudhu dan mengganti baju tidur mereka.
Sebelum tidur keduanya akan sholat malam dulu berhubung kini sudah di sepertiga malam. Bermunajat bersama, menghadap Ilahi Robby dan mencurahkan segala rasa diatas bentangan sajadah.
Selesai dengan ibadahnya Ayyub berbalik dan menyodorkan tangan yang langsung disambut Neera untuk disalimi. Begitu juga dengan Ayyub yang langsung merengkuh wajah istrinya untuk diciumi.
Rasa kantuk sirna seketika saat mereka tadi sudah mengambil wudhu. Kini Ayyub menarik Neera keatas pangkuannya saat wanita cantik itu selesai melipat mukena dan membereskan kelengkapan sholat dirinya dan suaminya.
"Sayang Uda cantik sekali malam ini" rayu Ayyub sembari memberikan satu kecupan di bibir yang selalu menjadi candu baginya.
"Uda mah gombal" rajuk Neera dan menjatuhkan kepalanya di dada bidang itu.
"Serius cantik, sini lihat Uda dulu. Uda mau bicara serius sayang" ujar Ayyub sembari menegadahkan kepala istrinya dan memperbaiki rambut Neera yang sedikit berantakan.
"Ada apa Uda ? Ayo kita bicara di sofa biar Neera turun dulu" pinta Neera yang ternyata di tahan oleh Ayyub.
"Sudah sayang, jangan turun. Uda senang sekali Neera manja begini jadi Uda merasa sangat dibutuhkan menjadi tempat bersandar Neera. Jadilah bayi besar Uda yang nomor satu ya..." bujuk Ayyub yang lantas memberikan kecupan di kening istrinya.
"Uda ngomong apasih, nanti Neera manja malah kerepotan sendiri baru tau rasa, triplets aja udah keteteran" kekeh Neera.
"Uda mau memanjakan anak dan istri sayang, tidak pernah Uda merasa direpotkan sama sekali" pungkas Ayyub.
__ADS_1
"Yasudah.., sekarang apa yang mau Uda bicarakan" tanya Neera yang masih penasaran.
"Sayang, hmmm bagaimana jika seandainya kita press conference dan go public tentang pernikahan kita ?" tanya Ayyub ragu.
"Loh kok tiba-tiba ? Bukannya waktu itu Uda yang bilang kalau kita tutupin agar privasi kita terjaga ?" bingung Neera akan keputusan suaminya.
"Sayang, sekarang sudah berbeda keadaannya. Kita sudah menjadi spotlight di tanah air ataupun di mancanegara. Uda tidak ingin kita selalu terbatas ruang dan gerak demi menghindari paparazi" ujar Ayyub.
"Loh kenapa kita harus khawatirkan hal itu Uda ?" tanya Neera kurang mengerti, toh selama ini ia merasa aman saat bepergian kemanapun.
"Sayangku, kasus yang terjadi kemarin sudah memperkeruh keadaan dan menjadikan keluarga kaisar menjadi topik utama yang selalu diintai para pencari berita. Saat ini banyak saingan bisnis ataupun siapa saja yang mencari keuntungan untuk mencari celah dan menggoreng apapun kejadian yang terjadi di keluarga kita. Bagaimana jika seandainya jika mereka tau nanti kita pergi jalan bersama atau entah nanti kita ke hotel berdua, maka akan timbul fitnah baru yang akhirnya merugikan nama baik kita sayang" jelas Ayyub.
"Tapikan kita mana ada pergi ke hotel berdua sayang, jalanpun juga sesekali" protes Neera yang mulai curiga akan alasan Ayyub yang sesungguhnya.
"Ia, ia satu lagi yang menjadi hal mendasar Uda tidak mau ada orang lain yang mengganggu istri Uda yang cantik ini lagi dan semua orang akan tau bahwa Neera sudah menikah dengan Uda and i'm the one" ujar Ayyub yang sudah tidak bisa lagi berkilah dengan tatapan menyelidik istrinya.
"Unnch..., suami Neera yang ganteng, jealousan, dan posesive ini rupanya lagi mau deklarasi ya..., don't worry sayang, i'm yours" ujar Neera sambil menjambel pipi suaminya gemas.
"Darimana Uda tau itu semua. Uda cek handphone Neera ya..?" selidik wanita yang memicingkan sebelah matanya itu.
"Ah, em anu sayang. Uda gak sengaja lihat kemarin" kilah Ayyub yang berusaha bersikap biasa.
"Ih gemesnya suami Neera" ujar Neera sembari mengecup bibir Ayyub sekilas.
"Sayang, jangan mancing-mancing dulu. Kita selesaikan pembicaran ini dulu sayang" ujar Ayyub.
"Iya, iya yasudah terserah Uda saja. Keputusan ada di tangan anda kapten. Neera mah ikut aja sayang. Eh tapi bagaimana dengan anak-anak ?" tanya Neera lagi.
"Alhamdulillah kalau begitu, berarti nanti kita akan sampaikan hal ini pada orang tua dan mengenai anak-anak kita tidak ekspos dulu takut nanti mereka malah kehilangan privasi. Biar seiring berjalannya waktu, yang penting sekarang semua orang tau kalau kita sudah menikah" jelas Ayyub yang diangguki Neera.
__ADS_1
"Yasudah Neera mah manut sama suami disuruh apapun juga yang penting tidak melanggar ketentuan agama" ujar Neera yang kembali merebahkan kepalanya di dada yang penuh otot itu karena matanya sudah mulai ngantuk kembali.
"Masyaa Allah istri sholehanya Uda, berarti kalau disuruh ibadah malam juga manut ya sayang" bisik Ayyub sembari tangannya mengusap punggung Neera sensual.
"Ah Uda..., ngantuk" rengek Neera yang lalu menggigit dada liat itu.
"Auuu sayang sakit" ringis Ayyub yang lalu menjauhkan kepala istrinya.
"Salah sendiri, kenapa tangannya nakal" omel Neera yang berusaha merebahkan diri lagi tapi tertahan oleh tangan Ayyub.
"Sini mana mulut yang nakal itu, suka gigit-gigit" balas Ayyub yang langsung meraup bibir istrinya dengan bibirnya sendiri hingga ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi semakin panas.
"Modus" kesal Neera yang sudah kehabisan napas meladeni ciuman panjang suaminya.
Hanya kekehan yang keluar dari mulut lelaki tegap itu hingga bibir istrinya kembali menjadi sasaran ciumannya lagi.
Lama mereka saling menikmati hingga ciuman itu turun ke leher dan dada Neera. Begitu juga tangan yang sedari tadi juga sudah mulai menjelajah entah itu membelai, mengusap dan meremas semua terjadi begitu saja tanpa Neera sadari.
Lama kelamaan ini menjadi pergumulan apalagi mulut Ayyub kini sudah anteng menyesap, menggigit dan menjilat di bagian dada istrinya yang bulat berisi.
Sementara tangannya sudah nagkring di bagian bawah istrinya yang selalu menjadi tempat ternyaman bagi burungnya yang tak bisa terbang.
Tak ingin berdiam diri, tangan Neera juga tak ketinggalan mengusap, membelai dan mengocok tongkat sakti yang katanya bisa berubah ukuran itu.
Hingga terjadilah pergumulan antara keduanya. Peluh kian membanjiri saat Neera bergerak naik turun diatas pangkuan suaminya sementara satu tangannya membekap mulut sendiri karena tidak sanggup menahan suara yang nakal ingin keluar.
Begitu juga dengan Ayyub yang menahan erangan dengan menyumpal mulutnya dengan gunung kembar Neera yang bergerak naik turun seiring dengan pergerakan istrinya itu. Karena tidak tahan ia menyesap dan meremas bergantian sementara tangan yang satu lagi bertengger di bokong dan membantu istrinya bergerak naik turun dengan remasan juga.
Merasa gemas sendiri dan tidak tahan akhirnya Ayyub menidurkan istrinya tanpa melepaskan penyatuan mereka. Disana Ayyub memompa Neera yang sudah mulai terkulai lemas. Belum merasa puas Ayyub membuat istrinya menungging dan menunggangi Neera hingga akhirnya ledakan itu datang bersamaan yang membuat keduanya menegang dan ambruk secara bersamaan.
__ADS_1
Setelah berhasil mengatur napas keduanya memilih membersihkan diri. Ayyub menggendong istrinya yang sudah terkulai lemah. Memandikan tubuh mungil dengan aset yang besar itu dengan penuh cinta lantas memakaikan Neera baju bersamaan dengan dirinya sendiri.
Hal inilah yang selalu disukai Neera dari suaminya. Lelaki itu akan bertanggung jawab atas perbuatannya dan memperlalukan Neera selembut mungkin. Membuat Neera selalu melayani keinginan suaminya meski dalam keadaan letih sekalipun.