
Sampai di apartemen Ayyub dan Neera segera mengangkat tubuh kecil buah hati mereka dan berjalan beriringan.
Neera yang berjalan duluan sembari menggendong Qee menekan tombol lift dan memencet lantai tempat tinggal suaminya itu.
Sementara Ayyub mengikuti dibelakang dengan Qai dan Qal yang berada digendongannya.
Sampai di apartemen mereka menidurkan triplets dan segera menyelimuti mereka.
"Sayang, bersih-bersih dulu ya. Ganti baju, soalnya kita dari luar" sela Neera sebelum suaminya membuka mulut.
Melihat Ayyub yang sudah memasuki kamar mandi di kamar utama, Neera segera menyiapkan baju ganti Ayyub yang diletakkan diatas tempat tidur sementara dirinya meraih koper dan mengeluarkan serangkaian perawatan tubuh dan wajah. Mulai dari masker, scrub, lulur, aromatherapy hingga cukuran ia bawa beserta handuk dan baju ganti plus ponselnya.
Dengan segera Neera memasuki kamar mandi di kamar tamu dan memulai ritual perawatannya.
Biarlah ia dianggap gila melakukan hal itu dimalam hari asal hari ini saja ia bisa menghindar dari suaminya. Catat hanya menghindar bukan menolak karena tadi suaminya belum meminta saat sampai di apartemen.
Neera lalu memilih tidur di bathup yang masih kering sembari menunggu lulur dan maskernya selesai didiamkan.
Begitulah ia menikmati waktunya dengan merawat diri selama dan semaksimal mungkin sekaligus mencari alibi. Satu kali mendayung dua tiga pulau terlangkahi.
Beruntung saat Neera selesai setelah dua jam di kamar mandi Ayyub sudah tepar disamping anaknya dengan posisi telentang.
Tidak ingin mengganggu singa yang tertidur dan menyebabkan masalah bagi dirinya Neera memilih tidur di kamar tamu, mematikan lampu dan mengunci pintunya takut jika nanti terjadi hal yang tidak-tidak.
Biarlah untuk hari ini saja ia begitu licik, jika esok hari Ayyub meminta lagi maka ia akan siap sedia karena besok sudah tanggal amannya.
__ADS_1
Maka malam itu semua terlelap dengan damai mengistirahatkan badan yang lelah seharian berkecimpung dengan sibuknya ibu kota ditambah dengan emosi yang sudah terkuras abis.
Sementara dikediaman keluarga besar kaisar sayup terdengar suara tangisan seseorang yang begitu terdengar pilu. Dibalik selimut tebal ia menumpahkan segala rasa yang menghimpit di dada.
"Hei, ada apa ma. Kenapa menangis ?" tanya Tuan Kaisar pada istri yang sudah ia diamkan semenjak kemarin.
Mendapatkan belaian hangat dari suaminya membuat Nyonya Kaisar itu seketika berbalik dan menumpahkan segala tangis dan penyesalan di dada bidang yang masih terlihat bugar diusia bayanya.
"Mama menyesal Pa, mama takut mereka tidak akan memaafkan segala perilaku buruk mama di masa lalu. Mama sudah begitu kejam pada Neera, apakah masih pantas untuk mama menghadap menantu kita itu ?" lirih Nyonya Kaisar ditengah isak yang terus saja ditahannya.
"Sudahlah ma, kita sebagai manusia tempatnya salah dan khilaf. Mama tau, Neera merupakan anak dengan hati selembut kapas. Berjuanglah mendapatkan maaf darinya. Papa memang tidak membenarkan perbuatan mama dan anak-anak pada Neera tapi jika tau itu salah maka Papa akan mendukung mama untuk memperbaiki segalanya" tutur Tuan Kaisar yang telah melihat penyesalan diwajah istrinya yang biasa terlihat keras.
Bukan tanpa alasan Tuan Kaisar menjadikan mama Ayyub sebagai istri dan mempertahankan wanita itu disisinya. Sesungguhnya ia merupakan wanita yang baik dan penyayang namun rasa sayang nya yang berlebihan pada anaknya itulah yang membuat ia gelap mata dan mudah saja terhasut oleh anak dan menantunya bahkan oleh Vina saat itu.
Adapun kedua putrinya akan ia selesaikan nanti apakah mereka memiliki penyesalan atau tidak.
Ia akan mengajari mereka dengan caranya karena tidak ingin kedua putrinya itu semakin membenci Neera dan akhirnya menyakiti menantunya itu jika tau bahwa mereka dihukum karena Neera.
Tuan Kaisar sadar betul akan kekurangannya dalam mendidik anak dan istrinya. Semua berakar dari rasa iri dua anak perempuannya pada Neera yang memang memiliki segudang kelebihan itu. Rasa bersalah kian bercokol dihatinya, namun ia tidak ingin semakin berlarut dan membuat semakin kacau keadaan.
Sungguh luar biasanya orang tua Neera yang mampu mendidik buah hati mereka dengan begitu baik. Entahlah rasanya ingin ia belajar lagi dari ayah Neera dalam mendidik keluarganya namun apa daya untuk bertemu saja ia sudah sangat malu.
Nasi sudah menjadi bubur, akibat kesibukannya selama ini ia hanya bisa mengawasi dari bawahannya tanpa menegur dan memperbaiki sikap anak dan istrinya dari dulu. Ia terlalu memanjakan mereka dengan harta dan berujung menjadi buta.
Lain halnya dengan yang terjadi di kamar Hakim dan istrinya. Malam yang larut telah menghantarkan seorang wanita sexy dalam tidurnya. Sintia istri Hakim yang begitu nyaman dalam balutan gaun tidur yang menggoda.
__ADS_1
Begitu Hakim masuk dari ruang kerjanya ia begitu sumringah mendapati istrinya yang seakan mengundang. Dengan lembut ia dekati istrinya dan membelai lembut bagian yang terbuka sembari memberikan kecupan ringan.
"Ah, jangan beib aku capek banget nih" gumam perempuan itu yang tidak sadar namun merasa terusik.
"Beib ?" bingung Hakim yang merasa asing dengan panggilan itu. Tidak biasanya istrinya akan memanggil beib atau ia memang sengaja memberikan panggilan sayang baru, sungguh menggemaskan pikir Hakim.
Baru akan kembali mencumbu bunyi pesan masuk mengalihkan perhatian Hakim dari ponsel istrinya. Sebuah pesan dengan nama Liona tertera.
"Beib uangku menipis nih, tf lagi dong. Kapan lagi kita main aku sudah sangat kangen kehangatanmu. Ayo kita liburan lagi" bunyi pesan yang tertera di layar pipih itu.
Seketika Hakim mengerinyitkan kening mencoba memahami maksud dari pesan pengirim.
Mungkin sesama perempuan akan wajar jika memanggil beib, tetapi kenapa barusan istrinya juga mengatakan hal yang sama saat akan dicumbu.
Apa maksudnya dengan minta uang pada istrinya, apakah zaman sekarang pertemanan sampai sedalam itu.
Berbagai pertanyaan menguasai kepala Hakim yang menyurutkan niatnya untuk menyentuh istrinya kembali.
Segera ia menuju ruang kerja dan menghubungi seseorang dengan ponsel canggihnya.
"Segera kamu selidiki apapun yang dilakukan istriku beberapa bulan belakangan secara detail tanpa terlewat sedikitpun aku mau laporan itu secepatnya"
Akhirnya malam ini ia memutuskan untuk tidur di sofa ruang kerja yang cukup luas untuk menampung tubuh semampainya.
Biarlah besok akan ia pikirkan kembali, saat ini tubuh dan pikirannya sudah terasa overload dan butuh segera diistirahatkan meskipun esok hari penuh dengan ketidakpastian.
__ADS_1