Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 213


__ADS_3

Selesai membersihkan diri mereka malaksanakan sholat subuh dahulu karena memang sudah masuk waktunya kemudian mereka melanjutkan tidur lagi karena memang sudah tidak sanggup lagi menahan kantuk yang kian mendera.


Ayyub merebahkan dirinya disamping Neera dan membawa tubuh mungil kesayangannya itu dalam dekapan hangat tubuh yang sungguh berbanding terbalik dengan istrinya.


Sementara triplets yang entah karena kelelahan atau pengaruh mandi air hangat masih nyenyak dalam tidur mereka tidak seperti biasanya yang ikut terbangun saat subuh.


Cukup lama mereka tertidur sampai melewatkan sarapan. Ayyub sendiri terbangun saat matahari sudah tinggi akibat gangguan dari buah hatinya sementara Neera masih terlelap dalam tidurnya.


Perlahan Ayyub melepaskan belitan tangannya pada tubuh Neera dan membenarkan posisi tidur istrinya. Setelah menyelimuti Neera dan memberikan kecupan di kening dan bibirnya Ayyub beranjak menggendong sekaligus ketiga buah hati mereka yang sedari tadi terus menggelendotinya.


Ayyub menghujani ketiganya dengan ciuman sayang dan membiarkan mereka bermanja-manja sebelum beraktifitas. Tidak pernah puas rasanya untuk menciumi dan mendekap erat buah hatinya yang masih bermuka bantal itu.


Setelah puas bermanja, Ayyub membimbing mereka peregangan sebelum akhirnya memandikan ketiganya sekaligus. Selesai memandikan Ayyub mengeringkan tubuh, memakaikan minyak telon dan bedak serta yang lainnya dan memakaikan baju yang sudah ditata rapi oleh istrinya di lemari.


Setelahnya Ayyub membawa ketiganya keluar kamar untuk sarapan. Barulah ketiganya cerewet menanyakan perihal bundanya yang masih tidur karena sedari tadi mereka memang dilarang ayahnya untuk bersuara keras.


"Ayah, ayah kenapa kita tidak bangunkan bunda" tanya Qee yang mulutnya sudah gatal sedari tadi.


"Bunda masih kelelahan sayang, bunda baru tidur tadi subuh" jawab Ayyub.


"Kenapa ayah dan bunda tidak bangunkan kita sholat subuh" tanya Qai kembali.


"Sudah ayah dan bunda bangunkan kalian tidak mau bangun" balas Ayyub sekenanya.


'Yakali ayah bangunkan kalian nak, yang ada mata kalian tercemar dengan apa yang ayah dan bunda perbuat' batin Ayyub.


"Tapikan ayah, kenapa kelelahan dan baru tidur sehabis sholat subuh ?" tanya Qal yang juga penasaran.


"Bunda beribadah tadi malam sayang" jawab Ayyub yang juga tidak salah, toh mereka melakukan ibadah.


"Kenapa kita tidak dibangunkan juga untuk ibadah malam ayah" protes Qal yang hanya dijawab garukan kepala oleh Ayyub.


Bagaimana mungkin mereka mengajak ketiga bocah itu saat begituan.


"Tumben sekali cucu Nana baru bangun, sudah sarapan ?" tanya Ama yang sedang duduk di meja makan.


"Nana...." ketiganya berlarian untuk memeluk nenek mereka dan memberikan ciuman pagi yang sudah tidak pagi lagi.


"Sudah makan semuanya ?" tanya Ama lagi yang dijawab gelengan ketiganya.


"Loh kenapa belum makan ini sudah siang, bundanya mana ?" tanya Ama yang langsung gercep menyiapkan sarapan ketiga cucunya.


"Kitanya baru baru bangun Nana" jawab Qee.


"Bunda masih tidur Nana" sambung Qal menimpali ucapan saudaranya.


"Tumben sekali bunda kalian masih tidur jam segini" heran Ama yang langsung memberikan satu piring bubur kacang ijo dan roti beserta susu ke bangku khusus mereka sementara Ayyub sudah menempatkan ketiga buah hatinya disana.

__ADS_1


"Kata Ayah bunda baru tidur habis subuh Nana, bunda beribadah malam" mulut bocor Qal terus berkoar membuat Ayyub kicep tanpa pembelaan.


"Ooh... beribadah sampai subuh, pantesan ya bunda lemes karena beribadahnya sama ayah" sindir mama Ayyub yang baru masuk ruang makan dan memberikan kecupan pada ketiga cucu kesayangannya.


Ama yang paham akan ucapan besannya menahan tawa melihat muka malu menantunya yang ketahuan oleh kedua orang tua mereka.


"Lain kali kalau ayah sama bunda mau ibadah lagi kalian tidurnya sama Atuk dan Nana atau Opa dan Oma saja ya" Ama ikut mehebohkan suasana pagi itu.


"Tidak Nana, kita juga mau ikut beribadah tapi ayah dan bunda tidak mau membangunkan kita" kali ini Qee yang ikut besuara membuat kedua besan itu melongo dan saling pandang sebelum keduanya tertawa bersamaan.


"Ama, Mam, Ayyub ke kamar dulu ya. Mau bangunkan bundanya anak-anak dulu. Kasihan belum sarapan. Ayyub titip anak-anak dulu" pamit Ayyub yang sudah merasa malu akan sindiran kedua mamanya itu.


"Iya kamu tenang saja Nak, anak-anak aman sama Mama dan Ama disini. Jangan rajin kali ibadah berduanya ya, kasihan Neera masih lemas kalau ngotot mau ibadah juga jangan lupa kunci pintu" ujar Mama sambil menahan tawa melihat tampang putranya yang seperti maling ketahuan.


Ayyub mengabaikan sindiran-sindiran dua wanita yang dicintainya itu lalu masuk ke kamar dan mendekati istrinya yang masih tertidur lelap.


"Sayang, Baby bangun sayang" usik Ayyub yang menghujani wajah mulus itu dengan kecupan.


"Enng bentar Uda, masih ngantuk" rengek Neera yang menepis wajah Ayyub.


"Hey si pemalasku sayang bangun ini sudah mau jam sebelas, bangun dulu sarapan" kekeuh Ayyub yang kembali mengganggu istrinya dengan kecupan sementara tangannya menahan kedua lengan Neera.


"Hah ? jam sebelas ?" mata indah itu langsung terbuka saat mendengar suaminya menyebutkan angka sebelas.


"Iya sayang, makanya bangun dulu. Ayo mandi dan sarapan" ujar Ayyub sembari mendudukan istrinya dan mendekap erat tubuh mungil itu seperti halnya triplets.


"Anak-anak dimana sayang ?" tanya Neera.


"Anak-anak lagi makan sama Ama dan Mama, ayo sayang kita mandi. Uda mandikan mau ?" sembari masih mengusap lembut istrinya.


Perlahan Neera menggerakan kepalanya naik turun sebagai persetujuan.


"Tapi cuma mandi saja" ingat Neera yang diangguki Ayyub sebelum satu kecupan mendarat di bibir yang kini sedikit menebal akibat perbuatannya itu.


Lantas Ayyub menyingkirkan selimut dan mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi mereka. Mendudukan Neera di wastafel dan memberikan sikat gigi lengkap dengan odolnya.


Sementara Neera menggosok gigi Ayyub mengisi bathub mereka dengan air hangat dan sabun besera essensial oil.


Saat kembali lagi Ayyub malah mendapati istrinya itu menyandar pada sisi samping wastafel dan menyimpan sikat gigi di mulut tanpa menggosoknya.


"Hehehe lucu sekali istri Uda ini, lagi kambuh ya manjanya sayang" kekeh Ayyub yang mengambil sikat gigi itu lantas menggosokkannya ke gigi Neera dengan teliti dan bersih.


Persis seperti balita, bahkan kali ini bundanya triplets itu jauh lebih manja dari anaknya. Ayyub juga bahagia bisa memanjakan istrinya yang jarang sekali bisa bersikap kekanakan seperti ini.


"Sayang, kumur-kumur dulu" ujar Ayyub sembari memberikan gelas berisi air ke mulut Neera.


Dengan patuh Neera membuka mulutnya dan berkumur-kumur beberapa kali.

__ADS_1


"Sini Uda lihat dulu, sudah bersih atau belum" perintah Ayyub yang diikuti Neera.


Gadis beranak tiga itu membuka mulutnya dan juga merapatkan giginya mengikuti instruksi suaminya.


"Sudah bersih, sekarang sini cuci mukanya dulu" perintah Ayyub yang diangguki Neera.


Lelaki itu sudah paham betul apa yang selalu dipakai oleh Neera karena hampir setiap saat ia mengintili wanita yang sangat dicintainya itu.


Beberapa kali mengikuti petunjuk Neera lelaki itu mencucikan wajah istrinya dengan lembut meskipun lembutnya Ayyub masih terasa kasar oleh Neera. Memang kekuatan lelaki sungguh berbeda dengan wanita.


Setelah mencuci wajah dan mengikat tinggi rambut Neera Ayyub membuka baju istrinya itu. Meski sesekali tangannya tetap nakal tetapi hanya kejahilan semata tidak sampai yang parah sekali karena Neera sudah bilang ia tidak ingin keramas lagi dan juga sangat lapar.


Selesai melucuti baju istrinya Ayyub menggendong Neera menuju bathtub dan membiarkan istrinya berendam sejenak melepaskan lelah.


Sementara Ayyub menggosok gigi dan mencuci wajahnya sendiri sebelum akhirnya ikut bergabung dengan istrinya ke dalam bathtub.


"Hmmm bayi besarku sayang. Sudah berendamnya ?" tanya Ayyub gemas saat Neera masih anteng bersender pada tubuhnya.


"Belum Uda, sebentar lagi" jawab wanita yang juga menggelengkan kepala malas.


"Yasudah bangun dulu Uda pijit sebentar terus Uda sabuni badannya Neera ya" bujuk Ayyub yang dibalas gelengan.


"Gak mau dipijt ?" bingung Ayyub yang dibalas gelengan.


"Eh mau pijit atau engga sayang ?" tanya Ayyub lagi yang dibalas anggukan.


"Terus yang gak mau apa baby ?" tanya Ayyub lagi.


"Bangun" manja Neera yang dibalas pelukan hangat suaminya.


"Yasudah senderan saja" ujar Ayyub yang mulai memijati tubuh istrinya sembari menggosok dengan sabun dan spoon.


Tubuh Neera yang mungil dan berbanding terbalik dengannya memudahkan Ayyub untuk menjangkau seluruh bagian tubuh istrinya meski Neera tetap pada posisinya.


"Uda, tangannya jangan nakal" protes Neera yang sesekali mendapati tingkah usil suaminya.


"Haha bonusnya sayang. Sedikit-sedikit mah tidak apa" bela Ayyub.


"Tapi sedikit-sedikit juga jadi bukit" balas Neera.


"Bukitnya tidak ada sayang, adanya gunung kembar" jawab Ayyub dengan remasan manja pada aset kembar istrinya.


"Udaa...." rengek Neera yang dibalas kekehan Ayyub.


"Iya bayi besarku sayang. Tunggu Uda menggosok diri sendiri dulu" ujar Ayyub yang bergegas menggosok badannya dibantu Neera dan menggendong lagi istrinya menuju shower untuk mandi bersih.


Setelah selesia Ayyub menghanduki istrinya, mengeringkan badannya dan memakaikan baju hingga skincare beserta hijabnya.

__ADS_1


Entah kenapa wanita yang biasanya gesit dan aktif itu sama sekali tidak mau bergerak untuk hari ini. Sebenarnya Ayyub agak aneh tetapi dia juga bahagia merasa begitu berguna bagi istrinya.


__ADS_2