Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 40


__ADS_3

Pagi itu setelah selesai dengan putri kecilnya, Neera kembali dengan pekerjaannya. Secepatnya ia berusaha menyelesaikannya, sembari menggendong Qal yang kembali tertidur di dalam kain gendongannya.


Neera terlihat sangat cekatan mengeloni anaknya sembari bekerja dibelakang laptopnya. Terlihat sangat sibuk tapi tertata.


"Sayang, kamu lagi apa ?" suara itu mengalihkan Neera yang baru saja menutup laptopnya.


"Ini yang, habis kerja sedikit" jawab Neera seadanya.


"Kamu udah selesai kerjain semua yang ?"


"Udah, ini lagi mau ke kamar cek kamu sama anak-anak"


"Jagoan udh bangun yang, gak mau sama ayah maunya sama bunda. Soalnya ayah gak punya mimik" jawab jenaka Ayyub.


"Yaudah aku ke kamar dulu, ini Qalundra juga udah tidur pules lagi"


"Kapan sih ini anak bangunnya, ayah bangun udah hilang aja anak gadisnya"


"Tadi yang, aku lagi kerja tiba-tiba masuk, minta mimik bunda"


"Sayang, aku mandi dulu ya. Nanti biar bisa masak buat dinner"


"Gausah yang, ntaran aja bareng triplets sekalian. Aku udah masak soalnya"


"Masyaallah istriku yang cantik luar biasa ini, kamu itu sebenarnya transformer atau apa sih yang, cepat banget jadi apa-apa"


"Iya, namanya juga ibu-ibu yang, anak tiga lagi. Kita mah beda yang, orang-orang satu kita langsung tiga jadi mesti gercep".


"Aku bangga banget sama kamu yang, maafin aku ya selama dulu kita menikah aku selalu cuekin kamu, egois dan gak mau tau semua urusan rumah" sesal Ayyub.


"Udahlah sayang, yang udah berlalu kita ikhlasin aja, yang penting kamu sekarang mau berusaha lagi jadi kepala rumah tangga kita".


"Tentu dong sayang, jelas itu. Aku gak maulah digantikan sama orang lain. Rugi besar aku sayang. Pokoknya sampai kapanpun aku maunya sama kamu"


"Amiin sayang, semoga jodoh kita panjang ya"


"Loh yang, kok kamu ngomongnya gitu sih, kamu gak yakin banget sama aku"

__ADS_1


"Bukannya gitu yang, namanya kita manusia mana ada yang bertahan selamanya. Kita berdo'a terus semoga tetap menjadi keluarga sampai nanti ke surga".


"Amiin sayang, istriku yang sholeha dan paling cantik" akhir Ayyub sembari mencium samping dahi Neera.


Saat Neera sibuk menyusui Qeenan maka Ayyub bermain bersama Qaivan. Mereka sangat menikmati waktu bermainnya. Mungkin selama ini, hal itulah yang tidak mampu Neera berikan kepada triplets.


Walau bagaimanapun rasa tangan ayah itu berbeda dengan ibu, memberikan kesan perlindungan yang berbeda. Apalagi bagi anak laki-laki maka ayah akan menjadi role model mereka dalam keseharian.


"Sayang, udah nak mimiknya ?" tanya Neera pada Qee yang sudah grasak grusuk ingin bergabung dengan ayah dan saudaranya.


"Not yet bunda" jawab Qee yang kembali lagi.


"Kalau belum, mimik baik-baik dulu. Sakit sayang mimik bunda kalau Qee begitu" jelas Neera.


"Aduh sayang, kamu mah mainnya sama Qai suaranya kecilin dikit yang. Ini aku udah habis digigit Qee gara-gara dia ikut kegemasan, nanti Qal juga bisa bangun itu" protes Neera pada Ayyub yang tengah heboh bersama Qai.


"Aduh duh... kasian bunda, sini ayah obatin mimiknya" ucap Ayyub mendekat.


"Udah deh yang, kamu jangan cari gara-gara lagi, anaknya lagi disini juga" ucap kesal Neera.


"Loh iya, katanya sakit yaudah ayah obatin. Iyakan sayang" Ayyub meminta dukungan kedua putranya.


"Aw yang, sadis banget sih" kaget Ayyub.


"Yaiya, kamu itu mulutnya gak ada filternya apa. Anak kamu masih kecil juga jangan ajarin yang aneh-aneh" gerutu Neera yang sudah memerah.


Akhirnya sore menjelang malam itu mereka menghabiskan waktu bersama, mandi, makan beribadah dan akhirnya bermain lagi sebelum tidur.


Ayyub membuat perjanjian kepada ketiganya akan membawa mereka melihat pesawat. Triplets kegirangan bukan main mendengar sang ayah menjanjikan hal yang paling diinginkannya.


"Sayang, tolong ambilin hp aku yang" seru Ayyub pada Neera yang berada dekat meja tatkala ada notifikasi masuk.


"Ini sayang, hp nya" jawab Neera sembari memberikan ponsel Ayyub.


Setelah mengecek beberapa informasi dan melihat jadwal penerbangan maskapainya Ayyub kembali meletakkan ponselnya diatas meja melalui Neera.


"Loh sayang, ini foto siapa ?" tanya Neera bingung.

__ADS_1


"Gak tau yang, waktu beberapa bulan yang lalu aku pernah kesini terus gak sengaja aku melihat satu keluarga, gak tau kenapa aku foto aja. Sayangnya wajah ibunya gak kelihatan. Tapi kok dipikir-pikir wajah mereka agak mirip si kembar ya yang" jawab Ayyub


"Gimana gak mirip, ini memang kita kok" jawab Neera langsung.


"Loh ? Seriusan yang ? Kok bisa ?" tanya Ayyub semangat


"Lah iya, inikan aku sama triplets waktu kemarin itu" jawab Neera tegas.


"Seriusan kamu yang, padahal waktu itu aku lamaaaaaa banget liatin kalian. Aku penasaran banget waktu itu, hampir aku samperin kalau saja aku gak diburu waktu"


"Iya, mereka tuh dari dulu suka banget sama pesawat entah kenapa aku juga gak ngerti, padahal aku udah tawarin banyak pilihan. Tetap aja triplets ga berpaling"


"Mungkin ngikut ayahnya kali yang"


"Hmmm bisa jadi."


"Berarti sebenarnya sebelum ini aku udah pernah ketemu sama kalian iyakan, apalagi aku tuh belakangan selalu ke Edinburg. Entah kenapa aku selalu ingin balik lagi, terutama ke triplets bakery. Sebenarnya aku direkomendasikan Vina awalnya, tapi entah kenapa aku selalu balik kesana lagi dan lagi."


Neera hanya membalas dengan senyuman karena sebelumnya ia juga sudah tau, bahkan Neera juga ada disana ketika Ayyub tengah ngedate bersama kekasihnya itu.


"Eh tunggu dulu, jangan bilang kamu adalah bos yang waktu itu dibilang salah satu karyawan disana?" desak Ayyub pada Neera.


Mungkin bagi Ayyub itu adalah saat bahagia tapi untuk Neera itu adalah salah satu moment pagit hidupnya. Mengingat bagaimana ia menyaksikan kemesraan suaminya bersama kekasihnya waktu itu.


Betapa Neera harus belajar untuk sabar dan ikhlas. Sungguh Neera merelakan meskipun hatinya sudah terluka. Sekuat apapun ia coba untuk bertahan namun selalu ada rasa sakit yang datang tanpa permisi.


"Jangan bilang, wanita berhijab yang datang saat itu adalah kamu, berarti...." tutur Ayyub dengan sedikit ragu dan rasa bersalah.


"Iya, kamu benar" jawab Neera sembari tersenyum anggun.


"Sayang, kenapa waktu itu kamu enggak tegur aku, bahkan waktu itu kamu juga duduk di depan aku. Apa kamu memang sengaja buat pergi dari aku kalau aku gak temui kamu duluan" jawab Ayyub sedikit emosi.


Neera hanya menghela napas panjang, seakan enggan membahas ini tetapi bukan itu alasan sesungguhnya. Neera ingin membicarakannya tanpa anak-anak namun Ayyub masih terus mendesak Neera.


"Ayyub tunggu dulu, biarkan aku menidurkan anak-anak setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu" jawab Neera dengan nada datar.


Mendengar Neera langsung menyebut namanya Ayyub sedikit tersulut emosi, tetapi ia juga sadar bahwa Neera juga benar adanya. Tidak mungkin mereka membiarkan anak-anak mendengar pembicaraan antara keduanya.

__ADS_1


Setelah selesai menidurkan triplets, Ayyub segera menarik lengan Neera keluar dan mendudukkan Neera di sofa.


"Sekarang kamu jelasin sama aku kenapa kamu menghindar saat itu" tuntut Ayyub.


__ADS_2