Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 198


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Riezka yang ditemani oleh Neera masuk ke dalam ruang UGD. Sementara Ayyub menemani triplets yang masih tertidur pulas di mobil. Beruntung ketiganya tidak terbangun saat kekisruhan terjadi tadi.


Kini Neera pergi mengurus segala administrasi serta meminta untuk dilakukan visum pada kakak iparnya sebagai bukti atas penganiayaan yang terjadi.


Beruntung tidak ada luka dalam, hanya lebam dan luka luar yang sudah selesai di obati dan diperban sana sini. Sungguh mengenaskan, wajah dan tubuh yang biasanya terawat kini biru-biru dan bengkak serta beberapa tangan dan kakinya luka-luka. Bahkan bibirnya juga ikut pecah dan dahi yang mengeluarkan darah namun sudah di obati.


Setelah selesai Neera membawa Riezka ke mobil sementara ia menebus obat dan mengambil hasil visum yang dilakukan oleh dokter yang tadi bertugas.


Saat semua sudah beres Neera kembali ke mobil dan mereka melanjutkan perjalanan ke rumah. Sebelumnya juga Neera sudah menelpon orang rumah untuk mengambil makanan yang sudah ia pesan tadi saat menunggu antrian obat.


Ya, meski bagaimanapun makan juga kebutuhan hidup. Neera yakin Riezka belum mengisi perutnya dan sudah pasti makannya tidak teratur bahkan dalam dua bulan lebih badannya sudah sangat jauh menyusut.


Akantetapi tidak mungkin mereka makan di luar dengan keadaan kakak iparnya sekarang. Oleh sebab itu, Neera memutuskan memesan makan di luar kalau minta orang rumah masak takut tidak keburu dan juga merepotkan.


Tidak lama perjalanan yang mereka tempuh kini mobil Ayyub sudah memasuki gerbang kediaman Kaisar. Neera paham ada ketakutan di mata Riezka.


"Kak, Insya Allah semua akan baik-baik saja, kakak tenang saja ya" ujar Neera sembari mengusap punggung tangan kakak iparnya yang terasa dingin.


Meski bagaimanapun dulu dia yang memutuskan pergi dari rumah demi membela suami yang bahkan tidak menghargainya. Tapi kini ia harus kembali dengan keadaan yang sangat kacau. Malu sudah tidak dapat dihindari lagi tetapi ia juga tidak tau kemana lagi akan mengadu.


Memang rumah dan kelurga adalah satu-satunya tempat pulang yang akan menerima kita dalam keadaan apapun.


Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Ayyub turun duluan dan membukakan pintu istrinya.


"Terima kasih sayang" bisik Neera yang dijawab Ayyub dengan senyuman dan usapan di kepalanya yang tertutup hijab.


Seperti biasa, Ayyub akan menggendong dua anaknya, sementara Neera satu yang lain. Kemudian Ayyub meminta tolong pelayan yang ada di sana untuk membawa masuk barang-barang mereka dan menyerahkan kunci mobilnya untuk dibawa ke garasi.


"Ayo kak, kita masuk" ajak Neera sembari menggandengan tangan Riezka sementara tangan yang lain menahan putrinya yang masih tertidur di gendongannya.

__ADS_1


Perlahan kaki lemah itu melangkah menuju ruang tamu dan terus berjalan ke arah ruang keluarga. Ada kerinduan yang menyeruak di dadanya yang membuat seketika air matanya berlinang.


Wangi yang sama dan bentuk yang tetap seperti beberapa bulan lalu saat ditinggalkannya. Perlahan dengan langkah lambat Riezka menikmati setiap momen yang ia lewati di rumah ini hingga suatu suara mengalihkan perhatian semua orang.


"Riezka..." lirih Mama yang melintasi ruang keluarga sebabis dari kamar Nola.


"Mama...." saat itulah air mata Riezka luruh dan tangisnya pecah.


Dengan langkah lebar ia berlari dan bersimpuh memeluk kaki wanita paruh baya itu. Mama yang melihat keadaan putrinya ikut menangis dan mengangkat tubuh ringkih itu lantas memeluknya erat.


Semua yang ada disana terharu menyaksikan pertemuan kembali ibu dan anak itu. Tak ingin mengganggu momen, Neera dan Ayyub memutuskan keatas untuk menidurkan triplets dan membersihkan diri masing-masing.


Selesai itu pasutri itu kembali ke bawah dan bergabung dengan kelurga mereka. Neera langsung ke dapur menyiapkan makanan yang sudah dipesan tadi sementara Ayyub duduk di sofa dekat mama dan Riezka tengah melepas kangen.


"Ayo Kak, Mama, Uda kita makan dulu. Mumpung masih hangat, kita sudah menguras banyak energi hari ini" ajak Neera pada semua orang yang ada disana.


"Iya, ayo Nak kita makan dulu. Lihatlah betapa kurusnya anak mama sekarang. Kamu harus makan yang banyak sayang" ajak Mama dengan semangat pada putri tertuanya.


Bertepatan saat mereka selesai makan, saat itu pula suster Nola melintar menuju dapur membawa nampan yang berisi peralatan bekas makan.


"Gimana Sus, apa habis makanan Nola ?" tanya Neera pada perempuan berseragam putih itu.


"Alhamdulillah habis Bu, sekarang Mbak Nolanya lagi merajut" jawab suster itu.


"Alhamdulillah, Baiklah sus. Terima kasih banyak ya sus" balas Neera dengan senyum hangatnya.


"Sama-sama Bu, sudah tugas saya" jawab suster kembali dengan senyuman pula.


"Yasudah, suster jangan lupa makan juga. Semua kebagian, nanti kasih sama semuanya juga ya" ujar Neera.

__ADS_1


"Baik Bu, terima kasih. Kalau begitu saya permisi kebelakang dulu Bu, mari" pamit suster yang diangguki Neera.


Semua orang yang ada di meja makan bersyukur setelah menyimak pembicaraan antara Neera dan suternya Nola. Mereka semua lega karena akhirnya Nola semangat lagi dan napsu makannya kembali setelah pembicaraan dengan Neera tempo lalu.


Rona ceria kembali mencuat di wajahnya yang selama ini selalu terlihat tanpa nyawa. Pandangan yang biasanya kosong kini telah menampakkan binarnya. Sungguh perubahan yang sangat signifikan.


"Ma, ada apa dengan Nola ma. Kenapa harus ada suster yang menjaganya ?" tanya Riezka yang sedari tadi bingung dengan pembicaraan mereka.


"Adikmu sakit Nak, mari sini mama ceritakan. Kita duduk di ruang keluarga saja. Ayo Neera dan Ayyub, tinggalkan saja Nak, minta tolong sama pelayan untuk membereskan" pinta mama pada anak dan menantunya.


Akhirnya semua orang hanya bisa menurut dan meninggalkan meja makan untuk bergabung di sofa ruang keluarga.


"Selepas kakak pergi, malam itu kakak taukan bahwa Nola jatuh. Dia mengalami keguguran dan rahimnya harus diangkat. Jadi, selama-lamanya dia tidak akan bisa memiliki anak lagi. Tidak hanya itu, benturan pada kepala, leher dan tulang belakangnya menyebabkan syaraf motoriknya terganggu sehingga untuk sementara dia akan mengalami kelumpuhan. Oleh sebab itu saat itu Nola membutuhkan suster untuk membantu kesehariannya, dibantu juga oleh mama dan Neera" cerita mama yang membuat air mata kembali mengalir di pelupuk mata perempuan yang ada disana tak terkecuali Neera.


Mereka paham betul bagaimana sakitnya tidak akan bisa mengandung untuk seumur hidup. Perempuan mana yang tidak akan kecewa dan terluka saat dihadapkan pada kenyataan pahit itu. Dunia seakan runtuh menimpamu, benar kata Neera bahwa Nola sudah sangat kuat hingga bertahan sampai di titik ini.


"Awalnya tidak ada lagi kehidupan dimata adikmu. Dunianya hancur dan pandangannya kosong, bahkan untuk berbicara saja ia tidak mampu. Beruntung setelah kemarin Neera berbicara dengannya sudah lebih baik dan sangat banyak kemajuan. Nola sudah kembali semangat dan keinginan sembuhnya menjadi lebih tinggi" ujar Mama yang masih setia menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Riezka kembali termenung, mendengar cerita mama mengenai keadaan adiknya. Tak dipungkiri rasa benci dan tersakiti itu masih bersarang jelas di hatinya. Namun, rasa kasihan juga seakan menyelinap di relung hatinya.


"Kakak, mohon maaf sebelumnya jika Neera terkesan ikut campur. Neera jujur tidak akan membela siapapun dalam hal ini. Neera paham betul bagaimana perasaan sakit yang kakak alami saat ada di posisi kakak. Tapi, Nola sudah menyesali semua perilakunya dan dia juga sudah mendapatkan cobaan yang sungguh berat saat ini. Kesalahan yang dilakukan Nola memang berat, tetapi hal itu bukan dari satu sisi saja. Neera yakin bahwa di hati kakak terdalam kakak juga merasakan itu. Dio yang selalu membuai Nola dengan sikap manisnya, menjanjikan sebuah pernikahan sehingga Nola juga masuk ke dalam perangkap yang telah ia buat" jelas Neera menjeda.


"Kita semua tau, bahwa tidak hanya Nola tetapi Dio juga melakukan bersama Kak Shintia dan Kiki, beruntung mereka mengerti cara menghindari kehamilan sementara Nola yang polos malah menerima begitu saja, sehingga akhirnya dia mengandung hasil dari perbuatan mereka" sambung Neera lagi.


"Temuilah Nola kak, lihatlah penyesalan dari matanya. Sungguh sayang hubungan yang sedari lahir terputus karena sebuah kesalahan yang tercipta akibat orang yang baru datang dan malah menghancurkan hubungan persaudaraan kakak dan Nola, sementara lelaki itu baik-baik saja dan malah pergi bersenang-senang tanpa beban" ujar Neera dengan penuh kehati-hatian dan menggenggam tangan kakak iparnya yang masih dipeluk mama.


Air mata seketika mengalir dari sudut netra Riezka, hatinya kini luluh lantak mendengar perkataan adik iparnya. Memang bodoh, dialah yang bodoh selama ini. Bahkan saat Nola jatuh dulu bahkan ia menyumpahinya tanpa rasa belas kasihan.


"Kamu benar Neera, kakak sungguh bodoh. Kenapa dulu kakak sangat membela lelaki b@j|ng@n, yang bahkan tidak pantas disebut lelaki. Rasa cinta begitu membutakan kakak terhadap perbuatan buruknya" sesal Riezka yang menyadari kesalahannya.

__ADS_1


"Sudahlah kak, semua sudah berlalu. Kita tidak perlu mengingatnya, sekarang lebih baik kita jadikan pelajaran dan berusaha memperbaiki kesalahan yang ada" ujar Neera yang masih menggenggam tangan Riezka.


"Baiklah, tolong temani kakak untuk bertemu Nola. Kakak masih merasa bersalah padanya, kakak juga ingin minta maaf terlepas dari semua kesalahannya" pinta Riezka yang membuat semua orang yang ada disana lega.


__ADS_2