
Edinburg, 18.00 GMT
Akhirnya mereka keluar dari pintu kedatangan. Triplets telah tertidur di gendongan orang tua mereka. Wajah lelah jelas tergambar dari ketiganya.
Beruntung mereka hanya membawa satu travel bag dan tas yang kini di sandang Neera sehingga tidak merepotkan.
Segera keluarga itu berjalan menuju mobil Neera yang ada di parkiran bandara. Setelah menempatkan triplets pada sit car mereka dan memasukkan bagasi segera keduanya berjalan menuju kemudi.
"Sayang, biar aku saja yang nyetir kamu istirahat" ungkap Ayyub saat keduanya hendak membuka pintu kemudi.
__ADS_1
"Lihatlah siapa yang berbicara, bahkan matamu sudah sulit untuk di buka, lagipula kamu lelah membawa kedua jagoanmu" balas Neera sembari mengusap mata suaminya.
"Tidak apa-apa sayang, aku masih bisa" seru Ayyub lagi.
"Nanti saja sayang, kamu sudah lelah lagipula kamu belum terbiasa dengan daerah ini ditambah kamu tidak tau alamat kita" lembut Neera sembari tersenyum dan mengelus lengan Ayyub takut suaminya itu akan tersinggung.
"It's okey sayang, Insyaallah aku bisa. Sudah biasa sayang" tutur lembut Neera.
"Sayang, jangan terlalu tangguh" ungkap Ayyub penuh arti.
__ADS_1
Neera terdiam sejenak, memang ia sudah terbiasa dengan melakukan banyak hal sendiri, tubuhnya seolah di program untuk bekerja bahkan waktu tidurnya pun bisa dibilang kurang dan tidak pernah ia mengeluh lelah karena jika bukan dia siapa lagi yang akan melakukan segalanya.
Memang benar sekarang ada Ayyub di sisinya, tapi apakah mungkin ia bisa mempercayainya sepenuhnya setelah apa yang terjadi.
Suatu saat jika sesuatu terjadi ia tidak ingin jatuh terlalu dalam jika sudah bergantung sepenuhnya pada lelaki itu.
Kini ia tidak sendiri lagi, ada triplets disisinya, siapa yang akan bertanggung jawab atas mereka jika ia jatuh tersungkur, tidak bisa ia tidak mampu membiarkan hal itu terjadi.
Saat ini Neera hanya mampu membalas perkataan Ayyub dengan senyuman dan segera masuk ke kursi kemudi.
__ADS_1