Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 208


__ADS_3

Perjalanan pulang terasa begitu menyenangkan. Udara pagi yang segar serta hamparan permadani alam menjadi penyejuk mata dikala embun masih membasahi bumi.


Sudah lama sekali Neera tidak menikmati suasana pagi seperti ini. Hatinya begitu tenang dan damai. Apalagi saat ini ia bisa kembali lagi ke kampung halamannya tanpa perasaan takut dan benci.


Tingkah lucu triplets yang bertanya ini itu pada kedua orang tuanya menjadi pemandangan elok yang mengalihkan perhatian setiap orang yang melewati mereka.


Pagi yang cerah, semua orang tengah keluar untuk bekerja mencari rezeki yang di tebar Allah di bumi. Ada yang membawa pacul ke sawah, ada yang membawa dagangan ke pasar dan beberapa juga ada yang berpakaian rapi hendak mengajar atau juga ke kantor.


"Assalamu'alaikum Pak, Buk, Uni, mari.." ramah Neera pada setiap orang yang mereka lewati dan menyapa dirinya.


"Eh, Neera yo. Bilo pulang..." (Neera, kapan pulang)


"Neera, lah baranak kironyo mah..." (Neera, sudah punya anak ya)


"Singgah dulu..." (Mampir dulu)


Banyak sapaan yang Neera temui disetiap perjalanan pulang mereka. Meskipun sebagian ada yang julid, kepo ataupun menyindir Neera tetap ramah dan berlaku sopan.


Sedikit lagi menuju rumah triplets malah teralihkan oleh sungai yang berasal dari mara air gunung sebagai pengairan bagi sawah penduduk.


Melihat airnya yang jernih dan banyak ikan membuat triplets merengek pada ayah dan bundanya untuk bermain disana.


Wajah memelas penuh drama kini meluluhkan hati kedua orang tuanya sehingga sorakan mereka begitu memekkan membuat beberapa orang ikut bahagia melihatnya.


Kebetulan sawah yang ada disekitaran sana juga adalah sawah keluarga Neera sehingga tidak akan ada yang terganggu saat buah hatinya bermain disana.


Ketiganya mulai memasuki sungai yang penuh dengan batu kerikil dan beberapa batu besar yang muncul hingga ke permukaan.


Dingin memang diawal tetapi karena udara di tempat asal mereka lebih dingin saat winter sehingga membuat triplets biasa saja dan malah sengaja menyeburkan badannya ke air.


"Sayang, hati-hati Nak. Jangan ke tengah ya, arusnya lumayan kuat dan banyak bebatuan. Di pinggir saja pegangan sama ayah dan bunda" peringat Neera yang diangguki ketiganya.

__ADS_1


Mereka asik bermain air, saling menyiprat saudara dan kedua orang tuanya hingga datanglah beberapa ibu-ibu yang kebetulan ada menanam padi di sawah mereka yang ada diatas bantaran sungai itu.


"Eh, Neera ya, kapan pulang Neera ?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya Tek, baru dua hari ini di rumah Tek" jawab Neera.


"Wah... makin cantik aja ya. Ini anak kamu Neera ?" tanya ibu itu lagi.


"Iya Bu, ini anak Neera. Mereka kembar tiga" jawab Neera.


"Masya Allah, lucu sekali mereka. Ayahnya orang bule ya Neera" ibu itu terus memperhatikan triplets yang sedang bermain dengan ayahnya.


"Tidak Tek, orang kita juga hanya saja memang ada keturunannya Tek" ramah Neera.


"Oh Etek kira orang sana. Soalnya berita tentang pertunangan suami kamu dulu senter sekali disani. Apalagi si Ati tu, biang gosip yang koar kesana kemari" cerita Etek itu dalam bahasa minang.


"Tapi apakah benar kamu sudah bercerai waktu itu. Banyak yang bilang kamu ditinggalkan dan kabur keluar negri" cerita Etek yang lain.


"Alhamdulillah sampai saat ini suami Neera masih satu Tek Uda Ayyub, itu yang lagi bermain bersama anak kami. Sempat dulu terjadi kesalah pahaman, maklumlah Etek dalam dunia bisnis hal itu kadang terjadi dan tidak bisa kita kendalikan. Tapi Alhamdulillah semuanya sudah baik-baik saja saat ini, kami tidak pernah bercerai dan Uda Ayyub juga tidak menikah lagi" Akhirnya mau tak mau Neera meladeni pembicaraan para Etek-etek itu agar tidak menjadi berita simpang siur.


"Neera belum bisa meninggalkan pekerjaan disana Tek. Dulu sewaktu Neera pergi disana mendapatkan beasiswa dan juga diberi kepercayaan mengajar di kampus sana sehingga sampai saat ini masih terikat pekerjaan disana Tek" jelas Neera kembali.


"Oalah, begitu toh ceritanya. Dasar si Wati dan si Ati biang gosip. Mereka mengatakan bahwa kamu kabur ke luar negri, jadi pembantu disana, di tinggalkan suami dan menikah lagi sehingga pergi untuk menghindari malu. Banyak sekali gosip yang mereka buat tentangmu yang sama sekali tidak benar" kesal para Etek-etek itu yang merasa dikelabui mulut rombeng para lambe kampung.


"Kenapa tidak bertanya saja pada Apa dan Ama Tek" tanya Neera pada kumpulan ibu-ibu dengan peci tani itu.


"Ah, mana berani kami menanyakan dengan Pak Datuak dan Ibu, kami hanya ingin menjelaskan saja berita ini Neera. Untung saja kita bisa berbincang saat ini" jawab Etek itu mewakili temannya yang lain.


"Ahahaha Etek bisa saja. Toh ama juga sering nongrong bersama Etek-etek" canda Neera.


"Haha iya Neera, tetapi tetap saja kami tidak berani" tawa ibu-ibu itu.

__ADS_1


"Memang keterlaluan sekali itu para biang gosip. Mereka sangat iri pada hidupmu Neera. Satu karena terlalu membanggakan anaknya yang katanya pegawai bank itu yang lain lagi karena pinangannya sudah ditolak oleh keluargamu" omel Etek-etek itu yang hanya ditanggapi senyuman Neera.


"Apakah hari ini Etek akan bertanam ?" tanya Neera yang sudah memperhatikan beberapa i u lain mulai menyebar benih.


"Iya Neera, sudah cukup umur benihnya" balas yang lain sembari tangannya masih sibuk bekerja.


"Neera boleh ikut ya Tek ?" tanya Neera antusias karena jujur saja ini pertama kali dalam hidupnya menanam padi.


"Tentu saja, lah wong ini sawahmu kok" canda para ibu-ibu itu yang diakhiri tawa.


Kegiatan Neera yang mulai naik ke pematang sawah menjadi perhatian triplets dan Ayyub. Beruntung saja Ayyub tidak begitu mengerti bahasa minang sehingga sedari dari pembicaraan ibu-inu itu dengan Neera tidak ia mengerti dan juga tidak ia gubris. Kalau tau bisa badmood lagi bayi besar Neera itu.


Sementara triplets yang asik bermain dengan ayahnya justru terhanyut dan sama sekali tidak mendengarkan pembicaraan itu. Perhatian meraka beralih hanya saat Neera naik dan mulai masuk ke sawah yang masih basah dengan genangan tanah lembek itu.


"Bunda, bunda mau ngapain kesana bunda ?" heran Qal.


"Ah ini sayang, bunda mau belajar menanam padi nak" jawab Neera dengan antusias.


"Hah ?? mau ikut bunda" sorak ketiganya yang diangguki oleh Neera.


Lalu Ayyub mengangkat satu persatu anaknya dan disambut oleh Neera dari atas pematang sawah.


"Tapi sayang, tanya dulu sama neneknya ya. Apa boleh kalian ikut" ujar Neera pada ketiga anaknya.


"Nek, buliah ndak kami ikuik nanam padi nyo Nek ?" (Nek, boleh tidak kita ikutan menanam padi Nek) tanya Qee dengan bahasa minang yang fasih.


"Loh ?! kalian bisa bahasa minang juga ?" tanya tiga perempuan paruh baya itu dan diangguki ketiganya.


"Ndeh... Enek kiro kalian pakai bahaso bule lo tadi, lah paniang lo kapalo enek ka mangecek jo kalian. Santiang sangaik lah cucu-cucu enek ko" ( Ya ampun, nenek kira kalian menggunakan bahasa asing. Nenek sudah pusing jika harus berbicara dengan kalian. Pintar sekali cucu-cucu nenek) puji salah satu dari mereka.


Ketiganya begitu kagum pada Neera dan Ayyub dalam mendidik anaknya. Sangat jelas mereka sangat memahami bahasa daerah ibu mereka, yang biasanya orang kebanyakan dibiasakan menggunakan bahasa asing ini malah dibuat cinta dengan bahasa daerah sendiri.

__ADS_1


Begitu juga dengan cara Neera membiarkan anak-anaknya bermain di sawah yang sebagian orang dianggap kotor dan panas tetapi mereka malah menikmati justru Neera sendiri yang mencontohkan pada buah hatinya.


Bahkan disaat orang-orang di kampung mereka melarang anaknya jangan main di sawah justru Neera dan Ayyub membiarkan anaknya mengeksplor diri dengan alam. Toh, kalo kena tanah dan lumpur juga nanti bisa dicuci dan mandi lagi.


__ADS_2