
Dini hari Neera terbangun, segera ia menyucikan diri dan sholat malam. Setelah puas berdo'a dan bercengkrama dengan Sang Pencipta segera ia menuju ranjang untuk membangunkan Ayyub.
Bukannya tidak ingin sholat bersama tapi bagi Neera saat ia sendiri adalah kesempatan untuknya mencurahkan segala isi hatinya. Itulah quality time Neera bersama Penciptanya.
"Sayang, bangun Da" bisik Neera ditelinga Ayyub.
"Hmmmm bentar lagi yang"
"Bangun sayang, sudah mau jam tiga" ulang Neera.
"Kiss dulu yang" rengek Ayyub yang menarik Neera kedalam pelukannya.
"Kamu habis sholat yang ?" tanya Ayyub yang mendapati istrinya masih menggenakan mukena.
"Iya, makanya buruan bangun, biar Uda juga bisa sholat"
"Masyaallah, istri sholeha Uda" ucap Ayyub sembari membelai kepala Neera dan memberikan kecupan di dahi dan pipi mulusnya.
Sembari menunggu Ayyub selesai mandi Neera melanjutkan membaca kitab suci dengan suara yang sayup tapi indah.
Cklek..
Pintu kamar mandi terbuka, segera Neera menyudahi bacaannya dan menyimpan mukena.
Ayyub keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggang sementara satu handuk kecil tengah mengusap rambutnya yang basah.
"Ini baju Uda udah Neera siapin"
"Makasi sayang" ucap Ayyub sembari menuju sofa yang sudah terdapat pakaian dari dalam ke luar tak lupa sebelumnya Ayyub mengecup dahi istrinya.
Entah kenapa mencium Neera adalah hal yang selalu ingin dilakukannya, aroma tubuh Neera menjadi candu sekaligus membuatnya nyaman.
Kini Ayyub sudah sholat malam hanya dengan menggunakan kaos singlet dan kain sarung beserta peci.
Sementara Neera sudah ke dapur menyiapkan sarapan bagi suaminya. Meskipun ini masih subuh tapi tetap saja suaminya itu masih harus terjaga oleh sebab itu harus mengisi energi terlebih dahulu.
Selesai urusan dapur Neera kembali ke kamar ternyata Ayyub telah selesai memakai pakaiannya hanya tinggal atribut dan dasi.
Neera segera mendekat membantu suaminya mengenakan dasi dan atribut berupa bar di pundak dengan empat strip dan pin yang merupakan tanda maskapainya.
__ADS_1
Selama Neera membantu Ayyub selama itu pula suaminya itu tiada henti menciuminya disetiap bagian wajah hingga leher sampai membuat Neera risih.
"Udah sayang, Uda kayak kucing aja kerjaannya mengendus-ngendus" sebal Neera.
"Ini namanya mencium yang bukan mengendus, kamu aneh deh kalau aku kucing kamu ikan dong" canda Ayyub.
"Udah ah, ayo buruan sarapan. Nanti Uda bisa telat" ucap Neera.
"Bentar yang, masih kangen. Belum puas Uda" cegah Ayyub yang langsung memeluk erat tubuh Neera hingga istrinya itu mengawang diudara.
Setelah menerima rontaan dari Neera barulah Ayyub melepaskannya dan berjalan ke kasur untuk menciumi triplets.
"Yang, yakin kamu mau ngatarin Uda. Apa Uda berangkat sendiri aja" tanya Ayyub.
"Iya gapapa, biar Neera antar saja. Lagian nanti kalau Uda bawa mobil masa mau diparkir dua minggu disana" ungkap Neera.
"Tapi triplets gimana ?" tanya Ayyub lagi.
"Yaudah nanti Neera kasih duduk di kursi mereka kan bisa ditidurin" balas Neera.
Sebenarnya Ayyub memang sangat ingin diantar Neera tapi ia juga takut istrinya kecapaian dan mengganggu waktu istirahat mereka.
"Udah, Uda ga usah mikir ribet. Lagian juga sesekali doang. Apalagi kalau triplets tau mereka gak ikut antarin ayahnya bisa ngamuk seminggu mereka" ungkap Neera membesarkan hati suaminya.
Setelah anak-anak dimobil, Neera kembali lagi ke dalam dan melihat suaminya tengah menghabiskan teh telur yang disiapkannya.
"Uda ada yang ketinggalan lagi gak barangnya ?" tanya Neera memastikan.
"Insyaallah gak ada lagi yang" kata Ayyub.
"Yaudah, Neera mau siap-siap dulu" ungkap Neera yang masih belum mengenakan hijabnya.
"Sayang, sini dulu" titah Ayyub sembari membawa Neera duduk diatas pangkuannya.
"Iya Uda" Neera patuh duduk menghadap suaminya yang telah menggeser kursi keluar dari meja makan.
"Sayang, selama Uda pergi Neera jaga diri baik-baik. Jaga anak-anak kita, Uda titip mereka sama kamu. Kalau ada apa-apa beritahu Uda, jangan menyimpannya sendiri. Jika mau kemana-mana izin Uda, minimal sms atau chat kalau Uda lagi diudara. Jangan ambil keputusan sendiri" ungkap Ayyub masih menjeda.
"Sejujurnya Uda sedikit tidak tenang meninggalkan kalian, Uda masih diliputi perasaan takut, takut jika kalian meninggalkan Uda lagi. Apalagi seperti kejadian terakhir kali. Kamu tidak bisa dihubungi" ucap Ayyub menghela napas panjang.
__ADS_1
"Kali ini Uda mohon sama Neera, jangan memutuskan komunikasi kita lagi, apapun yang terjadi tanyakan pada Uda terlebih dahulu. Dengarkan penjelasan Uda. Jangan membuat kesimpulan sendiri, mengerti sayang ?" tanya Ayyub sembari menatap dalam istrinya yang tengah menunduk.
"Uda tau kamu bisa hidup mandiri tanpa Uda, Uda mengerti itu. Tapi walaupun begitu Uda yang tidak bisa hidup tanpa kamu, tanpa anak-anak kita. Uda tidak tau apa jadinya diri Uda jika kalian pergi dari Uda lagi" ungkap Ayyub yang sudah berkaca-kaca.
Mendengar perubahan suara dari suaminya segera Neera memeluk Ayyub sangat erat dan meneteskan air matanya. Neera seakan tidak peduli jika baju seragam suaminya akan basah dan kotor akibat ulahnya.
"Siapa bilang Neera bisa hidup tanpa Uda, siapa bilang kami akan baik-baik saja jika tidak ada Uda. Jangan berkata begitu, Neera takut menjadi istri durhaka. Maafkan Neera Uda, Neera salah. Tolong ampuni Neera. Neera tidak ingin kelak tidak mendapatkan ridho suami dan tidak bisa memasuki surga akibat menyakuti hati Uda" tangis Neera pecah mendengar isi hati suaminya.
"Sstttt sudah sayang, Neera bukan istri durhaka hanya saja saat itu Uda yang belum pantas menjadi suami" bujuk Ayyub.
"Tidak, pokonya Uda maafkan Neera dulu. Neera tidak mau Uda pergi jika hati Uda tidak tenang" kekeuh Neera.
"Iya sayang, Uda maafkan Neera asalkan Neera bisa berjanji melakukan hal yang sudah Ida bilang tadi" ungkap Ayyub yang kini sudah mengangkat wajah Neera dan menatap dalam mata dengan warna coklat tua itu.
"Insyaallah Uda" cicit Neera sembari mengalihkan pandangannya.
"No, look at me sayang. Tatap mata Uda dan berjanjilah sekarang" tegas Ayyub yang melihat keraguan dari mata istrinya.
Neera hanya mengambil naoas dalam lalu membuangnya perlahan. Memberi keyakinan pada diri dan hatinya.
"Hmmm, baiklah Uda. Insyaallah Neera berjanji, tapi..." jeda Neera seakan ragu.
"Tapi apa sayang, katakanlah" titah Ayyub.
"Apapun alasannya Neera tidak menerima adanya perselingkuhan, main perempuan atau apapun itu. Kalau Uda ada rencana atau hal apapun pastika untuk memberi tahu Neera terlebih dahulu agar Neera tidak salah paham lagi, oke ?" ungkap Neera sembari menunduk dan mempermainkan dasi suaminya.
"Haha baiklah sayang, Uda berjanji. Percayalah Uda hanya mencintai kamu selamanya" ungkap Ayyub yang merasa lucu melihat tingkah kekanakkan dan malu-malu yang jarang ditunjukkan istrinya.
"Apapun itu pokoknya tidak boleh main perempuan, bahkan itu bisa dilakukan tanpa cinta" rengek Neera yang kini menusuk-nusuk dada suaminya.
"Ah aduh, iya sayang Uda berjanji tidak akan lagi bermain perempuan atau selingkuh apapun namanya" ungkap Ayyub yang membawa istrinya kedalam dekapannya.
"Sudah, ayo kita berangkat nanti Uda terlambat" ajak Neera.
"Kiss dulu sayang, biar Uda bisa simpan dua minggu" pinta Ayyub.
Segera Neera mendekatkan wajahnya pada Ayyub yang seketika mendapatkan hujan ciuman dari suaminya itu, terakhir Ayyub ******* bibir manis istrinya dan menekan tengkuk Neera untuk memperdalam ciuman mereka.
Neera membalas ciuman yang terasa lembut dan penuh cinta itu. Ciuman yang sarat akan kerinduan dan kasih sayang. Sangat hangat dan dalam.
__ADS_1
"Love you sayang, istriku, cintanya Uda" ungkap Ayyub sesudah ciuman mereka usai.
"Love you too Hubby" ungkap Neera yang mengecup singkat bibir Ayyub dan setelahnya kelamar untuk memasang hijab dan jaket beserta mengambil tas yang sudah berisikan barang pribadinya.