Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 161


__ADS_3

Ayyub merangkul pundak Abang tertuanya yang terlihat begitu terpukul sembari menuntunnya menuju mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh petugas hotel.


"Hey, ada apa denganmu Bang, kusut sekali mukanya" canda Fazreen yang berusaha mencairkan suasana.


Hanya keheningan yang menjadi jawaban membuat suasana seketika canggung.


Ayyub melihat Fazreen seakan memberi kode untuk segera berangkat meskipun mereka belum tau akan kemana.


Seakan mengerti Fazreen mengemudikan mobil itu ketengah jalan raya tanpa tau arah. Berputar-putar tanpa tau arah mana yang akan mereka tuju.


"Bang, apa kita pulang ke rumah saja, istirahatkan dirimu sejenak supaya pikiranmu juga tenang" ujar Ayyub yang juga sudah lelah berputar-putar tak menentu.


"Aku tidak mau melihat wajahnya saat ini, turunkan saja aku di hotel terdekat dan kalian pulanglah" sahut Hakim yang masih menatap tanpa arah.


Melihat keadaan abangnya yang begitu menyedihkan membuat Ayyub jadi berpikir keras, tidak mungkin ia akan meninggalkan Hakim dalam terpuruk seorang diri, lebih tidak mungkin lagi jika ia ikut menemani Abangnya dan tidur tanpa Neera malam ini.


Hal ini lebih menyeramkan dari ribuan belati yang hinggap di jantungnya. Dasar Ayyub bucin !


Akhirnya Ayyub berinisiatif untuk mengajak Hakim pulang ke apartemennya. Toh apartemennya juga besar dan ada beberapa kamar kosong disana.


Lagian ia yakin Neera juga tidak akan keberatan, karena ini pun abangnya juga. Dengan demikian ia bisa mengawasi abangnya malam ini untuk memastikan bahwa ia dalam keadaan aman. Lebih pentingnya lagi, ia tidak harus berpisah dengan anak dan istrinya malam ini. 'Pemikiran yang brilian dan menguntungkan' ujar Ayyub bangga pada dirinya sendiri.


"Bang, antarkan saja kami ke apartemen ku. Biar sementara ini Bang Hakim menginap di tempat ku saja" ujar Ayyub memberitahukan Fazreen yang juga sudah terlihat lelah.


Melihat respon Hakim yang diam tanpa penolakan ataupun setuju, Fazreen segera mengarahkan kuda besi itu menuju kediaman mewah Ayyub.


Sebelum itu Ayyub juga telah memberi tahu Neera melalui pesan agar istrinya itu bisa bersiap dan mengenakan pakaian tertutup dan hijabnya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sampai di lantai tertinggi hunian mewah itu yang semua lantainya menjadi milik Ayyub. Ia mengajak Hakim dan Fazreen masuk setelah sebelumnya mengucapkan salam pada anak dan istri tercintanya.


"Selamat malam sayang, anak-anak mana ?" tanya Ayyub setelah mengecup kening istrinya sebagai balasan atas ciuman di punggung tangannya.

__ADS_1


Sejujurnya ingin Ayyub mencium pipi dan bibir istrinya juga tapi ia mengerti saat ini kondisi sedang tidak kondusif jadi ia berusaha menahannya.


"Anak-anak lagi menghafal di kamar" ujar Neera.


"Ayo silakan duduk Bang, Neera buatkan minum dulu" sambung Neera pada kedua abang iparnya yang terlihat begitu menyedihkan.


Tanpa bertanya apapun Neera berjalan ke dapur. Ia tau ada sesuatu yang salah telah terjadi pada mereka tetapi ia mencoba untuk tidak ikut campur atau bertanya karena bagaimanapun itu bukan ranahnya untuk ikut serta.


Setelah membuatkan teh chamomile agar membantu mereka rileks dan sedikit tenang. Neera juga mengeluarkan beberapa kue dan buah sebagai teman minun teh mereka.


"Silakah diminum tehnya Bang, kebetulan tadi Neera juga baru membuat kue. Neera pamit ke dapur lagi ya, mari" sopan Neera pada kedua abang iparnya dan duduk di sofa bersama Ayyub.


"Iya terima kasih Neera, tidak usah repot-repot" balas Fazreen sementara Hakim hanya memaksakan senyumnya.


Neera kembali lagi ke dapur berperang dengan alat memasak. Sesungguhnya ia tadi sudah selesai memasak makan malam mereka tetapi tidak akan cukup jika dengan makanan yang ada sekarang.


Maka Neera memasak lebih banyak nasi lagi dan menambah beberapa menu baru dengan bahan yang tersedia di dalam kulkas.


Neera balik lagi ke depan bermaksud untuk mengajak makan semua anggota keluarga karena memang sudah waktunya makan malam. Sekalian Neera ingin memanggil triplets ke kamar untuk ikut serta makan.


Saat Neera sampai di ruang tengah ternyata mereka sudah berkumpul disana bahkan saat ini triplets juga sudah ikut bergabung. Ayyub dan kedua abangnya pun sudah berganti baju, sehabis mandi sepertinya.


"Uda makan malam sudah selesai" bisik Neera ditelinga Ayyub agar suaminya itu mengajak semuanya untuk makan. Rasanya tidak sopan jika ia yang melakukannya terutama disana ada abang iparnya.


"Ayo Bang, kita makan dulu. Neera sudah selesai menyiapkan makan malam" ajak Ayyub yang diikuti semua orang.


Kini semua menyantap hidangan yang ada di meja dengan khidmat. Tidak satupun suara yang terdengar selain dentingan sendok dan garpu di piring. Semua seakan berlomba menghabiskan hidangan yang begitu menggugah selera.


Bahkan Hakim yang dikira akan kehilangan nafsu makannya begitu menikmati masakan Neera dan beberapa kali menambahkan lauknya.


Mengkin saja karena efek kelelahan sedari siang dengan perut kosong dan hati yang lelah atau juga Neera yang sengaja menyiapkan hidangan spesial pembangkit napsu makan karena ia tahu apa yang terjadi pasti sangat berat sehingga perlu makanan pemancing selera makan.

__ADS_1


Begitulah malam ini dihabiskan dengan ketenangan, setelah berbincang sebentar Fazreen pamit pulang sementara Hakim memilih untuk istirahat di kamar tamu depan.


Ayyub dan Neera juga menidurkan triplets setelah mereka sholat bersama. Ya, hanya triplets dan ayahnya karena Neera masih cuti sampai saat ini.


Setelah memastikan anak-anaknya tidur, Ayyub mengajak Neera ke balkon dan duduk di kursi ayunan tunggal yang ada disana. Ayyub menarik tangan Neera untuk ikut duduk dipangkuannya sembari memeluk erat istri yang sangat ia cintai itu. Menghirup aroma Neera untuk melepas kerinduan yang sedari pagi ia tahan.


"Ada apa sayang ?" lebut Neera sembari memperbaiki posisinya sehingga bisa memandang wajah tampan suaminya.


"Ada apa hmm ?" tanya Ayyub lagi sembari mengelus rahang tegas suaminya.


"Hmmmm banyak hal yang terjadi hari ini sayang, biarkan Uda memeluk Neera lebih lama" ujar Ayyub yang semakin mempererat pelukannya dan menelusupkan wajahnya diperpotongan leher Neera.


Dengan lembut Neera mengusap kepala suaminya yang seperti bocah tengah mengadukan kesedihan pada ibunya. Cukup lama Ayyub menikmati ketenangan yang diberikan oleh istrinya hingga tiba-tiba ia mengangkat tubuh Neera dan membalikkan posisi istrinya itu seperti tanpa beban.


"Aaaaaaaaaaw Uda, pelan pelan dong. Bilang dulu kalah mau angkat Neera. Kaget tau" sungut Neera setelah membuka bekapan mulutnya karena tidak sengaja berteriak takut semua orang akan terganggu.


"Hehe kamu lucu deh yang, mmmuaach" cengir Ayyub yang langsung mencuri satu kecupan di bibir indah istrinya.


"Ishh.. Uda ini nakal sekali tau gak. Jangan suka bikin kaget Neera, bilang dulu kalau mau ngapa-ngapain sayang" keluh Neera pada suaminya yang kini tengah melingkarkan kaki Neera dipinggang kekarnya.


Kini posisi mereka berhadap-hadapan karena Ayyub mendudukan Neera diatas pangkuannya sehingga posisi mereka sejajar dengan tubuh mungil namun seksi milik Neera tenggelan ditubuh tinggi dan kekar suaminya.


"Ada apa sayang, Apa Uda mau menceritakan sesuatu ?" tanya Neera yang melihat kegundahan menyelimuti suaminya.


"Sayang, jangan selingkuh dari Uda ya, jangan tinggalkan Uda juga dan jangan khianati Uda juga" lirih Ayyub yang kini membenamkan kepalanya didada Neera.


"Uda sayang...., suamiku tercinta, siapa sih yang mau ninggalin Uda. Neera disini selalu, disamping Uda. Kenapa Uda bicara begitu, sudah ya jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi" ujar Neera sembari menegadahkan wajah suaminya agar bisa menatap mata elang itu dan meyakinkan suaminya yang lagi mode manja.


Seperti yang sudah diduga tanpa dipancing sedikitpun keluarlah semua cerita yang terjadi hari ini di keluarga Kaisar. Dimulai dari permasalahan perusahaan yang berhubungan dengan salah satu saudara dan istrinya, kelakuan suami kakaknya Riezka dan peristiwa yang baru saja terjadi penggerebekan istri Hakim dengan selingkuhannya.


Neera diam saja sembari dalam hati beristighfar. Mendengarkan cerita suaminya serta semua keluh kesahnya. Neera memahami situasi sulit ini, ia mengerti suaminya itu butuh pendengar dan butuh tempat untuk menumpahkan segala beban yang ada dihati dan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2