Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 102


__ADS_3

Sampai didepan rumah mereka triplets sudah sangat kelelahan menceritakan liburan mereka kepada Ayyub dan ketiganya sudah tepar ditengah antara kedua orang tuanya.


Neera yang merasakan mobil sudah berhenti bangun dan mencari kunci rumah beserta uang untuk pembayaran taksi.


Pertama ia keluar membawa baby Qal yang paling dekat dengannya sementara sopir membantu membawa tas mereka.


Setelah menidurkan Qal di ruang tengah Neera kembali keluar mengambil Qai dan Qee dan meninggalkan Ayyub begitu saja di taksi.


Neera memindahkan mereka bertiga ke kamar dan melepas jacket, topi serta sepatu ketiganya. Baru setelahnya membersihkan diri sejenak dan ikut berbaring dengan triplets.


Sementara sopir yang tadi binging sendiri melihat Ayyub yang masih terlelap di kursi penumpang taksinya. Kenapa istrinya tidak membangunkannya apakah ia lupa akan suaminya atau orang ini bukan suaminya tetapi dari tadi anak mereka memanggil ayah.


Dalam kebingunangan sopir itu mencoba membangunkan Ayyub yang tidak membutuhkan waktu yang lama, sama bingungnya denga sang sopir Ayyub terbengong saat mendapati didepan matanya saat ini si sopir dengan raut wajah bingung.


Melihat ke samping sudah tidak ada orang, lalu diarahkan kesekitar barulah ia menyadari bahwa mereka sudah sampai dirumah. 'Kenapa juga Neera tidak membangunkannya, kenapa malah meninggalkan ia sendiri disini' batin Ayyub.


"Maaf pak, bapak turun disini atau ada tujuan lain pak ?" tanya sopir membuyarkan lamunan Ayyub.


"Eh ah iya, saya turun disini" balas Ayyub yang segera beranjak.


"Maaf pak salah sangka, yang tadi bukan istrinya ya. Apakah bapak sedang dalam proses pengejaran ya" tanya si sopir kepo.


"Tidak, dia istriku" geram Ayyub. Bagaimana mungkin itu bukan istrinya, jelas-jelas mereka sudah memiliki anak.


"Eh maaf pak saya kira tidak, soalnya ibu tadi langsung masuk begitu saja. Yasudah pak saya pergi dulu" pamit sopir taksi itu tanpa mendengarkan balasan Ayyub yang sudah geram.

__ADS_1


Dengan langkah gontai Ayyub memasuki rumah yang untungnya tidak dikunci, segera ia menguncinya dan mencari keberadaan Neera. Sungguh ia berharap saat ini bisa berbicara dengan istrinya itu. Bahkan kalau bisa ia ingin memeluk dan membawa Neera dalam dekapannya.


Namun sayang saat memasuki kamar mereka ia melihat Neera yang sudah terlelap ditengah triplets, sangat tidak mungkin ia melancarkan aksinya. Bisa-bisa ketiga anaknya itu terbangun dan rewel.


Ayyub memilih memasuki kamar mandi dan menyegarkan tubuhnya yang seharian ini terasa lelah. Maka setelahnya ia berganti baju dan memasuki dapur untuk mencoba memasak makan malam mereka meskipun ia tidak begitu mahir.


Mendapati tidak ada bahan dikulkas akhirnya Ayyub berinisiatif keluar dan membeli keperluan mereka. Bersamaan dengan deru mobil yang pergi Neera membuka matanya dan melihat apakah suaminya itu sudah pergi.


Memang Neera belum tidur sebenarnya ia hendak mandi tetapi melihat kemungkinan Ayyub akan bertemu dengannya maka ia memilih tidur diantara triplets saja dan saat Ayyub pergi inilah kesempatan untuknya membersihkan diri sejenak dan sebelumnya memesan makanan untuk diantar.


Untuk kali ini saja ia ingin egois, ia ingin memperjuangakan hati dan harga dirinya sebagai istri, apapun yang terjadi ia tetaplah perempuan yang memiliki hati yang rapuh. Jika dulu ia bisa menutup mata dan terus bersabar kini waktu seakan membentuknya hatinya menjadi sedikit lebih tangguh. Kali ini ia tidak akan mengalah begitu saja.


Maka setelah membersihkan diri ia segera membereskan barang bawaan mereka dan membereskan rumah yang sedikit berdebu karena lama ditinggal.


Selesai dengan urusan rumah ia mengambil makanan yang sudah datang dan menikmatinya serta menyiapkan untuk triplets yang pasti sebentar lagi akan bangun.


Beruntung Ayyub cukup lama keluar sehingga ia bisa dengan leluasa melakukan aktifitas di rumah. Beruntung triplets sedikit jetlag sehingga dengan sogokan ASI akhirnya mereka bisa tidur dengan nyenyak begitupun dengan Neera ia sengaja memilih posisi ditengah antara Qee dan Qal.


Ayyub yang sampai dirumah terlihat lesu karena diluar ekspektasinya bahwa rumah akan ramai oleh celotehan triplets dan bundanya ternyata yang ia dapati hanya ruang kosong dan sedikit redup karena lampu utama yang dimatikan.


Rasa lelah kian bersarang didirinya berharap saat pulang dapat mengobati jiwanya ternyata yang ia dapat hanya hampa.


Ternyata memang benar ia tidak bisa hidup tanpa Neera dan buah hati mereka. Hidupnya terasa tak berarti meskipun mereka ada tetapi terasa tiada. Beginikah sakit saat ia harus melepaskan belahan jiwanya.


Bahkan ini belum seberapa, ia masih menganggap karena Neera lelah tapi apakah mungkin jika suatu saat nanti istri cantiknya itu pergi akan terasa lebih sakit dari ini. Oh tidak bisa, bahkan membayangkannya saja ia tidak akan mampu. Tak akan pernah ia biarkan itu terjadi.

__ADS_1


Dengan gontai Ayyub melangkah ke kamar dan mendapati anak dan istrinya sudah berganti pakaian dan tidur nyenyak, melihat makanan di dapur sepertinya mereka sudah makan, terasa sia-sia usahanya belanja ke luar toh nanti barang itu juga akan dimanfaatkan.


Segera Ayyub menyimpannya di lemari pendingin dan sebagian di lemari. Melihat makanan yang masih panas ditutup di meja ia yakin itu adalah bagiannya yang disiapkan oleh istri tercinta.


Begitulah Neera dalam keadaan apapun ia selalu menyiapkan kebutuhan suaminya meskipun memang saat ini ia lelah sekalipun atau bahkan tidak mau bicara, siapa yang tau.


Dengan lahap Ayyub menghabiskan makanan itu dan mencuci piring kotor. Meskipun ia tau bahwa Neera mampu mengerjakannya tetapi ia ingin mengurangi beban istrinya.


Setelah bermain game di handphone nya ia beranjak ke kamar, melaksanakan kewajiban sebagai muslim dan setelahnya tidur. Memang ranjang besar mereka mampu menampung lima orang tetapi tetap saja ia tidak bisa meraih istrinya yang kini diapit oleh buah hati mereka.


Terpaksa Ayyub merebahkan diri disamping Qal yang mengarah ketepi ranjang bukan kebagian dinding. Perlahan namun pasti ia sedikit mengangkat tubuhnya dan bertumpu. Membisikkan do'a, harapan dan kata cinta ketelinga istri dan anaknya lalu mengecupi dahi mereka satu persatu. Begitulah selalu kebiasaannya.


Dini hari saat semua masih terlelap dalam mimpinya Neera perlahan bangun dan bergerak pelan sembari menepuk pelan pantat triplets karena terusik oleh gerakannya.


Saat berhasil segera ia menuju kamar mandi berwudhu dan melaksanakan sholat malam. Meminta petunjuk dan keteguhan hati serta penyelesaian dalam setiap permasalahannya. Tidak lupa juga ia mendo'akan orang tuanya, triplets begitupun dengan suaminya.


Setelahnya ia beranjak keluar membawa laptop dan menyelesaikan semua pekerjaannya dan menyempatkan melaksanakan yoga untuk kebugarannya.


Selesai dengan itu ia beberes rumah dan memasak sarapan hingga makan malam dan mengepack sehingga nanti tinggal dipanaskan oleh Ayyub.


Memang saat ini ia berniat menyibukkan dirinya dengan tujuan menghindari Ayyub sampai ia mampu untuk menyembuhkan luka hatinya dan membicarakan masalah ini.


Selesai dengan memasak waktu sudah menunjukkan waktu subuh, segera ia mengintip triplets yang pasti sudah bangun membawa mereka satu persatu keluar untuk disusui dan menidurkan mereka kembali.


Setelah urusan triplets ia mandi, sholat dan mempersiapkan diri untuk segera berangkat kerja. Memang hari ini ia akan menggunakan mobilnya sendiri yang sudah dipanaskan.

__ADS_1


Dengan meninggalkan notes apa yang harus dilakukan untuk triplets dan bagaimana cara menyiapkan sarapan dan makan yang tinggal dipanaskan Neera segera berangkat setelah meninggalkan kecupan pada triplets tapi tidak untuk Ayyub.


Maka Neera berangkat dan akan pulang nanti setelah semua tidur dan menyiapkan pekerjaan rumah dini hari dan bercengkrama bersama triplets subuh hari begitu seterusnya hingga seminggu berlalu.


__ADS_2