Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 148


__ADS_3

Cukup lama Ayyub mencari benda penting yang saat ini tengah dibutuhkan istrinya tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


Dengan berat hati Ayyub kembali lagi kedepan pintu kamar mandi dan mengetoknya pelan.


"Sayang, gak ada pempers kamu yang" seru Ayyub setelahnya.


"Ih Uda bukan pempers, pembalut tau. Emangnya Neera anak kecil" protes Neera tak terima terlebih saat ini ia juga lagi PMS yaa tau sendirilah emosi wanita yang kurang stabil saat syndrome ini melanda.


"Iya, iya sayang, maksud Uda itu. Pembalut Neera gak ada di lemari ditas tadi Uda cari juga gak ada" ujar Ayyub yang lebih memilih mengalah.


"Hmm..., apa habis ya. Kalau gitu, boleh gak Uda tolong beliin kebawah sebentar ?" tanya Neera ragu.


"Ah ? beli ? Gak mau ah yang nanti apa kata orang. Malu Uda, kamu aja yang beli biar Uda temani kebawahnya" ujar Ayyub yang langsung protes dan memberi solusi.


"Ya mana bisa Neera keluar, nanti darahnya kemana-mana. Uda jadi suami gengsian banget sih, kenapa juga malu. Uda mah mau enaknya doang giliran yang istri susah aja malah mikirin malu, sekali-kali lah Uda berkorban buat istri. Uda gak kasian lihat Neera disini terus" kuliah Neera panjang lebar yang membuat Ayyub jadi mati kutu.


"Gimana kalau Uda bangunin mama aja minta tolong beliin" usul Ayyub lagi yang masih berusaha mengelak.


"Uda kok bisa mikir kesana sih, nanti apa mama pikir tentang Neera. Baru juga baikan udah cari masalah lagi sama mertua, masak iya mertuanya disuruh beli pembalut kayak gak ada sopannya Neera itu jadinya" omel Neera yang sudah mulai agak kesal.


"Tapikan yang minta tolong Uda sayang bukan Neera. Nanti juga Uda temanin mama kebawah kok yang, gak mungkinlah Uda biarin sendiri" jelas Ayyub lagi.


"Sama aja kan Uda, emangnya Uda mau beli pembalut buat siapa, buat Neera kan. Emang Uda pakai itu pembalut, ya ujung-ujungnya Neera juga yang jadi nyuruh mama kelihatannya, Uda gak ngerti banget sih" omel Neera yang sudah naik level kesal.


"Yah.., tapi gimana dong yang. Harus Uda banget nih yang beli, apa gak ada solusi lain lagi ?" ujar Ayyub yang masih berusaha negosiasi.


"Ah elah elo Yub, beli pembalut doang. Yaudah deh gue aja yang beli. Gak bisa diharapin benar deh ini suami" rutuk Neera yang sudah naik level kesel banget.

__ADS_1


Mendengar kata sakti elo-gue keluar dari mulut istrinya Ayyub makin kalang kabut. Tau sendiri kata itu keluar hanya saat Neera sudah ditahap marah dan kalau sudah begitu bakal susah redanya.


Kalau dulu saat mereka masih berteman kata itu memang sering mereka gunakan bahkan sudah menjadi bahasa sehari-hari tapi beda cerita saat sekarang sudah jadi suami istri. Terlebih saat Neera sudah memutuskan memakai kata "Uda" sebagai sapaan hormatnya.


Mendapati amarah istrinya akhirnya Ayyub ngacir juga, dengan bermodal nekat Ayyub segera berjalan keluar mengambil topi dan dompetnya.


Sementara Neera yang masih di kamar mandi mendengar bunyi pintu yang terbuka dan kembali ditutup yang ia yakin bahwa itu suaminya.


Entah kenapa gelaja datang bulan kali ini begitu menyiksa Neera. Memang ia biasanya dia akan sakit perut di hari pertama bahkan sebelumnya tetapi tidak separah ini.


Sejujurnya untuk berdiri saja ia sangat sulit, apa karena beberapa hari belakangan ia sangat sibuk, banyak pikiran dan lebih lagi kelelahan ditambah pindah negara yang membuat tubuhnya harus penyesuaian lagi.


Sementara Ayyub setelah beberapa menit turun dari kamarnya kini sampai di minimarket di bawah apartemen mereka.


Saat ini ia tengah bingung, kesalahan besar ia turun tanpa bertanya jenis atau merk pembalut yang diinginkan istrinya.


Ketika akan menelpon ia baru menyadari tidak membawa benda pipih itu akibat panik akan kemarahan istrinya.


Lama ia menimbang akhirnya pilihan tetap pada istrinya, bukan karena apa. Sayang istri, bos !. Kalau istri ngamuk, hancur dunia. Malam menjadi semakin gulita, dingin dan sepi jadi lebih baik menurunkan gengsi dan ego.


Akhirnya karena tidak ada pilihan juga malu bertanya akhirnya Ayyub membeli setiap jenis pembalut yang ada disana, entahlah ia hanya takut salah beli yang berakhir dengan kebisuan Neera lagi meskipun istrinya itu tidak banyak tingkah tapi ia takut juga, namanya juga lagi datang bulan.


Satu keranjang penuh pembalut ia bawa ke kasir dengan wajah sok cueknya. Mengantri dibelakang seorang wanita yang masih tersisa dua orang di depannya.


Sialnya entah kenapa malam itu banyak sekali orang yang berkunjung ke mini market itu seperti tidak ada tempat lain saja. Semua mata menatap lekat pada dirinya, sesekali berbisik dengan ekor mata yang masih tertuju pada Ayyub. Bahkan ada yang tersenyum canggung bahkan ada yang terang-terangan tersenyum penuh arti padanya.


Bahkan kini mbak-mbak dan mas berseragam biru, merah dan kuning itu masih menatap kagum dirinya sambil berbisik-bisik.

__ADS_1


"Hi mas, buat ceweknya ya ?" sapa seorang wanita cantik dan seksi pada Ayyub.


"Bukan buat istri saya" jawab Ayyub cuek tetapi sejujurnya malu.


"Wah.., ternyata udah punya istri. Mau dong jadi cadangannya, masih muda, ganteng, hot, penyayang lagi" ujar wanita itu lagi yang membuat perhatian semakin tertuju padanya padahal ia sudah memakai topi kebawah untuk menutupi wajahnya.


Beruntung saat itu giliran antrian Ayyub sehingga ia tidak perlu meladeni omongan wanita sok akrab itu.


"Maaf mas, ini semuanya mas ?" tanya mbak kasir berusaha menatap mata Ayyub.


"Iya" cuek lagi.


"Yakin mas, emang masnya gak tau istrinya pakai yang mana ?" tanya mbak kasir yang hanya dibalas hening.


"Aduh maaf mas pengantin baru ya, atau malah mau malam pertama tapi gagal" lanjut mbak kasir itu lagi yang membuat kulit wajah Ayyub yang putih sudah memerah bersamaan dengan telinganya.


"Tolong cepat mbak, istri saya sedang menunggu" balas Ayyub agar mbak itu berhenti mengoceh.


"Ah iya mas, sayang istri banget ya mas nya sampe mau beliin pembalut segala loh" ujar mbak kasir yang masih ngoceh sambil menghitung harga.


"Wah bener ya mbak, sudah ganteng sayang istri lagi, jarang-jarang loh. Mau lah aku jadi istri keduanya" sambut cewek tadi yang berusaha berbicara dengan Ayyub diawal.


'Duh, begini nih azab suami durhaka sama istri, kenapa gue gak iyain aja tadi pas waktu Neera lagi minta tolong pertama. Kualat kan lo jadinya yub, pasti istri tercinta aku lagi ngedumel nih ngutuk suaminya makanya jalan aku buat beli benda berharga ini penuh liku' batin Ayyub pada dirinya.


Beruntung kasir bermulut lemes itu cukup cekatan dalam bekerja sehingga tidak menunggu lama total harga yang dibayakan sudah tertera di mesin pembayaran.


Tanpa menunggu lama Ayyub segera mengeluarkan kasnya malas jika harus pakai kartu karena lama. Beruntung ia membawa cukup uang.

__ADS_1


Setelah selesai segera ia bergegas kembali ke lobi apartemen mewah itu dan naik menggunakan lift. Lift yang langsung berada didepan pintu masuk utama yang sudah masuk area apartementnya yang super mewah.


Karena takut dengan kemarahan istrinya segera Ayyub kekamar dan menyerahkan sekantong besar pembalut itu yang kembali mendapatkan kebisuan dari istrinya.


__ADS_2