Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 217


__ADS_3

Ayyub serba salah menghadapi sikap istrinya. Mau membujuk salah mendiamkan akan lebih salah lagi.


"Sayang, ayok kita tidur di kasur. Disini sempit nanti badannya Neera pegal-pegal. Uda gendong ya ?" pinta Ayyub dengan penuh kelembutan.


Neera hanya diam dan menepis tangan Ayyub dari wajahnya. Bahkan ia sama sekali tak berniat membuka matanya.


"Neera tidak mau tidur sama Uda ?" tanya Ayyub yang diangguki oleh istrinya.


"Yasudah, tapi Neera yang dikasur ya biar Uda yang tidur di sofa" pinta Ayyub selembut mungkin.


Masih dengan keterdiamannya Neera bangkit dan berlalu menuju kasur bahkan tanpa melihat sedikitpun pada lelaki yang kini sudah menarik napasnya sedalam mungkin.


Akhirnya malam ini kedua pasutri yang tengah perang dingin itu pisah ranjang. Ayyub yang masih shock dengan perilaku istrinya tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun. Apalagi selama ini ia terbiasa memeluk Neera dan menghirup aroma istri tercintanya.


Sementara Neera sudah terpejam sejenak setelah ia merebahkan tubuh di kasur empuk mereka.


Waktu terus berjalan seiring gelapnya malam semakin menenggelamakan manusia hingga keperaduan. Di kamar dengan pencahayaan remang itu terlihat pergerakan dari seorang wanita cantik.


Bergerak tidak nyaman di bawah selimut tebal dan akhirnya terbangun dari ranjang. Perlahan wanita itu berjalan menuju sofa dan berdiri cukup lama disamping suaminya yang rebahan.


Akhirnya wanita itu merebahkan diri dan menyelusup masuk ke pelukan hangat sang pria yang selama ini menjadi belahan jiwanya. Menempatkan tubuhnya senyaman mungkin dan membenamkan wajah ke dada bidang yang selalu menjadi tempat teraman baginya.


Ayyub yang asalnya memang tak bisa tidur terkejut saat mendapati istrinya merengsek masuk kedalam pelukannya tapi lelaki yang sengaja memejamkan matanya itu membiarkan saja sembari menahan senyum melihat kelakuan istrinya yang menggemaskan.


Hatinya membuncah penuh kemenangan melihat wanita yang sangat dicintainya itu tak bisa tidur tanpanya dan justru mencari kehangatannya meskipun kenyataan bahwa dirinya juga tak sanggup tertidur tanpa Neera juga.


Takut istrinya akan terjatuh, Ayyub memeluk erat dan semakin memasukkan tubuh mungil yang molek itu ketubuh besarnya. Tak tahan lelaki itu juga menghirup dalam aroma yang begitu dirindukannya dan diinginkannya sejak tadi.


Perlahan Ayyub juga mengusap lembut punggung Neera hingga terdengar napas teratur mengenai dadanya.

__ADS_1


Takut akan merasa tak nyaman Ayyub perlahan bangun bersamaan dengan tubuh istrinya yang kini sudah berada dalam dekapannya. Mengangkat perlahan dan membawanya kembali ke kasur mereka.


Setelah menidurkan istrinya Ayyub juga ikut berbaring lagi dan memeluk kembali Neera. Wanita itu kembali tertidur nyaman dalam dekapan hangat suaminya meskipun tadi sebelum tidur ia seperti induk singa yang tak mau didekati sedikitpun.


"Istriku menggemaskan sekali" tawa Ayyub yang tak tahan untuk tak memberikan kecupan di wajah yang kini terlihat damai dalam tidurnya.


Cukup lama Ayyub membelai kepala dan punggung istrinya hingga akhirnya ia juga ikut terlelap dan mengukir mimpi indah bersama.


Subuh menjelang mengantarkan fajar menuju ujung langit pagi. Perlahan Ayyub terbangun sebelum waktunya subuh. Tubuhnya terasa bugar setelah mengecas dengan pelukan istrinya.


"Sayang.., bangun yang. Kita sholat tahajjud dulu mumpung belum subuh" lembut Ayyub pada istrinya yang masih anteng dalam pelukan.


"Hmmm" hanya itu jawaban yang keluar dari Neera.


"Sayang, ayok bangun yang, nanti kelewat lo sholat nya" bujuk Ayyub kembali.


"Sayang, kenapa yang, ada yang sakit yang ?" tanya Ayyub beruntun yang dibalas dengan gelengan kepala.


"Terus kenapa sayang ?" dibalas gelengan kepala lagi.


"Gak mau bangun ?" tanya Ayyub lagi menerka dan kali ini hanya dijawab tatapan sendu.


"Mau ikut sholat atau tidak ?" lembut Ayyub sembari mengusap air mata di pipi lembut Neera.


"Hu'um" hanya itu jawaban yang keluar.


"Mau sholat ?" tanya Ayyub memastikan dan dijawab anggukan.


"Tapi gak mau bangun" cebik Neera yang matanya sudah berkaca-kaca persis seperti baby Qal jika sedang merajuk.

__ADS_1


"Yasudah, digendong mau ?" tanya Ayyub yang semakin gemas sekaligus bingung dengan sikap istrinya.


Anggukan persetujuan kembali terlihat dan Ayyub dengan tanpa beban membopong tubuh mungil kesayangannya menuju kamar mandi mereka.


Dengan sabar Ayyub mendudukan di kloset, membiarkan Neera buang air dan setelahnya mengangkat tubuh istrinya ke depan wastafel sementara dia sendiri juga membuang hajatnya.


Setelah selesai dengan urusannya Ayyub kembali lagi ke wastefel dimana kini istrinya tengah senderan di keramik hitam dengan desain mewah itu.


Tangan telaten Ayyub menyapu wajah istrinya dengan air dan pencuci wajah begitu juga dengan dirinya setelah tadi mereka menyelesaikan gosok gigi bersama yang juga diambilkan oleh Ayyub.


Neera memilih ambil wudhu di wastafel karena juga dia didudukan oleh suaminya diatas meja tersebut. Setelah selesai kembali Ayyub menggendong istrinya dan meletakkan diatas kasur sementara dirinya membentangkan sajadah dan menyiapkan mukena Neera setelah mengganti bajunya sendiri.


Rutinitas yang biasanya dikerjakan oleh istrinya itu kini beralih menjadi pekerjaan yang sangat disenanginya. Memanjakan Neera adalah salah satu hal yang sangat diimpikannya karena jarang sekali istrinya itu bersikap manja hanya belakangan ini lebih sering terlihat.


Kembali Ayyub memasangkan mukena istrinya dan membimbingnya menuju sajadah sebelum akhirnya mereka melaksanakan sholat berjamaah dan tadarus. Sementara pada saat sholat subuh Ayyub pergi ke mesjid bersama Papa dan saudaranya sementara Neera memilih sholat sendiri di kamarnya karena ia masih merasa sedikit lemas.


Pagi ini mereka rencananya akan menghadiri beberapa undangan dari pemerintah dan stasiun tv sebelum nantinya akan kembali sore ini ke kampung halaman Neera.


Neera yang sudah sedikit segar sehabis berolahraga pagi memilih mandi dan berganti pakaian santai. Namun demikian ia juga sudah menyiapkan baju nanti untuk dirinya dan Ayyub menghadiri undangan.


Sembari menunggu suami, mertua dan iparnya pulang dari mesjid, Neera memilih menuju dapur untuk memasak beberapa menu yang saat ini ingin dicobanya.


Beruntung disana koki dan juga beberapa pelayan juga sudah standby jadi Neera tidak kesulitan mencari bahan yang dibutuhkannya meskipun pada awalnya ia dicegah bekerja oleh para pelayan dan koki di rumah mewah mertuanya itu.


Tangan yang terlatih dan gesit membuat Neera membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk sebuah hidangan lengkap sarapan pagi ini. Ditambah bantuan dari beberapa koki yang ada disana.


Menu sarapan ala eropa dan asia siap dihidangkan dimeja makan setelah dilakukan plating oleh Neera sendiri.


Tidak lupa Neera juga membuatkan kopi untuk suami, mertua dan iparnya karena para lelaki itu juga terkadang menginginkan pagi di pagi hari sebelum memulai aktifitas mereka.

__ADS_1


__ADS_2