Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 243


__ADS_3

Senyum kian mengembang diwajah cantiknya saat melihat Ayyub yang enggan melepaskan tangan dari tubuhnya bahkan lelaki itu merelakan tangan kanannya menjadi bantalan tidur Neera pasti rasanya kebas sekali.


Perlahan Neera bangun dan mendaratkan ciuman di bibir sexy suaminya yang sedikit bervolume. Puas memandangi dan membelai wajah maskulin itu Neera segera beranjak menuju kamar mandi.


Sembari menunggu waktu magrib Neera menyempatkan memasak makan malam mereka setelah memastikan triplets masih pulas dalam tidurnya.


Memang seharian ini mereka lelah sekali berjalan kesana kemari, bermain dan berbelanja tiada henti sehingga tidur mereka juga lebih panjang dari biasanya.


Dengan tangan yang cekatan Neera memasak nasi sembari membuat lauk sederhana. Tidak lupa membuat daging tumis asam manis untuk triplet sementara untuk dirinya dan Ayyub, Neera memilih menu daging sambal merah. Sayur asem dan ditambah perkedel tahu sehingga menu makan malam hari ini bertemakan nusantara.


Selesai dengan urusan dapur Neera kembali mengecek kamar triplets yang ternyata ketiganya sudah terbangun kala mencium masakan bundanya yang membuat mata mereka melek seketika.


Berhubung waktu magrib semakin dekat, Neera memandikan ketiganya sekaligus dan membalur tubuh balita pintar itu sebelum dipasangkan baju tidur.


"Ayo sayang, kita ke ayah yuk" ajak Neera pada triplets karena ingin membangunkan suaminya untuk bersiap sholat magrib.


Qai yang masih enggan bangun pun akhirnya digendong Neera dan setelahnya menuntun Qee dan Qal yang masih muka bantal menuju kamar orang tuanya yang hanya berbatas pintu.


Setelah menurunkan Qai, Neera mengangkat tubuh Qee dan Qal bergantian keatas tempat tidur King size itu. Bukannya membangunkan ayahnya si sulung Qai malah menyelinap masuk ke pelukan ayahnya dan memejamkan mata membuat Neera geleng kepala.


Qee dan Qal yang kini sudah diatas kasur juga ikutan menyelusup mencari kehangatan pada ayah mereka sehingga mau tak mau Neera harus membangunkan si pemilik kehangatan itu.


"Ayah, bangun yah, sudah mau magrib. Ayo bangun dan mandi terus kita makan malam bersama" lembut Neera sembari mengusap belakang kepala suaminya.


"Hmmm iya sayang.., kok bunda udh bangun aja" heran Ayyub yang merasakan sentuhan hangat istrinya.

__ADS_1


"Iyalah, sudah mau magrib ini. Ayah aja yang kerjanya molor" canda Neera yang membuat suaminya terkekeh.


"Ngeledek aja nih si bunda, yang tadi ***** siapa sih, nempel dikit aja langsung molor" balas Ayyub yang membuat istrinya jadi malu sendiri hingga mukanya memerah.


"Ayah...!! udah ah ayo bangun jangan malas-malas" bujuk Neera lagi.


"Iya sayang, ayo triplets kita bangun" ajak Ayyub pada ketiga buah hati mereka.


Berhubung ketiga bocah itu masih malas bergerak dari kasur Ayyub menggelitiki mereka semua hingga tertawa terpinkal-pangkal dan akhirnya ikut menyerang balik ayah mereka.


Akhirnya setelah lelah membuat kasur berantakan mereka semua beranjak, triplets menyusul bunda mereka ke dapur untuk mengambil minum.


Setelah triplets mencuci tangan dan duduk di kursi mereka, Ayyub datang menuju kursi paling ujung dan mereka menikmati hidangan makan malam yang terasa hangat.


"Triplets apa besok sudah mau sekolah nak, atau anak bunda mau main-main dulu ?" tanya Neera meminta pendapat anaknya.


"Qee mau ikut ayah saja nda, boleh tidak yah ?" tanya Qeenan pada orang tuanya.


"Of course sayang, kebetulan besok ayah juga ada beberapa agenda di kantor" jawab Ayyub yang memang ingin membiasakan buah hati mereka agar kelak berkeinginan meneruskan usahanya.


"Qai dan Qal bagaimana sayang ?" tanya Neera kepada dua anaknya yang lain.


"Qai mau ikut ayah ke kantor tapi Qai ingin main di playground dan tidak ikut-ikut ayah meeting" ujar Qai yang selalu ingin bersama kembarannya.


"Qal juga mau ikut, tapi cuma drawing aja, gamau ikut ayah pergi-pergi" ujar putri mereka.

__ADS_1


Saat itu juga Ayyub menghubungi asistennya untuk membuatkan satu ruangan di sebelah ruangannya sebagai playground dan tempat beristirahat anak-anaknya.


Akhirnya Ayyub dan Neera menyetujui keinginan triplets, beruntung mereka mengerti dan tidak ada yang merengek ikut bundanya karena pekerjaan laboratorium dan penelitian cukup berbahaya bagi anak-anak.


Sesuai kesepakatan mereka, pagi ini Ayyub dan triplets mengantar bundanya ke tempat kerja baru setelah itu Ayyub kembali melajukan mobil mewahnya menuju perusahaan yang memiliki gedung canggih yang berada di jantung kota NY, mereka berkendara sembari merencakan kegiatan apa yang akan mereka lakukan hari ini.


Ayyub hanya menimpali ketiganya yang larut dalam obrolan penting versi mereka. Sungguh perasaan bahagia ini yang teramat sangat disyukurinya, memiliki penerus yang cerdas dan berkualitas tentu saja diasuh oleh ibu yang luar biasa.


Setelah sekian banyak halang dan rintang akhirnya kini kebahagiaan itu datang kepadanya, beruntung Ayyub dulu tak terlalu larut dalam kepedihan dan menerima perjodohan yang disiapkan keluarganya meskipun kenyataannya dia dulu telah memasrahkan diri akibat rasa sakit dan patah hatinya.


Jika saja dulu terjadi apa jadinya ia saat ini, mungkin hanya menjadi sebuah robot yang bekerja tiada henti. Takdir memang sudah ditentukan Allah, disaat dirinya melakoni pekerjaan sebagai pilot Allah menuntun langkahnya, mempertemukannya dengan Neera dan triplets sehingga kebahagiaan itu kembali ia raih, jadi bagaimana bisa ia berhenti menjadi pilot sementara hal berharga itu ia dapatkan disaat ia bekerja mengantarkan orang pada tujuannya dengan besi terbang itu.


Setengah jam berlalu, kini super car itu sudah berhenti di depan lobby perusahaan Ayyub yang mana disana sudah disabut oleh pegawainya. Kebetulan ini masih jam masuk kantor sehingga kantor terlihat ramai dengan lalu lalang para pekerja.


Ayyub dibukakan pintu oleh asisten pribadinya, setelahnya pria itu membuka pitu bagian penumpang yang membuat para pegawai yang terdiri dari barisan sekretaris, dan costumer service bingung.


Beberapa menit kemudian terlihat lelaki gagah itu menggendong seorang putri cantik dan lucu disusul oleh dua orang anak lelaki tampan yang wajahnya mirip dengan bos besar mereka. Melihat hal itu mereka semua melongo hingga berhenti hingga beberapa saat termasuk juga pegawai lain yang lalu lalang seketika berhenti melangkah dan malah terfokus pada bos besar yang baru akhir-akhir ini mereka ketahui.


Ayyub yang menyadari itu bersikap santai dan kembali memanggil asistennya yang seketika terkejut akan suara bos nya.


"Richard tolong bawakan tasku dan tas perlengkapan anak-anak ya, terima kasih" ujar Ayyub yang diangguki pegawainya.


"Tuhan sebaik ini atasanku, bagaimana mungkin orang tak betah bekerja padanya bahkan bos ku terdahulu tak memperlakukan ku sebagai manusia" batin Richard yang segera melakukan apa yang diperintahkan atasannya.


Sementara itu Ayyub membimbing triplet memasuki gedung perusahaan yang sudah dipenuhi oleh karyawannya yang tampa komando berkumpul membentuk satu barisan lurus kiri dan kanan.

__ADS_1


__ADS_2