
Hari ini adalah hari keberangkatan mereka. Sedari pagi triplets sudah bangun dan bersiap meskipun jadwal keberangkatan mereka pada pukul 10.15 a.m.
Mereka sangat senang sekali bepergian keluar negri bersama bundanya apalagi menaiki pesawat. Entah mengapa burung terbang itu memiliki pesona tersendiri bagi mereka.
Saat ini Neera bersama dua asistennya masing-masing dari kampus dan klinik telah berkumpul dan bersiap untuk masuk ruang tunggu karena mereka sudah melakukan proses check in dan memasukkan bagasi.
Neera sudah menyusun jadwal serapi mungkin agar membuat triplets senyaman mungkin mengikutinya kemana-mana meskipun pada akhirnya bosan itu akan tetap ada.
Neera juga sudah menjadwalkan liburan singkat untuk mereka sebagai apresiasi telah menemani bundanya bekerja selama mereka di USA.
Meskipun Neera membawa dua asisten tentu saja urusan triplets menjadi urusan pribadinya, mereka datang hanya untuk menangani urusan bisnis.
Tentu saja mereka tetap membantu tetapi tidak sepenuhnya. Siapa yang bisa menolak pesona triplets, bahkan siapapun akan rela merawat mereka sejenak tanpa dibayar.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam mereka sampai di New York dan langsung menuju hotel karena triplets sudah terlihat kelelahan.
Beruntung Neera sudah memerintahkan asistennya untuk menyiapkan segala keperluan termasuk menyewa mobil untuk keperluan mereka nantinya.
Setelah beristirahat sejenak, Neera segera membersihkan diri dan bersiap meeting bersama pengisi acara besok untuk acara seminar dan workshop yang dinarasumberinya. Berhubung triplets juga sedang tertidur pulas, jadi Neera memanfaatkan kesampatan ini.
Setelah dua jam meeting dan mendapatkan rundown acara ia segera kembali karena triplets hanya ditinggalkan bersama asisten Neera dari klinik dan ia khawatir triplets akan menangis saat tidak mendapati dirinya ketika bangun tidur.
Beruntung saat itu mereka masih pulas sehingga Neera tidak perlu khawatir dan segera menyusun perlengkapan mereka di lemari penyimpanan karena seminggu merupakan waktu yang lumayan lama.
Hari-hari berlalu begitu saja, kesibukan Neera terus berlalu tanpa kesulitan yang berarti. Ia selalu membawa triplets saat seminar, workshop maupun rapat dan ke klinik.
Seakan tau kesulitan sang bunda ketiganya anteng main di sudut ruangan atau diruangan berbeda yang sudah diminta Neera untuk disiapkan karena walau bagaimanapun ia harus bersikap profesional.
__ADS_1
Hal itulah yang mendasari mengapa Neera mengizinkan mereka membawa satu mainan favorit mereka selain untuk melatih sikap mereka juga agar mereka bisa main dengan barang tersebut tanpa ada rasa bosan.
Sampailah mereka di penghujung minggu, hari jum'at adalah hari terakhir kesibukan Neera sebagai seorang dosen, dokter dan pembisnis.
Kegiatan terakhir sudah selesai setengah jam lalu saatnya menyibukkan diri menjadi seorang ibu meskipun setiap saat juga tetap sibuk.
Hari ini Neera akan membawa triplets jalan-jalan mengelilingi kota dan melihat butiknya yang ada disini.
Triplets sangat bersemangat, beruntung asisten Neera juga mau ikut sehingga tidak terlalu sulit mengontrol triplets.
Saat ini mereka tengah makan di sebuah kafe outdoor yang mejanya sengaja disusun di tempat terbuka. Triplets meminta disini karena mereka ingin memakan wafel crispy dan ice cream.
Dari tempat ini sangat mudah terlihat para pejalan kaki atau pelancong yang memang sengaja pergi liburan ke negara dengan patung liberti ini.
Beberapa kali terlihat para pejalan kaki itu melihat kearah triplets karena memang mereka sangat terlihat menggemaskan dengan baju yang sama tentunya.
Tanpa diduga dari kejauhan Neera melihat beberapa orang yang dikenalnya bahkan satu orang diantaranya memang sangat dikenalinya tetapi hari ini ia seakan melihat orang lain atau selama ini ia memang tidak benar-benar mengenalinya.
Seakan tidak percaya Neera menggosok matanya lagi dan pemandngan itu tetap ada bahkan mereka mengarah ke tempat mereka meskipun belum melihat kearah Neera dan triplets.
Dengan berusaha tenang Neera meminta asistennya membayar mekanan mereka dan meminta sekalian membawa tas ransel berisi keperluan triplets.
Sifat yang ditunjukkan Neera seakan natural tanpa membuat mereka curiga, setelah memberikan kartu dan sang asisten pergi tanpa aba-aba Neera langsung menggendong triplets menggunakan kain gendongan belakang depan dan satunya Neera gendong samping.
Entah mendapatkan kekuatan darimana seakan Neera mengangkat mereka yang notabennya sudah memiliki berat lumayan itu tanpa kesulitan.
Segera ia mencari tempat tertutup, sebuah toko bunga yang pemiliknya sangat ramah. Seakan mengerti, Nenek penjual itu membiarkan Neera menarik napas sejenak dan terdiam beberapa saat.
__ADS_1
Sembari memesan bunga Neera memperhatikan sosok yang sangat dirindukannya itu yang belakangan tanpa kabar.
Terlihat pemandangan yang sungguh melukai mata dan hatinya. Beruntung saat ini triplets tidak melihat mereka bahkan ketiganya sedang asik merebahkan kepala di tubuh sang bunda.
Sebuah gambaran keluarga sempurna dengan anak dan menantu yang terlihat mesra dan saling cinta.
Paling depan terlihat mama beserta dua orang adik, dibagian tengah terlihat abang dan istrinya dengan merangkul pinggang sang istri, dibelakangnya terlihat sang kakak juga dengan suami yang terlihat tengah menatap mesra dan dibagian belakang terlihat orang yang sangat familiar bagi mereka Ayyub bergandengan dengan seorang wanita cantik bak model, terlihat sangat serasi dan penuh cinta.
Apakah ini yang menjadi alasan ia sangat susah dihubungi. Apakah ia hanya memainkan perasaannya saja. Jika memang sudah bersama yang lain mengapa harus datang lagi dan menggores luka yang belum sepenuhnya mengering. Apakah mereka juga sudah menikah, mereka terlihat seperti keluarga yang utuh dengan mertua yang sangat menyayanginya.
"Ayah....." tiba-tiba sebuah suara lirih menyadarkan lamunan Neera. Qee yang berada di gendongan depan menangkap sang ayah dengan netranya dan memanggil lirih.
Dengan satu tangan yang tidak menggendong Qal Neera segera mengalihkan wajah Qee dan menciumnya.
"Mana sayang, Qee salah lihat. Ayah kan lagi kerja" sanggah Neera meskipun ia tau membohongi putranya bukan hal yang baik. Hanya saja ia tidak ingin mereka mempertanyakan keberadaan ayahnya bersama wanita lain yang bukan bundanya karena mereka anak yang sangat cerdas.
Sekuat tenaga Neera berusaha menguatkan hatinya dan menata kembali serpihan yang pecah dengan segenap kekuatan yang tersisa.
Air mata yang sudah menggenang berusaha ditahan karena ia tidak ingin triplets melihat ia menangis dan lemah. Selemah-lemahnya Neera, ia tetap menjadi sumber kekuatan triplets. Serapuhnya ia, Neera akan tetap menjadi penopang bagi triplets. Maka ia harus menguatkan diri dan hatinya demi buah hati yang sangat dicintainya.
Perlahan Neera pandangi satu persatu wajah triplets, mata yang jernih tanpa dosa terlihat sangat rapuh dan lemah. Ia bawa mereka untuk lebih dekat pada dirinya sembari berjanji bahwa apapun yang terjadi triplets akan selalu menjadi yang terutama.
Mereka bisa hidup hanya dengan bunda, toh selama ini mereka baik-baik saja. Seperti potongan kaset seakan berputar diotak Neera masa-masa ia bersama triplets. Dari mulai kehamilan, kelahiran bahkan saat ia bayi semua terekam jelas menjadi sebuah kenangan yang membuat Neera kembali tersenyum dan menatap lembut ketiganya.
"Maafkan bunda ya sayang. Apakah hari ini tidak apa-apa jika kita kembali ke hotel karena kalian sudah sangat mengantuk dan bunda juga" ucap lembut Neera pada ketiganya.
Seakan mengerti, ketiganya menurut dan akhirnya mereka pulang setelah membayar bunga pada sang penjual sembari memberikan uang lebih pada nenek itu.
__ADS_1