Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 221


__ADS_3

Ayyub masih setia dengan handphone yang tersambung dengan ketiga buah hatinya. Mereka asik bercerita mengenai kegiatan dan mengadukan keri duan mereka pada kedua orang tuanya.


Saat sampai di kamar Ayyub memposisikan ponsel pada wajah istrinya sehingga ketiganya dapat melihat bidadari tanpa sayap yang selama ini menjadi penopang hidup mereka.


"Sssst.... sayang bundanya lagi tidur. Bunda kecapekan tadi habis kerja. Besok ya kita bertemunya ya Nak" ujar Ayyub sambil meletakkan satu telunjuk di bibirnya.


"Iya ayah kita gak berisik" jawab Qal yang meskipun begitu suaranya tetap menggema ke semua ruangan.


Entah mengapa saat mendengar suara buah hatinya Neera begitu sensitif dan matanya perlahan membuka dan terlihat bingung.


"Hmm Sayang, kok Neera dengar suara anak-anak ?" tanya Neera yang belum sadar seratus persen.


"Eh sayang..., maaf ya yang. Ini loh anak-anak lagi nelpon katanya gak bisa tidur, kangen ayah bundanya eh malah keterusan ngobrol" cengir Ayyub menjawab rasa penasaran istrinya.


"Loh sayangku.., kenapa jam segini belum tidur nak ?" lembut Neera pada ketiganya yang langsung fokus pada bundanya.


"Kita gak bisa tidur bunda" jawab Qee yang diangguki oleh kedua saudaranya.


"Yasudah sekarang ambil posisi tidurnya sayang, bunda ada cerita seru nih" titah Neera yang melihat bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 11.


Ketiganya menurut, sementara ponsel dipegang oleh adek Neera dan mengarahkan pada ketiganya.


Dari bibir yang indah Neera mengalirlah cerita sahabat yaitu Sholahuddin Al Ayyubi, tentang perjuangannya menegakkan dan melebarkan panji-panji keislaman.


Dengan pembawaan yang tenang dan damai ketiganya langsung tertidur tanpa banyak drama. Sementara Ayyub yang sedari tadi berusaha membuat anaknya tertidur dibuat plangak plongok.


"Loh.. semudah itu sayang, wah... amazing bunda memang" salut Ayyub yang justru gemas yang menciumi istrinya hingga membuat Neera sesak dan mendorong kepala suaminya.


"Udah ah sayang, nyebelin banget sih" kesal Neera yang masih disaksikan oleh kedua adik mereka.


"Bang, dilarang mengumbar kemesraan disini, hargailah para jomblo ini. Mbok dimatikan dulu video call nya" protes Upi dengan muka datarnya bersama Rais, adek Neera.


"Eh, sorry adek-adekku, iri bilang boss. Kasian deh lu mblo" ejek Ayyub yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Sayang, salam dulu kek. Main matiin aja Uda nih" protes Neera.


"Ya habisnya mereka nyebelin sayang" jawab Ayyub yang terus mendusel-dusel pada istrinya membuat Neera gerah.


"Uda, sudah ah..., Neera gerah tau" protes Neera yang tidak dipedulikan Ayyub.


"Sayang kalau gerah buka aja bajunya, sini Uda bantuin" semangat Ayyub yang langsung ditepis istrinya.

__ADS_1


"Itumah maunya Uda, udah ah Neera ngantuk banget, ayok tidur lagi" ujar Neera yang meminum air di nakas, menaguk habis lantas tidur kembali.


Seperti dugaan Ayyub, istrinya itu akan minum saat ia terjaga. Terlebih istrinya adalah orang yang suka minum air putih.


Melihat Neera yang sudah lelap mau tak mau Ayyub juga ikut berbaring. Niat hati ingin mencoba keberuntungan satu ronde setidaknya tetapi apa daya dewi fortuna kini tak berpihak padanya.


Perlahan Ayyub membawa tubuh indah Neera kedalam dekapan hangatnya. Menghirup aroma menenagkan dan perlahan matanya juga ikut terpejam mengikuti irama napas sang permaisuri.


Gelap kian berangsur mempersilahkan mentari untuk menyembul mengantarkan cahaya jingga ditengah gelapnya awan.


Setelah melaksanakan sholat subuh dan berpamitan, Ayyub dan Neera berangkat ke bandara diantar oleh Hakim dan Fazreen. Semula mama dan papa ingin pergi namun Ayyub tidak ingin keduanya capek dan membiarkan mereka beristirahat di rumah saja.


Dengan membawa hadiah sogokan untuk triplets dan beberapa barang untuk keluarga di rumah keduanya melenggang masuk pesawat setelah semua barang masuk bagasi.


Penerbangan 45 menit ini terasa begitu singkat saat keduanya telah mendarat di kampung halaman Neera dan tentu saja sudah di jemput oleh kedua adik mereka.


Sampai di rumah kehadiran Ayyub dan Neera disambut teriakan dan pelukan hangat buah hati mereka. Ketiganya berhamburan memeluk dan menciumi Ayyub dan Neera membuat siapa saja akan iri melihat keharmonisan keluarga ini.


Perlahan Ayyub menggendong sekaligus ketiganya dan membawa mereka masuk ke rumah. Begitu masuk mereka menyalami Apa dan Ama berikut Uni dan abang ipar Neera.


Semua oleh-oleh mereka keluarkan, tentu saja yang paling heboh adalah triplets dan kedua ponakan Neera, anak Uni.


Lelah bermain triplets kembali ke pangkuan Ayah dan Bundanya. Menempel layaknya koala, mereka sama sekali tidak mau beranjak bahkan tidur siang juga maunya ditemani Ayah dan Bunda.


Jadilah sepanjang hari ini pasutri itu mengemong buah hati mereka bahkan saat makan mereka juga harus disuapkan. Saat Neera ke kamar mandi juga mereka akan menunggui di depan pintu toilet hingga bundanya keluar.


"Hu... sombong ni ya, mentang Ayah dan Bunda nya sudah pulang gak mau lagi main sama uncu sama uncle" ledek Upi pada ketiga.


"Biarin, kan ayah dan bundanya kita" sahut Qal.


"Loh inikah kakak dan abangnya uncu" adek Neera ikutan usil.


"Bukan... ini ayah dan bunda kita" amuk ketiganya yang sudah memasang kuda-kuda mengepung kedua orang tuanya dengan tangan kecil mereka.


Semua orang disana dibuat tertawa dengan tingkah posesif triplets hingga menimbulkan gelak tawa yang tak berkesudahan.


"Siapa ya mau es cream, mommy punya es krim enak loh..." rayu Uni yang tiba-tiba muncul dengan sekotak es cream dengan berbagai rasa.


Ketiganya menelan ludah dan meneteskan air liur, sangat ingin tetapi mereka juga tidak ingin beranjak karena takut Ayah dan Bundanya diambil orang, begitulah pemikiran ketiganya.


"Aku mau mommy, biarin aja si kembar ga dapat, wleeek" canda Upi yang dibalas tatapan sengit ketiganya.

__ADS_1


Makin menjadi kengileran triplets hingga matanya tak lepas menatap limpahan krim susu yang membeku itu. Sekuat tenaga mereka bertahan, bahkan kini air liur sudah menetes diujung bibir mereka.


"Triples mau ice cream ?" tanya Neera yang diangguki ketiganya.


"Yasudah sana minta sama mommy" ujar Neera yang digelengi ketinganya.


"Loh kenapa Nak ?" tanya Ayyub heran.


"Nanti ayah sama bunda diambil uncu dan uncle" jawab Qai yang diangguki kedua saudaranya.


"Berarti triplets kesayangan ayah pilih ice cream atau ayah dan bunda ?" tanya Ayyub mengetes ketiganya.


"Ayah Bunda" tanpa ragu ketiganya berseru lantang meskipun mata mereka tidak lepas dari ice cream yang kini sudah dinikmati seisi rumah.


"Yasudah, karena anak Ayah pintar dan sayang orang tuanya. Ayok kita beli ice cream yang banyak" seru Ayyub yang direspon teriakan ketiganya.


"Horray..... beli ice cream, yang rasa stroberry ya ayah, yang blackberri juga, terus yang coklat" pinta Qal dengan semangat.


"Qee juga ayah, mau yang vanila, terus coklat, terus rasa apple" ujar Qee.


"Qai mau semua ayah" semangat bocah yang kini sudah duduk diatas pangkuan Ayyub.


"Yasudah ayok gooo...." ajak Ayyub yang dibalas semangat ketiganya.


Akantetapi saat akan di depan pintu ketiganya berbalik lagi dan berlari ke ruang tengah.


"Loh kenapa sayang, kok balik lagi ?" tanya Neera heran.


"Bunda ketinggalan nanti diambil uncu dan uncle, ayo bunda kita beli ice cream" ajak ketiganya yang sudah menarik tangan Neera.


Mau tak mau ibu tiga anak itu menurut dan memeluk ketiga buah hatinya.


"Yasudah, pamit dulu sayang sama semuanya" tirah Neera yang diangguki triplets.


"Atuk, Nana, Mommy, Daddy, Uncu, Uncle, kakak, abang kita pergi beli ice cream dulu ya" pamit ketiganya yang diangguki semua yang ada disana.


"Adek, beli ice creamnya yang banyak ya" teriak saudara sepupunya.


"Okay kakak" serempak ketiganya dan berlalu setelah mengucapkan salam.


Bukan tanpa alasan Ayyub mengajak ketiganya membeli ice cream, makanan favorite semua orang di rumah Neera itu tinggal sedikit dan ia tau betul seberapa banyak buah hati mereka bisa menghabiskan ice cream, dari pada mencari perkara lebih baik ia mengajak ketiganya pergi memilih apapun yang mereka suka.

__ADS_1


__ADS_2