
Neera masih terdiam dalam lamunannya, sejujurnya dia tidak ingin mengatakan itu pada Ayyub namun dia juga tersudut dengan keadaan.
"Sayang, aku masih menunggu jawaban darimu" ucap Ayyub memecahkan lamunannya.
"Tidakkah kamu bertanya pada mama dan saudaramu ?" tanya Neera lagi.
"Tentu saja sudah, sekarang aku ingin jawaban darimu aku sudah mendapatkan jawaban dari mereka" ucap Ayyub menuntut.
"Sekarang aku tanya, bukankah kamu dan Vina sudah menikah ?" tanya Neera balik.
"Menikah apa maksudmu sayang, hanya kamu satu-satunya istriku. Bahkan aku selalu membawa cincin nikah kita kemana-mana ?" ucap Ayyub memperlihatkan cincin nikah Neera yang menjadi liontin di kalungnya.
"Bukankah Vina sudah mengandung anakmu saat itu dan aku juga melihat sendiri kamu di hotel bersamanya malam itu" tutur Neera sembari menatap dalam mata elang itu.
"Malam itu ? Maksudmu sebelum aku menghajarmu habis-habisan hingga kita mememiliki tiga anak sekaligus, aku sangat bangga dengan juniorku" ucap Ayyub frontal.
"Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu dengan wajah yang biasa saja, dimana letak rasa malumu" ucap Neera sembari bergidik ngeri.
"Aku tidak membutuhkan malu di depan istriku" ucap Ayyub secara tersenyum nakal pada Neera.
"Sudahlah, jangan melenceng jawablah pertanyaanku maka kamu mendapatkan jawabanmu" balas Neera mulai kesal.
"Bagaimana mungkin aku punya anak dengannya sayang, bahkan menciumnya saja aku tidak pernah, dan lagi malam itu aku hanya membantunya karena saat itu dia mencoba bunuh diri dengan merendam dirinya didalam bathub setelah meminum pil tidur" jelas Ayyub sembari menatap lekat Neera yang masih anteng dalam pelukannya.
"Bohong, bukankah kalian saat itu berpelukan, bahkan kamu juga sudah melihat tubuh polosnya" ucap Neera.
"Aku juga tidak tau, dia tiba-tiba memelukku sebelum aku sempat menghindar. Bicara tentang tubuh polos aku hanya terbayang tubuhmu sayang, bahkan aku ingat jelas setiap jengkalnya" balas Ayyub sembari menatap lapar tubuh Neera yang ada di pangkuannya.
Secara spontan Neera menyilangkan tangan di dadanya dan kabur dari pangkuan pria itu, tapi apalah daya tubuh dan tenaganya kalah besar dari Ayyub sehingga dengan mudah Neera sudah terkungkung bahkan kini dengan posisi yang lebih ekstrim.
"Jangan mencoba kabur sayang, kita belum selesai bicara" bisik Ayyub pelan di telinga Neera yang membuatkanya merinding.
"Baiklah, tapi kembalikan dulu aku ke posisi tadi setidaknya" ucap Neera yang langsung dituruti suaminya.
"Bagaimana kamu bisa tau semua itu ?" tanya Ayyub yang baru ngeh dengan penuturan Neera.
"Malam itu aku melihat semuanya, saat aku menggendong tubuhnya yang hanya dibalut handur, saat kamu menidurkannya bahkan saat kalian berpelukan mesra" ucap Neera dengan sedikit nada sindiran.
"Sayang tidakkah kamu percaya padaku ? aku benar-benar tidak melakukan apapun dengannya, bagaimana lagi aku mengatakannya padamu sayang, hanya kamu yang ada di hatiku" ucap Ayyub meyakinkan.
"Aku percaya padamu waktu itu, bahkan aku memberikanmu kesempatan untuk mengatakannya padaku jika kamu masih ingat" jawab Neera.
"Sayang maafkan aku itu kesalahanku, tapi tidakkah kamu tahu bahwa malam itu aku sedang diburu nafsu mana mungkin aku membicarakan hal yang tidak penting itu" jelas Ayyub dengan wajah memelas.
"Terkadang hal yang menurutku tidak penting bila dimanfaatkan orang akan menjadi ancaman. Bukankah aku bertanya kemana kamu malam itu, dan kamu bilang hanyak keluar bertemu teman" tutur Neera lembut.
"Benar sayang, dia hanya teman bagiku tidak lebih. Apakah karena hal ini kamu meninggalkanku begitu saja ?" tanya Ayyub lagi.
__ADS_1
"Tidak juga" balas Neera singkat.
"Lalu ?" tuntut Ayyub.
"Apakah mungkin kamu mempercayai perkataan ku nantinya ?" tanya Neera meragu.
"Ayolah sayang, tolong jujur padaku" tuntut Ayyub.
"Aku akan menceritakan ini, tadi tidak sedikitpun mengurangi rasa hormatku pada keluargamu" balas Neera.
"Baiklah sayang, aku tau itu"
"Malam saat kamu keluar itu Vina mengirimkan pesan tentang perselingkuhan kalian memberi tahu hotelnya dan memintakuku untuk meninggalkanmu karena kalian saling mencintai dan di tengah mengandung anakmu" kisah Neera.
"Kurang ajar sekali perempuan itu" rahang Ayyub mengeras.
"Hei., dia hanya terlalu mencintaimu" ucap Neera lembut.
"Ck, aku tidak butuh itu, kenapa kamu tidak menanyakannya pagi itu ?" tanya Ayyub lagi.
"Sayang, kamu seorang pilot, tidak baik membuat beban pikiran bagimu sementara kamu akan terbang" lembut Neera sembari membelai wajah Ayyub.
"Oh sayang.., mengapa kamu begitu pengertian, lalu apa yang selanjutnya terjadi ?"
"Vina ternyata menyewa orang untuk menfotoku diam-diam saat keluar rumah hingga hotel, dia memberikan itu pada keluargamu dan mereka mengusirku" ucap Neera santai.
"Sayang, keluargamu begitu emosi tidak membiarkanku menjelaskan dan mereka menyuruhku keluar dari rumah itu tanpa membawa apapun ?" tutur Neera santai.
"Karena itukah kamu pergi meninggalkan kartu yang kuberikan ?" selidik Ayyub dengan mata menyipit.
"Iya, aku hanya tidak ingin dikatakan bahka aku dan kelurgaku menguras hartamu" balas Neera sedih.
"Sayang, bahkan kamu tidak menggunakan kartu yang kuberikan, dan tiba-tiba saja banyak pengeluaran dari kartu debit dan kredit mu, aku begitu senang saat itu karena akhirnya kamu menggunakan uangku. Tapi saat aku pulang ternyata bukan kamu, malah mama dan saudaraku yang menggunakannya" balas Ayyub lirih.
"Maafkan keluargaku sayang, aku juga sangat malu pada Apa dan Ama karena tidak bisa menjagamu" tutur Ayyub penuh kesungguhan.
"Aku sudah lama memaafkan mereka, percayalah mereka hanya terlalu mencintaimu dan menginginkan yang terbaik untukmu" balas Neera dengan senyuman.
"Tapi kamu yang terbaik untukku, sayang" tutur Ayyub sembari mengecup dahi Neera.
"Bisakah aku berada disisimu lagi, mau kah kamu memberikanku kesempatan untuk membahagiakan kalian ?" tanya Ayyub lagi dengan kesungguhan.
"Bukankah kamu sedang bersama Vina ?" tanya Neera setelah terdiam cukuo lama.
"Tidak sayang, percayalah padaku" balas Ayyub.
"Aku memberikanmu kesempatan untuk jujur kali ini bahkan aku melihat sendiri kalian jalan bersama beberapa bulan yang lalu" jawab Neera.
__ADS_1
"Hufftt..... baiklah sayang, dia kekasihku karena mama yang menginginkannya dia menekanku dengan alasan keluargaku" balas Ayyub memelas.
"Kalau begitu selesaikan dulu urusanmu dengan baik, aku tidak mau nantinya anak-anakku terluka dan jangan pernah menyakiti perasaan wanita" ucap Neera setelahnya.
"Hey, mereka juga anakku dan lagi hati yang paling tersakiti disini adalah kamu bukan dia sayang" balas Ayyub lagi.
"Baiklah, aku rasa sudah terlalu lama aku disini. Aku akan kembali dulu dan aku mohon dengan sangat jangan mengatakan pada siapapun bahwa aku memiliki triplets" ucap Neera ingin mengakhiri.
"Tunggu sayang, bisakah aku menjadi ayah mereka yang sesungguhnya ?" minta Ayyub sembari menahan Neera.
"Bukankah kau memang ayah mereka ?" tanya Neera lagi.
"Maksudku biarkan aku menjalankan peran ayah itu dengan sesungguh nya dan membiarkan aku disisi kalian, aku akan perbaiki masalahku dan menebus semua kesalahanku, Aku mohon ?" ucap Ayyub dengan genangan air mata.
Lama Neera berpikir, dia tidak ingin egois tapi dia juga tidak mau nantinya dia dan ketiga anaknya terluka.
"Baiklah, tapi berikan aku waktu untuk menjelaskannya pada mereka, jika tidak mereka akan bingung mendapati bahwa mereka tiba-tiba menjadi ayah. Satu syarat lain kamu harus berjanji untuk tidak membicarakan keberadaan kami pada siapapun, siapapun !" tutur Neera dengan nada tegas.
"Tentu saja sayangku, kalau begitu apakah boleh aku bermain dengan mereka besok ?" tanya Ayyub lagi.
"Hmm sepertinya besok tidak bisa, karena kami harus kembali" jawab Neera.
"Kembali ? bukankah kamu tinggal disini ?" tanya Ayyub bingung.
"Tidak, kami tinggal di Edinburg" jawab Neera pelan.
"Sayang, apakah kau membohongiku lagi ?"
"Maaf, aku hanya terlalu takut waktu itu"
"Pantas saja aku selalu ingin kembali ke Edinburg"
"Really ?"
"Of course sayang"
"Baiklah, kalau begitu aku balik dulu"
"Tunggu sayang, sebelum aku menebus kesalahan yang lain bisakah aku menebus malam kita yang terlewati dulu ?" tanya Ayyub dengan kerlingan nakal.
"Oh jangan lakukan itu, aku sedang kedatangan tamu" ucap Neera yang bersyukur bahwa saat ini dia memang cuti bulanan.
"Baiklah, aku tidak bisa apa-apa. Kalau begitu biarkan aku ingin dengan kalian ke Edinburg" jawab Ayyub menuntut.
"Terserah padamu, kalau begitu aku kembali" jawab Neera langsung meninggalkan kamar itu.
Neera terus berpikir mengenai hubungan mereka, Apakah mungkin untuk kembali, tetapi dia juga melihat kesungguhan di mata Ayyub apalagi ketika dia memikirkan triplets semakin bertambah rasa bersalahnya pada mereka.
__ADS_1
Akhirnya malam itu Neera memutuskan untuk menelpon Apa untuk menanyakan beberapa hal. Lagi pula di kampung mereka saat ini waktu siang jadi tidak akan mengganggu.