
Dalam sebuah kamar hotel mewah berkumpul enam lima orang tengah asik dengan pemikiran mereka sendiri seakan ingin mengungkapkan sesuatu tapi tertahan.
Empat orang yang tengah menimbang-nimbang itu terlihat gelisah dalam pemikirilannya sementara kepala keluarga terlihat santai membaca beberapa laporan yang sudah dikirim bawahannya.
"Ma, menurut mama Zee dari Zane itu familiar tidak ?" tanya kakak perempuan Ayyub.
Ya, mereka semua adalah keluarga Ayyub yang berkumpul di kamar orang tua mereka.
"Tidak tau mama juga bingung" jawab perempuan baya itu.
"Pasti kalian semua pikir si perempuan kampung itu kan ?" cibir si adik perempuan.
"Huh, mana mungkin dia. Lihat sendiri betapa udiknya perempuan itu bahkan pakaiannya saja lusuh semua jarang diganti dulu" sambung kakak perempuan seakan meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya ya, mama juga sempat ragu. Sekilas memang mirip dia tetapi mana mungkin. Tampilannya saja modis bahkan namanya juga berbeda. Mungkin cuma perasaan kita aja" papar sang mama seakan menambah opini pendukung mereka.
"Iya sih mustahil itu dia, darimana dia bisa mengembangkan fashion bahkan perusahaan kerjaan saja dia tidak punya. Entah lulusan apa dia waktu itu, aku juga lupa" sambung suami kakak Ayyub.
Terdengar helaan napas berat dari papa sang kepala keluarga yang sedari tadi terdengar perbincangan mereka yang menjelekkan mantan menantunya. 'Entahlah mungkin saja masih menantu' pikirnya.
"Mustahil bukan berarti tidak mungkin, itu hanya opini darimu. Bisa saja sekarang dia sudah sukses besar melampaui batas pemikiran kita. Memangnya kita tau dia berada dimana sekarang dan apa yang dilakukannya" jelas Papa Ayyub.
"Ah.. mana mungkin pa. Kakak yakin palingan dia tinggal di suatu kampung dan kerja disana palingan juga buka kedai" papar sang kakak.
"Iya aku juga yakin, atau malah dia sudah nikah sama duda. Beruntung Bang Ayyub sudah tidak dengannya lagi" cecar si adik.
"Bicara tentang Ayyub bukankah dia dulu kasih kita baju dari Zane Collection, sepertinya mereka dekat. Kalau dengan perancang kenamaan itu sih mama setuju banget biar dapat barang branded terus" oceh wanita paruh baya itu yang disambut gembira semua anggota keluarga kecuali Papa yang menggelengkan kepala.
"Kalau itu mah kakak juga setuju banget ma, yaudah besok kita datang lagi ya mah. Sekalian bawa bunga aja kalau beruntung bisa kita kasih" saran si kakak.
"Benar ma, tadi malah kita gak jadi beli mana udah sold out semua lagi" rungut si adik.
"Yasudah masih ada dua hari lagi, jadwalnya besok untuk fashion muslimah dan lusa untuk kidsnya" terang si menantu di keluarga itu.
"Bicara tentang anak, kapan kalian akan memberikan mama cucu. Apa kalian menundanya bahkan sampai sekarang tidak satupun dari anak mama yang memiliki anak. Abang pertama dan kedua tidak ada, kalian juga belum sementara Ayyub masih sendiri. Apa kalian sengaja bersekongkol" omel mama Ayyub yang membuat semua bungkam dan mengalihkan perhatian.
"Bahkan ini sudah bertahun-tahun, apakah semua anak mama mandul tidak satupun yang bisa memberikan cucu. Mama tu kadang malu saat kumpul dengan teman-teman mama semua pada cerita cucu sedangkan mama satupun belum punya" lanjut mama Ayyub.
"Sudahlah ma, ini bukan hal yang bisa kita tentukan. Mungkin memang belum rezkinya mereka, belum waktunya kita diturunkan malaikat kecil ditengah keluarga ini. Toh mereka juga sedang berjuang" sambut Papa yang berusaha menengahi suasana yang mulau memanas.
__ADS_1
Sementara itu anak-anak pada keluar kamar mengikuti instruksi mata yang diberikan sang papa yang tidak ingin masalah ini menjadi besar dan berlarut-larut.
Memang sedari dulu orang tua Ayyub sangat menginginkan seorang cucu yang menjadi penerus keluarga mereka namun entah kenapa tidak satupun dari anak-anak mereka yang diberkahi keturunan hingga saat ini oleh karena itu mereja berharap banyak pada Ayyub dan berusaha menjodohkannya dengan Hana.
Disisi lain kini Neera tengah mempersiapkan show yang akan diadakan esok hari yaitu rancangan muslim dan muslimah yang akan diperagakan oleh model diatas panggung.
Melihat sang bunda yang masih sibuk triplets malah begitu asik dengan ipad yang diberikan Neera. Mereka tengah melakukan video call dengan superman mereka. Tentu saja ayah Ayyub.
"Ayah, lusa Qal akan catwalk di panggung yah, nanti Qal akan jalan seperti ini" semangat putri kecil itu.
"Qai juga ikut" Qai
"Qee juga" sergah mereka Qee.
"Wah.. pintar sekali ya anak ayah, yang bagus ya nanti jalannya biar baju bunda habis terjual nanti uangnya bisa buat jalan-jalan" titah Ayyub sembari tertawa.
"Kenapa pakai uang bunda, uang ayah kan banyak sekali kita habiskan saja uang ayah" sela Qee dengan wajah seriusnya yang terlihat lucu.
"Hahahaha.. darimana Qee tau uang ayah banyak" tanya Ayyub yang tidak bisa mengontrol ketawanya melihat wajah si jagoan kecil itu.
"Ayah kan kerja terus, kata bunda kalau orang bekerja maka menghasilkan uang jadi ayah uangnya banyak" logika Qee diangguki dua saudaranya.
"Iya.., ayah juga cepat pulang jangan lama-lama kerjanya nanti Qai tidak bisa main lagi sama ayah, Qai rindu ayah" ucap Qaivan yang sudah mulai berkaca-kaca.
Sama seperti kebiasaannya saat Qai sudah mulai menangis maka Qal juga akan ikut menangis sementara Qee yang berusaha menenagkan dua saudaranya berusaha menahan tangais walau bibirnya sudah mencebik.
Ayyub tentu saja hatinya terenyuh menyaksikan buah hatinya menagisi dirinya namun tidak bisa memberikan pelukan atau ciuman hangat untuk mereka malah hanya mampu menonton dari layar tipis sembari menenagkan mereka.
Beruntung Neera segera datang dan memeluk mereka. Saat itu pula tangis yang ditahan Qee sedari tadi tumpah ruah di pelukan bundanya.
Terjadilah symponi alunan tangisan si kembar yang mengisi kamar hotel mewah itu yang masih disaksikan oleh ayah mereka yang kini juga mulai menitikkan air mata yang langsung dihapusnya.
"Kenapa sayangnya bunda, kenapa menangis anakku ?" tanya Neera lembut.
"Ki... ki... ki.. kita... kangen ayah bunda hua......" jawab Qee diantara sedu sedan mereka sembari menunjuk layar yang masih menyala.
Segera Neera mengalihkan atensinya pada ipad yang terletak dimeja.
"Ayah, ayah apain anak bunda ini ?" marah Neera pura-pura untuk memancing triplets dan mengalihkan tangisnya.
__ADS_1
Terlalu kasian mereka menangis takut nanti demam dan pilek.
Mendengar bundanya yang memarahi sang ayah triplets segera beraksi dan memeluk Neera.
"Bukan ayah bunda, kita yang rindu ayah. Ayah tidak nakal" klarifikasi Qai.
"Oh kangen ayah.., kan bisa telponan tu yakan ayah, ayah juga kangen triplets kan, tapi ayah gak nangis tu" tunjuk Neera ke ipad sembari meminta persetujuan.
"Iya sayang, ayah rinduuuuuuu sekali sama triplets tapi ayah lagi kerja sebentar lagi ayah pulang dan nanti kita akan pergi jalan-jalan oke ?" lembut Neera.
"Iya bunda" jawab mereka serempak sembari menganggukan kepala kecilnya.
"Yasudah sekarang salam dulu sama ayah habis itu kita mandi dan makan" titah Neera.
"Bye ayah, i love and miss u so much" ucap mereka sembari mencium layar tipis itu.
"Love you baby and miss you more" balas Ayyub dengan tatapan teduhnya.
"Salamnya dulu nak" ingat Neera kembali.
"Assalamu'alaikum ayah" serempak mereka yang masih cadel.
"Wa'alaikumsalaam anakku" balas Ayyub disertai senyuman.
Saat triplets sudah berlari dan Neera mengaoai ipad saat itu tangannya terhenti oleh seruan orang diseberang.
"Anaknya kangen bunda nya kangen juga gak nih ?" goda Ayyub sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Ya ampun, udah tua juga udah anak tiga" kesal Neera yang sebenarnya menutupi rasa malunya.
"Ya gak apa, namanya juga cinta ada bumbunya rindu dan cemburu" goda Ayyub kembali.
"Apaan sih Uda, gajelas banget" protes Neera yang sudah memerah.
"Tapi Uda rindu sekali loh yang, rindu salto di ranjang apalagi" Ayyub makin menjadi.
"Udah ah, kesel deh. Assalamu'alaikum" tutup Neera yang langsung memutuskan panggilan itu.
Sementara diseberang sana Ayyub malah tertawa renyah menyaksikan tingkah lucu istrinya yang selalu malu kalau digoda.
__ADS_1