Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 207


__ADS_3

Tiba-tiba saat melihat lelaki yang diatas motor itu Neera menjadi sedikit berpikir memaksa memorinya membuka kejadian lama.


"Loh, bukannya itu Hadi, si kakak kelas itu ?" tanya Neera sedikit ragu.


"Iya Ra, salah satu pengagum terberatmu dulu" ujar Diana yang langsung memancing selidik Ayyub.


"Zaman bocah sayang, calm down Ayah" bisik Neera sembari mengusap lengan suaminya yang saat ini terpercik api cemburu.


"Abang sini sebentar, ada Neera nih" seru Diana sembari melambaikan tangan pada suaminya yang masih di atas motor bersama dua anak mereka.


Lelaki yang berperawakan tinggi kurus itu segera masuk membimbing dua anak perempuan mereka menuju meja Neera.


"Masih ingat gak Bang, Neera gadis cantik dan pintar idaman sekolah kita dulu" pancing Diana pada suaminya.


"Ah iya tentu saja ingat. Apa kabar Ra, makin cantik aja sekarang" sapa Hadi yang langsung membuat Ayyub siaga satu.


"Alhamdulillah kabar baik, Bang Hadi gimana kabarnya" tanya Neera balik.


"Alhamdulillah, ya beginilah sekarang. Lama gak ketemu kamu bikin pangling ya Ra" canda Hadi yang disambut tawa Neera dan Diana.


"Pangling juga berlabuhnya sama yang disamping" balas Neera sembari menunjuk Diana dengan matanya.


"Ah itu mah kepaksa aja, nungguin kamu gak datang-datang ya pake bamper aja" canda Hadi yang langsung dapat sikutan istrinya.


"Enak aja, gak ingat dulu siapa yang nangis-nagis minta kawin" sambar Diana yang disambut tawa mereka.


"Ohiya Bang Hadi, kenalkan suami Neera Uda Ayyub dan ini anak-anak kami" ujar Neera sembari melihat anak dan suaminya.


"Ah iya... Apa kabar Tuan. Saya Hadi, teman masa kecil Neera dan suami Diana" gugup Hadi yang sangat tau berhadapan dengan siapa.


"Alhamdulillah kabar baik. Saya Ayyub suami Neera" jawab pilot ganteng itu dengan wajah ketat sembari merangkul istrinya.


"Kenapa sih kalian panggil Uda Ayyub pake Tuan-tuan segala. Panggil aja Ayyub, iya kan sayang ?" Neera meminta persetujuan suaminya sembari memandang Ayyub penuh cinta.


Lelaki yang tengah terpesona pada senyum manis istrinya itu hanya tersenyum memandang Neera sembari mengangguk. Sementara Hadi dan Diana saling pandang dan bingung dengan reaksi Ayyub karena mereka tidak melihat persetujuan itu ditambah mereka juga sangat segan pada Ayyub.


"Hai Anak gadih, sia namonyo ko. Lah sekolah anak gadih kini ko ?" (Hai, anak gadis, siapa namanya. Udah sekolah belum ?) sapa Neera pada anak Diana yang memecah sunyi seketika.


Keduanya tersenyum malu dan bersembunyi dibelakang ayah mereka.


"Eh jan malu-malu mode itu lo, sikolah dakek Mama. Aa kecek Ante Neera tu ha (Jangan malu, ayo kesini dekat mama. Tante Neera nanyain kalian tu)" tegur Diana pada putrinya yang masih gelendotan pada ayah mereka.


"Ante, ante baa lo ko. Etek selah Di (Jangan Tante, Etek saja Di)" protes Neera yang lebih memilih menggunakan panggilan khas minang untuk tante tapi lebih banyak digunakan untuk emak-emak rumahan.

__ADS_1


"Eh, etek baa lo ko, ndak ado suainyo setelah alah jo do. Ibuk selah ko ndak. Lawak se rasonyo Neera dipanggia Etek (Etek gimana sih, panggilan itu tidak sesuai untuk Neera. Terdengar lucu bila Neera dipanggil Etek)" canda Hadi yang disambut tawa semua orang.


"Sumbarang lah, pokoknyo jan tante-tante lo (terserah saja, yang penting jangan tante)" setuju Neera yang dibalas senyum pasangan Hadi dan Diana.


"Sudah kelas berapa mereka Di, kelihatannya sudah SD ya. Kamu punya anak berapa sih ?" tanya Neera.


"Iya, si kakak Ratu sudah kelas dua SD. Adiknya Rani sudah di TK. Hanya ini saja anakku, tambah satu yang di perut" jawab Diana yang diangguki suaminya.


"Gencar juga Bang Hadi" goda Neera yang membuat muka pasutri didepannya memerah.


"Bukannya begitu Ra, kami belum punya anak laki-laki. Jadi meski tetap produksi" jawab Hadi.


"Wah, kalau yang keluar perempuan lagi gimana ?" tanya Neera iseng.


"Ya bikin lagi lah sampai dapat satu" balas Hadi penuh semangat.


"Enak saja, sanggup memang membiayai mereka sampai nanti besar" omel Diana yang disambut tawa Neera dan Hadi.


"Ohiya Ra, anakmu bule banget ya tampangnya. Apakah karena lahir di luar negri, tapi bapaknya juga agak bule sih. Meskipun wajah mereka plek ketiplek tetapi kulit mereka putih banget. Lucu banget deh Ra, pingin punya bayi kayak mereka. Kembar tiga ya Ra ?" cerocos Diana yang sedari tadi selalu memandangi triplets kagum bersama beberapa pengunjung lain.


"Haha gak tau juga. Jadinya sudah begitu, padahal gak dikasih makan keju terus loh si kembar tiga, kita biasa sih nyebutnya triplets" canda Neera yang disambut cekikikan ibu hamil itu.


"Triplets sayang, sini nak sapa Tante, Om sama kakak nya. Ini teman Bunda" seru Neera pada anaknya yang tengah berbincang dengan ayah mereka.


"Wah, wah jangan Ra. Aku sebenarnya juga pingin nyapa dari tadi tapi takut kalo nanti bahasa aliennya keluar. Aku puyeng ngartiinnya. Mana gak ada kamus lagi" cegah Diana yang memang sedari tadi mendengarkan perbincangan triplets dan ayahnya menggunakan bahasa inggris yang aneh di pendengaran mereka.


"Hai.. ha halo guys, wh what is your na name ?" tanya Diana agak sedikit terbata karena grogi.


"Pagi Tante, selamat pagi. Ambo Qeenan, yang iko saudara ambo namonyo Qaivan kalo yang padusi ko Qalundra Nte" jawab Qee dengan bahasa daerah yang fasih.


"Eh, mereka bisa bahasa kita Ra ?" kaget Diana yang diangguki Neera dengan senyuman.


"Kenapa gak bilang dari tadi sih, tau gitu sudah aku ajakin ngegosip. Ah sia-sia terbuang sudah waktuku" sesal Diana yang justru ditertawakan orang.


Begitulah akhirnya sembari menunggu pesanan tiba mereka terlibat obrolan panjang bersama diselingi tawa bahkan kini Ayyub sudah ikut berbaur karena juga pembawaan mereka yang friendly.


Sesekali mereka menggoda triplets dan mencubit gemas pipi bakpao mereka yang seputih pualam dengan rambut kecoklatannya yang makin terang saat terkena matahari pagi.


"Diana pesanannya sudah selesai" ujar salah seorang pedagang itu.


Bersamaan dengan itu di meja Neera juga diletakkan pesanan mereka oleh ibu warung itu sendiri. Sementara pesanan awal Neera sudah dibawa pulang oleh pegawai peternakan yang dimintai tolong oleh Neera sekalian juga untuk para pegawai itu dan beberapa temannya yang masuk hari ini.


"Jadi berapa semuanya Tek, sama yang ibu-ibuk tadi juga dan pesanan Diana" tanya Neera.

__ADS_1


"Eh, tidak usah Ra, ini biar kami saja. Tidak enak ah" tolak Diana halus.


"Sudah tidak apa, kapan lagi kan bisa begini. Lagian bukan aku yang bayar, ada suami aku hehe" cengir Neera yang langsung mendapat usapan lembut di kepalanya oleh Ayyub.


"Ah.. yasudah kalau begitu. Terima kasih banyak. Kita jadi tidak enak sudah merepotkan" ujar Hadi.


"Tidak apa Di, sebagai tanda perkenalan" sambut Ayyub.


"Semua jadi tujuh ratus lima puluh ribu Neera kalau di total" ujar pemilik toko sembari memperlihatkan hitungan kalkulator handphonenya.


"Uda, tambah gorengan ini juga ya" manja Neera yang diangguki Ayyub karena sepertinya triplets juga sangat menyukainya.


"Kalian ada yang mau tambah lagi gak, nih kerupuknya sekalian biar makin mantap" Ujar Neera sembari memberikan sekantong besar kerupuk yang sedari tadi diminta oleh anak-anak Diana.


"Ah... makin gak enak nih. Sering-sering aja Ra kalau gitu" canda Diana yang menerima kerupuk dari Neera lalu memberikan pada anaknya yang langsung bersorak kegirangan.


"Tek, tolong dibungkus ini semua sama kerupuk ini juga jadi berapa Tek ?" tanya Neera lagi.


"Jadi delapan ratus ribu pas Neera" jawab ibu itu sumringah. Pasalnya ia sudah menambahkan harga dari yang seharusnya. Bukannya Neera tidak tau akan hal itu. Ia hanya diam dan menganggap ini sedekah saja.


"Uda, minta uang dua juta dong" bisik Neera pada suaminya dengan nada yang begitu manja.


"Anything for you sayang" bisik Ayyub juga sembari mencuri satu kecupan di pipi mulus istrinya.


"Tek, ini uangnya" ujar Neera sembari memberikan dua gepok uang ketangan pemilik warung yang langsung diam membisu dengan mulut ternganga.


"I..i..ini terlalu banyak Neera" ujar ibu itu sembari menghitung uang itu yang ternyata berjumlah dua juta. Bahkan jualannya hari ini tidak ada senilai uang yang ada di tangannya kini.


"Tidak apa Tek, sekalian untuk bayarin yang masih tinggal dan makan disini. Jangan minta bayaran ke mereka lagi dan lain kali jangan menaikkan harga dagangan sembarangan" bisik Neera yang membuat ibu itu terdiam dan bisu.


Ia tidak menyangka jika Neera akan tau mengenai harga yang sengaja ia lipatkan karena menginginkan keuntung lebih. Dia menyangka bahwa Neera yang selama ini di luar negri tidak tau tentang harga barang di kampung oleh sebab itu ia menaikkan harga dua kali lipat dari harga asli.


"Terima kasih Neera, semoga rezeki nya makin lancar" seru beberapa orang yang masih disana saat mendengar bahwa belanjaan mereka telah dibayarkan oleh wanita yang dulunya sangat terkenal dengan kepintaran, kesopanan dan kecantikannya.


"Amiin, Iya sama-sama. Bapak ibu semua, kami pamit duluan ya. Terima kasih atas do'anya" balas Neera dengan senyum ramahnya pada semua orang yang masih ada disana.


"Di, nanti main ke rumah ya. Aku ada bawa oeh-oleh untuk kamu" ujar Neera pada temannya.


"Haha kita mah sering ke rumah kamu. Kamu nya aja yang gak ada di rumah. Bang Hadi kan kerja di peternakan kamu. Di bagian pemasaran" ujar Diana.


"Ohya ? Wah aku baru tau juga. Yasudah nanti mampir ya. Kami pulang dulu" jawab Neera masih dengan senyuman manisnya yang tak pernah bosan untuk dipandang.


"Loh, pulang pake apa kamu ?" tanya Diana yang tidak melihat adanya kendaraan.

__ADS_1


"Jalan kaki aja Di, sekalian olahraga pagi sama anak-anak" jawab Neera yang diangguki oleh Hadi dan Diana.


"Yasudah, kami duluan ya" seru Neera sembari triplets melambaikan tangannya pada keluarga Diana yang disambut antusias mereka.


__ADS_2