
Pagi ini seorang pria tengah duduk di balkon sebuah hotel yang ada di tengah kota London. Sudut bibirnya terus terangkat keatas.
Sedari malam dia tidak bisa tidur menantikan pagi cepat datang, bahkan dia mengutuk bulan yang enggan beranjak untuk digantikan matahari.
Hari ini dia akan bertemu dengan pujaan hatinya. Dia sudah tidak sabar memandangi wajah putih bersih wanita itu. Apapun caranya dia harus mendapatkan Neera nya lagi.
Dua hari ini wanita itu begitu dingin, bahkan dia sudah memberikan perhatian tetapi tidak pernah mendapatkan respon.
Berkali\-kali telponnya di reject dengan alasan sibuk. Mungkin memang benar, maka dia memaklumi saja.
Setengah jam terasa seabad baginya, mereka telah berjanji bertemu di restoran depan hotel yang di tempatinya oleh karena itu dia berdiri di balkon sambil memandangi arah restoran.
Pria itu telah bersiap dengan baju yang baru di belinya semalam, bahkan untuk rambut saja dia membutuhkan waktu yang lama untuk menatanya.
Dia ingin terlihat sempurna di depan pujaan hatinya, wanita itu terlihat menawan tempo hari maka dia juga harus membuat dirinya pantas.
Padahal dia sudah terlihat tampan dengan garis rahang yang tegas, bibir tipis yang bagian bawahnya sedikit melengkung memberikan kesan seksi, ditambah hidung mancung menjulang dan mata yang dalam dengan tatapan elangnya.
Perpaduan darah timur tengah dan indo, menghasilkan wajah yang mampu menyihir wanita di tambah dengan perawakannya yang tinggi hampir dua meter dengan tubuh yang tegap berisi.
Otot otot tubuh di bagian lengan jelas terlihat dari kemeja yang dikenakannya, sedangkan dada bidang itu membentuk di balik kemeja putih yang dua kancing atasnya sengaja dibuka mengekspos sedikit bagian trapezius di dekat leher.
Sementara bagian lengan dilipat hingga bagian siku memberikan kesan santai dan di padu dengan celana kain dengan warna bright grey hingga mata kaki. Ditambah dengan sepatu sport balenciaga mnyempurnakan penampilannya.
Disisi lain seorang ibu muda tengah sibuk membujuk ketiga anaknya untuk mau di tinggalkan dengan berbagai rayuan.
Entah mengapa hari ini tidak mempan sama sekali, bahkan sampai terjadi adegan gantung menggantung di kakinya. Qalundra dan Qeenan memeluk kakinya satu persatu sementara Qaivan merentangkan tangan menhadang jalan sang bunda.
Tidak biasanya mereka seperti ini, bahkan sedari malam dia telah meminta izin pada ketiganya tetapi pagi ini mereka berulah.
Mereka merengek meminta ikut bahkan mereka telah menyiapkan tas mereka masing\-masing.
"Apa yang harus ku lakukan, jelas saja aku meminta bertemu di London agar mereka tidak bertemu kini malah triplets yang meminta ikut bukankah sama saja jadinya" batin Neera.
"Kalau ku batalkan janji yang ada dia malah membuat masalah, apalagi jika dia sampai disini bisa gawat, sementara kehidupan kami disini" pikirnya lagi.
"Baiklah, tunggu sebentar. Biarkan bunda melihat tiket penerbangan dulu. Kalau ada kita berangkat bersama, tetapi jika tidak kalian harus mengizinkan bunda pergi, okay ?" jelas Neera pada ketiganya.
"Okey bunda" jawab ketiganya.
__ADS_1
Segera dia mengecek penerbangan yang tersedia untuk pagi itu. Beruntungnya hari ini banyak tiket yang belum terjual maka dia segera memesannya dan melakukan check in online dengan bangku yang berdekatan.
Waktu keberangkatan mereka dua setengah jam lagi, tidak sempat jika harus membereskan triplet, maka dia hanya mencuci muka dan menggosok gigi mereka.
Setelahnya memakaikan mereka baju dengan model dan warna yang sama untuk Qaivan dan Qeenan sementara Qalundra dengan model berbeda tetapi masih warna yang sama.
Setelahnya Neera memakaikan topi pada ketiganya. Sementara sang bunda memakai pakaian formal karena memang selain bertemu Ayyub dia juga ada urusan ke universitas yang ada disana.
Neera juga membawa beberapa baju ganti untuk mereka jika nanti tidak memungkinkan untuk pulang. Setelahnya mereka berangkat menuju bandara.
Rencananya nanti Neera akan menitipkan triplets pada rekan sekaligus teman baiknya yang ada di London. Dia juga memiliki dua anak dengan jarak 3 tahun dan satu tahun diatas triplets.
Mereka juga sudah sering bermain, bahkan ketika temannya itu di Edinburg maka anaknya akan bermain bersama triplets di rumah mereka.
Walaupun keduanya berteman baik, tapi tetap saja dia tidak mengetahui masalah Neera. Dia hanya tau bahwa Neera adalah ibu tunggal.
Mereka bertemu ketika Neera mulai mengajar di universitas. Dia adalah seorang dosen seperti Neera yang mengajar di beberapa universitas yang ada di London, Edinburg dan Glosgow.
Sementara suaminya adalah seorang dokter hewan juga tetapi dia lebih berfokus pada praktisi dan membuka klinik hewan di London.
Neera juga tidak lupa mengirim pesan bahwa dia akan terlambat sekitar setengah jam tentu saja dia tidak memberikan alasannya karena harus mengantarkan triplets terlebih dahulu.
"Babies kesayangan bunda, jangan nakal ya sayang, be a good boy and good girl saat bersama aunty Jennie" ingat Neera pada triplets.
"Okay bunda" jawab mereka sumringah.
"Nanti setelah urusan bunda selesai, bunda akan menjemput kalian dan kita akan menginap disini untuk sehari" tambah Neera.
"Yeayyyy bunda the best" sorak mereka semangat.
Akhirnya mereka sampai di rumah teman Neera yang sudah menunggunya sedari tadi. Langsung saja mereka masuk ke pagar setelahnya triplets berlari kearah temannya itu setelah memberi salam dan ciuman di pipi Jennie.
"Hi, Jen how are you ?" sapa Neera.
"Oh halo dear, i'm good. Lihat lah dirimu semakin cantik saja. Tidakkah hukum umur berlaku padamu ?" balas Jennie.
__ADS_1
"Ayolah Jen, kau terlalu berlebihan bahkan aku tidak ada apa-apanya dibandingmu" balas Neera merendah.
"What dear kau bercanda denganku ? Aku sudah seperti wanita setengah abad kau tau itu, Apakah kau meledekku ?" balas Jennie dengan candanya.
"Hahaha kau terlalu memandang rendah dirimu, bahkan kau tidak terlihat seperti ibu dua anak" puji Neera.
"Baiklah aku percaya padamu" ucap Jennie.
"Jen, aku harus segera pergi, sudah hampir terlambat. Aku minta maaf merepotkanmu hari ini" sesal Neera.
"Oh dear, kau seperti pada siapa saja. Bahkan mereka sudah seperti anakku sendiri. Pergilah, jangan khawatirkan mereka, triplets aman disini" balas Jennie.
"Thank you Jen, nanti aku akan menjemput mereka lagi" ucap Neera.
"Okay dear, berhati-hatilah, see you" ucap Jennie.
"Thank you Jen, see you" balas Neera sembari memeluk temannya itu.
"Bye Triplets bunda pergi dulu" seru Neera pada triplets yang sedang bermain dengan temannya.
"Bye bunda, be careful we love you" balas mereka.
"Love you to" balas Neera.
Segera dia menaiki taxi yang sudah menunggu di depan rumah Jennie. Setelah menyebutkan tujuannya dia membetulkan letak kerudungnya, merapikan dandanan dan menambahkan sedikit lipstik soft pink pada bibir merahnya.
Kemudian dia menyemprotkan sedikit parfum pada bagian leher dan pergelangan tangannya. Setelah itu mengecek jam tangan yang ada di pergelangan tangannya, memastikan waktu janjinya.
Kini detak jantungnya sudah tidak beraturan, semakin dekat tempat yang ditujunya semakin menggila suara talunya.
Sudah berkali kali dia berganti arah duduk untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Bahkan kini telapak tangannya terasa dingin dan sesekali terdengar hembusan napas kasar.
Sekuat tenaga dia berusaha mengendalikan kegelisahannya, menutup mata kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya lagi sembari memberi sugesti pada dirinya sendiri.
Akhirnya dia sampai di depan restoran yang mereka sepakati menjadi tempat bertemu dan ternyata mejanya telah lebih dulu di booking oleh Ayyub.
Setelah membayar biaya tagihan yang ada di argo dan mengucapkan terima kasih pada sang sopir segera Neera keluar dari taxi yang telah mengantarkannya itu.
Neera berdiri sejenak sambil merapikan sedikit pakaiannya setelah turun dari taxi. Kemudian dia mengatur napasnya dan berjalan menuju pintu restoran yang sudah disambut oleh waiters disana.
__ADS_1