
Shata dan Tara kini sudah berada di depan pintu kuil. Shata berdiri mematung dan bercucuran keringat dingin karena khawatir ayahnya tidak mau menemuinya lagi.
"Ayo.. Cepat masuk, ngapain kamu melongo disini" Ucap Tara.
"Iya" Jawab Shata.
Merekapun memasuki kuil, kemudian berdoa pada Sang Dewa. Setelah berdoa, Shatapun melihat salah satu pengabdi dewa yang bernama Zheyata. Zheyata adalah salah satu pengabdi dewa termuda, dia kini masih berusia 17 tahun. Dia mengabdi sejak berusia 10 tahun.
"Zheyata.." Sapa Shata.
"Iya.."Jawab Zheyata.
"Apa kabar? Ini aku Shata dan ini temanku Tara" Jawab Shata.
" Oh Shata.. Aku baik, bagaimana denganmu? Sudah lama kamu tidak pernah kesini lagi" Jawab Zheyata.
"Loh.." Ucap Zheyata secara spontan setelah melihat Tara. Kemudian tara memberikan isyarat untuk diam.
"Hehehe iya aku sibuk.. Ada apa zhey? Kamu mengenal Tara?" Tanya Shata.
"Kami memang kenal, bukankah 4 tahun lalu kamu mengajakku kesini? Aku berkenalan dengannya di teras depan sembari menunggu kamu berdoa" Sahut Tara.
"Apa iya? Sepertinya ini pertama kali aku mengajakmu" Jawab Shata.
"Iii-ya, kurang lebih 4 tahun lalu kami berkenalan" Ucap Zheyata.
__ADS_1
"Apa kamu mau bertemu dengan ayahmu? Aku akan mencoba memanggilnya" Sambung Zheyata untuk mengalihkan pembicaraan.
"Apa beliau mau menemuiku?" Tanya Shata.
"Aku juga tidak tahu, tapi apa salahnya mencoba" Jawab Zheyata.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu di taman" Jawab Shata.
"Ayo Tara kita ke taman" Ajak Shata kepada Tara.
"Ayo" Jawab Tara.
Zheyata pun masuk ke dalam kuil, sedangkan Shata dan Tara langsung menuju taman. Mereka duduk di kursi taman di bawah pohon yang rindang.
"Tolong, ambilkan air. Aku haus" Ucap Shata pada Tara.
"Apa ayah mau menemuiku ya?" Ucap Shata.
"Tenanglah, aku yakin sekali.. kali ini beliau akan mau menemuimu" Jawab Tara.
"Semoga saja.."Jawab Shata.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tangisan dari kejauhan. Secara spontan, Shata dan Tara menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Ayaahh...!!" Teriak Shata mendekati ayahnya.
__ADS_1
Seketika itu juga Shata langsung memeluk dan mencium kaki ayahnya. Dia menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala rasa kerinduan pada ayahnya. Sang ayahpun hanya bisa menangis dan melihat putra kesayangannya.
Tara pun mendekati keduanya.
"Terima kasih tuan, karena tuan telah menjaga Shata selama ini" Ucap Ayah Shata kepada Tara.
"Ha? Tuan?" Tanya Shata sembari menyeka air matanya.
"Apakah kamu tidak tahu bahwa Tuan Tara adalah sang Pangeran?" Tanya sang ayah kepada Shata.
Betapa terkejutnya Shata. Sahabat yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka ternyata adalah seorang pangeran.
"Apa maksud ayah?" Ucap Shata kebingungan.
"Apa benar kamu seorang pangeran? Selama ini kamu menemaniku untuk apa? Apa maksud mu? Tttapii.. Bukankah pangeran selalu...." Sambung Shata sembari menoleh ke arah sahabatnya.
"Mari kita duduk dahulu, ayah akan ceritakan semuanya" Jawab sang ayah.
Merekapun kembali menuju kursi taman.
"Jadi begini.. Sebelum ayah memutuskan untuk menjadi pengabdi dewa di kuil ini, ayah sempat ragu karena ayah tidak tega meninggalkanmu sendiri. Ayahpun berdoa di kuil ini selama 2 hari dan bertemu dengan raja, ratu, dan pangeran Tara ini. Ayah secara tidak sengaja mendengar percakapan antara mereka. Sang pangeran ingin merasakan hidup bersama rakyat tetapi sang raja dan ratu tidak menyetujuinya karena mereka khawatir akan terjadi sesuatu pada pangeran. Kemudian, ayah menuliskan surat untuk sang raja. Ayah menjelaskan semuanya, bahwa ayah akan meninggalkanmu dan menjadi pengabdi dewa. Ayah juga menjelaskan bahwa kamu adalah seseorang yang pandai dalam hal memanah sehingga keselamatan pangeran akan terjamin. Pada awalnya surat itu tidak kunjung ada balasan. Ayah berpikir bahwa sang raja menolak tawaran ayah. Akan tetapi, pada suatu hari ayah di panggil oleh pengawal kerajaan. Dia berkata bahwa raja ingin menemui ayah secara langsung. Ayahpun bertemu dengan sang raja, sang raja menerima penawaran ayah dengan syarat ayah tidak boleh memperkenalkan pangeran tara sebagai pangeran dan kalian akan tetap di awasi oleh keamanan kerajaan dari jauh. Ayahpun merasa lega. Untuk itulah, ayah bawa pangeran Tara menuju rumah dan memperkenalkannya kepadamu. Sejujurnya, selama ini ayah sudah sangat rindu untuk bertemu denganmu, ayahpun juga tahu bahwa kamu dijuluki Sang Mata Panah. Betapa bahagianya ayah, anak ayah satu-satunya mampu dikenal oleh seluruh orang di penjuru negeri" Ucap sang Ayah.
"Lantas, mengapa ayah tidak mau menemuiku? Selama ini aku tersiksa karena ayah selalu menolakku" Tanya Shata.
"Maafkan aku Shata, ini adalah perbuatanku" Jawab Tara dengan termenung.
__ADS_1
"Ha? Apa lagi ini? Apa yang telah kalian sembunyikan dari aku selama ini!!" Jawab Shata dengan nada sedikit kesal.
"Ehmm... Itu.." Ucap Tara.