Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 205


__ADS_3

Malam harinya suasana kembali ramai saat Uni dan keluarga kecilnya sampai di rumah setelah dari pekerjaannya.


Bersama sepasang anak mereka yang sudah memasuki usia sekolah dasar dan tk. Disambung oleh kedatangan Adek bungsu mereka yang langsung dari ibu kota provinsi.


Kini triplets sudah kian kemari bersama keluarga bundanya. Terlebih Uni yang baru pertama kali bertemu langsung dengan keponakan tersayangnya.


"Masya Allah....., ganteng dan cantiknya anak Mami..." heboh Uni yang selalu mendekap triplets hingga ketiga bocah itu engap dan melarikan diri pada Atuk Nana dan Opa Omanya.


Sangat kental suasana kekeluargaan di rumah ini. Terasa hangat dan nyaman, terutama bagi Tuan dan Nyonya Kaisar yang ternyata diterima sangat baik setelah ungkapan maaf yang kembali diucapkan setelah acara makan malam dihadapan kakak dan adik Neera.


"Oke semuanya... oleh-oleh time....!!!!" seru Neera yang disambut antusias semua orang.


Saat ini semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang keluarga membentuk suatu lingkaran yang ditengahnya telah ditidurkan beberapa koper dan dus besar dengan merk perusahaan luar negri.


"Waaaahhhh banyak sekali Bunda, kakak kebagian juga kan Bun" tanya Rayna si sulung Uni.


"Tentu saja dong, buat anak cantik Bunda. Ini sayang, ada baju-baju, sepatu sama coklat buat Kakak, suka gak sayang" tanya Neera memberikan setumpuk oleh-oleh untuk si gadis cantik itu.


"Waaaaaw cantikkkkkk banget Bunda, Bunda terbaik pokoknyaaaa, pilihan Bunda bagus banget" heboh si kakak saat mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Eeeitttt, bilang apa dulu nak" ingat Neera yang disambut cengiran Rayna.


"Alhamdulillah.., makasih Ayah dan Bunda. Kakak sayaaaaang banget sama Ayah dan Bunda" ujar gadis manis itu sembari memeluk dan memberikan ciuman di pipi Neera dan Ayyub.


"Nah... sekarang untuk Abang Raffa nih, sini boy" ujar Neera yang disambut bahagia anak yang masih duduk di bangku tk itu.


"Ini nih... buat Abang. Ada banyak kan, abang suka gak ?" tanya Neera sembari menciumi pucuk kepala bocah yang masih duduk dipangkuannya itu.


"Suka Bunda. Alhamdulillah...., mksh Bunda. Yeeee Abang punya ironman, punya avenger juga, wah.... ada thor jugaaa" semangat bocah lelaki yang langsung jingkrak-jingkrak dengan kaki kecilnya.


"Wah Uni anaknya, barang brandednya di anggurin nih, apa dibalikin aja gimana" canda Neera yang melihat Rafa lebih tertarik dengan koleksi hero dari hollywood itu.

__ADS_1


"Ehh jangan dong kak, siniin lah ke mamanya" cegah Uni yang langsung menarik paksa baju itu dan diikuti tawa semua orang.


"Ngomong-ngomong nih kak, anaknya aja yang dapet kado, emak bapaknya engga ada kak. Kasih lah satuuuu.." canda Uni dengan wajah jenakanya.


"Wush... sayang, mami ini ada-ada aja loh. Sudah jadi ibu masih juga gak mau kalah sama anak" tegur suaminya sembari menggasak kepala istrinya lembut.


"Yah... gak apa toh Pi, mumpung si kakak lagi pulang ya kita porotin lah, kapan lagi kan. Iyakan Yub" balas Uni yang diangguki Ayyub dengan senyum manisnya.


"Jangan sedih Uni, kakak kalo diporotin kakak ada backingan nih, suami tercinta" balas Neera sembari menunjuk muka Ayyub dengan dua tangannya.


"Iya kan Uda, Uda baik deh" rayu Neera yang diangguki Ayyub dan disambut kecupan hangat dikeningnya.


"Wah wah wah.... jomblo mundur teratur" ujar Adek Neera, Rais yang mulai mencari sekutu.


"Hah... sungguh tidak berperi kejombloan nih" tambah Luthfi, adek Ayyub.


Semua orang menjadi tertawa akibat candaan para anak muda itu. Sembari terus membagikan oleh-oleh branded dan tentunya berkualitas pada semuanya Neera duduk lesehan bersama yang lain di ruangan luas itu.


Dengan lembut Neera mengayun sembari menepuk paha anak lelakinya. Begitu juga dengan Nana yang memangku Qal dan Oma bersama Qai.


Mereka bertiga masih menyedot dot susu yang sudah hampir habis dengan mata yang sudah setengah terpejam.


Hingga tengah malam Neera masih terus menjawab berbagai pertanyaan dari keluarganya bahkan kedua orang tua Ayyub juga antusias bertanya karena mereka sama sekali belum tau detailnya.


Berkali-kali Luthfi dan Rais berdecak kagum akan perjuangan kakak mereka saat melahirkan dan membesarkan anak seorang diri di negri orang tetapi masih tetap sukses dalam karier dan pendidikan juga.


"Jadi dulu gimana sih awal ketemu kakak dan Abang ?" tanya Luthfi yang mulai penasaran lagi.


Mendapati pertanyaan itu Ayyub langsung menatap istrinya penuh arti dan menjawab dengan pasti pertanyaan adiknya.


"Kalo yang ketemu langsungnya ya waktu itu di bandara. Kebetulan Abang lagi ada tugas disana dan Kakak kalian kebetulan juga akan berangkat ke London kalo gak salah. Kakak kalian nih kabur dulunya" cerita Ayyub sembari tersenyum pada istrinya.

__ADS_1


"Iyaa.. dan sialnya kakak tidak tau kalau kartu nama kakak jatuh dan dipungut sama si bapak pilot ini" canda Neera yang disambut tawa semua orang.


"Yaaa namanya jodoh, sejauh apapun melangkah ujungnya akan ketemu juga, iya gak besan" ujar Apa yang disetujui oleh Papa.


"Haha iya benar sekali besan, kalau ditarik benang lagi, kisah mereka ini penuh tangis dan luka tetapi Alhamdulillah sekarang mereka sudah bersama lagi dan perjalanan masih panjang nih, buat yang muda-muda. Jadikan semuanya pembelajaran" nasehat Papa yang diamini semua orang.


"Aminn..., terus-terus gimana tuh Abang ketemu triplets. Adek udah tau sedikit sih tapi yang versi Abangnya gimana, Apa abang gak tau sama sekali kalau sudah punya buntut tiga ?" tanya Rais dengan penuh semangat.


"Yah... waktu itu di hotel sih ketemunya. Gak sengaja juga, kebetulan kamar kita di lantai dan kamar yang berhadapan. Abang pas pertama lihat sudah ada feeling, tapi ragu juga apa kakakmu sudah menikah lagi. Malahan waktu awal ketemu Abang di panggil Uncle sama anak sendiri" cerita Ayyub yang diakhiri tawa mirisnya.


"Yah... nyesek banget dengernya. Terus gimana dong mereka bisa panggil Ayah gitu" tanya Uni yang ikut penasaran.


"Yah, Bunda mereka yang luar biasa ini memberikan pengertian. Mereka berpikir selama ini Ayahnya pergi keliling dunia. Jadinya pas ketemu mereka langsung happy" kisah Ayyub lagi.


"Terus gimana kak, perasaan kakak pas ketemu Ayyub lagi ?" tanya Uni lagi.


"Wah... waktu itu sih rasanya nano-nano Ni, ada takut, sedih juga, grogi iya dan pingin kabur juga iya" jawab Neera diiringi tawa renyahnya.


"Gak ada bahagianya gitu yang" protes Ayyub.


"Ya adalah dikit Uda, tapi lebih dominan ke takut sih. Karena kan waktu itu kakak taunya Uda udah sama yang mantannya itu terus lagi kalau lihat triplets kakak takutnya mereka bakal diambil gitu, biasalah perasaan emak-emak" canda Neera dengan pembawaan yang ringan.


"Kamu sih Yang, parnoan sama suudzan banget" kekeh Ayyub.


"Ya gimana, namanya juga jiwa emak-emak" kekeh Neera yang disambut tawa semua orang.


"Sudah Yub, kalau emak-emak sudah unjuk diri kita kalah telak, lebih baik mundur teratur" canda Apa yang dingguki para lelaki disana.


"Yeee emak-emak juga kalau gak ada bapak-bapak nya kelimpungan" balas Ama yang didukung para kaum hawa.


Akhirnya malam itupun berakhir setelah semua orang disinggahi oleh kantuk yang minta segera untuk dipenuhi. Masuk ke kamar masing-masing untuk menyambut hari esok.

__ADS_1


__ADS_2