
Apartemen yang biasanya sunyi itu kini terdengar riuh dengan segala drama pagi yang tercipta. Semenjak Ayyub mengurus triplets inilah saat tantrum terparah yang pernah ia alami.
Sebelumnya bocah tiga tahun itu tidak pernah sesulit ini untuk ditangani. Ayyub berusaha benar-benar sabar dan tidak mengganggu tidur istri yang dibuat lelah olehnya namun apa daya kesabarannya tidak seluas Neera dan kecakapannya tidak sebaik istrinya dalam mengurus anak.
"Sayang..., masih capek sekali ya ?" tanya Ayyub mencoba membelai lembut kepala istrinya.
"Ah... iya ada apa Uda ?" jawab Neera yang langsung terjaga merasakan sentuhan tangan hangat itu.
"Uda gak ngerti yang, anak-anak pada aneh hari ini, susah sekali dipakaikan baju" adu Ayyub pada istrinya.
"Baiklah, tunggu sebentar ya Uda. Neera cuci muka dulu" ujat Neers yang langsung berusaha berdiri dibantu suaminya.
"Makasih sayang, maaf ya Uda jadi bangunin Neera padahal tadi janjinya mau ngerjain semua" sesal Ayyub.
"Yasudah, engga apa-apa Uda toh Neera harus bangun juga" lembut Neera dengan senyumnya.
Selepas dari kamar mandi Neera menemui anak-anaknya yang masih handukan dan kolokan di bawah selimut enggan untuk terjaga.
Perlengkapan dan baju mereka berserakan diatas kasur. Neera mengerti akan hal ini, namanya anak kecil apsti ada masa-masa mereka tantrum dan keras kepala, pintar-pintar kita bagaimana harus menghadapinya. Biasanya Neera akan mundur selangkah dan menunggu mereka hingga mereka reda sendiri.
Percuma jika makin dipaksa mereka akan semakin tidak terkendali. Oleh sebab itu Neera mencoba memahami mereka juga.
"Kenapa ini kesayangannya bunda belum ganti baju, nanti masuk angin lo" lembut Neera sembari ikut berbaring di dekat mereka.
"Mau nene bunda" jawab Qal yang mendekat kearah Neera diikuti dua saudaranya.
"Yasudah, tapi setelah itu kita pasang baju ya" usul Neera yang langsung diangguki ketiganya.
Neera mengambil posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Qal dan Qai segera melekat bak koala pada sang bunda. Menghisap ASI yang masih tersisa dari bundanya.
Sementara Qee menidurkan kepalanya di kaki Neera dan memainkan ujung daster rumahan Neera.
__ADS_1
Selesai baby Qal posisinya langsung digantikan oleh Qee namun si cantik itu masih setia gelendotan di tubuh bundanya.
Entah kenapa hari ini mereka seperti lem cap badak, tidak mau lepas dari bundanya. Sangat-sangat manja tidak seperti biasanya.
Sebenarnya Neera ragu untuk membawa mereka menuju kediaman keluarga Kaisar melihat mood ketiganya tapi ia juga segan untuk menolak demi menjaga hati suami dan keluarga besarnya.
Lagian ada seseorang yang ingin sekali bertemu dan berbicara serius dengannya. Walaupun Neera belum tau apa topik pembicaraan mereka, Neera berusaha mengabaikan itu dan seolah tidak mempedulikannya. Apapun nanti akan ia hadapi dengan hati yang terbuka.
Tidak ada lagi yang harus dia takuti sekarang. Ia sudah punya kekuatannya sendiri, ia sudah mampu bertahan dan menangkis jika itu diperlukan. Rasanya pondasi yang ia bangun kini sudah sangat kokoh untuk ia tinggali.
Setelah puas menyusu pada bundanya ketiganya pun menurut saat dipakaikan baju oleh Neera dengan berbagai percakapan ringan yang mengalihkan perhatian sehingga mereka tidak menyadari bahwa Neera sudah selesai mendandani triplets satu persatu.
Neera membawa mereka menuju meja makan agar Ayyub mudah membersihkan dan merapikan tempat tidur yang sudah seperti kapal pecah itu.
Hari ini triplets juga tidak mau makan sendiri jadi Neera menyuapinya dengan telaten dan diiringi dengan murotal yang menentramkan jiwa agar mereka juga terbiasa dengan ayat suci itu dan menghafalkannya.
Melihat Neera yang tengah menyuapi triplets dengan baik meski banyak merengek membuat Ayyub tersadar seketika.
Betapa sabar dan luasnya hati istrinya. Bahkan ia tidak terlihat kesal sedikitpun meladeni tingkah anaknya. Bibir itu selalu tersenyum dan tangannya selalu membelai sayang ketiganya. Tidak pernah sekalipun Ayyub mendengar kata-kata yang buruk keluar dari mulut istrinya saat menghadapi tingkah anak mereka.
Maka ia hanya bisa memberikan cinta yang lebih lagi untuk anak dan istrinya dan belajar untuk lebih menahan diri lagi dalam mendidik buah hati mereka karena sesungguhnya disanalah letak nikmat mengasuh anak itu.
"Sayang, Neera makan lah biar Uda yang suapi mereka" tawar Ayyub pada istrinya.
"Tidak usah sayang, Uda makan saja dulu suasana hati mereka lagi buruk, mumpung mereka lagi mau makan kita biarkan saja seperti ini dulu takutnya nanti mood swing lagi dan mereka tidak mau lagi makan" jelas Neera lembut pada Ayyub.
"Baiklah, kalau begitu kita makan bersama. Uda akan menyuapi Neera, kita berbagi piring saja" putus Ayyub yang mengerti akan keadaan saat ini.
Sewaktu turun menuju basemant hendak ke mobil ketiganya juga merengek ingin digendong Neera bahkan Ayyub pun mendapatkan penolakan dari ketiganya.
Neera membiarkan mereka mencurahkan kekesalan di dalam diri mereka dengan tangisan dan teriakannya setelah agak tenang barulah Neera memberikan pengertian bahwa ia tidak sanggup menggendong sekaligus dan menawarkan mengendong mereka satu persatu bolak balij tetapi mereka tidak mau.
__ADS_1
Akhirnya mereka setuju digendong Ayyub dengan syarat ketiganya tidak boleh salah seorang dari mereka bersama Neera biar adil.
Ayyub tentu saja menyetujuinya, toh baginya ini tidak seberapa. Jadilah Qai digendong didepan menggunakan gendongan sementara Qee dan Qal didekap kanan dan kiri oleh ayahnya.
Sampai mobil Ayyub mendudukan mereka di seat car dan memasangkan seatbelt ketiganya. Setelah merasa aman, Ayyub kembali menuju kemudi untuk melajukan kendaraan mewahnya.
Seperti biasa tidak lama setelah mobil berjalan ketiganya langsung tertidur terlebih sedari tadi mereka juga sudah lelah menangis dan kini jejak air mata itu masih membekas di pipi chubby ketiganya.
"Sayang, ada apa dengan mereka hari ini. Tidak biasanya mereka bertingkah begini" tanya Ayyub yang tidak mengerti menangani anaknya.
"Biasa Uda, walaupun perkembangan mereka sangat baik tetapi mereka juga tetap balita yang terkadang ada tantrum dan stuborn itu merupakan hal wajar dalam perkembangan emosional mereka" jelas Neera.
"Dulu juga pernah begini yang, apakah pernah lebih parah dari ini" tanya Ayyub khawatir.
"Tentu saja pernah, tetapi sepertinya yang terparah ya saat ini" jelas Neera sembari berusaha mengingat.
"Terus kalo mereka lagi mood swing begini apa yang Neera lakukan dulu" tanya Ayyub penasaran.
"Kalau dulu sekali waktu Neera masih baru-baru Neera akan ikut menangis bersama mereka" kisah Neera sembari menertawai kebodohannya dahulu.
"Beneran yang ?" tanya Ayyub tak percaya.
"Iya, tapi seiring berjalannya waktu Neera berusaha mengerti mereka. Membiarkan mereka menumpahkan kekesalan dalam hatinya, meluapkan emosi yang tertahan dan bersabar menghadapi sikap mereka yang tengah frustasi dengan dirinya" jelas Neera kembali.
"Apa itu wajar sayang ?" tanya Ayyub lagi.
"Sangat wajar diusia mereka, justru Neera akan sangat khawatir jika mereka tidak pernah tantrum yang artinya mereka memendam emosi mereka sendiri dan akhirnya tidak bagus untuk oerkembangan mental mereka. Selama ini triplets terlalu baik untuk menjadi seorang anak bagi Neera, mereka jarang sekali menuntut banyak hal dan mengerti keadaan orang tuanya. Neera sama sekali tidak merepotkan sedari mereka bayi" kenang Neera sembari menyelami wajah ketiganya.
"Neera sangat berterima kasih pada ketiganya sebab tidak pernah sekalipun menempatkan Neera dalam posisi sulit. Mereka membuat Neera tenang meninggalkan mereka saat bekerja, tidak merengek saat memiliki waktu liburan sedikit dibanding teman-temannya. Mereka terlalu baik untuk menjadi seorang anak" ujar Neera mengeluarkan isi hatinya.
Ayyub yang mendengar penuturan Neera merasa bersalah didirinya. Ia berjanji akan mencoba lebih memperhatikan buah hati mereka, mencoba menahan emosi dan memperluas sabarnya saat menghadapi anaknya dan memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang buah cintanya dan Neera.
__ADS_1
"Sebenarnya Neera ragu membawa mereka dalam mood seperti ini ke rumah besar Uda, takutnya mereka akan membuat suasana tidak nyaman dan tanpa sengaja menyakiti mereka" ungkap Neera yang sedari tadi ingin disampaikannya.
"Tidak apa sayang, nanti Uda akan mencoba memberikan pengertian pada mereka semua, pasti mereka paham akan keadaan triplets" ujar Ayyub menenangkan istrinya sembari mengelus lembut pipi mulus itu.