Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 165


__ADS_3

Hakim masuk ke kamarnya membawa luka yang bahkan lebih dalam lagi. Ternyata selama ini istri yang amat ia cintai tak pernah membalas cintanya. Ia menikahi Hakim hanya dengan maksud tertentu. Sungguh malang sekali dirinya, hati yang sudah terlanjur mencinta kini harus mereguk kekecewaan yang berkali lipat.


Benar tentang perkataan keponakannya bahwa tidak seharusnya kita terlalu mencintai makhluk melebihi cinta pada Penciptanya.


Sementara itu di kamar lain Ayyub masuk dengan membawa kekesalannya. Ternyata selama ini iparnya itu menganiaya istrinya bahkan mencuri benda berharga Neera yang dulu ia percayai bahwa Neera menjual barang pemberiannya.


Kemarahan itu tidak hanya pada Shintia tetapi juga kepada dirinya sendiri yang tidak mampu menjaga istrinya. Kepada keluarganya dan kepada Hakim juga. Bahkan masa lalu juga ikut menjadi objek kemarahan Ayyub.


Memang jika menyangkut masa lalu dan Neera, Ayyub begitu sensitif. Emosinya akan selalu menguar tanpa bisa dikendalikan. Semua itu implementasi atas kekecewaan pada dirinya sendiri. Hal inilah yang sampai kini masih menjadi kelemahannya.


Ia marah kepada dirinya beberapa tahun yang lalu tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sangat kesal kepada orang yang menganiaya dan memfitnah istrinya dahulu tapi sayang mereka semua adalah keluarganya bahkan orang tuanya sendiri. Itu membuat ia semakin frustasi karena ia tidak bisa melakukan apapun atas peristiwa itu.


Neera membiarkan Ayyub masuk ke kamar sebelah tanpa bertanya apapun. Ia yakin suaminya itu ingin melampiaskan kekesalan dalam hatinya.


Setelah melihat Ayyub menutup pintu dengan keras Neera masuk ke kamar utama untuk melihat keadaan triplets. Segera ia membersihkan diri, menggosok gigi dan memcuci wajah. Setelah itu melalukan serangkaian perawatan sebelum tidur.


Ia tau saat ini Ayyub marah, itu ego laki-laki tidak mungkin ia akan menahannya. Selagi masih dalam batas wajar dan tidak membahayakan biarkan saja ia melepas beban dihatinya.


Setelah puas dengan perawatannya Neera berjalan ke luar mengambil segelas air putih dan masuk ke kamar tempat suaminya berada.


Betapa terkejutnya Neera saat melihat semua porak poranda seperti kapal pecah dan Ayyub terduduk menyusupkan kepalanya di lutut yang terangkat diantara onggokan lampu tidur yang kini ia yakin sudah tidak berfungsi lagi.


Dengan hati-hati Neera melangkah diantara tumpukan barang yang berserak. Beruntung kamar ini kedap suara sehingga saat tadi Ayyub mengacaukannya tidak akan mengganggu istirahat orang lain.


Tanpa berkata apapun Neera memeluk Ayyub dan mengusap kepalanya dengan lembut. Luruhlah air mata Ayyub, sungguh ini terlalu berat bagi hatinya. Walau apapun yang terjadi sekarang tapi dulu dia pernah menyakiti hati wanita luar biasa ini, pernah jalan dan berhubungan bahkan hampir tunangan dengan wanita lain dengan status masih suami.


Ia marah pada dirinya sendiri tapi tidak tau harus bagaimana. Terlebih lagi wanita yang pernah ia sakiti itu berdiri disampingnya kini, dengan setia mendampinginya dalam keadaan apapun. Wanita yang sudah ia hamili tanpa pertanggung jawaban dan bertaruh nyawa untuk buah buah cinta mereka sendirian sementara ia tengah bersama wanita lain.

__ADS_1


"Sayang... maaf... ampun... sayang... jangan per nah per gi.." lirih Ayyub ditengah isaknya. Masa lalu kini kembali menari di kepalanya.


"Kenapa Uda, sudah sayang. Istighfar, minum dulu tenangkan diri Uda" ujar Neera sembari menyuguhkan segelas air.


Perlahan Ayyub menyusut air matanya dan menenangkan diri sembari mengucap istighfar. Ia coba minum air dari gelas yang dipegangi istrinya dan duduk tegak.


"Maaf..." ujar Ayyub yang tidak sanggup berkata-kata. Sejujurnya kemaharan terhadap Hakim juga ia rasakan terlebih lagi Shintia.


"Ada apa, kenapa Uda tiba-tiba emosi begini ?" tanya Neera lagi.


Ayyub bungkam seribu bahasa, bingung ingin menjawab apa. Ia tahu semua yang ada saat ini ingin ia marahi tentu saja selain istrinya.


"Marah sama Neera ?" dijawab gelengan.


"Marah sama Abang Hakim" tanya Neera lagi yang ragu-ragu diangguki Ayyub.


"Kenapa dia menikah dengan wanita iblis itu, kenapa dia tidak mengajari istrinya dengan benar, kenapa dia harus membawa wanita itu ke rumah dan membuat kamu terluka, kenapa dia tidak memarahi istrinya saat melakukan kesalahan dan kenapa ia percaya saja semua perkataan istrinya ?" lantang Ayyub mengeluarkan unek-uneknya.


"Terus kenapa marahnya jadi sama Neera ?" tanya Neera yang bermaksud bercanda karena suaminya terbawa suasana.


"Maaf sayang, bukan begitu. Uda bukan memarahi Neera" sesal Ayyub yang menyadari kesalahannya.


"Apa ada lagi ?" tanya Neera pada Ayyub.


Keluarlah semua keresahan dan kemarahan yang ada dihati Ayyub terhadap dirinya dan keluarganya dan ketidak berdayaannya terhadap masa lalu.


Neera dengan setia mendengar semua beban dihati Ayyub tanpa menyela sedikitpun. Hanya menggenggam erat tangannya dan sesekali mengusap dadanya untuk menenangkan.

__ADS_1


Setelah Ayyub mulai tenang, Neera menuntun suaminya itu ke kasur dan mendudukkannya disana.


"Uda, Neera boleh bicara tidak ?" tanya Neera yang kini sudah duduk dihadapan suaminya yang tengah mengangguk.


"Bang Hakim itu tidak sepenuhnya salah, kesalahan dia hanyalah terlalu mencintai istrinya sehingga menutup mata atas setiap keadaan dan lebih mempercayai apapun yang dikatakan istrinya. Bukankah sikap itu sebenarnya baik hanya saja ia terlalu terlena dan dimanfaatkan oleh mereka yang tidak bertanggungb jawab" jelas Neera.


"Kasihan Abang Hakim, ia sudah begitu tersiksa dengan keadaannya saat ini, apalagi jika dia tau Uda juga menitikberatkan masalah yang terjadi di masa lalu padanya. Tadi saja dia sudah sangat merasa bersalah dan menyesal"


"Uda boleh marah sekarang, Uda boleh mengamuk pada Neera atau apapun itu tapi setelah ini kita kesampingkan masalah yang terjadi di kehidupan masa lalu kita dan kita fokus membantu Abang Hakim dan masalah lain yang terjadi di keluarga Uda" ujar Neera.


"Segala yang terjadi di masa lalu Insya Allah Neera sudah ikhlaskan semua. Neera sudah berdamai dengan itu semua dan tidak ada lagi dendam ataupun kebencian yang Neera pendam. Neera yakin Allah telah mengizinkan itu semua terjadi pada kehidupan kita, bahkan daun yang gugurpun semua atas izin dari Nya"


"Kalau Uda marah sekarang, Uda mau marah sama siapa, ke diri sendiri, ke keluarga Uda atau malah ke Neera terus apa, tidak bisa juga dan yang lebih penting tidak juga menyelesaikan permasalahan dimasa lalu. Semua sudah terjadi dan tidak akan mungkin terulang. Bagaimanapun caranya kita tidak akan bisa memperbaiki masa itu tapi walaupun begitu kita diberi kesempatan untuk memperbaiki masa depan"


"Oleh sebab itu, kita hanya perlu mengikhlaskannya dan menjadikannya sebuah pelajaran kedepannya. Kita harus fokus dengan masa kini dan masa depan. Melalukan yang terbaik yang bisa kita lakukan dan lebih mendekatkan diri lagi pada Sang Pencipta" ulas Neera panjang lebar.


"Iya sayang, maafkan Uda yang masih tidak bisa mengontrol diri dengan baik. Terima kasih untuk selalu disamping Uda dan mengingatkan Uda dalam keadaan khilaf" ujar Ayyub yang kini memeluk istrinya.


"Sudah seharusnya, tapi besok Neera harap sudah tidak ada lagi beban disini dan bersikap baiklah pada Abang ya Uda" ujar Neera sembari mengusap dada Ayyub dan menepuknya pelan.


"Insya Allah sayang" balas Ayyub.


"Yasudah sekarang sudah terlalu larut, lebih baik Uda sholat malam saja lalu istirahat tidur" ajak Neera yang menarik tangan suaminya.


Ayyub menurut saja saat Neera menuntunnya menuju kamar mereka dan membawa Ayyub ke kamar mandi. Neera sengaja mengunci kamar sebelah yang berantakan dan berencana akan membereskannya esok pagi.


Setelah menunggu Ayyub selesai dengan urusannya dan melepas atasannya Neera memeluk Ayyub sembari mengusap lembut rambut suaminya agar lekas tertidur.

__ADS_1


Memang begitulah Ayyub, jika sudah terlalu banyak beban pikiran maka ia akan sulit tidur sebelum Neera melakukan hal itu padanya.


__ADS_2