
Sebaik-baiknya manusia tidak selalu akan menghadirkan suka pada setiap orang. Meskipun kita tidak menyakiti atau melukai mereka selalu saja ada yang tidak menyukai entah apapun alasannya.
Hal inilah yang terjadi pada Neera sekarang. Kepulangannya sudah menggemparkan satu kampung bahkan sampai ke beberapa kampung lainnya.
Kehidupan sosial masyarakat desa memungkinkan informasi itu menyebar sangat cepat dari mulut ke mulut.
Pagi itu Neera sedang berjalan bersama keluarga kecilnya membeli sarapan lontong sayur sementara Ayyub menunggu di peternakan mereka yang tidak jauh dari sana.
"Eh, ini siapa ya. Si Neera bukan, masih ingat kampung Neera. Saya kira udah jadi orang bule ndk tau jalan pulang" sindir satu ibu-ibu yang baru datang.
Neera hanya membalas senyuman dan anggukan kecil.
Belum selesai satu ibu-ibu itu datang lagi ibu lain yang ikut bergabung.
"Halah, dulu tak nikahkan sama anak bujang ku tak mau. Sekarang lihatlah hidup sendiri ditinggal pergi suami. Anak ku itu sudah jadi pegawai kantoran sekarang di ibu kota, sudah bahagia dia sekarang" ujar satu ibu lagi yang sedari dulu ingin sekali menjodohkan anaknya dengan Neera.
Memang acara gosip cenderung lebih cepat berkembang dari pada berita nasional apalagi international.
Berita dahulu tentang pertunangan Ayyub dan Vina apalagi mereka bisa dibilang sorotan di tanah air menjadi begitu hangat tanpa mereka tau kejadian setelah itu karena Neera yang tidak mau di publish.
Neera hanya menanggapi dengan senyuman sembari tetap beristighfar dalam hatinya. Memang cara bicara mereka terlihat biasa tetapi unsur sindiran di dalamnya membuat beberapa orang yang ada disana juga ikut berasumsi.
Sebenarnya tidak ada seorangpun yang berani pada keluarga Neera terutama pada kedua orang tuanya. Oleh sebab itu pertanyaan ini mereka simpan dalam hati dan hanya menjadi gosip di belakang, tetapi karena saat ini ada kesempatan, Neera sendiri dan mereka adalah orang tua maka timbulah kekuataan itu.
"Gimana Neera jadi TKI di negara orang. Sudah jadi pembantu berapa orang disana" tanya salah satu ibu lagi.
Setau mereka kerja di luar negri itu memang banyak uang tetapi sebagai pembantu. Hanya sebatas itu pengetahuan yang mereka miliki.
Selagi Neera masih menjadi bulan-bulanan ibu-ibu disana yang bertanya dengan maksud menyindir Ayyub datang beserta triplets ke arah Neera.
"Bundaaaa......" sorak ketiganya yang berlari ke arah Neera dan langsung menubruk kaki Bundanya.
__ADS_1
"Sayang, ada telepon dari kampus. Katanya mereka butuh persetujuan kamu tetang penelitian apalah itu" ujar Ayyub sembari memberikan telepon genggam Neera.
"Halo, how are you Mr. Johnsons" sapa Neera.
"Hai, i'm verry good. How about you, Sorry Ms. Zee, i distrub your holiday" balas Mr. Johnsons diseberang sana.
"It's okay Mr., What can i do for you ?" tanya Neera.
"Begini Ms. Zee, saat ini kami dalam rapat untuk akhir pemantapan rencana penelitian mengenai penyakit pandemik yang sudah meluas, berencana menemukan formula obat yang pas yang akan segera kita lakukan. Untuk itu kami membutuhkan anda untuk segera hadir dan memberikan persetujuan" ujar Mr. Johnsons dengan wajah bersalahnya.
"It's okay, kirimkan saja link zoom yang harus saya hadiri" ujar Neera segera karena kondisi darurat dan mereka tengah rapat diseberang sana.
"Ayah dan triplets, tidak apa-apa jika makannya disini saja. Untuk di rumah nanti kita bungkuskan dan minta karyawan peternakan mengantarkan. Bunda harus segera meeting karena ini mendadak sekali" lembut Neera pada suami dan anaknya.
"Tidak apa-apa sayang, nikmati waktumu" balas Ayyub sembari mengusap lembut pipi istrinya dan membarikan ciuman di puncak kepalanya.
"Bu, kami makan disini saja. Tapi yang bungkus tadi tetap ya Bu dan juga pesanan ibu-ibu yang lain hari ini biar semua Neera yang bayar. Sesekali kan juga Neera bertemu" ujar Neera pada ibu warung yang sedari tadi sengaja menunda pesanan Neera karena kepo. Lalu Neera berjalan ke satu meja ujung.
Dengan kondisi seadanya, Neera mengikuti rapat dengan aksen british yang kental yang hanya dipahami oleh suami dan anaknya.
Sementara semua pemandangan yang sedari tadi tidak terlepas dari tangkapan mata para ibu-ibu julid disana.
Mulut mereka masih menganga lebar apalagi setelah mendengar bahwa pesanan mereka dibayarkan oleh perempuan berhijab itu. Terlebih saat mereka juga mengetahui bahwa Neera rapat dengan orang kampus tentu saja orang yang mereka hina tadi bukan hanya sebatas pembantu.
Rasa malu seketika menjalar dari setiap sel para ibu-ibu julid tadi. Bahkan rasa takut kini mulai ikut menghampiri karena mereka tau sedari tadi mulut pedas mereka sudah tertampar dengan kebaikan wanita itu.
Mereka hanya bisa gigit jari terlebih saat melihat betapa cintanya suami Neera terhadap perempuan cerdas yang tengah mengikuti rapat tersebut.
Bahkan anak-anak mereka terlihat sangat bersih dan pintar, sangat berbeda dengan anak kecil kebanyakan. Biasanya anak seusia itu masih disuapkan dengan lari-lari bahkan digendong oleh ibunya tetapi ketiga balita itu duduk tenang sambil menyuapkan lontong ke mulut mereka sendiri.
Sesekali Ayyub membantu mereka memotong lontong dan sayur agar memudahkan mereka untuk memasukkan ke dalam mulut kecil mereka.
__ADS_1
Keluarga kecil itu menjadi pusat perhatian para mengunjung yang datang membeli sarapan pagi ataupun yang makan disana. Memang tempat itu menjadi favorit karena rasa makanannya yang nikmat sehingga selalu digandrungi para pembeli.
Selesai Neera rapat dan kembali menutup ipad dan melepas headset, wanita itu tersenyum pada anak dan suaminya. Saat itu Ayyub menyodorkan suapan satu sendok lontong yang diterima Neera dengan senang hati.
"Makan dulu sayang" lembut Ayyub sembari menyodorkan satu piring ke depan Neera.
"Thank you Ayah" dibalas senyuman hangat Neera yang membuat Ayyub tidak tahan mencium pipi putih itu.
Perlakuan Ayyub yang terasa sangat asing bagi orang kampung itu kembali menarik perhatian orang-orang disana. Para gadis yang gigit jari melihat keromantisan lelaki gagah dengan wajah sempurna membuat mereka juga ingin.
Sementara para bujangan meneguk saliva kasar menyaksikan adegan yang sebenarnya juga ingin mereka rasakan tetapi apa daya jomblo menahun.
"Neera, Neera ini beneran kamu kan ?" tiba-tiba satu suara menginterupsi acara makan mereka.
"Oh Hai Diana, ya aku Neera. Kamu apa kabar ?" tanya Neera sembari menyahut tangan Diana yang terulur.
"Alhamdulillah aku baik Ra, kamu makin cantik aja sekarang. Pasti kabarnya baik kan. Kapan kamu pulang ?" tanya wanita berhijab hitam itu pada Neera.
"Alhamdulillah, kamu bisa aja Di. Aku sampai disini dua hari yang lalu. Ohiya kenalkan ini suami ku Uda Ayyub dan anak-anak kami" balas Neera yang tidak ingin mengabaikan kehadiran suami dan anaknya.
"Ah iya..., ternyata kepulanganmu bukan hanya gosip yang lagi trending di kampung kita hingga ke kampung sebelah" cengir Diana.
"Salam kenal Tuan, saya Diana teman semasa SD Neera" sambung Diana sembari mengangguk pada Ayyub.
"Salam kenal juga Diana, saya Ayyub" balas Ayyub datar dan tanpa ekpresi. Jangan lupa lelaki itu hanya bisa menjadi normal saat bersama istri dan keluarganya.
"Ahahaha Tuan bisa saja, siapa yang tidak kenal Tuan setiap saat beritanya berseliweran di televisi" segan Diana yang melihat anak orang terpandang di negrinya.
"Ohiya kamu sama siapa kesini Di. Makan disini saja sekalian bareng-bareng" tawar Neera apda teman kecilnya itu.
"Ah tidak terima kasih Ra. Aku sedang ditunggu orang di rumah. Aku bersama anak dan suamiku. Itu mereka" tunjuk Diana yang diikuti Neera sembari gadis itu tersenyum kecil dan mengangguk tanda sapaan.
__ADS_1