
Sepasang jiwa itu masih setia duduk di kasur dengan posisi yang sama. Neera masih duduk di pangkuan Ayyub dan masih setia menunduk.
Ayyub masih menunggu alasan kepergian istrinya sementara Neera juga menunggu kejelasan dari sang suami.
Keduanya sama-sama menunggu berharap ada penyelesaian dari benang kusut yang selama ini dibiarkan tanpa penyelesaian.
Neera kembali mengulang masa sulit yang dulu pernah dilaluinya. Meskipun dia telah mengikhlaskan dan memaafkan tetap saja tidak bisa untuk dihilangkan.
flasback on
Malam itu Neera tengah mempersiapkan keperluan suaminya selama seminggu kedepan. Neera tengah menyusun barang ke dalam travel bag suaminya.
Besok pagi Ayyub akan menerbangkan pesawat ke Autralia dan beberapa negara lainnya, dia akan kembali ke rumah minggu depan. Oleh sebab itu Neera berusaha membereskan dan memasukkan keperluan suaminya itu dalam tas kerjanya.
"Sayang, udah selesai belum yang ?" tanya suami yang masih menunggu di atas tempat tidur.
"Bentar sayang, tinggal sedikit lagi" jawab Neera lembut.
"Yang ayo dong, aku kebelet nih" ucap Ayyub dengan suara nakal.
"Sabar sayang, sudah selasai kok tinggal di tutup saja" jawab sang istri lembut.
Ting..., tiba-tiba ponsel Ayyub yang terletak di nakas samping tempat tidur berbunyi pertanda pesan masuk.
Pilot tampan itu membaca pesan dengan wajah terkejut dan setelahnya dia langsung mengambil jaket dan mengambil kunci mobil.
"Loh sayang, mau kemana ?" tanya Neera bingung melihat suaminya kalang kabut.
"Aku harus pergi yang, ada sesuatu nanti aku ceritain ya" ucap Ayyub berlalu setelah mengecup ujung dahi dan bibir istrinya.
Neera hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang tergesa-gesa itu, jarang sekali dia seperti itu.
Ting.. bunyi pesan masuk di ponsel Neera mengalihkan fokus kerjanya. Segera dia cek pesan yang masuk itu, tubuhnya langsung menegang membaca pesan dari nomor yang tidak dikenal itu.
'Jika kamu ingin tau dimana suamimu segera datang ke hotel xx kamar no 2001,
Kami saling mencintai dan sekarang aku hamil anak Ayyub, hanya saja dia terlalu kasihan padamu oleh sebab itu aku mohon tinggalkan dia demi anak kami.
Jika kamu tidak percaya datang saja ke hotel itu.'
"Dari siapa ini, apa benar yang dikatakannya. Tidak mungkin Ayyub mengkhianatiku, Apakah aku harus mengeceknya sendiri ?" Neera bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah banyak pertimbangan akhirnya dia mengganti baju dan mengenakan kerudungnya, segera dia mangambil kunci mobil dan berjalan menuju garasi.
__ADS_1
Ketika melewati ruang tengah Neera bertemu dengan mertuanya, tentu saja mama mertuanya itu tidak membiarkannya berlalu begitu saja.
"Mau kemana kamu malam-malam begini?"
"Neera mau keluar sebentar ma, ada urusan"
"Urusan apa malam begini, sudah izin suamimu"
"Mas Ayyub sedang keluar ma, Neera sudah kirim pesan, Neera pamit ma"
Masih terdengar jelas di telinga Neera ibu mertuanya mengatainya perempuan tidak benar, ******, tidak tau diri dan sebagainya. Neera memilih pergi karena tidak ingin hatinya ternoda mendengar hinaan mama mertuanya itu
Malam itu Neera membelah jalan kota dengan sejuta kekhawatiran di hatinya. Sempat dia berpikir untuk kembali pulang tapi dia juga ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri.
Akhirnya Neera menguatkan hatinya dan melangkah masuk ke hotel itu. Neera berjalan ke meja resepsionis dan menanyakan arah kamar yang dimaksud.
Dengan bantuan pegawai hotel akhirnya Neera menemukan kamar dengan nomor pintu yang disebutkan itu. Neera kembali ragu apakan akan membuka pintu atau pergi karena ternyata pintu itu tidak tertutup rapat menyisakan celah yang memungkinkan seseorang untuk mengintip.
Untuk memastikan Neera mengintip sedikit kearah kamar dengan suite room dengan dominasi warna gold itu. Neera mengarahkan pandangannya kesemua arah yang bisa dijangkau oleh bola matanya.
Tiba-tiba tubuh Neera membeku, matanya terbelalak dan lututnya bergetar melihat seorang pria tengah membawa seorang wanita yang hanya dililit handuk secara serampangan dalam gendongannya.
Neera tau jelas siapa pria itu dan wanita itu adalah Vina yang dikenalkan sebagai sahabat Ayyub bahkan dia sering sekali ke rumah Ayyub dan secara terang-terangan mengatakan bahwa dia mencintainya.
Luruh sudah pertahanannya, air mata telah membanjiri pipi mulusnya, tubuh Neera bergetar hebat kala melihat jelas wajah suaminya.
Hati Neera kini hancur tak berbentuk, perlahan dia berusaha menggerakkan kakinya meninggalkan tempat itu karena tidak tahan melihat adegan dalam kamar dengan nuansa romantis itu, bagaimana mungkin dia sanggup melihat laki-laki yang dicintainya dipeluk oleh wanita lain, terlebih statusnya adalah suami.
Neera melangkah keluar hotel dengan mata merah dan wajah sembab. Langkahnya gontai dengan pandangan kosong. Namun tanpa Neera sadari ternyata sedari tadi kegiatannya semenjak meninggalkan rumah hingga seakan masuk ke kamar hotel di foto oleh seseorang secara diam-diam yang semua memberi kesan bahwa dia bertemu pria lain disana.
Dalam perjalanan pulang hati Neera terus berkecamuk, baginya tidak mungkin seorang Ayyub akan melakukan hal itu namun dia juga tidak bisa menyangkal apa yang baru saja dilihatnya.
Setelah mengemudikan mobilnya akhirnya Neera sampai rumah dengan aman segera dia masuk kamar dan berwudhu. Neera berusaha menghilangkan kemarahannya dengan mengadu pada Sang Pencipta hati itu sendiri, Neera juga akan memberikan kesempatan pada suaminya itu mengatakan padanya.
Malam itu Neera berkali-kali melihat jam yang ada di nakas samping tempat tidur mereka, dia berusaha tenang dan memberikan satu kali saja kesempatan pada suaminya itu.
Tepat pukul sebelas malam Ayyub pulang dan langsung masuk dalam kamar mandi, segera Neera menyiapkan baju tidur untuk suaminya itu ketika mendengar suara air mandi.
Neera masih duduk diatas kasur saat dilihatnya suaminya itu keluar hanya dengan lilitan handuk di pinggang mempertontonkan dada bidang dan perut eight pack.
Laki-laki itu terus menggosok handuk kecil pada rambutnya, lengan kekar dengan tonjolan otot itu menambah kesexiannya. Terlebih pria itu kini tengah menatap lekat pada istrinya yang duduk diatas ranjang mereka.
Neera berusaha menghindari pandangan itu dan berpura-pura membaca buku meskipun hatinya berkecamuk tapi dia berusaha bersikap biasa dan menunggu suaminya untuk bercerita.
__ADS_1
Tiba-tiba kasur itu bergoyang dan seseorang kini telah memeluk tubuhnya dari belakang. Tentu saja itu adalah suaminya dan masih menggenakan handuknya.
"Pakai bajunya dulu yang" seru Neera pada suaminya.
"Buat apa dipakai nanti juga dilepas lagi" jawab Ayyub yang telah mulai menciumi tengkuknya.
"Ada yang ingin kamu bilang gak sama aku ?" tanya Neera lembut sambil membelai wajah suaminya.
Ayyub hanya menggeleng dan mulai menyelusupkan tangannya kedalam baju tidur Neera.
"Kamu tadi dari mana ?" tanya Neera lagi
"Cuma keluar ketemu teman" jawab Ayyub yang sudah dibakar nafsu.
"Beneran gak ada yang mau kamu bilang sama aku ?" tanya Neera mencoba peruntungannya lagi.
"Aku cuma mau bilang kalau aku menginginkan kamu, Boleh ya ? Soalnya aku mau nabung untuk seminggu kedepan" balas Ayyub sembari mengangkat baju Neera.
Neera tidak mungkin menolak ajakan suaminya, dia tau itu adalah kewajibannya memberikan hak suami, apapun yang terjadi Ayyub masih suaminya.
Bahkan agamanya menjelaskan bahwa istri yang menolak suaminya tanpa uzur atau halangan akan dilaknat malaikat hingga subuh.
Neera tidak ingin mendapatkan laknat, jadi malam itu dia mengeyampingkan kekecewaanya dan membiarkan air matanya jatuh ke dalam hati saja.
Neera melayani suaminya dengan penuh cinta meskipun saat itu hatinya terluka, mereka saling memberi kepuasan dan meneguk surga dunia di temani sunyinya malam.
Akhirnya setelah tiga jam mereka bergelut di atas kasur empuk itu Ayyub tumbang menindih Neera yang tubuhnya kalah jauh dari badan suami yang tinggi besar itu. Tidak terhitung berapa kali dia menumpahkan benih pada rahim istrinya.
Mereka masih mengatur napas setelah mencapai puncak kenikmatan bersama, perlahan Ayyub mengecup dahi dalam dari istri yang ada di bawahnya sembari mengu apkan terima kasih. Setelahnya dia berbaring di samping istrinya dan memeluk tubuh kecil molek itu.
Neera menatap lekat pria dengan mata terpejam itu, dia menyusuri seluruh wajahnya mulai dari dahi, mata indah, hidung yang tinggi, bibir yang melekuk indah, pipi hingga rahangnya yang tegas. Neera membelainya dan menyalin dalam memorinya.
Setelah mengecup dahi dan bibir pria itu dengan singkat Neera mengeratkan pelukannya pada Ayyub dan menghidup aroma tubuhnya seolah ia ingin menyimpan kehangatan itu.
Kini mereka berdua telah terbang ke alam bawah sadar akibat kelelahan, keduanya kembali terbangun saat menjelang subuh. Kembali mereka mengulang permainan panas itu hingga akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri bersama.
Mereka melaksanakan ibadah subuh bersama setelah itu mereka bersiap untuk mengantarkan Ayyub ke bandara.
Neera berusaha menyimpan kegundahannya karena ia tidak mau jika nanti akan menganggu fokus suaminya dalam bekerja. Sementara pilot itu membawa banyak nyawa dalam burung besi yang di terbangkannya.
Setelah satu jam berkendara akhirnya mereka sampai di bandara. Ayyub memeluk erat istrinya dan mencium lama dahi sang istri seakan menyimpan rasa yang nanti akan sangat dirindukannya.
Akhirnya pria dengan seragam pilot itu masuk setelah mengucapkan salam perpisahan dan nasehat panjang pada istrinya dan tidak lupa mencuri satu kecupan singkat di bibir merah Neera.
__ADS_1
Neera kembali melajukan mobilnya pulang setelah sarapan di toko roti yang ada di bandara, dia memang sangat menyukai roti dan memilki keinginan untuk membuka toko rotinya sendiri.