
Disinilah mereka, diruang yang penuh dengan layar menyala menampilkan setiap sudut yang ada di hotel ini.
"Pak tolong putarkan rekaman dibagian lobby tiga puluh menit terakhir" titah Ayyub yang langsung diangguki oleh petugas disana.
Semua mata menatap serius satu layar yang sudah diatur untuk menampilkan penampakan di lobby.
Benar saja di menit ke-15 terlihat seorang wanita yang tidak asing bagi mereka terutama Hakim tengah berangkulan mesra dengan seorang pria muda dan yang pasti terlihat jauh lebih muda dari mereka.
Bahkan mereka tidak segan bercumbu di depan lobby yang mana masih merupakan ruang publik.
Rahang Hakim mengeras menyaksikan pemandangan itu. Tangannya mengepal kuat, memperlihatkan urat-urat yang menojol menggambarkan betapa kemarahan telah memyelimuti hatinya.
"Tenanglah Bang, kita hadapi ini dengan tenang. Emosi tidak akan menyelesaikan permasalahan. Ada disini bersamamu Bang" ucap Ayyub sembari menepuk pundak Hakim dan sedikit mengurangi emosi yang bergejolak di diri lelaki kekar itu.
"Bro bisa minta tolong tanyakan nomor kamar atas nama Leon Bro, sekalian minta tolong petugas untuk membawakan kunci kamar tersebut" titah Ayyub yang sudah memastikan bahwa pemesanan dilakukan atas nama laki-laki yang dibawa Shintia.
Ayyub masih ingat bahwa nama terkhir pemesan adalah Leon dan tidak lama setelah mereka hilang di lift Ayyub masuk bersama Hakim, sudah dipastikan bahwa mereka adalah pemesan terkahir.
Sembari mengawasi arah pergerakan Shintia mereka juga memastikan kamar yang dimasuki oleh istri Hakim itu beserta lelaki yang digandengnya.
Ayyub mengerti perasaan Hakim yang kini tengah membisu. Kemelut dihatinya begitu terlihat. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya seakan membisu setelah melihat dengan mata kepala sendiri istrinya bermesraan dengan lelaki lain.
Setelah mastikan semua hal Ayyub mengajak Hakim beserta dua orang petugas hotel itu menuju kamar yang dimaksud.
Satu kali ketukan pintu masih tidak terbuka, dua hingga tiga kali masih sama. Akhirnya Hakim meminta petigas hotel itu untuk membuka menggunakan kunci cadangan.
Dengan hati tak menentu Hakim menerobos masuk ke dalam namun apa yang dilihatnya siang itu bahkan lebih membuat hatinya terluka.
Setetes air mata luruh menyaksikan istrinya tengah bergelut diatas tempat tidur mewah itu bersama pria asing. Entah sedang berada di puncak atau bagaimana keduanya bahkan tidak menyadari keberadaan orang lain disana.
"Ahhh.... Leon sayang, fashhhhter baby" desah Shintia yang terasa begitu menyayat hati Hakim.
Tidak sanggu bertahan lagi, segera Hakim menginterupsi kegiatan panas mereka.
"Bahkan disaat hari masih siang begini kalian melakukannya diudara yang semakin panas. Barapa lama lagi kalian akan selesai aku akan menunggu di luar" ujar Hakim dengan perasaan terluka.
__ADS_1
Bagaimana mungkin tidak akan sakit, istri yang begitu dicintainya dengan sepenuh hati. Apapun yang diinginkan Shintia selalu ia penuhi bahkan ia kerja mati-matian demi memenuhi kebutuhan istrinya dan agar istrinya bangga seperti yang selalu diucapkan wanita yang tengah terkejut itu padanya.
"Hah ? Sayang ?! Sayang, ini kenapa kamu bisa ada disini, ah tidak maksudnya apa yang kamu lakukan disini, ah tidak, tidak ini tidak seperti yang kamu kira sayang, kamu salah paham.. yaa... dia yang merayuku dan memberiku obat sayang, ya pasti begitu. Kamu mengakulah" gelagap Shintia saat mendapati suaminya berdiri dengan gagah disana sembari menuding lawan mainnya di kasur empuk itu.
"Baby.. kalau kamu ingin berbohong pintarlah sedikit, kalau kamu tidak sadar bagaimana mungkin kamu menyebutkan namamu dengan desahan nakalmu itu. Bahkan kamu saat ini 100% sadar saat berbicara dengan suamimu" ujar pria itu tanpa beban seakan tidak malu dengan apa yang sudah ia lakukan bersama istri orang lain.
"Diamlah bajingan, brengsek" teriak Shintia yang tidak terima.
"Sudah selesai dramanya ? Kalau sudah izinkan aku berbicara dengan istriku, ah tidak mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan istri" ujar Hakim dengan tatapan tajamnya.
"Tidak, tidak sayang, ini tidak benar. Aku tidak melakukannya sayang. Percayalah dia menjebakku sayang. Kamu harus memberi dia pelajaran, dia telah melecehkanku sayang" ujar Shintia yang takut dan memilih menuding selingkuhannya.
"Ish dasar perempuan sial. Kau yang menelponku untuk minta dipuaskan lalu kenapa harus aku yang disalahkan. Ini Tuan suami yang membosankan kau cek sendiri apa yang istrimu lakukan" ujar lelaki itu tanpa bebas sembari memberikan ponselnya.
Akantetapi bukan hanya ponsel yang berpindah tangan bogeman mentah juga mendapat di wajah lelaki yang terlihat pongah itu. Dengan sekuat tenaga Hakim menghajar pria itu hingga terjungkal ke lantai.
Melihat situasi tidak lagi kondusif dan terdengar keributan dari dalam Ayyub masuk ke kamar hotel itu dan segera menarik Hakim agar tidak melanjutkan aksinya yang dapat menghilangkan nyawa orang itu.
"Lepaskan aku" teriak Hakim tidak terima.
"Lepaskan, biarkan aku kirim dia ke neraka" kesal Hakim yang masih diselimuti emosi.
"Tenanglah, bukan begini caranya" ujar Ayyub yang langsung mendorong Hakim agar berhenti.
Perawakan Ayyub yang lebih tinggi dan lebih kekar membuat ia mudah saja menarik Abangnya ke sudut ruangan dan menekannya ke dinding.
"Tenanglah, bukan begini caranya menyelesaikan masalah. Kau akan membuat masalah baru jika sampai dia kehilangan nyawa. Istighfar dan tenangkan dirimu, jika tidak bisa aku akan mengurus sisanya" ujar Ayyub memberi pengertian pada Abangnya.
"Ya, maafkan aku. Biarkan aku saja yang menyelesaikannya. Masih ada beberapa hal yang ingin kupastikan sendiri" elak Hakim.
"Baiklah jika itu maumu. Tapi aku akan disini, sebelum itu tolong pakaikan sesuatu ke tubuh istrimu dan berjanjilah untuk tidak melakukan kekerasan lagi" ujar Ayyub.
"Ya baiklah" setuju Hakim yang langsung berjalan ke arah lemari dan memberikan bathrobe pada istrinya untuk dipakai karena ia sama sekali tidak menggunakan apapun sedari tadi bahkan ia terlihat biasa saja tanpa malu.
"Jadi kau yang bernama Leon itu" tanya Hakim dingin setelah duduk di kursi yang tidak telalu jauh dari ranjang.
__ADS_1
"Ya" balas pria itu lirih karena luka dibibirnya.
"Dan dia yang kau namakan Leona di kontakmu, yang kau kirimi uang selalu dan dia juga yang selalu kau ajak liburan bersama bahkan hingga keluar negri" beber Hakim yang telah menemukan benang merah atas hasil yang diselidiki oleh bawahannya beberapa hari lalu.
"Bukan sayang.., itu bukan" ujar Shintia yang langsung diputus oleh Hakim.
"Kau kira aku begitu bodoh hingga bisa kau tipu mentah-mentah. Bahkan aku melihat sendiri dengan mata kepalaku apa yang kalian lakukan di kamar sialan ini, oh tidak bahkan sedari awal kalian masuk hotel ini" beber Hakim yang membuat istrinya begitu terkejut.
"Tidak sayang, dengarkan.." gelagap Shintia yang kembali diputus Hakim.
"Diam Shintia, kau yang harusnya mendengarkanku. Apa begini caramu membalas semua kerja kerasku. Semua Shintia, apapun yang kau inginkan aku berikan, apapun harapanmu aku penuhi. Aku bekerja siang malam untukmu Shintia. Apa kau tidak melihat cintaku yang begitu besar untukmu, Shintia. Kenapa hah ??! Kenapa kau lakukan ini Shintia ?!" seru Hakin dengan nada keras yang begitu menyayat hati.
Bahkan air mata tidak sanggup ia bendung lagi. Terlihat jelas luka yang masih baru dan berdarah. Tatapan penuh kesakitan menglihat penghiatan istrinya di siang buta.
Sama sekali tidak pernah dibayangkan olehnya. Istri yang begitu ia cintai akan melakukan hal ini padanya, bahkan setelah lima tahun mereka berumah tangga.
"Ini juga salahmu, semua salahmu. Aku bosan hidup denganmu. Kau hanya mengerti bekerja dan bekerja. Kau bahkan terlihat datar dan tidak ada gairah sama sekali. Kau selalu menuruti semua perkataanku. Aku ingin mencari suasana baru. Karena itu aku melakukannya" beber Shintia yang tidak mau disalahkan akan hal ini.
"Apa begini caranya Shintia. Kau bisa memberitauku dengan cara lain. Aku bekerja juga untuk siapa, kau yang menikmati semua hasil kerja kerasku Shintia. Jika kau bosan kau bisa mengajakku liburan, tak akan aku tolak permintaanmu. Tapi kenapa begini, hah ?? Kenapa Shintia ?" lirih Hakim yang kini sudah menatap sendu istrinya yang tertunduk di kasur.
Setelah beberapa saat kesunyian yang mengambil alih, kini Hakim berdiri dari kursinya dan memungut kedua ponsel yang berada di meja sampingnya. Ponsel Leon dan Shintia.
Melihat suaminga yang akan beranjak pergi tiba-tiba Shintia meloncat dari kasur dan memegang kaki Hakim sembari berlutut disana.
"Sayang, maafkan aku. Ya aku salah, maafkan aku Hakim. Kali ini saja aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku sayang, berjanjilah kau tidak akan menceraikanku" mohon Shintia di kaki Hakim.
Ada rasa perih melihat istrinya memohon sembari meratap dikakinya namun kekecewaan dihatinya masih jelas terasa. Tanpa berkata apapun Hakim berlalu dari kamar itu dan melangkah meninggalkan istrinya beserta Leon disana.
Ayyub yang melihat hal itu segera menghubungi manager hotel lagi dan memerintahkan agar membawa Leon kerumah sakit.
Tidak hanya itu, ia juga meminta seseorang untuk diam-diam mengikuti Shintia kemanapun ia pergi dan melaporkan setiap kegiatannya.
Setelah memberikan tips kepada karyawan yang telah membantunya dan menyampaikan beberapa pesan kepada manager hotel itu beserta ucapan terima kasihnya Ayyub berlalu menyusul Hakim yang kini sudah terduduk lemas di lobby hotel.
"Ayo kita pulang, Bang Fazreen sudah menunggu didepan" ujar Ayyub menepuk pundak Abangnya dan langsung diikuti begitu saja.
__ADS_1