
Sampai di kediaman Kaisar semua terasa hening, tidak seperti biasanya. Neera sedikit asing dengan suasana ini tetapi ia lebih nyaman karena Dio tidak ada lagi disana.
Mereka segera melangkah menuju kamar kedua orang tuanya untuk melihat keadaan Mama.
"Assalamu'alaikum Opa, Oma" seru triplets dari luar kamar yang membuat kedua paruh baya itu tersenyum senang.
"Wa'alaikumsalaam sayang, wah cucu-cucu kesayangan Opa datang" semangat Tuan Kaisar yang langsung membuka pintu dan mendapati triplets dengan senyuman yang cerah.
"Opa sehat, Oma sehat ?" tanya mereka pada kakeknya itu.
"Alhamdulillah Opa sehat, tapi Omanya lagi sakit" jawab Tuan Kaisar yang melihat ke arah ranjang tempat istrinya berbaring.
"Oma..." seru ketiganya.
"Oma sakit apa ?" tanya Qai dengan muka seriusnya.
"Oma cuma pusing sayang" jawab Nyonya Kaisar yang sudah duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"Oma, kami bawakan makanan enak untuk Oma, tadi Qal masak dibantu Bunda Oma" cerita gadis kecil itu.
"Mana ada, yang ada Bunda yang kamu recokin masaknya" sela Ayah mereka yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Mamanya.
"Ayah.., Qal masak tadi, Bunda cuma bantuin" rengek gadis kecil itu yang teguh dengan pendiriannya.
"Gak percaya" celutuk ayah tiga anak itu yang mendapat sambitan dari ayahnya.
"Papa, kenapa sih Pa. Orang Ayyub bilang kenyataan kok" protes Ayyub.
"Kamu itu loh, kok gak mau ngalah sama anaknya. Aneh" kesal Tuan Kaisar yang membuat semua orang tertawa.
Sementara itu Neera hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya yang terkadang memang suka usil pada anaknya.
"Sayang, dibawah saja mainnya. Jangan ganggu Omanya lagi istirahat Nak" tegur Neera yang melihat triplets sedang berusaha naik ke tempat tidur besar itu.
"Tidak apa-apa sayang, biarkan mereka main diatas. Mama senang mereka ada disini" ujar Nyonya Kaisar yang justru sangat menantikan kehadiran cucunya itu.
"Oma, oma sudah makan belum ?" tanya Qal yang masih membahas makanan.
"Belum sayang, Oma belum makan sedari tadi" bukan Mama melainkan Papa yang menjawab.
__ADS_1
"Kalau gitu, Qal suapin ya Oma, sama masakan yang Qal buat tadi. Rasanya enak sekali, Qal sudah mencobanya tadi, benarkan Qai, Qee ?" ujar gadis itu mempromosikan masakannya sekaligus meminta dukungan saudara kembarnya.
"Iya Oma, enak sekali" balas Qai sementara Qee hanya memberikan jempolnya.
Melihat hal itu, Neera langsung cepat tanggap menyiapkan makanan di dalam piring serta mengambilkan sendok dan menarik kursi meja hias yang ada disana untuk memegang piringnya.
Lantas gadis kecil itu dengan sekuat tenaga berusaha menyuapkan Omanya yang membuat semua orang gemas. Bahkan tak jarang makanan itu berceceran bahkan ia sendiri juga geregetan saat makanannya tidak mau naik ke sendok yang ia pegang.
"Bunda ini susah sekali Nda" adunya pada Neera yang masih setia memegang piring.
"Sini sayang, bunda ambilkan setelah itu Qal yang suapin Oma ya Nak" solusi Neera yang diangguki balita itu.
Semua orang tersenyum melihat kegigihan gadis kecil itu yang berusaha bersikap dewasa. Tuan Kaisar juga merasakan kelegaan meskipun penuh drama tetapi istrinya akhirnya mau makan juga karena sedari pagi tidak ada sama sekali makanan yang masuk ke perutnya.
"Alhamdulillah habissss" sorak Qal yang disambut tepuk tangan kedua saudara kembarnya.
"Qal pintarkan Oma, bisa suapin Oma sampai habis" pujinya pada diri sendiri.
"Iya sayang, cucu Oma ini pintar sekali" balas Nyonya Kaisar sembari mencium pipi bakpao itu.
"Qai dan Qee juga hebat kan Oma, bisa pijitin Oma" ujar Qai yang tidak mau kalah karena mereka berdua memijat kaki dan tangan Omanya.
'Syukurlah, binar matanya sudah kembali dengan kehadiran cucu dan menantunya. Semoga dengan kehadiran mereka bisa mengurangi kesedihan mama' batin Tuan Kaisar yang tersenyum penuh arti.
"Yasudah Nak, sekarang Omanya harus minum obat dan istirahat. Ayo turun dulu, nanti kita main lagi sama Oma ya sayang" ujar Neera yang diangguki oleh triplets.
Ketiganya segera mencium Omanya sebelum beranjak dari tidur yang dibantu oleh Ayah mereka.
"Cepat sembuh Oma, nanti kita main lagi ya Oma" seru ketiganya sembari digendong oleh Ayah dan Unclenya.
Sementara Neera membereskan bekas makan tadi dan meletakkanya dalam nampan bersama makanan yang memang sudah ada di piring tetapi kelihatannya tidak tersentuh sama sekali.
"Nak, kamu masih lama kan disini. Mainlah dulu disini karen mama masih merindukan kalian" tiba-tiba suara mama menginterupsi kala Neera ingin berpamitan keluar.
"Iya ma, kami masih disini. Mama istirahat ya, biar ceoat sembuh. Neera keluar dulu ma" ujar Neera sembari mencium kening mama mertuanya dan pamit keluar membawa tempat makanan yang sudah habis.
Tuan Kaisar memilih menemani istrinya beristirahat semantara Neera berlalu menuju dapur untuk mencuci piring bekas makan dan sekedar untuk bertegur sapa dengan pembantu yang ada di kediaman mertuanya.
Lain halnya dengan Ayyub dan Hakim, mereka membawa triplets ke kamar Fazreen dan istrinya. Tujuan mereka untuk menggeledah kamar itu dan mencari bukti untuk memberatkan Kiki dan keluarganya serta membebaskan Fazreen dari tuduhan namun ternyata hingga kini mereka tidak menemukan apapun.
__ADS_1
Berbeda dangan triplets yang saat ini malah asik bermain petak umpet bersama saudara kembarnya. Meski bagaimanapun mereka masih tetap anak-anak yang hobi bermain.
Saat ini Qai yang menjaga sementara Qee dan Qal memilih bersembunyi di bawah tempat tidur. Dengan tubub kecil mereka sama sekali tidak sulit menyelinap ke bawah tempat tidur dengan aksen klasik itu.
Qal yang terus mundur dan mundur tiba-tiba kaget saat lantai yang berada dikakinya tertendang dan tiba-tiba terbuka. Qee yang ikutan kaget dengan suaranya menoleh kearah saudara kembarnya itu dan melihat bolongan seperti kotak yang membuat Qal mengaduh kesakitan karena kakinya menubruk benda keras itu.
Ternyata disana ada lantai yang sengaja dibolongkan sepetak kecil dan ditutup oleh keramik dengan motif yang sama dengan keramik lain.
Karena rasa penasarannya mereka mendekat kearah sana bahkan kini Qai juga sudah ikut bergabung dengan mereka akibat mendengar teriakan kesakitan dari Qal tadi.
Dengan hati-hati mereka lebih menggeser penutup yang lumayan berat itu dan membuka ternyata disana ada banyak kertas, ponsel dan benda kecil yang berbentuk lucu menurut mereka padahal itu adalah flashdisk.
Ketiganya asik menekan satu persatu ponsel itu dan bermain dengannya, bahkan mereka juga sudah menggali semua isi itu layaknya mendapatkan sebuah harta karun.
Sementara Ayyub yang tersadar tidak mendengarkan suara anaknya lagi menjadi heran dan seketika khawatir.
Ia mencari-cari disekitaran kamar itu karena tadi saat ditinggalkannya mencari bukti mereka masih bermain di dalam. Setelah masuk ke ruang wardrobe, lemari satu persatu dibuka, ke kamar mandi, ia tidak juga menemukan triplets.
"Triplets, kalian dimana. Sayang Qai, Qee, Qal ada dimana Nak, Ayah sudah mau keluar nih" seru Ayyub yang sudah mulai menyerah mencari kesana kemari.
Ketiganya langsung tersentak saat mendengar teriakan ayahnya dan akhirnya karena masih seru mereka malah berteriak balik pada Ayahnya itu.
"Kami di bawah kasur Ayah, ada harta karun" teriak Qal pada ayahnya yang langsung menuju tempat tidur.
Setelah menyibakkan seprei yang menjuntai Ayyub kaget saat mendapati anak-anaknya tengah menelungkup.
"Apa yang kalian lakukan disana ? Ayo keluar sayang, disana kan kotor Nak" seru Ayyub.
"Ini ayah, kita menemukan harta karun Yah" ujar Qee sambil ketiganya memamerkan barang penemuan mereka berupa ponsel, flashdisk dan kertas-kertas.
"Dimana kalian mendapatkan itu ?" tanya Ayyub lagi.
"Disini Ayah, ada kotak harta karunnya juga tersimpan dibawah lantai" cerita Qai yang bergeser memperlihatkan pada Ayahnya apa yang mereka maksudkan.
"Boleh ayah lihat harta karunnya sayang ?" tanya Ayyub yang masih bingung.
Dengan senang hari ketiganya merayap menuju ayah mereka dan menyerahkan apa yang mereka dapatkan itu dengan wajah bahagia.
Ayyub yang mendapatkannya begitu kaget dan matanya membola seakan tidak percaya.
__ADS_1
"Alhamdulillah..., Wow Good Job Triplets" sorak Ayyub yang menghujani wajah anaknya dengan ciuman.