Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 22


__ADS_3

Drrt.. drrrt...


 


Ponsel di saku Ayyub bergetar, segera dia mengambilnya dan melihat siapa yang menelpon. Ternyata dari pujaan hatinya.


 


"Hallo ?" suara dis seberang.


"Iya sayang ?" tanya Ayyub segera.


"Bagaimana dengan mereka ?" tanya Neera dengan nada khawatir.


"Mereka aman bersamaku sayang ?" jawab Ayyub sembari melihat dua anak kecil yang sudah di tidurkannya di kursi belakang dan ditutupi selimut.


"Sedang dimana kalian sekarang ?" tanya Neera sedikit cemas. Entah kenapa dia begitu takut anaknya di bawa lari.


"Hei, ada apa denganmu. Kami masih di mobil sayang. Apakah kau baik-baik saja ? Bagaimana dengan gadis kecil itu ?" tanya Ayyub kemudian.


"Dia baik-baik saja, sebentar lagi dia sudah diizinkan pulang setelah cairan infusnya habis" jawab Neera sembari menghela napas lega.


"Syukurlah kalau begitu, apakah aku harus membawa mereka kembali ke hotel ?" tanya Ayyub kembali.


"Kita pulang bersama saja, ini hanya beberapa menit lagi. Mereka tidak biasa tidur tanpaku, takutnya nanti mereka menangis saat terbangun" jawab Neera pelan.


"Baiklah, kami akan menunggu disini saja"


"Maaf telah merepotkanmu dan terima kasih telah menolongku"


"Kenapa kamu bilang begitu, aku senang ada bersama kalian saat ini"


"Kalau begitu aku tutup dulu telponnya, nanti aku kabari lagi"


"Baiklah sayang, aku akan menunggu" jawab Ayyub.


 


Segera Neera memutuskan sambungan telepon itu, tangannya sudah dingin dan keringat dingin mulai mengucur.


Dia bingung bagaimana nanti harus menjelaskan segalanya. Memang ini salahnya telah meninggalkan pria itu dulu.


 


"Apakah Ayyub menyadari bahwa mereka adalah anaknya" batinnya Neera


"Semoga saja tidak, mana mungkin dia bisa menerima begitu saja" jawab Neera pada dirinya sendiri.


 


Akhirnya Qalundra telah diizinkan pulang, setelah menyelesaikan prosedur pengeluaran dan melakukan pembayaran Neera menggendong tubuh Qalundra menuju mobil BMW hitam metalik yang sudah menunggunya di pintu keluar.


Segera dia masuk ke pintu depan yang sudah lebih dulu dibukakan oleh Ayyub untuk mereka. Neera juga melihat kedua putranya telah tidur dengan nyaman di kursi belakang tentu saja dengan selimut dan bantal yang entah dari mana itu.


 


"Pakaikan ini padanya" ucap Ayyub sembari membuka jaket yang sedari tadi di pakainya.


 


Neera sebenarnya enggan, tapi melihat tubuh putrinya dia memutuskan untuk menerimanya dan membalutkan pada tubuh Qalundra.


 

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan putri kecil ini, Bolehkah aku tau siapa namanya ?" tanya Ayyub.


"Qalundra keracunan makanan" jawab Neera sekaligus menjawab pertanyaan Ayyub.


"Nama yang bagus, Qaivan, Qeenan dan Qalundra" gumam Ayyub.


 


Neera hanya dia dan memeluk Qalundra semakin erat. Entah mengapa dia begitu takut mereka akan diambil.


Tidak beberapa lama mereka sampai di hotel tempat mereka menginap, Qalundra di gendong oleh bundanya sementara Qaivan dan Qeenan dibawa sekaligus oleh Ayyub. Setelah menyerahkan kunci mobilnya pada petugas parkir hotel mereka segena naik keatas.


Mereka menidurkan ketiganya di atas kasur besar itu. Setelahnya Neera membuka jaket mereka agar mereka tidur dengan nyaman dan terakhir mencium dahi mereka satu persatu sembari mengucapkan selamat tidur dan menyelimuti mereka.


Semua itu tidak luput dari pandangan Ayyub yang masih berada disana usai membawa kedua putra Neera masuk. Ada rasa kagum pada dirinya melihat sisi keibuan pada diri Neera.


 


"Sayang, apakah kamu sudah selesai ?" tanya Ayyub membuka suaranya.


 


Neera tersentak dan melihat kearah datangnya suara, dia tidak sadar bahwa sedari tadi ada orang lain yang berada di kamar mereka.


 


"Bisakah kita bicara" tanya Ayyub lagi yang tidak mendapatkan jawaban dari Neera.


"Baiklah, tapi tidak disini" ucap Neera setelah lama berpikir.


"Kalau begitu di kamarku saja" jawab Ayyub cepat.


 


 


"Aku hanya ingin bicara, lagi pula aku masih suamimu" jawab Ayyub seakan tau kegelisahan Neera.


"Baiklah" jawab Neera pada akhirnya.


 


Mereka berjalan ke kamar Ayyub setelah memastikan bahwa triplets telah aman untuk ditinggal. Neera juga telah mematasi ujung kanan dan kiri dengan guling dan beberapa bantal.


Kini keduanya sudah berpindah kamar dan duduk di ujung kasur yang ada di ruangan itu. Ayyub memberikan segelas air pada Neera yang masih tertunduk memandang ujung kakinya.


 


"Apakah ada yang ingin kamu katakan padaku ?" suara Ayyub membuka pembicaraan.


Neera hanya menggeleng pelan.


"Kalau begitu, bisakah kamu jelaskan semua ini ?" tanya Ayyub lagi.


Neera hanya membisu sembari menghela napasnya.


"Apakah mereka anakku ?" tanya Ayyub tidak berputus asa sembari menatap lekat kearah Neera.


"Tidak, mereka anakku" jawab Neera cepat karena terkejut mendapatkan pertanyaan itu.


"Kalau begitu apakah kamu menikah lagi ? tanya Ayyub sambil berdiri menghadap Neera. Kini pria itu telah diselimuti emosi.


 

__ADS_1


Neera hanya semakin menunduk sembari meremas kedua tangannya. Ayyub terus memperhatikan wanita di depannya. Tiba\-tiba pandangannya tertuju pada jari manis wanita itu. Tidak ada satupun cincin kawin yang melingkar disana.


 


"Kalau begitu mereka anakku" jawab Ayyub sambil mengangkat sedikit sudut bibirnya.


"Tidak, mereka anakku" jawab Neera yang kini sudah berani menatap pria itu dengan kilatan di matanya.


"Bagaimana bisa mereka hanya anakmu, bukankah kamu membuatnya denganku ?" desak Ayyub kembali.


"Tidak, mereka tidak ada hubungannya dengamu" jawab Neera sengit seperti induk singa yang marah saat anaknya diganggu.


"Kamu pikir sedang membodohi siapa ?? Kalau begitu aku akan membawa mereka pergi.." kata Ayyub yang langsung terpotong oleh Neera.


"Tidak, jangan bawa mereka pergi dariku. Aku mohon.." jawab Neera tiba-tiba turun dari posisi duduknya.


 


Kini wanita itu tengah bersimpuh dengan air mata di pipinya. Dia memohon dengan suara yang mampu menyayat hati. Neera menunduk dan meminta agar tidak memisahkan dia dengan anak\-anaknya.


Ayyub hanya bisa terbengong dengan kejadian yang sekelebat mata itu, dia kini sangat yakin bahwa mereka adalah anak\-anaknya. Senyuman kembali terbit di wajahnya.


 


"Hey, sayang ada apa denganmu ?" tanya Ayyub sembari merengkuh tubuh wanita itu dan membawanya dalam pelukan.


"Aku mohon jangan bawa mereka pergi dariku, mereka adalah hidupku. Bisakah kau membiarkan kami saja. Aku mohon padamu biarkan kami pergi sekali ini saja. Aku akam membawa mereka pergi jauh dan tak akan pernah mengganggu kehidupan kalian"


ucap wanita itu panjang lebar dengan deraian air mata dan tatapan mata memohon.


 


Ayyub begitu sakit melihat wanita yang dicintainya dalam keadaan seperti ini, hatinya hancur tak berbentuk. Tapi dia juga bingung dengan apa yang diucapkan wanita yang dalam pelukannya itu.


 


"Sayang, aku hanya ingin bilang akan membawa mereka pergi tes DNA, kenapa reaksimu seperti ini. Tapi aku rasa sekarang tidak perlu lagi karena sesungguhnya aku sudah tau hanya dengan melihat dan merasakannya. Aku hanya ingin mendengar pengakuan yang keluar dari mulutmu saja" jawab Ayyub sembari mengelus kepala wanita itu.


 


Saat itu juga Neera terbengong, dia merasa bodoh. Dia sendiri yang melemparkan dirinya dalam kubangan karena ketakutannya yang berlebihan.


Neera mendorong pelan dada pria yang memeluknya itu, ternyata dia sudah duduk di pangkuan Ayyub. Mereka lesehan di lantai yang dilapisi oleh karpet tebal di kamar hotel itu.


Perlahan Neera menatap wajah Ayyub dengan muka bingungnya. Pria itu tersenyum dan tangannya langsung menyeka air mata yang masih tertinggal di pipi putihnya kemudian dia mencium dahi Neera sangat lama, seakan menyampaikan kerinduan yang selama itu tertahan. Neera hanya bisa memejamkan mata menikmati perlakuan pria yang masih berstatus suaminya itu.


Dengan sekali sentak lengan kekar itu sudah mengangkat Neera ke tempat tidur dan mereka kembali duduk dengan posisi yang sama.


 


"Sekarang bisakah kamu jelaskan kenapa kamu pergi begitu saja dan meninggalkanku ?" tanya Ayyub sembari menatap lembut wanita di pangkuannya.


"Maafkan aku" hanya itu jawaban Neera yang kembali menunduk.


"Aku sudah memaafkanmu, tapi bisakah kamu beritau aku alasanya, sayang ?" jawab Ayyub lebih lembut.


"Bukankah saat itu kamu sudah bersama Vina ?" tanya Neera sambil menatap mata elang Ayyub.


" Apa maksudmu, aku tidak bersama siapapun. Hanya kamu yang ada di hatiku sampai saat ini dan selamanya" jawab Ayyub tegas.


"Kamu berbohong padaku" jawab Neera lirih


"Apa maksudmu sayang, katakan padaku kapan aku membohongi mu ?" tanya Ayyub bingung.

__ADS_1


__ADS_2