Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
Kehidupan Setelah Remaja


__ADS_3

Hari demi hari telah dilalui, Sang Ayahpun kini telah memutuskan untuk menjadi pengabdi dewa di sebuah kuil. Meninggalkan seluruh hiruk pikuk duniawi dan memfokuskan diri untuk mengabdi kepada sang dewa. Hal ini dijadikan sebagai perwujudan rasa bersalah atas kematian mendiang istrinya.


Pria kecil itupun kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa berusia 23 tahun yang tampan, ceria, dan pandai memanah. Bahkan, kini dia mendapatkan julukan "Sang Mata Panah" karena keterampilan memanahnya. Setiap ada perlombaan memanah dia pasti akan mendapatkan juara pertama. Tembakan anak panahnya tidak pernah meleset satupun. Sehingga, dia selalu mengikuti perlombaan memanah dimanapun. Selain membuatnya dapat bertahan hidup dari mendapatkan hadiah perlombaan, hal ini juga yang membuatnya semakin terkenal di seluruh penjuru negeri.


Di ruang tamu rumah, Shata sedang duduk santai tiba-tiba...


"Bro.." Sapa seorang laki-laki bernama Tara sambil menepuk bahu Shata.


"Ada apa? Kamu mau aku panah?" Jawab Shata.


"Hahaha.. Panah saja aku, akan ku hantui sepanjang hidupmu" Gurau Shata


"Halah.. Paling kamu juga jadi pocong nantinya.. Kalau kamu jadi pocong, aku kuatkan ikatan-ikatan tali ditubuhmu, lalu ku ikat kamu di pohon dan ku jadikan sebagai sasaran pada saat aku berlatih memanah. Hahahaha" Sahut Shata dengan tertawa terbahak-bahak.


"Ya ya ya, eh bro aku punya berita bagus nih! Mau tau gak?" Jawab Tara.


"Apaan?" Jawab Shata dengan mengangkat kedua alisnya.


"Bulan depan ada lomba memanah di daerah dekat kuil ayahmu, hadiahnya 100 juta!!" Kata Tara dengan penuh semangat.


"Ha? 100 juta? Serius kamu, Tara?" Tanya Shata.


"Iya, 100 juta, dengar-dengar sih yang mengadakan itu dari kerajaan. Mereka juga akan merekrut pemenang menjadi bagian dari pasukan khusus keamanan kerajaan" Perjelas Tara.


"Oh, pasti akan di rekrut kerajaan ya? Kalau begitu aku tidak akan ikut" Jawab Shata.


"Apa? Kenapa? Bukankah itu sangat menarik. Aku yakin kamu pasti bisa memenangkan perlombaan itu, dan jika kamu sudah masuk ke dalam bagian pasukan khusus keamanan kerajaan, kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan kebutuhanmu. Uang, makanan, pakaian bagus, semuanya sudah pasti terpenuhi dan yang pasti masyarakat akan lebih menyanjungmu lagi" Jawab Tara.


"Tapi aku tidak berminat, aku tidak ingin terikat dengan siapapun, aku ingin hidup bebas seperti ini, menjadi sang mata panah yang bisa menikmati kehidupan tanpa adanya beban" Tegas Shata.


"Oh, seperti itu.. Ttt-apii.. Aku sudah mendaftarkanmu, hehehe.." Jawab Tara.


"Selalu saja begitu, baiklah aku akan datang tapi jangan berharap mendapatkan 100 juta, karena aku tidak akan memenangkan perlombaan itu. Aku datang hanya agar orang-orang yang belum pernah bertemu denganku dapat terkesima melihatku, apalagi gadis-gadis disana" Jawab Shata dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"Yah.. 100 juta Shata... Itu uang yang sangat banyak. Apa kamu yakin akan melepaskannya? Kita bisa makan enak, beli baju baru, dan membeli barang-barang yang kita inginkan. Bahkan kita tidak perlu mendatangi para gadis, merekalah yang akan mendatangi kita. Kamu juga akan menjadi bagian dari kerajaan" Jawab Tara dengan wajah memelas.


"Biarlah, aku tidak mau menjadi bagian dari pasukan khusus keamanan kerajaan. Kalau begitu aku akan pergi dulu" Jawab Shata dengan sedikit memalingkan wajah dari sahabatnya Tara karena dia merasa sangat kesal atas tindakan sahabatnya itu.


"Yah.. Kamu mau kemana? Aku ikut" Jawab Tara.


"Aku mau ke kamar mandi, perutku sudah mulas dari tadi" Jawab Shata.


"Oh, kalau begitu aku tidak jadi ikut hehehe.. Maafin aku ya" Jawab Tara.


Shatapun hanya menoleh kepada Tara.


Padahal, Shata tidak ingin ke kamar mandi. Dia pergi menuju halaman belakang rumahnya untuk duduk menyendiri disebuah gubuk kecil tempat bermain dengan ayahnya dahulu. Dia sedang merindukan ayahnya. Sudah 13 tahun dia tak pernah bertemu ayahnya karena setiap dia menemui pasti sang ayah akan menolak. "Apa dan Mengapa" adalah 2 kata yang selalu tersirat di dalam hatinya. Ayah yang selalu menemaninya dari bayi hingga tumbuh menjadi seorang pria yang tangguh, ayah yang selalu dengan sabar dan penuh kasih sayang melatihnya memanah, kini berubah tak mau lagi mengenalnya. Sedih dan pilu yang selalu dirasakannya. Namun, ini semua sudah menjadi garis takdirnya. Dulu dia hanya kehilangan sosok bunda dan untuk saat ini, sejak 13 tahun lalu dia kehilangan sosok kedua orang tuanya.


Saat dia duduk termenung sendiri, tiba-tiba hujan datang menghampiri. Hal ini membuatnya semakin larut dalam kesedihan. Diapun akhirnya tak dapat membendung air matanya lagi. Kini, pria tangguh itupun menangis sejadi-jadinya. Dia merasa sangat amat kesal, kecewa, dan bingung. Dia menganggap Dewa tidak mencintainya dan diapun mulai kehilangan kepercayaan terhadap Dewanya. Dia bersumpah tidak akan lagi pergi ke kuil ataupun berdoa untuk mengharapkan belas kasihan Sang Dewa.


Dengan kekesalannya yang kini sudah memuncak, diapun meraih busur panah yang ada di sampingnya dan mulai memanah hewan-hewan apa pun yang ada di hadapannya. Dia begitu ganas, bahkan kelinci putih yang sangat manispun dia panah. Akan tetapi, dia sangat terkejut karena kelinci putih yang terkena anak panah dibagian tengah tubuhnya tetap hidup, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Lantas, dia segera menangkap kelinci itu dan mencabut anak panahnya. Darah segarpun mengalir dari tubuh kelinci putih itu dan Shata langsung membalutnya dengan kain yang ada di pergelangan tangannya.


Shatapun heran dan bingung dengan kejadian yang baru saja dia alami. Diapun tersadar bahwa kejadian yang baru saja dia alami adalah kehendak Dewa. Dewa masih menyayangi makhluknya dengan membiarkan dia tetap bertahan hidup dan mendapatkan pertolongan dari orang lain pada saat sedang tersakiti. Itulah cara Dewa mencintai makhluknya.


"Mungkin Dewa memang sengaja mengirimkan kamu agar aku tidak begitu terluka ketika ayah meninggalkanku" Ucap Shata dalam batinnya sambil memandang ke arah sahabatnya.


Kinipun dia mulai kembali bersyukur atas kehendak Dewa dan berjanji akan lebih rajin untuk pergi ke kuil. Memuja nama Dewa dengan agung serta menjadi hambaNya yang tidak akan pernah meninggalkanNya.


*Tok.. Tok.. Tok..*


Tiba-tiba ada suara ketukan dari balik pintu yang membuat Shata terkejut. Diapun segera membukakan pintu.


"Hai Alysa ada apa?" Sapa Shata. Ternyata seseorang yang mengetuk pintu itu adalah Alysa. Seorang gadis cantik anak tetangga.


"Ini ada opor ayam dari ibuku, Oh iya mangkuknya langsung ku bawa pulang ya sekalian sama mangkuk yang kemarin belum kamu kembalikan" Jawab Alysa dengan nada datar.


"Hehehe.. Iya terima kasih ya.. Maaf aku juga lupa belum mengembalikan mangkuk yang kemarin. Yuk, masuk dulu" Jawab Shata.

__ADS_1


"Iya, Terima kasih aku tunggu disini saja" Jawab Alysa dengan ketus. Ya, selain terkenal cantik Alysa ini memang terkenal ketus dan judes tetapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik dan lembut. Dia bersikap ketus dan judes agar tidak ada pria yang menggodanya.


"Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar ya" Jawab Shata.


Setelah beberapa menit kemudian, Shata kembali menemui Alysa di depan. Akan tetapi, gadis cantik itu tidak ada di depan pintu rumahnya.


"Loh.. Kemana si Alysa tadi, katanya mau nungguin disini" Kata Shata.


"Woi..!! Shata..!!" Teriak Alysa.


Shatapun secara spontan langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendekati sumber suara tersebut. Ternyata, Alysa sedang asyik bermain ayunan yang dia buat di sebelah rumahnya.


"Sejak kapan ada ayunan disini? Selama aku kesini sepertinya ini tidak ada" Tanya Alysa.


"Iya, aku membuatnya masih sekitar 2 hari yang lalu untuk si Yoga anaknya bu Sri. Aku kasihan melihat bu Sri harus berlarian kesana kemari mengejar Yoga yang susah makan. Kalo ada ayunan ginikan enak, bu Sri ga perlu repot berlarian lagi" Jawab Shata.


"Oh.. Begitu.. Ternyata kamu lumayan baik juga ya, sini mangkuknya" Jawab Alysa sembari mengambil mangkuk yang ada di tangan Shata.


"Iya nih, terima kasih ya" Jawab Shata sembari memberikan mangkuknya.


Alysapun pergi meninggalkan Shata, begitupula dengan Shata yang kembali masuk ke dalam rumahnya.


Setiap dalam perjalanan pulang dari rumah Shata, Alysa selalu tersenyum sendiri. Dia sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Shata. Dia memang menyukai Shata sejak kecil. Mereka sering bermain bersama karena rumah keduanya tidak terlalu jauh dan kedua orang tuanyapun juga teman dari orang tua Shata.


"Wah... Makan enak nih.. Opor ayam" Gumam Tara yang ternyata sudah bangun dan siap menyantap opor ayam di meja ruang tamu.


*Cekreek..* suara pintu terbuka


"Enak banget ya.. Bangun-bangun langsung mau makan.. Sana mandi dulu, Dasar udah tua masih jorok" Teriak Shata.


"Hehehe.. Ketahuan.. Iya aku mandi dulu.. Jangan dihabisin lo ya!" Jawab Tara.


"Iya cepat mandi, kita makan sama-sama" Jawab Shata dengan tersenyum melihat tingkah lucu sahabatnya.

__ADS_1


Setelah Tara kembali, mereka berduapun menikmati opor ayam buatan ibu Alysa bersama-sama, sembari mengobrolkan banyak hal termasuk Tara yang selalu mengatakan bahwa dia menyukai Alysa tetapi tidak berani mengungkapkannya karena dia yakin bahwa Alysa tidak akan mau menerimanya dan respon Shata yang hanya tertawa mendengarnya.


__ADS_2