Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 41


__ADS_3

Ayyub masih terdiam bersama Neera di sofa yang ada di ruang tengah. Ayyub masih setia menunggu jawaban dari istrinya itu. Meskipun hatinya dipenuhi rasa kecewa tetapi ia berusaha menahan itu.


"Neera, please jawab aku. Jangan diam begini saja" ulang Ayyub.


"Apa yang harus aku jawab" ucap Neera lemah.


"Kamu jelasin sama aku. Kenapa waktu itu kamu menghindar, apa selamanya kamu akan menghilang dari pandanganku dan selamanya kamu berniat menyembunyikan anak-anak dari aku ?" cecar Ayyub penuh emosi.


"Menurutmu bagaimana ?" tanya balik Neera.


"Aku butuh jawabanmu bukan pertanyaan darimu" balas Ayyub sedikit ngotot.


"Ya, menurutmu bagaimana ? Saat aku dipaksa pergi dari hidupmu, saat aku melihat kalian selalu bersama, saat kebersamaan itu kalian dasari dengan persahabatan. Tetapi sahabat kamu membuat aku terpaksa angkat kaki, ditambah kebencian keluargamu padaku. Apa harus aku berlari lagi padamu disaat kamu sendiri tidak begitu menginginkanku ?" tanya Neera yang sudah berurai air mata.


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan sendiri, aku masih sangat menginginkanmu saat itu bahkan sekarang". Balas Ayyub.


"Kamu menginginkanku ? Kamu pikir saat kamu tidak jujur padaku waktu itu kamu masih menginginkanku, ketika kamu selalu dekat dengan Vina tanpa batas yang jelas kamu masih ingin denganku, lalu saat kamu tidak terlalu peduli dengan hidup kita kamu pikir kamu masih menghargaiku. Sudahlah Ayyub, jangan membahasnya lagi, aku sudah berusaha mengubur ini". pinta Neera.


"Bagaimana bisa aku tidak membahasnya, saat istriku kabur tanpa permisi dan berusaha meninggalkanku ?" jawab Ayyub menikam.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku tidak meninggalkan kamu jika saat itu aku hanya sendiri dan tidak memiliki alasan untuk bertahan disana, aku juga masih memiliki harga diri dan aku sangat mencintai keluargaku" ucap Neera yang mulai terisak.


"Lebih baik kamu jujur padaku, apa alasan sebenarnya kamu meninggalkanku dan kenapa kamu menyembunyikan anak-anakku. Bagaimana jika aku tidak menemukan kalian, haruskah selamanya aku tidak mengetahui tentang keberadaan mereka ?" tanya Ayyub yang mulai tenang.


"Bagaimana bisa aku disana saat keluarga kamu sendiri yang memaksaku pergi, ditambah lagi kekasihmu bilang dia hamil dan itu anak kamu, bahkan aku juga melihat sendiri kalian didalam kamar hotel yang sama" jelas Neera yang masih menyembunyikan alasan terbesarnya.


Neera masih tidak ingin menjelekkan keluarga Ayyub apalagi ibu mertuanya itu didepan anaknya. Neera masih menghargai keluarga Ayyub meskipun mereka telah melukai Neera terlalu dalam. Namun bagaimana lagi, mereka adalah keluarga suaminya.


"Tapi kan kamu tau itu semua hanya kesalah pahaman. Kamu bisa saja menjelaskan semuanya pada mereka dan aku pasti akan mengklarifikasi berita itu. Kenapa kamu tidak bicara padaku ?" tanya Ayyub yang masih sangsi dengan alasan Neera.


"Bagaimana bisa aku berbicara denganmu, saat itu hanya ada aku sendiri, bahkan Vina juga ada disana menunjukkan bukti bahwa aku keluar menuju hotel di malam hari, sementara aku hanya berargumen saja, kamu sendiripun juga tidak akan percaya padaku" jelas Neera.


"Kamu pikir aku akan menyebarkan aib suamiku, apakah kamu juga tidak memikirkan bagaimana perasaan keluargamu terutama mamamu saat mengetahui bahwa anaknya menghamili perempuan lain terlebih dia anak sahabat keluargamu, keluarga terpandang sama denganmu, wanita terhormat, dari keluarga baik-baik yang diidam-idamkan menjadi istrimu bahkan saat aku masih bersamamu" jelas Neera frustasi.


Ayyub merasa tersentil atas penjelasan Neera, meskipun ia yakin ada alasan lain mengapa Neera bisa sampai meninggalkannya. Ayyub tidak yakin Neera akan meninggalkan rumah jika hanya itu yang menjadi alasannya. Lihatlah betapa sholeha istrinya, bahkan saat dirinya difitnah sekalipun ia tidak masih menjaga marwah suaminya didepan keluarga dan orang lain. Padahal bisa saja Neera beralasan pergi karena Ayyub menyelingkuhinya.


"Tapi kenapa kamu tidak menegurku waktu itu, saat kamu melihatku di triplets bakery" tanya kembali Ayyub setelah cukup lama terdiam.


"Menurutmu bagaimana perasaanku saat melihat suami entah mantan suamiku bersama wanita yang menjadi sahabat sekaligus kekasihnya, oh tidak bahkan saat itu aku mengira bahwa dia adalah istri barumu, bermesraan didepanku. Tidak ada lagi yang bisa kuperbuat. Aku tidak ingin mengganggu hidup kalian, aku sudah sangat bersyukur dengan kehadiran triplets dihidupku. Saat itu aku hanya ingin menjaga mereka hanya untukku, aku ingin kamu berbaik hati meninggalkan kami, karena mereka adalah alasan aku hidup, mereka nyawaku, aku tidak sanggup bila harus kehilangan mereka" sendu Neera.

__ADS_1


"Tidak kah kamu menginginkan aku lagi, tidak adakah sisa cinta dihatimu untukku ?" tutur Ayyub lemah.


"Menginginkan ?? entahlah. Saat itu aku tidak berani lagi mengharapkan apapun, aku hanya menyukuri kehadiran triplets bersamaku" ungkap Neera.


"Cinta ? Tentu saja ada, bahkan sekuat apapun aku menguburnya rasa itu tidak bisa dihilangkan begitu saja. Tetapi itulah caraku mencintaimu, dengan membiarkan kamu bahagia dengan wanita yang menjadi pilihanmu dan tidak mengganggu kehidupanmu lagi dengan kehadiran kami" tutur Neera menerawang.


"Bagaimana bisa kamu berkorban sejauh itu, caramu itu menyiratkan bahwa kamu tidak mencintaiku lagi. Kamu juga menghilang dari lingkaran pertemanan kita" cecar Ayyub kembali.


"Hanya itu jalan yang aku punya, aku mencintaimu sungguh sangat cinta, tapi aku tidak yakin bahwa kamu mencintaiku seperti aku mencintaimu. Selama kita bersama, saat itu kita hanya memakai topeng pura-pura, seakan rumah tangga kita baik-baik saja. Kita tidak pernah bicara dalam. Bagaimana sesungguhnya isi hati kita, apa yang kamu inginkan, apa yang aku butuhkan. Kita selalu diam untuk menghindari perselisihan. Kita tidak pernah benar-benar membiarkan satu sama lain memahami keadaan, hanya saling khawatir bahwa kita akan terluka sehingga membuat kita semakin jauh" papar Neera.


"Bukan sayang, aku yang selama ini diam. Aku tau saat keluargaku mengekangmu. Membutmu mengerjakan semua pekerjaan rumah. Aku juga tau bahwa kamu selalu diam saat Vina dan keluargaku mencecarmu dengan berbagai tuduhan dan aku hanya diam" tutur Ayyub.


"Tidak sayang..." sanggah Neera dengan air mata yang makin deras membasahi pipinya.


Neera sangat terkejut dengan pernyataan Ayyub. Ternyata suaminya mengetahui semuanya. Bahkan suaminya juga menyimpan ini darinya.


"Benar sayang, inilah kenyataannya. Lebih parahnya lagi, aku masih dekat dengan Vina disaat aku memiliki kamu sebagai istriku. Aku sudah melukaimu terlalu dalam. Aku tidak tau harus berbuat apa, aku tidak bisa memilih antara keluargaku dengan kamu terutama itu adalah mamaku" jelas Ayyub dengan mata berkaca.


"Cukup Ayyub, berhentilah..." pinta Neera yang tidak sanggup lagi mendengarkan itu.

__ADS_1


"Tidak sayang, aku yang salah. Aku yang berpaling saat melihat kamu terluka. Aku yang abai saat kamu menangis sendirian di kamar. Aku juga sedih dan terluka saat kamu selalu tersenyum padaku apalagi tepat setelah kamu menangis seharian. Kamu menyimpannya sendiri dan aku juga tidak mampu membahagiakan kamu. Aku buntu sayang, aku melakukan semua itu karena aku tidak ingin melihat kamu semakin tersiksa lagi, aku tidak mau kamu lebih terluka lagi. Maafkan aku Neera." sesal Ayyub diiringi air mata.


__ADS_2