
Seperti yang sudah mereka sepakati, hari ini Ayyub dan Neera akan berangkat menuju kejaksaan untuk menemui Fazreen sementara Papa dan Hakim akan ke perusahaan untuk mencari bukti dan membungkam semua bawahan yang sudah berkerja sama dengan Kiki untuk memberatkan Fazreen dan menjadikan keluarga mereka itu sebagai kambing hitam.
Beruntung triplets mengerti dan mau ditinggal oleh Bundanya. Kebetulan juga mereka sudah mendapatkan janji dari Uncle, Ayah dan Opanya. Sudah ada taman bermain di taman samping rumah, kuda yang lengkap dengan istalnya di halaman belakang yang luas.
Ketiganya asik bermain bersama Omanya dan dibantu oleh beberapa pelayan untuk mengawasi langkah mereka yang begitu lincah.
Sementara saat ini Ayyub dan Neera telah sampai di kejaksaan dan meminta satu tempat khusus untuk berbicara dengan Fazreen.
"Assalamu'alaikum Bang. Bagaimana kabar Abang ?" sapa Ayyub saat mendapati Fazreen yang baru masuk dibawa oleh seorang petugas.
"Wa'alaikumsalaam" hanya itu kata yang keluar dari lelaki yang kini terlihat lusuh dan pucat itu.
Tidak ada lagi binar kehidupan di wajahnya, hanya tatapan kosong dan wajah yang datar tanpa ekspresi.
"Bang, apa Abang sudah makan. Neera bawakan makanan kesukaan Abang yang dititip oleh Mama. Mama minta maaf tidak bisa ikut kesini karena kondisinya yang kurang baik dan beliau berpesan agar Abang jangan lupa makan dan menjaga kesehatan" sengaja Neera mengatakan hal itu agar Fazreen terpancing.
Benar saja, lelaki itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap rantang makanan itu penuh arti. Neera yang mengerti, membuka tutup rantang itu dan menyorongkannya di depan Fazreen sembari memberikan sendok dan garpu.
Dengan deraian air mata yang masih setia membasahi pipinya Fazreen makan dengan lahap bahkan Ayyub yang saat ini menyaksikan abangnya tidak sanggup menahan bulir air mata.
Dibawah meja, ia terus memegang erat tangan istrinya seakan menyalurkan semua emosi yang ia rasakan. Sebenarnya Neera sedikit nyeri namun ia hanya diam karena tau bahwa saat ini suaminya itu jauh lebih sakit daripada dirinya.
Neera bahkan mengelus lembut lengan suaminya dengan tangan yang satu lagi sehingga perlahan memberikan ketenangan pada laki-laki yang kini sudah menjadi tambatan hatinya itu.
"Bang, semua ini belum berakhir. Kami semua akan berusaha yang terbaik untuk Abang, Kami semua tau Abang tidak bersalah. Kami semua percaya pada Abang. Oleh sebab itu abang juga harus yakin dengan diri abang sendiri" lembut Neera yang tiba-tiba membuat Fazreen menangis histeris dan mencurahkan segala beban yang selama beberapa hari ini ditahannya.
Ayyub segera berpindah disamping abangnya dan memeluk tubuh yang kini terasa rapuh itu. Fazreen membalas pelukan itu tak kalah kuat, bahkan kini ia sudah menangis tersedu-sedu menumpahkan segala bebannya dipundak saudaranya itu.
Baju Ayyub yang tadinya kering dan rapi kini sudah basah dan terlihat kusut masai akibat pelukan dan cengkraman Fazreen yang terlalu kuat.
Neera hanya bisa mengusap punggung Ayyub yang juga tengah menenangkan saudaranya. Neera tau batasan akan dirinya, meski bagaimanapun Fazreen tetap bukan mahramnya sehingga ia tidak bisa menyentuh abang iparnya itu.
__ADS_1
Cukup lama hingga akhirnya Fazreen mulai tenang dan duduk kembali dan menumpukan tangannya di meja.
"Semuanya terjadi begitu tiba-tiba, abang masih berharap semua ini mimpi dan ternyata saat abang terbangun semua masih tetap sama. Terima kasih adik ipar, sudah mengatakan hal yang begitu indah. Abang berpikir bahwa kalian semua benar-benar membenci abang akibat tuduhan itu" jelas Fazreen dengan masih menyeka air mata yang mengalir disudut matanya.
"Abang sungguh tidak menyangka, ini terlalu berat dan abang tidak bisa melakukan apapun untuk membela diri. Abang tidak tau lagi harus bagaimana dan Abang pikir tidak ada lagi kehidupan untuk abang" ujar Fazreen mencurahkan isi hatinya.
"Jangan berbicara seperti itu Bang, hidup kita milik Sang Pencipta, kita tidak berhak untuk memutusnya. Jangan berpikiran abang sendiri karena kami semua akan selalu ada untuk abang" ucap Ayyub sembari merangkul kembali Abangnya.
"Terima kasih Yub, terima kasih Neera. Terima kasih kalian semua masih mau bersama abang" haru Fazreen yang tak henti-henti meneteskan air matanya.
"Abang tidak perlu berterima kasih, karena keluarga akan selalu ada dalam keadaan apapun" ujar Neera yang diangguki Ayyub.
"Maaf Bang, kalau Neera boleh tau apa rencana abang selanjutnya" tanya Neera yang sudah bermain kode dengan Ayyub.
"Abang tidak tau, saat ini pikiran Abang buntu. Abang tidak menyangka ternyata istri yang selama ini Abang cintai tega melakukan hal ini. Pantas saja ia meminta pisah ruangan begitu sampai disini dan dengan tak tau malunya menfitnah abang di pengadilan. Apakah Abang Hakim dan Papa marah kepada Abang saat mendengar percapakan itu, sungguh bukan itu maksud dari perkataan abang. Wanita itu hanya mengambilnya sepotong dan memutarkannya seakan abang memang sudah merencanakan ini semua" jelas Fazreen yang terlihat begitu terluka.
"Mereka sama sekali tidak marah Bang, mereka sudah tau bahwa itu semua tidak benar" balas Ayyub.
"Sungguh Bang, kami sengaja melakukan hal itu agar Kiki dan keluarganya yakin rencana mereka berhasil. Apakah Abang tidak tau, inilah yang menjadi tujuan mereka sampai-sampai mereka juga menyebarkan rumor tentang permusuhan kita di media" jelas Ayyub yang membuat Fazreen semakin terkejut.
"Iya Bang, mereka bekerjasama dengan Shintia dan Dio" sambung Neera sembari memberikan tablet yang berisikan berita yang semalam sempai mencuat.
"Mereka sangat keterlaluan" geram Fazreen.
"Tetapi bagaimana bisa hubungan mereka sedekat ini dan apa yang sebenarnya terjadi dengan Shintia dan Riezka. Apa hubungan mereka dengan perempuan jahat ini" bingung Fazreen yang tidak mau lagi menyebutkan nama istrinya.
"Sebelumnya kami mau minta maaf baru menyampaikan ini pada Abang. Sebenarnya Shintia dan Kiki punya affair dengan Dio dibelakang kalian. Mereka berselingkuh dan saling memuaskan, bahkan dengan tidak tau malunya melalukan hubungan terlarang. Bahkan Nola yang hamil itupun hasil perbuatannya dengan Dio" jelas Ayyub yang membuat Fazreen shock dan terdiam.
"Ba.. bagaimana bisa ?" bingung Fazreen.
"Entahlah Bang, entah permainan apa yang mereka mainkan. Abang lihatlah semua ini" ujar Ayyub sembari memberikan rekaman cctv perselingkuhan istrinya dan saudara iparnya beserta kejadian saat Nola terjatuh.
__ADS_1
"Jadi, wanita itu juga yang mendorong Nola hingga jatuh bahkan kini kehilangan anaknya dan harus lumpuh ?" tanya Fazreen.
"Betul Bang, seperti yang Abang lihat. Tetapi masalah Nola keguguran dan jatuh itu murni atas kesalahannya sendiri" lurus Ayyub lagi.
"Astaghfirullah.... Abang benar-benar tidak menyangka ternyata yang selama ini abang nikahi dan abang cintai tidak lebih dari seekor ular dan berbisa" sesal Fazreen sembari memegangi kepalanya.
"Sudahlah Bang, yang sudah terjadi kita ikhlaskan saja dan untuk menjadi pembelajaran kedepannya" ujar Neera.
"Bisakah kalian membantu Abang ?" tanya Fazreen yang kembali menegakkan wajahnya.
"Tentu saja Bang, kami akan melakukan apapun" balas Ayyub.
"Bisakah kalian menguruskan tuntutan untuk gugat cerai dengan tuduhan perselingkuhan ?" tanya Fazreen dengan penuh keyakinan.
"Insya Allah Bang, ini juga yang ingin kami diskusikan dengan Abang. Sembari mencari bukti yang lebih kuat, kita perlu mengalihkan fokus mereka sementara pada kasus perselingkuhan ini karena mereka sangat menjaga reputasi" jelas Ayyub lagi.
"Iya, apapun yang terbaik menurut kalian Abang akan ikut saja. Terima kasih kalian sudah bersedia membantu Abang" ujar Fazreen.
"Tentu saja Bang, jangan patah semangat Bang. Kami akan berusaha membebaskan abang dari tuduhan ini dan membersihkan nama Abang, untuk itu abang mohon bersabar dan mendo'akan semuanya agar sesuai dengan yang kita harapkan" balas Neera.
"Pasti adik ipar. Terima kasih kalian tidak meninggalkan Abang. Titipkan juga salam sayang untuk semua orang yang berada di rumah terutama Papa dan Mama, sampaikan juga maaf Abang pada mereka" sendu Fazreen.
"Sama-sama Bang, ohiya ini juga ada kami bawakan beberapa pakaian, makanan dan buku agar abang tidak merasa bosan di dalam" ujar Ayyub.
"Maaf Tuan dan Nyonya, waktu berkunjung habis" tiba-tiba terdengar suara petugas yang memasuki ruangan mereka.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih Pak" balas Neera sembari tersenyum.
"Bang, kami pulang dulu. Nanti kami akan datang kembali dan membahas ini lebih lanjut" pamit Ayyub yang diikuti Neera.
Mereka akhirnya berjalan meninggalkan ruangan itu setelah Ayyub dan Fazreen berpelukan, Fazreen di bawa kembali ke dalam sementara Ayyub dan Neera akan keluar.
__ADS_1