
Sementara triplets sibuk dengan ayahnya Neera malah terpaku dan setelahnya berusaha terlihat sibuk dengan mengemasi barang mereka sehingga bisa mengalihkan rasa yang berkecamuk dihatinya.
Sedangkan Ayyub mengira jika Neera memang malu karena istrinya itu adalah orang yang paling tidak mau menunjukkan kemesraan di depan umum, selalu ia yang memulai.
Namun saat ini Ayyub tidak bisa berbuat banyak karena ia sudah disibukkan dengan triplets yang sudah menggelayutinya dan sapaan serta hormat dari para kru kabin yang lain apalagi mereka yang penasaran dengan triplets.
Semenjak dari tadi Ayyub sudah mencuri-ciri kesempatan melihat celah untuk mendekati Neera tetapi istrinya itu terlihat acuh bahkan terkesan sangat sibuk, mungkin ia memang sedang ribet.
Sejujurnya Ayyub belum memastikan apakah istrinya mengetahui perihal liburan mereka di NY. Oleh sebab itu ia sedikit khawatir dan resah dengan perubahan pada istrinya itu.
Melihat sedikit celah, Neera segera mengambil travel bag kecil dan gendongan triplets. Berjalan menyusuri kursi penumpang dan menuju pintu keluar pesawat.
Melihat bundanya keluar, Qeenan dan Qaivan langsung berlari kecil dengan kaki kecil mereka yang masih sesekali tertatih. Seperti ada yang mengikuti Neera melihat ke belakang dan mendapati dua putranya yang memanggil dirinya.
Segera Neera menggapai mereka dan memasukkan Qaivan dalam gendongan depan sementara Qeenan ia rangkul miring dengan tangan.
Sejenak Neera menoleh kebelakang memastikan putrinya dan ternyata ia bersama ayahnya masih dikelilingi beberapa kru kabin yang lain. Merasa sedikit parno Neera segera memanggil Qalundra saat bocah kecil itu menolah.
Tanpa aba-aba Qal berlari menuju sang bunda karena dua saudaranya yang lain sudah dalam gendongan Neera. Jelas saja ia triplets itu tipikal anak yang sangat takut ditinggalkan bundanya.
Melihat itu Neera segera menggendong Qeenan dibelakang dan meraih Qalundra dalam rengkuhan tangannya. Berat memang, tetapi saat ini ia hanya ingin secepatnya pergi dan menghindar dari Ayyub. Biar bagaimanapun Neera belum siap-siap dengan keadaan ini.
Tadi saja saat penggumuman pilot yang menjadi kapten dalam penerbangan Neera sempat terpaku dan kaget karena sejujurnya ia belum menyiapkan hatinya untuk ini, pantas saja mereka dipindahkan ke kursi first class ternyata itu semua kerjaan Ayyub.
__ADS_1
Setelah melewati segala prosedur dan pengecekan Ayyub keluar dari kokpit dan mengambil barangnya di lemari khusus. Ia berpikir bahwa tadi triplets masih disini bersama para pramugari dan pramugara tetapi setelah ia tinggal sebentar ternyata anak dan istrinya sudah pergi.
Mulai kepanikan menggerayapi pikiran Ayyub. Segera ia tanyakan pada petugas yang ada tetapi mereka hanya menjawab sudah lewat dan sebagian mengarahkan Ayyub.
Mendapati anak dan istrinya yang pergi Ayyub segera menghibungi nomor Neera yang ternyata masih tidak aktif karena ia berpikir mungkin Neera belum memetikan mode pesawat pada ponselnya.
Segera Ayyub menuju kantor bagian maskapainya di bandara untuk menyerahkan laporan terbang dan menyerahkan beberapa berkas lantas ia berlari ke arah keluar bandara berharap masih dapat mengejar istri dan anaknya.
Lain halnya dengan Neera, saat ini ia berusaha menghindar dan menuju nurse room, beruntung saat ini ruangan itu kosong dan Neera langsung menghubungi taksi karena ia tidak ingin merepotkan bawahannya untuk membawa mobil kebandara terlebih lagi ia harus menunggu lagi disini.
Setelah mendapatkan info bahwa taksi yang ia pesan sudah berada di pintu keluar segera ia berjalan dan mengedarkan pandangan mencari taksi mereka.
Seperti memahami kekalutan sang bunda triplets yang biasanya cerewet saat itu hanya diam memperhatikan bundanya dan memeluk erat leher Neera.
Setelah mendapatkan taksi yang mereka pesan Neera segera melangkah seraga menggeret travel bag mereka kearah taksi tersebut.
Namun sayang, saat hampir mendekati taksi Ayyub melihat mereka dan melangkah cepat nyaris berlari. Neera yang berpura-pura tidak mendengar meneruskan langkahnya berharap Ayyub tidak akan bisa menyusul mereka.
Keberuntungan tidak berpihak pada Neera saat ini karena dengan kaki tegap dan semampainya Ayyub mampu menyusul mereka tepat saat Neera akan menutup pintu penumpang.
"Ayah...." teriak triplets kegirangan mendapati ayahnya bersama mereka kembali. Walau mereka mengikuti bundanya tak bisa dipungkiri bahwa rindu itu pasti ada hanya saja mereka tidak mengungkapkannya pada Neera.
Neera menghembuskan napas kasarnya. Tidak ada cara lain lagi untuk menolak, terpaksa ia menggeser pantatnya dan membiarkan Ayyub masuk sementara sopir taksi menyimpan tas mereka di bagasi.
__ADS_1
Beruntung Ayyub disibukkan oleh berbagai pertanyaan triplets yang kini sudah menggelayuti ayahnya. Mereka berlomba duduk dipangkuan Ayyub sementara pria tegap dengan seragam pilot itu menghujani buah hatinya dengan ciuman dan dekapan hangat.
Neera yang malas terlibat dengan Ayyub memilih sedikit menepi dan berpura-pura tidur. Untuk saat ini ia begitu malas untuk bertegur sapa dengan suaminya itu.
Maka Neera menghadapkan wajahnya ke jendela luar dan memejamkan matanya seolah sangat lelah dengan perjalanan ini dan tidak ingin diganggu.
Tidak hanya sampai disana, ia memasang kaca mata hitam, masker dan menggunakan topi model reagge yang selalu ia bawa sebagai penegas bahwa ia benar-benar membutuhkan waktu untuk tidur.
Triplets yang sudah sibuk dengan ayahnya juga teralihkan sehingga tidak masalah jika Neera seperti itu karena saat ini kehadirannya juga tidak dibutuhkan jadi biarlah triplets menghabiskan waktunya bersama ayah yang sudah sebulan tidak bertemu.
Mobil melaju meninggalkan bandara, sekilas Ayyub melihat istri yang sangat ia rindukan. Ingin ia memberikan kecupan dan pelukan hangat namun apa daya melihat wajahnya pun ia tidak bisa karena istri cantiknya itu menutupi seluruh wajahnya.
Ayyub mengerti mungkin Neera lelah setelah perjalanan jauh, apalagi ia hanya sendiri membawa tiga anak balita bahkan ia melihat sendiri tubuh yang tidak begitu tinggi tapi sangat molek milik istrinya itu membawa sekaligus tiga anaknya mereka dalam gendongannya.
Saat terhanyut dalam lamunan dan melihat istrinya itu Ayyub dikejutkan oleh suara sopir taksi kepo yang mengajaknya berbicara.
"Pak, istrinya terlihat lelah sekali ya ?" celutuk sopir taksi yang hanya ditanggapi Ayyub dengan senyuman tipis nyaris tak terlihat.
"Digempur habis-habisan ya pa tadi malam sepertinya terkuras sekali energinya" sambung sopir yang tidak mau diam itu.
Ayyub hanya melihat sekilar sopir itu dan kembali fokus pada Neera,
'Jangankan digempur dibelai aja enggak sudah sebulan ini' batin Ayyub.
__ADS_1
Setelahnya sopir itu diam sendiri setelah tidak mendapati respon dari Ayyub sementara Neera yang sejatinya tidak tidur buat gondok oleh pernyataan sopir taksi itu. Jika saja ia tidak sedang berpura-pura sudah pasti ia menyanggah hal itu dengan tegas.