Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 218


__ADS_3

Pulang dari mesjid Ayyub langsung ke dapur saat penciumannya menangkap wangi makanan yang sudah pasti hasil karya tangan istrinya


Begitu sampai di dapur Ayyub memperhatikan istrinya yang kini masih asik menyusun makanan di pantry saat itulah ia berjalan mendekat dan memeluk istrinya dari belakang.


Jujur saja ia sedikit khawatir jika tiba-tiba mood Neera jatuh lagi dan menolaknya tetapi hal itu tidak terjadi justru perempuan cantik itu manyambutnya dengan senyuman sebelum akhirnya mengambil tangan Ayyub dan menyaliminya.


"Morning sayang, lagi masak apa ?" tanya Ayyub sembari menciumi pucuk kepala yang tertutup hijab.


"Masak sarapan ala eropa dan Indonesia Uda, semua masakan kesukaan Uda udah Neera siapkan sama kopinya juga. Ayok ganti baju biar bisa langsung sarapan" jawab Neera sekaligus mengajak suaminya ke kamar mereka.


Disana Neera sudah menyiapkan baju ganti suaminya seperti biasa. Juga menyiapkan air mandi dan semua yang dibutuhkan suaminya seakan yang semalam bukanlah dirinya.


Ayyub yang sedikit heran mencoba untuk bersikap biasa, takut nanti bunda triplets itu akan merajuk lagi dan yang akan kena impasnya adalah dirinya, sungguh ia sangat takut hal itu terjadi.


Dengan telaten Neera melayani Ayyub yang tersenyum sumringah menikmati perlakuan istrinya. Namun dilain sisi ia juga ingin memanjakan Neera seperti malam hingga pagi ini tapi tanda adanya drama ngambek.


Selesai mandi dan memasang bajunya juga merapikan rambut Ayyub turun bersama Neera menuju meja makan yang sudah penuh.


"Pagi Papa, Mama dan semuanya" sapa Ayyub dan Neera berbarengan.


"Pagi sayang" mama


"Pagi Nak" papa.


Begitupun dengan semua yang ada disana menjawab salam kedua pasutri itu. Namun, senyum lebar Ayyub membuat semua orang heran, wajah sumringahnya seakan menafikan apa yang mereka pikir tentang kejadian semalam. Bukankah Ayyub dan Neera terlibat perang dingin tetapi kenapa pagi ini terlibat bahagia sekali.


Ternyata jawaban dari keterkejutan mereka terungkap saat kedua pasutri itu terlihat kembali mesra dan seakan tidak terjadi apapun semalam.


"Ohiya, apa rencana kalian hari ini ?" tanya Papa yang mengawali perbincangan di meja makan.


"Hari ini kita akan menghadiri beberapa undangan dari pemerintah dan stasiun televisi Pa" jawab Ayyub yang diangguki Neera.

__ADS_1


"Baiklah, kalian hati-hati di jalan dan ingat jaga istrimu dengan baik Yub, Papa akan mengirim beberapa pengawal bersama kalian" ujar Papa panjang lebar.


"Tentu saja Pa, terima kasih banyak Pa" jawab Ayyub dengan senyuman hangat yang kini sudah semakin sering menghiasi wajah datar itu.


Suasana hangat di pagi hari membuat hati mereka menghangat dan menambah kebahagiaan di rumah mewah itu.


Selesai dengan acara makan dan berbincang sebentar, Neera memutuskan untuk ke kamar mereka dan menggelar matras yoga di balkon yang super luas di kamar.


Badannya terasa pegal dan ia membutuhkan peregangan dan olahraga ringan untuk merilekskan otot tubuhnya. Sementara Ayyub sendiri memilih bekerja di meja sofa. Ia enggan untuk beranjak ke ruang kerja karena entah kenapa belakangan ia tidak bisa jauh sedikitpun dari istrinya.


Banyak sekali pekerjaan yang harus ia handle setelah memutuskan liburan dan berbagai masalah yang terjadi belakangan ditambah lagi kini ia juga mengontrol dan mengecek perusahaan istrinya yang terbilang cukup besar karena ia tidak ingin wanita tercintanya terbebani saat liburan ini.


Ia ingin Neera rileks dan secepatnya bisa hamil kembali karena ia sangat ingin menjadi suami siaga yang selalu ada semenjak kehamilan istrinya.


Lama ia tenggelam dalam pekerjaan hingga perlahan ia mulai merasa ada yang aneh dan menoleh ke arah istrinya dan kini tengah berpose dan diam seperti patung.


Glek ! bukan main, entah kenapa dengan menungging dan menarik tubuhnya kebelakang membuat Ayyub dengan leluasa melihat bagian belakang Neera yang semakin semok, apalagi dengan pakaian yoga itu membuat Ayyub dengan jelas melihat dua semangka menggantung dengan indah saat Neera mengubah posisinya.


"Tuhan... cobaan macam apa ini" batin Ayyub merana.


Tapi dilain sisi ia juga tidak tahan melihat penampilan istrinya yang kian menggoda dan berisi.


Perlahan ia berjalan mendekati Neera dan membelai punggung istrinya yang masih di balut tangkop ketat.


"Sayang.., susah ya sini Uda bantu straching" bujuk Ayyub yang tangannya sudah kemana-mana.


"Uda beneran bisa, apa Uda udah selesai kerja ?" tanpa diduga Neera malah antusias.


Pucuh dicinta ulampun tiba, ini pepatah yang menggambarkan isi hati Ayyub. Seakan gayung bersambut. Dengan senang hati ia mengabulkan permintaan istrinya sebelum akhirnya ia melihat beberapa pose yang harus ia lakukan bersama Neera.


Hancur sudah harapannya, ternyata istri cantiknya itu benar-benar memperalatnya menjadi penyangga tubuh sebagai patner yoga yang baik.

__ADS_1


Bukan tidak ingin menjadi rekan olahraga "gulat" yang baik tetapi ia tidak bisa melepaskan pegangannya pada tubuh Neera karena akan menyebabkan cedera pada istri cantiknya itu.


Akhirnya kini kepala atas dan bawahnya menjadi pusing tujuh keliling. Ibarat boneka india boleh dilihat tak bisa dipegang. Ah sial, kenapa juga tubuh Neera menjadi semakin hot begini. Apa perasaannya saja atau memang istrinya yang rajin olahraga itu berhasil dengan programnya.


Cukup lama Ayyub tersiksa hingga akhirnya Neera menyudahi acara yoga sekaligus penyiksaan untuk suaminya.


"Sayang, Uda kesal ya temani Neera yoga ?" sendu wanita cantik itu saat mendapati wajah suaminya kusam dan ditekuk.


"Ah ? apa sayang ?" tanya Ayyub yang tidak fokus karena berusaha menjinakkan burung elangnya.


"Kan, Uda kesal ya ?" isak Neera yang mulai mengeluarkan air mata.


Neera merasa Ayyub benar-benar tidak suka menemaninya berolahraga. Kenapa juga ia menjadi sensitif begini, tetapi perasaannya tidak bisa berdusta. Ia sedih saat mendapati suaminya berwajah masam terlebih lelaki yang dicintai ternyata juga mengabaikannya.


"Sayang ., hey jangan menangis yang" bujuk Ayyub yang mulai panik.


"Engga mau, Uda jahat. Uda sudah tak sayang Neera lagi" tangis gadis itu yang mulai menagis kencang.


"Sayang, i love you so much. Jangan bilang begitu lagi. Iya Uda salah tapi sampai kapanpun kamu adalah cintanya Uda, sudah jangan menangis lagi" bujuk Ayyub yang berusaha membujuk istrinya sembari merengkuhnya.


"Engga, Uda jahat huhu Uda sudah mengabaikan Neera" isak Neera yang justru makin deras mengeluarkan air mata.


Wanita itu terus meronta, tidak mau dipeluk suaminya bahkan ia menolak saat Ayyub berusaha menghapus air matanya.


"Sayang, jangan menangis lagi okay, Uda sakit melihat air mata yang jatuh di pipi Neera. Okay Uda salah, maafin Uda ya sayang.. Gimana kalau kita beli bunga atau cheesetea, coklat atau ice cream juga boleh" bujuk Ayyub yang tidak tau lagi harus melakukan apa.


Tidak biasanya Neera bersikap irrasional begini terlebih cengeng dan tukang ngambek. Seumur-umur mengenalnya, inilah kali pertama ia melihat istrinya merengek dan merajuk seperti anak kecil tetapi sungguh menggemaskan juga.


"Um, baiklah. Janji ya Uda ?" ucap Neera yang berusaha melerai tangisnya.


"Okay sayang, anything for you" senyum Ayyub yang berusaha menghapus jejak air mata dipipi mulus dan mata indah Neera.

__ADS_1


"Bunga dua bucket, cheesetea 3, tiramisu satu, ice cream dan coklat lima, deal ?" ujar Neera yang sekarang terlihat baik-baik saja, seakan yang barusan menangis bukanlah dirinya.


"Oke, deal" setuju Ayyub yang tidak ingin terjadi perang dunia lagi. Ia paham betul jika bertanya lagi mood istrinya akan menurun.


__ADS_2