
Seperti dugaan Neera triplets kembali berulah saat sampai di kediaman kekuarga besar Kaisar.
Semua orang yang sudah menunggu di pintu utama dibuat bingung dan tidak sabar karena keluarga kecil putra mereka tidak kunjung turun dari mobil mereka.
Apalagi yang mereka lakukan selain membujuk buah hati mereka yang menolak untuk turun dan uring-uringan saat disentuh ayah mereka.
Akhirnya Ayyub menyerah dan memilih turun duluan sembari membawa tas dan menurunkan kereta gandeng tiga mereka yang bisa ditarik.
Di dalam mobil Neera menenangkan triplets yang sudah banjir air mata akibat mendapat sedikit paksaan dari ayahnya. Neera memeluk ketiganya berusaha mentransfer kenyaman agar mereka berhenti menangis.
Sungguh Neera kasihan melihat wajah merah mereka yang sudah lecek karena sedari pagi menumpahkan air mata. Pasti mereka merasa frustasi tapi mereka tidak tau cara menyampaikannya akhirnya tangislah yang menjadi pilihan.
Setelah beberapa saat akhirnya Neera berhasil membawa mereka keluar meskipun ketiganya masih tidak mau melepaskan bundanya.
Dengan menyeret kaki yang digelendoti dua anak lelakinya Neera berusaha menyeimbangkan jalannya. Sementara Qal masih setia digendongan Neera dan menenggelamkan wajahnya leher sang Bunda yang kini hijabnya sudah basah oleh air mata bercampur ingus ketiganya.
Melihat istrinya yang kesulitan Ayyub menghampiri Neera dan berusaha mengambil putri mereka yang biasanya sangat manja dengan Ayyub namun tepisan yang ia dapat begitupun dengan kedua putranya.
Sempat terbesit kekecewaan dihatinya mendapat penolakan dari mereka tetapi segera ia tepis mengingat penjelasan Neera saat dimobil tadi.
Mendapat isyarat dari istrinya Ayyub memilih mengalah dan berjalan lebih dulu menuju keluarganya yang sudah menunggu.
Ayyub menyalami Tuan dan Nyonya Kaisar terus semua saudara dan saudarinya beserta iparnya dengan salam yang berbeda.
"Itu anak-anakmu kenapa nak ?" tanya Mama yang melihat tingkah cucunya itu.
"Anu mah.., mereka lagi mood swing tapi Ayyub tidak mengerti dan malah memaksanya jadi mereka makin uring-uringan dan sekarang lagi ngambek sama Ayyub gak mau dipegang sama sekali maunya sama bundanya saja" jelas Ayyub yang menitik beratkan kesalahan pada dirinya sebab ia tidak ingin istrinya yang sangat baik itu menjadi sasaran tuduhan keluarga yang sudah ia pahami karakternya.
"Kamu ini gimana sih nak, sudah punya anak tiga masih saja tidak mengerti lihat itu istrimu jadi kerepotan sendiri" omel Papa Ayyub.
"Ya namanya juga masih belajar Pa, Ayyub sangka mereka cuma nangis biasa karena bangun tidur eh ternyata malah berlanjut" cengir Ayyub yang mendapat pukulan dipundaknya.
__ADS_1
"Itu bukan alasan" omel Mama Ayyub lagi.
Tidak lama kemudian sampailah Neera didepan mereka. Perempuan berhijab pastel itu berusaha memberikan senyum terbaiknya meskipun ada perasaan tidak enak karena situasi saat ini.
Dengan sedikit kerepotan Neera berusaha menjulurkan tangannya pada Tuan Kaisar untuk menyaliminya setelah itu dengan penuh keragu-raguan dan tangan sedikit bergetar Neera memindahkan tangannya di depan ibu mertuanya yang masih saja terlihat galak.
Neera tidak berharap banyak, namun ia masih tetap mempertahankan tangannya setelah beberapa saat tidak mendapatkan balasan. Saat akan menarik tangannya kembali malah pelukan yang didapatkannya. Jadilah mereka berpelukan dengan Qal yang berada ditengah.
Tidak terkira perasaan lega yang dirasa oleh ibu tiga anak itu. Air mata bahagia langsung turun membasahi pipinya mendapat sambutan dan pelukan untuk pertama kali dari wanita yang sudah melahirkan suaminya.
Semua orang merasakan haru melihat pemandangan itu terutama sekali Ayyub dan Tuan Kaisar. Dua perempuan yang sangat mereka sayangi akan berjalan bergandengan bukan bersinggungan lagi.
Sungguh ini adalah saat paling bahagia dalam hidup Ayyub sama seperti saat ia menerima kesempatan kembali dari Neera dan anak-anak mereka.
Setelah puas memeluk menantunya dan mengusap punggung kecil cucunya mama Ayyub menjauh memberi ruang bagi Neera karena ia tau menantunya itu kesulitan membawa gadis kecil yang masih menggantung bak koala di tubuh mungil nya.
Setelah membujuk triplets untuk bersalaman mereka masih tetap kekeuh memeluk bundanya dan tidak mau berbalik bahkan untuk menampakkan muka meraka sedikitpun. Akhirnya dengan perasaan tidak enak Neera tersenyum pasrah pada Tuan dan Nyonya Kaisar yang dibalas senyuman pengertian dari mereka.
"Yasudah nak, tidak usah dipaksa nanti mereka nangis lagi. Ayo bawa mereka kedalam kasihan kamu pasti capek sedari tadi menggendong cucu mama" ujar Mama Ayyub yang membuat Neera lega.
Melihat hal itu sifat usil Ayyub muncul bukannya membujuk anaknya atau setidaknya berhenti malah ia semakin seru mengganggu anaknya yang sedang badmood itu.
Sesekali ia mencolek pipi, lengan bahkan leher mereka yang mendapatkan teriakan dan amukan dari ketiganya. Bukannya berhenti ia terus saja melakukan hal yang sama hingga mendapatkan pukulan dari tangan-tangan kecil itu yang membuat tangis ketiganya kembali pecah dan membahana di ruang tengah yang mewah itu.
Bukannya kasihan Ayyub malah tertawa puas yang mendapatkan gelengan dan helaan napas dari orang-orang yang tidak habis pikir oleh keusilan bapak tiga anak itu.
"Dasar kamu dek, bapak gak ada akhlak. Bukannya bujuk anak malah bikin nangis" umpat Fazreen.
"Haha abang gak lihat itu lucu banget muka mereka, seru tau Bang" ujar Ayyub tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Baru kamu bapak yang bilang kalau buat anaknya menagis itu seru" balas Hakim yang tidak habis pikir dengan tingkah adiknya.
__ADS_1
"Kamu ini nak, gak ada dewasa-dewasanya jadi ayah. Gak lihat itu istri kamu kerepotan bukannya dibantuain malah makin repotin" omel Papa Ayyub yang sudah kasihan melihat menantunya kewalahan.
"Ya maaf Pa, namanya gak sengaja" balas Ayyub masih cengengesan.
"Kayaknya mama sekarang jadi ragu keterampilan kamu menggunakan bahasa" balas Mama Ayyub yang hanya dibalas cengiran.
"Sudah nak, anak pintar bunda sudah ya nangisnya. Nanti tenggorokannya sakit lo, terus suaranya gak mau keluar lagi" bujuk Neera sembari menenangkan ketiganya.
"Bunda... ayah ja..hat bunda.." adu Qee yang sedari tadi paling sering menjadi korban keusilan ayahnya.
"Iya... ayah cuma becanda sayang, iya kan yah ?" ucap Neera meminta dukungan Ayyub yang malah dibalas meletan pada triplets.
Neera yang geram akhirnya menggunakan bahasa korea untuk berbicara pada buah hatinya.
"Sudah sayang, tidak apa-apa. Coba lihat wajah ayahnya jelek sekali seperti Dolby di klinik bunda. Kasihan sekali ya, sementara anak bunda tampan dan cantik anak pintar lagi. Ayah tidak tau apa-apa, kita kerjai saja ayahnya ya" bujuk Neera dalam bahasa korea yang fasih.
Ketiganya lantas terdiam dan setelahnya tertawa ditengah tangisnya saat bundanya mengatakan bahwa ayah mirip Dolby si kucing kuning yang selalu memeletkan lidahnya bila dipegang dibagian belakang punggungnya, sering sekali mereka bermain bersama Dolby dan melakukan hal itu karena terlihat sangat lucu.
Ayyub yang merasa ditertawakan tapi tidak mengerti karena apa hanya bisa diam. Memasang wajah cengonya karena bingung apa yang lucu sebab iya sama sekali tidak mengerti percakapan antara anak dan istrinya.
"Mampus lu Bg, dikerjain balik kan. Makanya jangan kelewat usil" celutuk Upi yang membuat suasana riuh seketika menertakan ayah tiga anak itu.
Ayyub yang kesal pun mendekat pada Neera dan menanyakan maksud perkataan istrinya karena bahasa itu adalah bahasa tidak sedikitpun ia pahami.
Memang itulah tujuan Neera ia tau kelemahan Ayyub di bahasa itu makanya ia memenangkan hati triplets menggunakan bahasa korea.
"Lihat itu sayang, ayah nya jadi bingung kan makin mirip seperti Dolby" canda Neera pada triplets masih dalam bahasa korea yang disambut derai tawa ketiganya.
"Iya bunda, Dolby nya jadi besar nanti kita cat rambut ayah jadi orange ya biar makin mirip" balas Qee yang juga menggunakan bahasa yang sama.
Tawa mereka seketika pecah dan menular pada semua orang yang menyaksikan drama keluarga kecil itu.
__ADS_1
Ayyub yang kebingungan ditambah derai tawa triplets membuat mereka itu merasakan kebahagiaan yang dialami ketiganya.
Meskipun tak satupun dari mereka yang mengerti bahasa itu tetapi mereka cukup paham bahwa Neera dan anaknya sedang mengerjai Ayyub terlihat dari mereka yang melirik ayahnya lantas tertawa puas.