
Malam ini begitu damai setelah triplets tidur. Rumah sederhana itu begitu tenang setelah seharian di porak porandakan oleh sang buah hati.
Sebagian lampu sudah di matikan. Kamar besar itu kini telah gelap di atas tempat tidur telah berbaring tiga bocah berumur 2 tahun.
Namun di suatu ruangan di sebelah kamar utama terdapat satu lampu yang masih menyala terang. Terlihat seorang wanita dengan baju tidur mini, celana pendek dan atasan longgar dengan tali spageti tengah duduk di sebuah meja.
Rambutnya yang dijepit sembarangan sesekali jatuh di sisi wajahnya, matanya yang fokus di lapisi kaca mata bening.
Wanita itu tengah sibuk membalik lembar\-lembar kertas di buku dan sesekali menggerakkan jarinya di atas keyboard pc atau terkadang menggoreskan tinta pulpen ke sebuah buku kecil.
Kini Neera tengah menyiapkan bahan untuk mengajar esok hari. Sebenarnya dia ingin bekerja di kamar saja sembari menemani triplets tidur.
Tetapi dia takut mengganggu tidur mereka dengan cahaya lampu. Maka dia putuskan untuk bekerja di ruangan sebelah kamar mereka.
Membesarkan tiga anak sendiri maka dia harus bekerja ekstra tiga kali lipat juga. Tetapi kebahagiaannya berkali lipat juga. Ibu muda itu tidak pernah mengeluh atas setiap situasi yang di hadapinya.
Neera percaya bahwa ketika dia diberi keparcayaan oleh Tuhan untuk menjaga tiga malaikat kecil itu, artinya dia mampu dan karena itu dia harus bertanggung jawab atas kesempatan yang telah di berikan.
Selain itu dia juga bertanggung jawab terhadap mahasiswanya, memberikan yang terbaik adalah motto hidupnya. Meski ini adalah waktu istirahat tapi di saat inilah kesempatan Neera untuk bekerja.
Ring...Ring....
Suara ponsel di meja mengalihkan Neera dari kesibukannya. Sebuah nomor yang tidak dikenal tertulis di layar pipih itu.
Sekali dua kali Neera membiarkan saja, tetapi telpon itu tidak berhenti. Dengan sedikit kesal Neera mengangkat telpon itu.
"Halo ?" sapa Neera.
"Who's speaking ? it's to late, don't you know ?"
tambah Neera karena tidak ada balasan dari seberang.
"Zaneera Khalisha" suara di seberang.
Sejenak Neera terdiam, dia mengetahui suara itu bahkan lebih dari tau. Dia Ayyub Ghaliz Kaisar seseorang yang dulu menemani hari\-harinya.
"Sayang, i miss you, really miss you" kembali suara di seberang.
Neera masih membisu, sementara air mata sudah menetes dari ujung mata. Tangannya menutup mulutnya sendiri menahan suara yang mengkin di keluarkannya.
"Sayang, i know it's you" suara dari seberang lirih.
Neera tau pria di seberang sana juga sedang menangis, bagaimana mungkin dia tidak tau. Semua yang ada pada pria itu masih melekat di pikirannya.
__ADS_1
Bagaimana suara tawa, merengek, kecewa dan sedih semua dia tahu. Tidak ada yang lebih mengenal pria itu melainkan dia. Orang yang pernah dicintainya dengan sepenuh hatinya.
"Bicaralah sayang" suara dari seberang memohon.
Neera masih setia dengan kebungkamannya.
"Tidak kah ada cinta lagi di hatimu untukku ?"
Saat itu juga tangisannya lolos, mengeluarkan suara lirih yang memilukan.
Bagaimana mungkin tidak ada cinta di hatinya, selama ini tidak pernah sekalipun dia tidak merindukan pria itu terlebih melihat buah hati mereka yang terlihat mirip ayahnya.
Bagaimana mungkin pria itu bilang tidak ada cinta saat dia menelan sendiri pahitnya kekecewaan demi kebahagiaan prianya.
Bagaimana bisa tidak ada cinta saat dia memilih pergi demi kebaikan dan kebahagiaan pria itu.
Saat itu hanya tangis yang saling sahut di antara kesunyian malam.
"Maafkan aku, aku harus pergi" akhirnya Neera membuka suara setelah sedikit tenang.
"Please sayang, tidak bisakah kita bertemu ?" pinta Ayyub di seberang.
"Aku minta maaf" lirih Neera dengan air mata yang masih mengalir di pipi putihnya.
"Aku akan ke Edinburg untuk menemui mu"
"Untuk apa kamu ke Edinburg ?"
"Bukankah kamu mengajar disana ?"
Neera mencoba mengatur napas, apapun itu dia harus membuat triplets aman dulu. Mana tau pria ini hanya bertemu untuk mengurus perceraian mereka, jadi Neera berusaha tenang.
"Iya, tapi itu hanya beberapa hari, aku juga mengajar di tempat lain. Aku tidak berada di sana sekarang"
Dia tidak berbohong, memang dia hanya mengajar hingga kamis dan lagi dia juga mengajar di beberapa universitas lainnya.
"Tidak apa, aku akan menemui mu saat kau disana. Aku akan menunggu disana"
"Aku tidak disana untuk sementara ini, aku mempunyai jadwal di universitas lain"
Neera tidak peduli lagi jika dia harus berbohong, dia hanya tidak ingin keberadaan triplets diketahui.
__ADS_1
"Kalau begitu dimana aku bisa menemuimu sayang ?" pertanyaan dari seberang.
"London" hanya itu kata yang terpikirkan oleh Neera.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemui besok disana"
Bagaimana mungkin dia bisa pergi ke London esok hari sementara jadwalnya mengajarnya penuh dan ada jadwal operasi sore harinya.
"Besok aku tidak bisa, lusa saja"
"Baiklah sayang, ku harap kamu tidak lari lagi dan pura-pura tidak mengenalku" balas orang yang ada di seberang sana.
Saat itu juga tubuh Neera mendingin.
"Apa dia bilang ? Pura-pura tidak mengenal ? Lari ? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan ?" batin Neera.
"Yes sayang, aku tau orang yang menabrakku tadi pagi adalah dirimu. Kamu pintar tapi sayang sedikit ceroboh" jelas pria itu.
"Apa maksudmu ?" pertanyaan refleks Neera.
"Sayang tidakkah kamu tau bahwa takdir itu tidak bisa dilawan, bahkan kamu meninggalkan kartu namamu meski kau bertingkah seolah tidak mengenalku" tawa renyah laki-laki di telpon.
Seketika itu wajah Neera langsung memerah seperti kepiting rebus, betapa malunya dirinya. Dia merutuki kebodohan yang di lakukannya. Sembari memukul kepalanya dengan tangan
"Sayang jangan pukuli kepalamu, itu bukan kebodohanmu hanya tangan Tuhan yang bekerja untuk membuat kita bertemu" suara pria itu yang langsung menghentikan kegiatan Neera.
"Bagaimana mungkin dia tahu ?" batin Neera.
"Sayang percayalah bahwa tidak ada satupun dari dirimu yang luput dari pandanganku, sekalipun aku tidak disisimu" lirih pria itu.
Kini jantung Neera yang mengamuk memekakkan rongga dada bahkan Neera sendiri dapat mendengarnya. Wajahnya semakian merah, ini tidak sehat untuk jantungnya.
"Maaf" hanya itu kata yang keluar dari mulutnya. Mendadak dia menjadi bodoh bahkan gelar doktor nya tidak membantu sama sekali.
"Baiklah sayang, ini sudah larut. Istirahatlah dan aku akan terus menghubungimu. Jangan sampai memblock nomorku, atau aku akan membuat keributan di depan universitasmu" balas suara di seberang.
"Baiklah, Assalamu'alaikum" tutup Neera.
"I love you, Wa'alaikumsalaam" balas pria itu.
Sambungan terputus, saat itu juga Neera bengong, otaknya kali ini benar\-benar lemot. Kata itu walaupun lirih tapi masih bisa di tangkap oleh indera pendengarnya.
"Apakah dia baru saja mengucapkan kata cinta, bukankah dia bersama wanita itu. Mengapa pria itu melakukan ini padanya, Apakah maksudnya ?" pertanyaan Neera yang tidak mendapatkan jawaban.
__ADS_1