Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 142


__ADS_3

Meski sudah tidak menangis lagi namun triplets masih betah gelendotan pada bundanya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh ketiga om beserta Opa dan Omanya bahkan pelayan pun juga ikut serta namun mereka masih tidak bergeming.


Berulang kali Neera maupun Ayyub membujuk mereka tetap saja ketiganya memeluk erat tubuh Neera dan tidak mau melepaskan barang sedikitpun.


"Kenapa sayang nya bunda hari ini, kan kemarin sudah main sama Opa sama Omnya juga, kemana pintarnya hari ini ?" pancing Neera pada ketiganya namun mereka tetap menggeleng dan menempelkan tubuhnya pada Neera.


"Bunda.., gaja jibae kaseo" (ayo kita pulang) rengek Qee yang masih menggunakan bahasa korea.


"Ne, arasseo. Jamsimanyo (Ya, tunggu sebentar)" balas Neera dalam bahasa yang sama.


Ingin rasanya Neera membawa triplets pulang karena ia yakin saat ini buah hatinya itu merasa tidak nyaman begitupun dengan dirinya. Terlebih sedari tadi tatapan dua saudari iparnya begitu menusuk semantara suami ipar nya Riezka terasa menelanjanginya.


Satu sisi ia menghargai mertua dan saudara iparnya sementara disisi lain ia sudah risih berada ditengah-tengah mereka.


"Maaf semuanya, bolehkan Neera permisi dulu sepertinya triplets butuh istirahat dan tidur karena dua hari ini mereka kesulitan menyesuaikan waktu disini makanya mereka sedikit tantrum" pamit mereka berharap suaminya peka dan akan mendapatkan izin pulang.


"Iya mama sampai lupa. Kasihan juga mereka, yasudah kamu tidurkan saja mereka di kamar Ayyub. Masih ingatkan letak kamarnya ?" tanya Mama yang malah menahan Neera disini.


"Mohon maaf nyonya, sepertinya Neera butuh arahan dari salah seorang pelayan. Mohon bantuannya" sopan Neera pada mertua perempuannya itu.


"Ck, mentang sudah sukses pakai sok-sokan lupa" decih Riezka yang masih terdengar jelas ditelinganya.


"Mohon maaf nyonya, saya hanya menjalankan tata krama untuk tidak sembarangan berkeliaran dirumah orang dan berusaha bersikap sopan terhadap orang lain, permisi" tegas Neera yang langsung membuat kakak perempuan Ayyub itu bungkam.


"Riezka sepertinya kamu tidak mengerti apa yang tadi pagi Papa sampaikan dan Papa rasa kamu juga butuh belajar sopan santun lagi dalam berbicara" ujar Tuan Kaisar dingin dengan rahang yang mengeras.


"Sudahlah sayang, kamu jangan pikirkan perkataan kakak iparmu yang tidak berdasar itu. Mari Mama saja yang antarkan" lembut Mama Ayyub sembari mengelus penggung Neera.


"Mama kenapa sih jadi baik banget sama dia, kan mama pernah bilang gak akan pernah mau nerima dia jadi mantu. Apa karena dia Zee mama jadi berubah haluan" kesal Nola yang melihat perlakuan lembut ibunya pada Neera.

__ADS_1


"Diam kamu Nola !" teriak Mama yang seketika membuat semua orang terkejut. Muka Nyonya Kaisar seketika memerah mendengar perkataan putrinya.


"Mohon maaf semuanya karena kehadiran kami dirumah ini membuat suasana menjadi buruk. Saya minta maaf jika sekiranya kami merepotkan Tuan dan Nyonya Kaisar beserta keluarga. Lebih baik kami undur diri dan terima kasih atas jamuannya. Kami permisi dulu, Assalamu'alaikum...."


"Sayang..., tunggu sayang" teriak Ayyub yang menyadari kepergian Neera dengan menggendong sekaligus ketiga anak mereka.


"Puas kalian !" hardik Ayyub didepan kedua saudara perempuannya yang kini terdiam entah apa yang mereka pikirkan.


Neera membawa triplets menuju gerbang sembari menenteng tasnya. Sungguh ia sama sekali tidak dongkol, marah, sedih atau apapun itu. Ia paham keluarga Ayyub tak pernah benar-benar menyukainya dan ia sudah berdamai akan hal itu.


Hanya saja ia tidak ingin triplets menjadi korban kebencian mereka, anaknya terlalu kecil untuk menerima perlakuan kasar dan mendengar kata-kata penuh penghinaan yang ia tebak akan meluncur jika ia tidak segera pergi dari sana.


Sungguh ia tidak ingin buah hatinya tumbuh dalam kebencian sementara selama ini ia bersusah payah menanamkan cinta dan kasih sayang pada ketiganya.


Dengan langkah besar dan terburu-buru Neera membawa triplets keluar dari kediaman yang begitu mewah itu. Entahlah nanti dia akan menggunakan taksi online atau apapun itu yang jelas ia harus keluar saat ini juga secepat yang ia bisa.


Belum sampai langkahnya di gerbang terdengar bunyi klakson mobil yang sangat ia kenal. Segera ia menepi membiarkan mobil itu mengambil alih jalanan aspal yang dikelilingi taman luas dengan penataan yang rapi.


"Sudah nanti saja ngomongnya, Neera sudah capek sekali, ayo bantu masukkan mereka ke mobil kita harus segera pergi" cerocos Neera seakan tidak ada sesuatu yang telah terjadi.


Dalam kebingungannya Ayyub menuruti perintah istrinya. Mengambil triplets dan menempatkan mereka di masing-masing seat carnya.


Setelah memastikan keamanan anak dan istrinya segera Ayyub menjalankan mobil dan melaju ditengah keramaian jalan siang menjelang sore itu.


Sementara di rumah utama keluarga Kaisar semua terpaku diruang keluarga. Sekelebat kejadian barusan membuat semua yang ada bungkam tak mampu bersuara.


Setelah kepergian menantu beserta cucu yang disusul oleh anaknya sendiri membuat hati seorang ibu perih. Belum lagi ia bisa mendekap cucu yang selama ini diharapkannya namun sudah pupus tak ada lagi harapan.


Hanya tangis pilu yang mampu ia keluarkan mengantar kepergian mereka. Ia juga tidak bisa menyalahkan siapapun adapun yang menyebabkan semua ini adalah dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia yang berlaku jahat pada menantunya, sadar tidak sadar, suka tidak suka ialah yang patut disalahkan atas kejadian ini.


Semuanya terdiam, hanya isak tangis yang memenuhi ruangan besar itu. Tidak ada yang bisa melangkah sedikpun seakan bumi memasak kaki setiap manusia disana.


"Apa ini yang kalian inginkan, apa kamu sudah bahagia melihat keberhasilan kalian menyakiti banyak hati ?" satu kalimat datar yang keluar dari Tuan Kaisar.


"Bukankah sudah Papa katakan iri hati, dengki dan sombong tidak akan membawa kebaikan bagi diri kalian" ujarnya lagi lalu beranjak pergi memasuki ruang kerja ia juga butuh menenangkan dirinya sebelum menenangkan istrinya.


Lantas Luthfi yang melihat mama terduduk dilantai segera memapahnya menuju kamar orang tuanya.


Hanya lima orang yang tersisa disana dalam kebisuan. Hanya tatapan tajam yang tepancar dua kakak lelaki di rumah itu.


"Abang harap kalian merenungi perbuatan kalian hari ini. Kalian sudah cukup dewasa untuk berpikir" ujar Hakim datar dengan nada dingin.


Lantas keduanya pergi begitu saja, ia tahu Papa mereka saat ini tengah memiliki kemelut dihatinya.


Bagaimana tidak, tidak bisa dipungkiri diantara semua anaknya yang memiliki potensi dan kecerdasan tinggi adalah Ayyub.


Meskipun yang ia tau Ayyub tidak melakoni profesi sebagai pebisnis tetapi insting yang dimiliki sangat tinggi. Sebagai ayah tentu ia menyadari itu sejak lama.


Tidak bisa ia nafikan juga meskipun tak terucap dari bibirnya tetapi Ayyub merupakan anak kebanggaannya. Seorang anak yang selalu berprestasi, pekerja keras bahkan selama pendidikannya tidak sedikitpun Tuan Kaisar mengeluarkan uang untuk putranya itu.


Bahkan tanpa siapapun tau selama ini Ayyub selalu membantunya menyelesaikan masalah yang sulit dipecahkan bahkan menghendel beberapa proyek saat saudaranya yang lain masih menjalankan studynya.


Terlebih Ayyub yang ada saat permasalahan pelik menimpa perusahaan mereka dulu, anaknya itu adalah salah seorang orang belakang layar yang berjasa hingga perusahaan Kaisar masih bersinar hingga saat ini.


Anak itu tidak banyak menuntut, bahkan ia tidak mau menerima kartu khusus yang diberikan Papanya dengan alasan saudaranya yang lain lebih butuh.


Hanya dia yang tau saat perusahaan mereka pernah merosok hampir gulung tikar sementara saudaranya yang lain sekolah diluar negri. Ayyub merupakan malaikatnya yang mengerti kesulitannya sebagai seorang ayah dan seorang pengusaha.

__ADS_1


Bukan ia tidak mencintai anak yang lain lebih tetapi ia selalu merasa memiliki hutang pada Ayyub, putra kecilnya yang selalu mengalah untuk saudara dan masa remajanya dihabiskan untuk bekerja membantu ayahnya bukannya bersenang-senang, bersekolah tanpa beban seperti saudaranya yang lain.


__ADS_2