Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 163


__ADS_3

Satu hari telah berlalu semenjak peristiwa penggerebekan itu. Hakim masih belum mau pulang ataupun bekerja. Sementara Ayyub yang menghandle pekerjaannya di kantor.


Ayyub juga sudah memberitau Papa bahwa Hakim sedang mengalami sedikit masalah rumah tangga dan akan di rumahnya selama beberapa hari.


Beruntung triplets sangat membantu Hakim dalam proses pemulihan semangat hidupnya. Walaupun tidak mengerti keadaan Om nya tetapi kehadiran mereka selalu menghibur Hakim, seperti hari ini.


"Uncle kenapa bengong. Kata bunda kita tidak boleh bengong nanti pikirannya jadi kosong dan mudah dipengaruhi syaitan. Syaitan itu jahat loh Uncle masak mereka ngerayu nabi Adam makan buah khuldi kan jadi melanggar aturan Allah" celoteh Qee yang kini sudah mengganti panggilannya menjadi Uncle karena mereka bilang lebih nyaman panggilnya begitu.


"Ohiya ?! Kamu pintar sekali sih tau ceritanya Nabi Adam" ujar Hakim.


"Iya kan Bunda selalu ceritain Uncle. Lagian di buku juga ada kok Uncle. Uncle kenaoa sih, lagi sedih ya ?" tanya Qee, memang diantara ketiganya memang Qee lah yang paling perasa.


"Iya sayang, Uncle lagi sedih soalnya Uncle lagi dijahatin sama orang yang paliiiiing Uncle sayang" cerita Hakim begitu saja pada Qee.


Lantas bocah tiga tahun itu naik keatas kasur dan memeluk tubuh Hakim dengan tangan kecilnya.


"Uncle jangan sedih lagi ya. Kata Bunda kalau kita dijahatin berdo'a nya sama Allah, soalnya Allah yang Maha membolak balikkan hati manusia. Terus kata Bunda kita juga tidak boleh terlalu mencintai apapun kita harus lebih mencintai Allah diatas segalanya" ujar bocah itu sembari mengelus pelan punggung Hakim.


Terlihat lucu memang, bocah kecil berumur tiga tahun itu berucap seolah ia paham betul dengan permasalahan yang ada namun siapa sangka ternyata perkataan random dari bocah cilik itulah yang mampu membuka mata lelaki dewasa yang tengah patah hati itu.


Begitulah Qee, diantara ketiganya ialah yang paling pintar dan mudah merekam sesuatu. Entah apapun yang diucapkan dan dilakukan orang sekitarnya ia akan langsung mengingatnya.


Sejak kecil juga ia lebih cepat bicara dari kedua saudaranya. Bahkan diusianya kini sudah bisa membaca dan sedikit menulis.


"Terus kalo Unclenya sedih gimana caranya ?" tanya Hakim yang keterusan curhat dengan Qee sementara dengan orang lain ia masih belum mau membuka mulutnya.


"Uncle boleh kok nangis tapi jangan lama-lama. Nanti air matanya mubazir, kalo Uncle sedih Uncle berdo'a saja sama Allah" saran bocah itu lagi.


"Kalo Uncle masih marah sama dia boleh gak ?" tanya Hakim lagi, terasa seru bercerita dengan Qee yang begitu polos itu.

__ADS_1


"Uncle sebenarnya marah itu temannya syaitan. Uncle istighfar aja banyak-banyak, nanti sama Allah dibantu untuk menenangkan pikiran dan hatinya Uncle. Qee saja kalau lagi kesal disuruh Bunda istighfar terus disuruh wudhu" cerita Qee.


"Kalau Qee misalkan punya teman yang sangat Qee sayang terus di jahatin Qee, pokoknya jahaaaat banget, gimana hayo ?" tanya Hakim.


Terlihat balita itu meletakkan tangannya di dahi sembari membuat pose tengah berpikir keras yang membuat Hakim gemas dan langsung mencium pipi bakpaonya.


"Kalau Qee maafin saja Uncle terus Qee gak mau sahabatan lagi tapi tetap teman aja" jawab Qee ambigu.


"Hah ? maksud Qee gimana sih ?" tanya Hakim lagi.


"Ihh... Uncle, Qee itu tetap teman aja tapi gak mau main-main lagi, dekat-dekat lagi sama dia. Kata Pak Ustadz kalo orang itu dijauhkan dari kita sama Allah berarti dia tidak baik untuk kita. Terus bisa jadi temannya Uncle itu ujian dari Allah, Uncle tanya Bunda saja. Qee bingung" ujar Qee yang menyerah menyampaikan kata-kata sulit yang ia dengar di pengajian selepas Magrib bersama ayah dan saudaranya.


"Yaudah deh, makasih ya sayang sudah ingatin Uncle. Qee pinter banget, jadi mulai sekarang Uncle gak akan bengong-bengong lagi" jawab Hakim yang sudah bisa menangkap maksud perkataan ponakannya itu.


"Iya Uncle, sekarang ayo kita makan. Soalnya tadi Qee sama Bunda disuruh jemput Uncle tapi Qee lupa hehe" cengir balita itu yang langsung diangkat oleh Hakim dan diberi hujan ciuman di wajah putihnya.


Mereka bahagia akhirnya Abang mereka tidak lagi seperti kehilangan semangat, yang hanya menatap kosong dan diam. Rona wajahnya sudah terlihat kembali.


Setelah makan dan sholat berjama'ah di Mesjid bawah malam itu mereka duduk berkumpul di ruang keluarga.


Entah kenapa malam ini Hakim juga ikut nimbrung sembari bermain bersama ketiga ponakannya. Mereka sudah terlihat lebih akrab dan nyaman berada disekitar Unclenya. Mungkin karena Hakim juga memperlakukan mereka sangat baik karena sesungguhnya ia sangat menyukai anak-anak dan sangat menginginkan anak juga.


Malam semakin larut, ketiga bocah itu sudah terlelap setelah Neera membawa mereka ke kamar untuk gosok gigi dan berwudhu sebelum tidur.


Setelah memastikan mereka aman Neera kembali lagi ke dapur membuatkan kopi dan membawa beberapa cemilan sebagai teman mengobrol untuk suami dan iparnya.


"Gimana sekarang keadaan Abang, apa sudah lebih baik ?" tanya Ayyub sembari menepuk pundak Hakim.


"Alhamdulillah Yub, sudah jauh lebih baik. Anakmu yang menasehati Abang habis-habisan" kekeh Hakim seakan menertawakan kebodohannya.

__ADS_1


"Maafkan mereka ya Bang, mereka sekarang lagi senang-senangnya bicara apapun akan mereka keluarkan dari mulutnya" segan Neera yang takut perkataan triplets menyakiti hati Hakim.


"Tidak kok Dek, perkataan mereka justru yang menyadarkan Abang, sungguh lucu ternyata rangkaian kalimat sederhana dari mereka ternyata mampu menguraikan pemikiran kita yang rumit" kisah Hakim sembari tersenyum.


"Jadi sekarang apa yang akan abang lakukan, apapun yang abang putuskan akan kami dukung selama itu baik untuk abang" ujar Ayyub.


"Itulah Yub, Abang ingin memastikan sejauh mana Shintia telah berbuat. Sebenarnya Abang ada rasa untuk memaafkannya tetapi setelah abang pikirkan lagi Abang ingin mencari segala hal yang sudah ia lakukan di belakang abang sehingga nanti abang tidak akan menyesal saat membuat keputusan" jelas Hakim pada pasangan suami istri itu.


"Terus sekarang apa abang sudah ada petunjuk atau apapun yang bisa dijadikan bahan untuk penyelidikan" tanya Ayyub lagi.


"Sebenarnya Abang sempat mengambil hp milik mereka berdua saat keluar dari hotel tapi masalahnya sekarang hp itu terkunci dan sudah sejak semalam Abang tidak bisa membukanya" keluh Hakim.


"Maaf Bang, boleh Neera lihat sebentar ponselnya" tanya Neera sembari mengambil laptop yang ada di meja.


"Sebentar Abang ambilkan dulu" ujar Hakim dan berlalu menuju kamarnya.


Setelah menyerahkan ponsel itu ketangan Neera mereka hanya bisa memperhatikan wanita itu mencolokkan kabel dan menghubungkan ponsel dengan laptopnya.


Jari-jari lentik itu menari diatas keyboard dan tidak beberapa lama Neera menyerahkan ponsel itu beserta menulis pin masing-masing.


Kedua lelaki dewasa itu hanya bisa melonggo dalam waktu yang begitu singkat. Mereka tidak tau apa yang dilakukan Neera pada ponsel itu sehingga saat ini mereka sudah benar-benar bisa membukanya.


"Kenapa bengong, apa masih belum bisa dibuka" heran Neera yang melihat kedua saudara itu diam sembari membolak balik ponsel yang ada di tangan mereka.


Disini Hakim merasa sangat bodoh, sedari dua hari ini ia terus mengotak atik ponsel mewah itu tetapi tetap tak membuahkan hasil sementara Neera kurang dari lima menit sudah selesai dan berhasil mendapatkan pinnya.


"Sayang... ini sejak kapan Neera bisa melakukan ini" tanya Ayyub ngeri dengan kemampuan istrinya yang baru ia tau.


"Mhhmmm Uda, lebih baik periksa saja ponselnya hal itu bisa kita bahas dilain waktu" balas Neera yang berusaha menghindar dari pembahasan ini.

__ADS_1


__ADS_2