Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 191


__ADS_3

Hari ini Fazreen telah memutuskan akan menyelesaiakan rumah tangganya yang memang sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Dengan langkah pasti ia berjalan ke gedung pengadilan dan mengurus gugatan cerai yang sudah dilayangkan olehnya beberapa waktu lalu dibantu oleh Ayyub dan pengacaranya.


Sementara Ayyub pergi ke perusahaan membantu Papanya hingga kasus Fazreen selesai. Beberapa waktu ini ia telah memutuskan akan membantu keluarganya memperbaiki keadaan perusahaan yang sempat kacau akibat ulah Kiki dan keluarganya.


Lain halnya dengan Neera, perempuan berhijab itu memilih bermain di rumah menemani buah hatinya sembari membantu mama merawat adik iparnya, Nola.


Meski wanita itu telah menyakitinya begitu dalam tetapi Neera tetap terketuk hatinya saat melihat keadaan adik iparnya yang begitu memprihatinkan. Wanita itu hanya mampu berbaring dan duduk di kasur, jika pagi akan dibantu oleh perawat yang mereka sewa untuk mengangkat ke kursi roda untuk berjemur.


Sampai saat ini Nola masih diam dan pandangannya kosong. Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya. Hanya gelengan dan anggukan saja yang mewakili komunikasinya selama ini.


Seperti pagi ini Neera akan mengantarkan Nola bubur yang baru saja ia masak bersama mama. Sementara mertuanya menemani triplets, Neera memilih menghampiri adik iparnya itu.


Ceklek... Baru saja Neera membuka pintu kamar itu matanya langsung terbuka lebar dan segera ia berlari ke arah kasur dan meletakkan nampan dengan asal.


"Nola, apa yang kamu lakukan ?" hentak Neera yang langsung mengambil pisau buah yang sudah melukai permukaan kulit adik pergelangan tangan adik iparnya itu.


Dengan cepat Neera menjauhkan benda tajam itu dan memeluk Nola yang kini tengah menangis histeris.


Entah kemana perginya perawat Nola, beruntung pagi itu Neera memasuki kamar dengan nuansa merah muda itu sebelum semuanya terlambat.


"Pergi, pergi kamu, biarkan aku mati. Kau pasti senang melihatku seperti ini" histeris Nola sembari memukul punggung Neera.


Tanpa gentar Neera mengeratkan pelukannya sembari mengelus kepala hinga punggung wanita itu.


"Istighfar Nola, tenangkan dirimu" ujar Neera berkali-kali sembari membisikkan kata-kata menenangkan untuk wanita itu.


Setelah puas berteriak dan memukuli Neera akhirnya wanita itu lelah sendiri dan malah mengeratkan pelukannya pada perempuan berhijab yang dulu selalu dihina dan disakitinya.

__ADS_1


"Kenapa, kenapa kau begitu baik padaku ?" lirih Nola yang sayup-sayup masih sampai di telinga Neera.


"Semua orang menyayangimu Nola, kami semua begitu mencintaimu. Maka jangan lakukan hal berbahaya lagi, oke ?" lembut Neera sembari merenggangkan pelukan mereka dan menangkup wajah pucat dan kurus itu.


"Benarkah, apakah kakak tidak membenciku ?" tanya Nola lirih sembari beruraian air mata.


Neera yang mendengar itu juga ikut meneteskan air matanya sembari tersenyum hangat. Pertama kalinya adik iparnya itu memangginya dengan sebutan kakak dan terdengar sangat tulus.


"Tentu saja tidak sayang, kakak sangat menyayangimu, jadi tidak ada alasan lagi untuk kakak membencimu" lembut Neera sembari menghapus air mata perempuan itu lalu membalut luka yang ada di tangan Nola, beruntung itu masih berupa goresan.


Sementara itu Mama yang hendak masuk ke kamar putrinya setelah mendengarkan teriakan histeris tadi langsung terdiam dan memilih mendengarkan percakapan antara anak dan menantunya itu.


Betapa harunya wanita paruh baya itu melihat menantunya yang sangat baik hati, perempuan yang memiliki pekerti luhur. Bahkan menantunya itu membiarkan Nola memukulnya yang ia tahu bahwa itu sangat menyakitkan.


Sedikitpun Neera tidak marah bahkan meringis, perempuan itu justru memeluk Nola lebih erat dan memberikan kasih sayang yang begitu tulus untuk adik iparnya itu.


"Sungguh mulianya hatimu Nak, entah terbuat dari apa hatimu yang bagai intan permata itu. Kehadiranmu di keluarga ini bagai oase ditengah padang pasir yang gersang. Betapa beruntungnya kami memilikimu Neera. Semoga kebahagiaan akan selalu menyertaimu Anakku, Mama tidak akan menyia-nyiakanmu lagi dan berjanji akan lebih mencintaimu Anakku" suara hati Mama sembari menatap haru pada menantunya itu.


"Nola, menangislah dan berteriaklah sepuasmu, kelurkan semua beban yang ada dihatimu. Kakak akan menemanimu disini tetapi berjanjilah untuk tidak melakukan hal berbahaya lagi" ujar Neera yang mengerti perasaan tertekan adik iparnya itu.


Perlahan Neera melepaskan tangannya dari lengan Nola dan beranjak ke pintu kamar lalu menguncinya dan mengaktifkan mode kedap suara.


"Sudah, lakukan apapun yang kamu inginkan. Kakak akan disini menemanimu" lembut Neera sembari tersenyum hangat pada adik iparnya itu.


Nola dengan ragu melihat ke arah kakak iparnya yang tengah tersenyum dan menganggukan kepalanya. Setelah memastikan pada Neera akhirnya wanita itu kembali menggila dengan berteriak, menangis dan melempari apapun yang ada di dekatnya bahkan memukul-mukul kakinya yang mati rasa.


Neera membiarkan semua itu, ia hanya mengawasi Nola agar perempuan itu tidak membahayakan dirinya sendiri.

__ADS_1


Neera sangat paham dengan perasaan tertekan yang dialami Nola beberapa waktu belakangan ini. Akan lebih baik baginya untuk melepaskan semua beban itu dengan menangis bahkan berteriak daripada diam seperti patung seakan tanpa jiwa.


Biarkan Nola puas melepaskan semua perasaan sakit, kecewa, marah, sedih dan kesal di dalam hatinya. Lalu Neera akan berbicara dengannya setelah ia puas melampiaskan emosinya.


Cukup lama Neera berdiri di sudut ruangan, melihat apapun yang dilakukan adik iparnya itu hingga akhirnya perempuan itu lemas dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Neera hanya mengelus kepala Nola dan membawa gadis itu dalam pelukannya sembari menepuk pelan punggung Nola.


"Kamu adalah perempuan yang hebat, kamu orang yang kuat, kakak bangga padamu" ujar Neera sembari memberikan semangat.


Nola yang mendapatkan perlakuan lembut dan mendengar kata-kata dari kakak iparnya merasa tersentuh dan kembali menangis di pelukan Neera.


Wanita itu mengeratkan pelukannya dan menumpahkan tangisnya di dada Neera sembari meremas baju belakang Neera yang kini sudah kusut masai.


Setelah Nola terlihat tenang, dan isakannya mulai melambat. Neera merenggangkan pelukan mereka dan membersihkan wajah adik iparnya itu dengan tisu.


"Minumlah dulu, kamu pasti lelah dan capek. Beristirahatlah, kakak akan membuatkan bubur yang baru, nanti kakak akan membangunkanmu saat buburnya sudah siap" ujar Neera sembari membantu Nola minum.


"Kamu sudah sangat hebat mampu melaluinya hingga titik ini. Tidak semua orang akan sekuat kamu, jadi banggalah pada dirimu sendiri dan lebih cintai lagi dirimu karena kami semua sangat menyayangimu, berjanjilah pada kakak untuk tidak melakukan hal berbahaya lagi, oke ?" lembut Neera sembari tetap tersenyum pada adik iparnya itu.


Nola hanya menganggukan kepalanya dan menuruti Neera yang mulai membantunya tidur. Matanya masih melirik perempuan berhijab yang kini masih mondar mandir membersihkan kamarnya setelah tadi memasangkan selimutnya.


Padahal kakak iparnya itu tidak harus membereskan kamar yang sudah seperti kapal pecah itu, cukup menyuruh pelayan yang ada di kediaman mereka.


Tetapi ia tau bahwa Neera melakukan itu agar tidak ada orang lain yang tau tentang apa yang baru saja terjadi hingga Nola tidak akan bertambah malu didepan banyak orang setelah begitu banyak hal memalukan yang ia lakukan.


Nola menangis dalam diam, ia begitu menyesali semua perbuatan yang sudah ia lakukan pada kakak ipar yang ternyata masih begitu baik setelah apa yang ia lakukan selama ini.

__ADS_1


Ia sangat malu terhadap Neera, ia begitu merasa berdosa tetapi kakak iparnya itu tidak menaruh sedikitpun kebencian padanya. Malah memperlakukannya dengan baik dan memberikan ruang untuknya.


Kakak iparnya itu tau apa yang ia butuhkan dan apa yang ia inginkan saat ini. Bahkan disaat kakak yang selama ini ia bela mati-matian justru lebih memilih suaminya dan menyalahkan dirinya tanpa mendengarkan penjelasannya tetapi Neera dengan setia mendengarkannya berteriak seperti orang gila dan bahkan diam saat ia menyakiti perempuan berhijab itu dengan tangannya.


__ADS_2