Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 126


__ADS_3

Dini hari menjelang subuh terasa begitu dingin. Sayup-sayup Neera mendengar isakan lirih yang menyayat hati. Mencoba melihat kanan dan kiri Neera tidak menemukan apapun. Bahkan triplets masih tertidur nyenyak dengan napas teraturnya.


Sedikit merinding bulu kuduk Neera saat hal menyeramkan sekelebat melintas dipikiran nakalnya. Segera ia beristighfar mengingat Tuhan.


Dengan enggan ia mencoba bangkit mencari sumber suara namun saat mengangkat kakinya terasa berat seperti ada beban besar yang menimpa.


Perlahan Neera mendudukan dirinya dan terkejut saat mendapati seseorang tengah bersimpuh di samping kakinya dan meletakkan kepalanya diatas kedua tulang kering Neera.


Masih terdengar isakan lirih yang mampu menyayat hati. Terdengar seperti rintihan keputusasaan yang diselimuti rasa takut.


Neera mengulurkan tangannya dengan lembut mengelus kepala yang masih setia menelungkup dikakinya. Tidak lupa juga bahu lebar yang naik turun menahan suara tangisnya.


Kini suaminya itu terlihat seperti triplets yang mengadu pada dirinya. Tetapi yang ini lebih memilukan hati. Terlebih saat lelaki tampan itu mengangkat wajahnya karena terkejut mendapati usapan lembut di belakang kepalanya.


Wajah yang terlihat dingin itu kini merah padam dan basah. Matanya sudah bengkak dan sembab. Entah sudah berapa lama ia menangis dalam posisi seperti itu, cukup lama sepertinya.


"Ada apa ?" tanya Neera begitu lembut.


Bukannya menjawab lelaki bertubuh besar itu malah semakin deras tangisnya dan menghambur memeluk Neera.


Perlahan Neera mengusap lembut punggung lebar lelaki itu. Sungguh menggelikan melihat seorang pria kekar dengan tonjolan otot ditubuhnya yang menggambarkan keperkasaan malah menangis seperti bocah kecil


Ingin Neera tertawa namun ia juga tidak tega. Cukup lama Neera menenangkan bayi besar itu. Hingga akhirnya ia sedikit tenang setelah meminum air yang disuguhkan Neera.


Mereka memilih pindah ke kamar lain karena tidak ingin triplets terganggu akibat pembicaraan mereka.


"Kapan Uda pulang ?" tanya Neera yang tidak ingin menanyakan langsung permasalahan suaminya.


"Sekitar tiga jam yang lalu" jawab Ayyub lirih.


"Sudah makan ?" tanya Neera lagi yang dijawab gelengan Ayyub.


Maka malam itu Neera bergegas ke dapur menyiapkan makanan dan memberikannya pada Ayyub yang masih diam dikamar.


Neera meletakkan nampan yang berisi makanan dan minuman di nakas. Melihat tidak ada niatan Ayyub untuk makan maka Neera berinisiatif menyuapkan langsung pada suaminya itu.


Dengan patuh Ayyub membuka mulutnya dan memakan makanan itu hingga tandas bahkan minuman masih Neera yang menyodorkan ke mulut suaminya.


Neera hanya diam seribu bahasa karena ia tidak mau mendesak Ayyub menjawab pertanyaan yang mungkin tidak siap untuk diungkapkannya.


"Kenapa diam saja ?" tanya Ayyub yang bingung dengan sikap istrinya.


"Memangnya Neera harus tanya apa ?" jawab santai Neera.

__ADS_1


"Neera tidak merindukan Uda ?" tanya Ayyub lirih.


"Entahlah" jawab Neera mengawang.


Kembali air mata menetes dari mata elang Ayyub, menganak sungai melewati rahang tegasnya. Neera yang bingung melihat tatapan putus asa suaminya mencoba untuk menghapus buliran bening yang tak kunjung surut itu.


"Kenapa ?" tanya Neera sekali lagi.


"Jangan pernah tinggalkan Uda ya ?" tanya Ayyub penuh permohonan yang membuat Neera bungkam.


"Berjanjilah sayang, berjanjilah.... Uda mohon tolong berjanjilah sayang..." tangis Ayyub lebih pilu lagi.


"Sayang, jangan diam saja Uda sangat takut. Jangan pergi ya sayang.., jangan pernah tinggalkan Uda yaa..., Kamu boleh menghukum Uda apapun tapi jangan pergi dari hidup Uda... Sayang berjanji lah Neera..." mohon Ayyub yang kembali merosot ke kaki Neera.


Sungguh Neera tidak tega melihat wajah putus asa itu. Selama mengenal Ayyub baru kali ini ia terlihat begitu lemah dan rapuh lelaki itu hingga menangis kejer seperti ini.


"Sudah Uda, berhentilah menangis. Katakanlah ada apa sebenarnya ?" pinta Neera dengan helaan napasnya.


Ayyub lantas menceritakan perihal ia mengetahui apa yang dialami Neera hingga dirinya memutuskan untuk kembali saat itu juga dan menangis di kaki Neera sejak ia melihat istrinya itu.


"Uda tidak sanggup untuk menghadapi Neera sayang, Uda merasa gagal melindingimu tapi Uda juga tidak sanggup kehilangan Neera. Uda tidak tau kenapa, Uda hanya ingin menangis di kaki Neera berharap mengurangi sedikit rasa bersalah Uda dan mendapatkan maaf dari Neera sayang" adu Ayyub pada istrinya.


"Jadi selama tiga jam Uda terus menangis disana ?" tanya Neera tidak percaya yang diangguki oleh Ayyub.


Ingin sekali ia merutuki kebodohan suaminya namun ia juga tidak tega melihat wajah lesu dan basah itu.


"Hey, tegakkan lah kepalamu Mr. Pilot. Seperti bukan dirimu saja" canda Neera pada suaminya.


"Uda sungguh tidak sanggup melihat mata Neera, sayang. Begitu banyak kesalahan yang sudah Uda lakukan bahkan sampai kini Uda terus melukaimu dan jangan lupakan kebohongan Uda terkahir kali" ungkap Ayyub pada setiap dosanya.


"Baiklah kita bahas satu persatu" ujar Neera yang mampu menarik perhatian Ayyub untuk melihat kedalam mata istrinya.


"Katakanlah" titah Neera.


"Maafkan kesalahan Uda dan keluarga Uda yang telah menyakitimu dan menorehkan luka yang dalam untuk Neera" ungkap Ayyub penuh permohonan kedalam mata indah istrinya.


"Soal itu sudah Neera maafkan sedari dulu. Neera tidak menyalahkan siapapun atas takdir yang berlaku bagi hidup Neera. Semua sudah atas kehendak Tuhan" jawab Neera begitu menenangkan.


"Terima kasih sayang, kamu memang perempuan yang baik. Uda sangat bahagia memilikimu sebagai istri" ungkap Ayyub penuh cinta dan memberikan kecupan hangat didahi Neera.


"Sekarang masalah apalagi ?" tanya Neera kembali.


"Hmm... ini masalah kebodohan yang sudah Uda lakukan kemarin" sesal Ayyub sembari mengelus lembut jemari istrinya.

__ADS_1


"Kenapa membohongi Neera ?" todong Neera tanpa basa basi.


"Bukannya begitu sayang, Uda menganggap itu bukan hal yang penting dan lagi saat itu juga ada keluarga Uda dan keluarga kaleng-kaleng itu ?" keluh Ayyub.


"Kaleng-kaleng ?" tanya Neera bingung.


"Iya sayang, dia kan model kaleng-kaleng" ungkap Ayyub yang terlihat kesal.


"Lalu, kenapa Uda tidak mengatakan sejujurnya pada Neera mungkin Neera bisa mengerti. Apa Uda tidak percaya pada Neera ?" tanya Neera mengungkapkan isi hatinya.


"Tidak sayang, sungguh bukan itu maksud Uda. Uda tidak ingin hal kecil ini akan menyakiti hati Neera. Uda tidak ingin Neera merasa terabaikan" ujar Ayyub dengan memancarkan kujujuran dari hatinya.


"Bukankah dulu sudah pernah Neera katakan bahwa 'hal kecil atau hal yang tidak penting' bagi kita bisa menjadi hal yang besar bagi orang lain untuk menghancurkan kita" ingat Neera pada suaminya.


"Iya sayang, Uda akan mengingat semua yang kamu katakan" sesal Ayyub dan menanamkan perkataan Neera pada dirinya.


"Lalu bagaimana kelanjutan hubungan Uda dan Hanna ?" sindir Neera dengan candaanya.


"Kelanjutan apanya, malah sudah diputuskan sampai tuntas ke akar-akarnya" ujar Ayyub dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Tumben, kok bisa ?" tanya Neera dengan nada kurang yakin.


"Ya bisalah, dengan sedikit ancaman dan dia sendiri yang memutuskan untuk mengakhirinya" bangga Ayyub.


"Ancaman ? Bagaimana bisa ?" bingung Neera.


"Hehe maaf sayang, sebenarnya Uda sedikit menyusahkan asistenmu dan mengorek informasi darinya" cengir Ayyub menampakkan jejeran gigi putihnya.


"Dasar ! Jadi Uda sudah tau semua hal mengenai dia ?" tanya Neera.


"Iya, sudah lah jangan bahas dia lagi. Kita bahas perihal mengenai kita saja" kesal Ayyub yang terus ditanyai Neera hal yang tidak penting menurutnya.


"Iya, iya. Terus apa lagi yang akan Uda sampaikan ?" tanya Neera kembali pada topik awal mereka.


"Sepertinya kita harus pulang secepat mungkin" kata Ayyub yang berubah sendu.


"Memang sih Neera sudah merencanakan akan pulang tapi kenapa harus secepatnya" tanya Neera bingung.


"Terjadi keributan di rumah dan Papa serta Abang baru saja mengetahui perlakuan mama, saudari serta ipar Uda padamu jadinya Papa syok dan keadaannya sedang tidak baik sekarang" ungkap Ayyub pada Neera.


"Innalillah.., kenapa bisa sampai separah itu ?" heran Neera.


"Papa terus menyalahkan dirinya atas perbuatan mereka padamu. Beliau juga merasa sangat bersalah pada keluarga Neera sehingga Abang meminta Uda mencari Neera agar mereka bisa meminta maaf secara langsung dihadapan kamu sayang" jelas Ayyub sembari merapikan rambut Neera yang terurai dan membawanya kebelakang telinga wanita cantik itu

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita pulang. Neera tidak mau jika kondisi Papa drop dan menjadi sakit" ujar Neera menyetujui permintaan suaminya.


"Tapi ada satu hal juga yang harus Neera sampaikan pada Uda" ucap Neera menggantung.


__ADS_2