
"Apaan sih Uda ?" tanya Neera
"Cium kamulah sayang" ucap Ayyub.
"Inikan tempat umum Uda, malu ah"
"Habisnya bibir kamu menggoda sih, gemes tau"
Setelah puas menggoda Neera mereka berjalan beriringan kebawah ember besar tersebut.
Neera menggendong dua baby boy sementara Ayyub memeluk Qalundra dan tubuh Neera secara bersamaan alhasil mereka semua berada dalam dekapan tubuh kekar Ayyub.
Perlahan terompet terdengar dan semuanya mulai berhitung dan byurrrrrr semua orang berteriak mengikuti guyuran air yang kuat.
Beberapa menit kemudian setelah air mulai berhenti Ayyub membawa mereka semua ke luar kolam.
Kali ini Qalundra sangat syok dan akhirnya hanya diam saja karena terkejut. Saat kedua saudaranya ingin masuk kembali Qal malah menolak dan memeluk erat leher sang ayah.
Melihat itu Neera membiarkan mereka istirahat dipinggir kolam sembari berenang sementara Neera dan kedua baby boy larut dalam ketegangan guyuran air besar.
Puas dengan satu tempat mereka pindah ke tempat lainnya hingga akhirnya meraka dibawa berenang menggunakan pelampung berupa kereta yang berbentuk bulat dan dikaitkan satu dan yang lain oleh Ayyub sehingga menjadi saling terhubung.
Melihat mata triplets yang mulai memerah dan kulit yang sudah mulai pasi Neera mengajak mereka semua naik meskipun dengan rengekan yang tiada henti.
Neera telah menyiapkan makanan mereka di bawah pohon rindang dengan karpet. Tentu saja mereka segera berlarian karena sudah lapar bermain air seharian.
Pertama Neera memberikan air hangat dicampur madu. Setelahnya mereka memakan bekal yang sudah dibawa dari rumah.
Ini adalah piknik pertama mereka sebagai keluarga. Terasa haru bercampur bahagia melihat keluarga mereka terasa lengkap dan hangat.
"Ayah mau makan apa yah ?" tanya Neera pada Ayyub.
"Ayah spagetti aja bunda, sama dagingnya"
"Anak-anak bunda mau apa sayang ?"
"Spagetti juga bunda, tomato sama daging yang banyak"
"Baik sayang, sebentar ya bunda ambilkan ayah dulu"
Setelah semuanya terbagi mereka berdo'a sebelum akhirnya menyantap makan siang yang sekarang terasa lebih nikmat.
Selesai dengan makanan penutup triplets meminta main lagi. Setelah tidak berhasil membujuk mereka diizinkan bermain kembali tapi hanya sebentar.
Tanpa basa basi ketiganya sudah kabur kearah kolam dengan wahana anak-anak. Dari belakang Ayyub hanya mengikuti dan memperhatikan mereka. Sementara Neera sibuj mengemas kembali bekal dan tikar yang mereka digunakan.
"Terima kasih Ya Tuhan, Engkau telah memberikan kesempatan bagi anak-anakku untuk mengenal dan merasakan kasih sayang ayahnya, semoga akan ada jalan keluar untuk permasalahan yang tengah kami hadapi dan semoga mereka akan selalu mendapatkan kasih sayang ayahnya" batin Neera sembari memperhatikan kedekatan antara ayah dan anak itu.
Sebenarnya Ayyub sudah kewalahan mengikuti gerakan ketiga anaknya tetapi karena ia akan terbang esok subuh maka ia bertekad untuk memberikan kesan indah pada mereka dan menuruti keinginan triplets.
Meskipun lelah ia akan tetap bertahan karena melihat senyum dan tawa mereka menjadi semangat tersendiri bagi pilot ganteng itu.
"Hi, boleh kenalan ?" tiba-tiba dua orang wanita dengan bikini mendekati Ayyub dan mengulurkan tangannya.
Mendapati hal tersebut Ayyub melihat kearah Neera dan mendapati istrinya itu tengah melihat kearahnya sembari tersenyum manis.
__ADS_1
Seketika keringat dingin mulai mengalir didahinya, beruntung saat ini ia sedang berada di kolam.
Beberapa detik kemudian ia melihat lagi kearah istrinya, namun kini Neera tidak ada lagi disana dengan sedikit panik Ayyub mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya.
"Hai, aku sedang berbicara denganmu. Kenalkan saya Cathrine" ulang wanita itu lebih genit.
"Maaf, aku sedang mengawasi anakku" tolak Ayyub secara halus.
"Oh, sudah punya anak ternyata. Sayang sekali" ucap perempuan itu sembari melihat nakal tubuh Ayyub.
Tanpa merespon mereka Ayyub segera berjalan menuju triplets yang tengah asik bermain. Tentu saja ia khawatir kemana Neera nya pergi namun ia juga tidak boleh meninggalkan triplets yang sedang bermain air tanpa diawasi.
"Loh sayang, kamu disini yang ?" kaget Ayyub mendapati Neera tengah memegang tangan Qaivan yang hampir jatuh.
"Ngawasin anak-anak dong, kan tadi Uda lagi kenalan" balas Neera santai.
"Yang, kamu gak cemburu gitu ?" tanya Ayyub memastikan.
"Enggak tuh, biasa aja" jawab Neera santai.
"Beneran yang ?" kaget Ayyub.
"Hm" balas Neera.
"Yah..., tau gitu tadi Uda beneran kenalan deh jadi mub.." kalimat Ayyub terputus saat mendapati pelototan tajam dari istrinya yang kini tengah mendelik kembali.
"Ya Allah yang, seram banget sih" ungkap Ayyub sembari menautkan dua lengannya.
"Ya habisnya mau cari masalah sih, yang ada aja gak terselesaikan mau nambah lagi" ungkap Neera kesal.
"Uda, gak tau tempat banget sih, banyak tuh orang, gak malu nanti diliatin" protes Neera.
"Yah ngapain malu yang, sama istri sendiri ini. Lagian disinimah bebas sayang, masa kamu udah lama tinggal disini masih malu juga" jawab Ayyub makin mengeratkan pelukannya.
"Iya gak gitu juga yang" Neera yang malu masih berusaha protes.
"Gakpapa kali yang, Uda cium disini juga gak masalah. Mau nih Uda praktekin nih yang ?" tanya Ayyub yang mulai mendekatkan mukanya.
Segera Neera mendorong wajah Ayyub dengan telapak tangannya membuat tawa suaminya pecah akibat berhasil mengerjainya.
"Uda ini gak ada malunya deh. Biar aja orang begitu asal bukan kita" ucap Neera.
"Yaudah, tapi peluknya tetap ya nanti malah
disangka single lagi, kalo ada kamu kan aman yang" ucap Ayyub sembari membawa tubuh Neera kedan tubuh menjulangnya.
"Sayang, kalo kayak gini Uda seperti bawa anak tau gak" kekeh Neera yang sudah terbenam dalam tubuh kekar suaminya.
"Kamu kan anak aku yang pertama yang, harus dimanja juga" balas Ayyub sembari menciumi puncak kepala Neera.
"Kalau gitu gendong juga dong Uda" rengek Neera.
"Kamu dicium protes sekarang malah minta gendong"
"Gapapa, kan sekali-kali doang Uda"
__ADS_1
Tanpa aba-aba Ayyub segera mengangkat tubuh mungil istrinya seperti bayi koala. Sama sekali bukan beban baginya.
"Uda, turunin lagi dong. Gak enak banyak yang lihatin" keluh Neera.
"Gak mau, enak aja. Kalau mau cium dulu" tolak Ayyub yang kini mendekap erat tubuh istrinya.
"Uda ayo dong, Neera udah malu nih" ucap Neera dengan mukanya yang sudah memerah sempurna.
Melihat ayahnya yang sedang menggendong sang bunda triplets segera berlari kesana lalu merentngkan tangan mungilnya.
Dengan sekali gerakan Ayyub memindahkan Neera ke punggungnya dan mengangkat triplets sekaligus di depan.
Sungguh pemandangan yang menarik perhatian banyak orang. Seorang pria atletis dengan tinggi badan yang menjulang dan otot yang kekar tengah mengangkat empat orang sekaligus.
Neera sebenarnya ingin turun, tetapi mengingat tubuh tinggi suaminya berbanding jauh dengan dirinya terasa tinggi hingga ke tanah akhirnya memilih diam dan mengeratkan pegangan pada bahu Ayyub agr tidak terjatuh.
Setelah sampai di tempat barang mereka berada Ayyub menurunkan keempatnya dan mengecup masing-masing kepalanya.
Akhirnya Neera membawa mereka ke toilet untuk dimandikan dan kemudian diganti dengan pakaian bersih.
Begitu Neera telah selesai dengan triplets Ayyub juga sudah keluar dari toilet pria.
"Uda, jaga anak-anak sebentar ya. Neera mau bilas dulu" pinta Neera pada Ayyub.
"Iya sayang, kami tunggu di dekat pintu keluar aja ya, takutnya anak-anak masuk lagi ke kolam" balas Ayyub.
Neera hanya mengangguk dan berlalu kedalam toilet untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Akhirnya mereka pulang dengan perasaan puas bahagia senyum yang melekat dibibir.
Ditengah perjalanan tidak lagi terdengar suara triplets yang asik berceloteh mengenai kegiatan mereka.
Ketika Neera melihat kebelakang ternyata ketiganya telah terlelap dengan napas yang tenang dan wajah yang damai.
"Udah pada tidur yang ?"
"Iya, mungkin udah terlalu lelah seharian bermain"
"Hmmm, sayang sekali Uda harus berangkat besok pagi" ungkap Ayyub.
"Gapapa sayang, kan Uda bisa face time, bisa telpon mereka kalo kangen" semangat Neera.
"Iya, tapikan gak bisa full cintaku"
"Eh, alay banget ah bahasanya" ejek Neera.
"Ya gapapa, emang kamu cintanya Uda"
"Haha, iyadeh"
"Sayang, tapi Neera janji ya terus kabari Uda apapun yang terjadi. Angkat telpon Uda, jangan kayak dulu lagi" pinta Ayyub sembari membawa tangan Neera untuk dikecupnya.
"Iya Uda, Insyaallah" jawab Neera yang menatap suaminya penuh arti.
Sepanjang jalan pulang Ayyub terus berkeluh kesah sementara Neera terus menyemangatinya dan memberikan dukungan.
__ADS_1