Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 203


__ADS_3

Selesai menyantap makan siang yang nikmat beserta makanan penutupnya keluarga besar Kaisar dibawa duduk di ruang keluarga. Sementara para asisten telah membawa barang mereka ke kamar tamu yang sudah disiapkan.


Rencananya mereka akan menginap barang tiga hari sekalian liburan dan menikmati destinasi wisata alam di kampung halaman Neera.


Saat semua telah berkumpul mulailah pembicaraan serius diantara dua keluarga itu. Apa yang sebenarnya juga sedikit terkejut akan kedatangan keluarga besannya berusaha untuk mendengarkan apa maksud dari kunjungan kali ini.


"Sebelumnya kami mohon maaf atas kunjungan mendadak ini Bapak Eddy, selaku kepala keluarga saya juga mengucapkan terima kasih atas sambutan yang hangat juga jamuan yang luar biasa" buka Papa yang membenarkan posisi duduknya.


"Tentu saja Bapak Kaisar, kami justru yang minta maaf karena menjamu seadanya. Tidak masalah sama sekali, malahan kami sangat senang kedatangan tamu apalagi besan ke rumah sederhana kami" sambut Apa.


"Ah, Bapak Eddy selalu merendah. Wong rumahnya besar dan bagus begini. Nyaman lagi" canda Papa yang berhasil mencairkan suasana.


"Jadi begini Bapak Ed, kedatangan kami selain tentunya bersilaturrahmi terutamanya kami ingin sekali meminta maaf tulus dari hati atas sikap, perkataan dan perlakuan kami terutama keluarga saya kepada Neera dan keluarga selama ini.


Meskipun sejatinya saya tau sendiri bahwa Neera adalah anak yang sama sekali kuat, Masya Allah juga berakhlak baik, saya yakin sama sekali dia tidak pernah mengadu. Tapi kenyataannya itulah yang terjadi selama ini.


Secara fisik, mental apalagi hati Neera sudah sangat menderita selama hidup berumah tangga dengan anak kami Ayyub, hingga kasus dahulu terjadi yang menyebabkan Neera harus menyeberangi benua demi kelangsungan hidupnya dan cucu-cucu kita.


Terus terang sebagai kepala keluarga saya sangat malu. Rasanya saya gagal menjadi ayah mereka. Kami sudah mengambil anak perempuan di keluarga ini, bukannya menjaga tetapi malah menyiksa.

__ADS_1


Untuk itu, dengan kerendahan hati saya memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Neera juga pada keluarga ini. Terlebih pada Tuan dan Nyonya Ed sebagai orang tua yang sejatinya telah membesarkan Neera.


Meskipun nyatanya perlakuan kami sudah sangat kelewatan dan mungkin tak akan cukup dengan kata maaf tetapi kami tetap ingin menyampaikan dan memohon maaf pada Bapak dan keluarga" sesal Papa yang dibarengi oleh tatapan putus asa sementara Mama sudah kembali menitikkan air matanya.


"Bapak Kaisar, sebelumnya terima kasih karena sudah ada iktikad baik untuk datang menyampaikan permintaan maaf ini. Sebenarnya saya sebagai ayah tentu saja sakit saat melihat seorang anak yang kita kasihi sedari lahir begitu terluka terlebih ibunya. Akantetapi manusia adalah tempatnya khilaf, Allah saja Maha Pengampun dan Maha Pemaaf apalagi kita sebagai makhluk.


Semua yang terjadi di masa lalu biarlah menjadi pelajaran untuk masa mendatang. Mungkin itulah cobaan untuk rumah tangga mereka terlebih khususnya untuk anak kami Neera. Dengan kejadian ini saya yakin banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil.


Jika bukan karena hal itu Neera tidak akan seperti sekarang. Bisa jadi rumah tangga anak kita tidak akan sekuat saat ini. Kami yakin sekali akan hal itu. Mari kita bersama memperbaiki kesalahan dan memperkuat kembali tali silaturrahmi kita Pak, Buk" ujar Apa yang mampu menenangkan hati kedua orang tua Ayyub dan Ayyub sendiri.


"Alhamdulillah, terima kasih Pak dan Ibu atas kemurahan hati Bapak dan keluarga. Kami sangat bersyukur sekali dengan kehadiran Neera ditengah keluarga kami. Kehadiran Neera dan triplets menjadi penyejuk dan pengobat dikala keluarga besar kami menghadapi cobaan yang bertubi-tubi.


"Innalillahi..., Qadarullah Bu, jangan berpikiran seperti itu. Kita anggap saja cobaan dan inilah cara Allah dalam mendidik dan menjaga kita dari hal-hal buruk. Kami turut berduka atas semua peristiwa yang telah terjadi di keluarga Ibu dan Bapak. Tetapi jujur saja kami baru mengetahui ini sekarang karena beberapa hari belakangan kami jarang sekali menonton televisi. Selalu sabar dan berdo'a ya Bu. Kita harus yakin semua akan membaik karena kita punya Allah yang selalu mengasihi hambaNya" ujar Ama yang masih terus mengusap lembut punggung Mama yang perlahan mulai tenang.


"Kalau begitu lebih baik sekarang Bapak dan Ibu Kaisar beserta Nak Luthfi beristirahat karena perjalanan yang panjang nanti. Lain waktu kita sambung lagi obrolan ini. Semoga keluarga Bapak dan Ibu betah disini dan menikmati udara kampung" ujar Apa yang sudah memahami keadaan Tuan dan Nyonya Kaisar yang sudah letih.


"Kakak, antar Papa dan Mama mu ke kamar ya kak sekalian sama adik iparmu" pesan Apa yang diangguki Neera.


Lantas mereka berjalan menuju kamar tamu yang sudah disiapkan akantetapi Luthfi memilih untuk keluar kehalaman untuk menikmati kebun buah yang dibuat serapi dan seindah mungkin sehingga memungkinkan untuk dipetik tanpa menggunakan alat.

__ADS_1


Apa yang melihat Luthfi duduk sendiri di bangku taman ikut bergabung sembari menemani anak muda itu ngobrol ngalor ngidul apapun mereka bicarakan.


"Ternyata Apa itu asik sekali ya, Papa gaul tahu perkembangan anak muda hehe" ujar Luthfi yang sedari tadi bersambut kata dengan Apa.


"Oh ya mesti dong, harus update selalu biar tidak ketinggalan" canda Apa yang disambut tawa mereka berdua.


"Pa, Upi boleh tidak main ke kandang sapi Apa atau kesawah itu ?" tanya Luthfi yang sungguh penasaran.


"Loh ya boleh, tapi apa Upi tidak capek sehabis perjalan jauh ?" tanya Apa memastikan.


"Tidak sama sekali Pa, Upi itu sebenarnya penasaran sekali melihat peternakan sapi Apa dan juga ingin mencoba berjalan di sawah" antusias Luthfi pada mertua kakaknya yang kini terasa seperti ayahnya sendiri karena ternyata orang tua Neera sangat welcome padanya.


Akhirnya mereka pergi berkeliling menggunakan mobil jeep yang terbuka bersama triplets juga karena ketiga anak itu merenggek ikut saat mendengar bunyi mobil yang dikendarai oleh Atuknya.


Alhasil jadilah mereka nimbrung sementara Ama dan Neera membersihkan rumah dan mencuci piring. Sedangkan Ayyub mulai menurunkan barang bersama supir dan asisten mereka.


Hari ini terasa begitu membahagiakan bagi orang tua Neera. Anak yang sudah mereka tunggu kepulangannya beberapa tahun belakangan akhirnya kembali membawa serta cucu yang tampan dan juga cantik.


Tidak ada lagi rasanya yang diinginkan selain memeluk dan mencium anak dan cucu yang sudah sangat mereka rindukan.

__ADS_1


__ADS_2