Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 127


__ADS_3

Kamar dengan nuansa klasik itu masih terlihat tenang menyaksikan sepasang pasutri yang masih berusaha meluruskan permasalah rumah tangga mereka diatas kasur empuk itu.


"Apa itu sayang" tanya Ayyub penasaran.


"Neera rencananya mau berangkat haji tahun ini bareng seluruh keluarga. Jadi Neera mau izin sama Uda, Neera juga mau bawa triplets sekalian dan kalau bisa Uda juga ikut ya..." pinta Neera dengan wajah memelasnya.


"Anything for you sayang, apalagi ini untuk hal ibadah. Uda tidak ada hak untuk melarang. Tapi berapa lama kita disana ?" tanya Ayyub.


"Hmm Neera rencananya sebulan penuh Uda, biar kita tidak terburu-buru umrahnya sekalian jalan-jalan di negerinya Rasul" ujar Neera menjelaskan rencananya.


"Uda tidak ada masalah sayang, siapa saja yang pergi nanti ?" tanya Ayyub kembali.


"Kita, Apa, Ama, Adek, Uni dan keluarganya terus satu lagi Nenek" jawab Neera antusias.


"Baiklah kalau begitu, terus Neera sudah pesan ke bagian travelnya atau melalui pemerintah soalnya kan biasanya lama nunggunya" tanya Ayyub.


"Sudah sih tapi belum ada kepastian, gimana bagusnya ya Uda. Tinggal dua bulan lagi padahal" keluh Neera.


"Gimana kalau pakai travel Uda aja, disana juga menyediakan haji dan umrah kok. Sebenarnya mandiri juga bisa nanti kita tinggal minta tolong lembaga disana untuk menuntun kita melaksanakan ibadah haji dan umrahnya" saran Ayyub.


"Bagusnya gimana ya Uda, apa kita tidak harus melapor dan mengurus dokumen tertentu ke pemerintah di tanah air" tanya Neera.


" Sebenarnya tidak perlu, tapi nanti untuk berjaga-jaga Uda akan urus waktu kita pulang. Tapi kamu dan triplets memang masih diakui di negara kita" ledek Ayyub pada istrinya.


"Ish sembarangan, ya masihlah. Rugi sekali negara kehilangan Neera yang cantik begini" narsis Neera dengan candanya.


"Ciee yang cantikk" goda Ayyub.


"Udah ah, back to the topic" kesal Neera pada suaminya.


"Iya, iya galak banget sih" goda Ayyub lagi.


"Eh tapi nanti biayanya Uda kasih tau Neera ya ?" pinta Neera pada suaminya.


"Untuk apa, kamu gak mungkin kasih ke Apa dan Ama kan ?" tanya Ayyub sangsi.


"Ya enggaklah Uda, Neera mau bayar sendiri" ungkap Neera.

__ADS_1


"Untuk apa kamu bayar ?" tanya Ayyub.


"Ya harus lah Uda, masa gak dibayar. Rugi dong" ujar Neera.


"Sayang, Neera taukan kalo itu perusahaan Uda, punya kamu juga sayang" kesal Ayyub.


"Iya tapi Neera tetap harus bayar karena jauh sebelumnya Neera sudah berjanji pada diri Neera sendiri" jelas Neera pada Ayyub.


"Neera kan bisa bayar nya pakai yang lain" kerling Ayyub dengan senyum mesumnya.


"Tidak mau, pokoknya kali ini harus Neera yang bayar. Neera harus menjalankan niat yang sudah lama Neera tanamkan" tegas Neera pada suaminya.


"Baiklah, tapi 50% atau tidak sama sekali" tegas Ayyub yang akhirnya mau tak mau disetujui Neera.


"Huh, tadi saja mewek-mewek kayak bocah. Jangan tinggalin Uda sayang, jangan tinggalin Uda sayang. Sekarang arogansinya naik lagi. Ngeselin banget sih" sungut Neera sembari menirukan suaminya dengan cibiran.


"Kamu bilang apa sayang, Uda dengan lo" ucap Ayyub menjawil hidung istrinya.


"Ish sakit ih, kesel tau ga" rungut Neera yang terlihat lucu.


"Tadi dan sekarang dua hal yang berbeda sayang. Uda memang takut sekali Neera pergi meninggalkan Uda. Tapi untuk hal ini Uda berkewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginan istri Uda" jelas Ayyub memberi pengertian pada istrinya yang masih terlihat tidak puas.


"Iya sayangku, Uda akan berusaha untuk lebih jujur dan terbuka dengan Neera apapun itu dan Uda harap Neera juga bisa melakukan hal yang sama dan jangan hilang tanpa kabar lagi" ujar Ayyub yang mengusap lembut kepala istrinya.


"Satu sama, Uda juga kok. Beberapa kali Neera hubungi juga tidak bisa. Triplets sampai sakit saking kangennya sama ayah mereka" cerita Neera pada Ayyub.


"Beneran sayang, terus gimana keadaan mereka sekarang" cemas Ayyub.


"Sekarang sudah lebih baik sejak Neera buatkan playgroud di halaman samping" jelas Neera.


"Syukurlah.." lega Ayyub.


"Iya syukurlah, sepertinya mereka sudah lupa sama ayahnya. Jarang pulang sih kayak bang toyib jangan bingung aja jika besok-besok mereka panggilnya uncle" canda Neera yang mendapat pitingan suaminya.


"Enak aja" kesal Ayyub yang langsung menciumi muka istrinya yang tengah dipiting di ketiaknya.


Berkali-kali Neera meronta, memukuli dan menendang apapun yang bisa ia capai hingga terjadi pergulatan dikamar itu. Kasur yang awalnya terlihat rapi menjadi berhamburan seperti kapal pecah.

__ADS_1


Rambut keduanya sudah acak-acakan akibat adegan tarik menarik, piting memiting dan pukul memukul yang tak seorangpun mau mengalah.


Bahkan berkali-kali Neera diangkat dengan mudahnya oleh Ayyub, diputar diudara hingga mendarat di kasur empuk mereka.


Tidak mau kalah Neera bahkan melakukan gerakan bela diri yang dipelajarinya menjepit leher Ayyub yang berakhir dengan kekalahan dirinya sendiri.


"Udah, udah, capek. Neera kalah oke ampun" pasrah Neera yang tidak sanggup lagi melawan raksasa itu.


"Haha akhirnya bisa juga kamu kalah dari Uda, jelas lah sayang, Uda kan selalu jadi juara" bangga Ayyub sedikit pongah.


"Ish, Dasar Hulk" rutuk Neera yang masih terdengar jelas ditelinga Ayyub.


"Apa kamu bilang, hah ? hmm ?" ujar Ayyub sembari menangkap tubuh Neera dan menggelitikinya.


"Ah ampun, ampun.. iya iya ampun. Udah Ayyub" kesal Neera pada suaminya yang tidak kunjung berhenti.


"Kamu panggil apa tadi hm ?" ucap Ayyub yang semakin menjadi menggelitiki Neera.


"Iya, iya ampun ih" mohon Neera yang sudah kehabisan napas.


Ayyub menghentikan aksinya melihat Neera yang sudah kewalahan. Namun sialnya posisi mereka saat ini sangat tidak menguntungkan.


Neera berada dibawah kungkungan Ayyub dengan dada yang naik turun. Bahkan atasan Neera sudah tertarik keatas menampakkan perut mulusnya.


Ada sesuatu yang terbangun dari diri Ayyub yang membuatnya tidak sanggup lagi bertahan. Sudah lebih dari sebulan ia berpuasa menahan diri. Iya juga merindukan sentuhan istrinya.


"Sayang, bolehkah ?" tanya Ayyub yang sudah serak saat mata keduanya beradu pandang dan saling menyelami.


"Hm, tapi berdo'a dulu" izin Neera sembari mengingatkan suaminya.


Masih dengan tatapan yang terhubung Ayyub mengangkat satu tangannya dan meletakkan diatas kepala Neera. Satu tangannya menengadah dan membaca do'a sebelum mereka memulai ritual sucinya.


Setelahnya Ayyub meniup pelan ubun-ubun istrinya dan menciumnya lama. Ciuman itu turun ke dahi, mata, pipi, hidung, dagu dan terakhir mendarat di bibir Neera.


Rasa yang sama yang dirindukannya, bahkan sekarang lebih manis. Apa karena sudah lama tidak tersentuh.


Perlahan namun pasti penyatuan yang didukung rasa rindu mereka terjadi dan membawa mereka pada puncak tertinggi.

__ADS_1


Usai sudah semua masalah dan beban hati dengan meleburkannya bersama kenikmatan. Saling menghangatkan dan saling memanjakan sehingga hubungan akan semakin terjaga dan kembali mesra.


__ADS_2