Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
Menuju Kerajaan Part 4


__ADS_3

*Gonngg... Goonng... Gonngg...* Suara gongpun berbunyi 3 kali yang menandakan bahwa perlombaan dimulai.


"Dua puluh..!"Teriak Panitia.


Dengan sigap Baccara langsung mengeluarkan anak panahnya satu persatu.


*Spllassh.... Splasshhh... Splashh...* Suara tembakan anak panah Baccara.


Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja, dia mampu menancapkan anak panahnya tepat di pusat sasaran. Hal ini membuat semua orang yang melihatnya hanya melongo keheranan. Tidak di sangka, sasaran serumit itu mampu dia takhlukan dengan sangat mudah dan cepat. Tak terkecuali Shata yang tertegun melihat aksi Baccara. Shata hanya diam memandangi Baccara yang kini berdiri mematung.


Suara sorak penontonpun kini mulai terdengar. Baccara menunjukkan aksinya kembali dengan memanah pusat sasaran itu lagi hingga anak panah yang sebelumnya menancap di pusat sasaran kini terbelah menjadi dua. Hal ini sontak membuat para penonton semakin riuh meneriaki Baccara. Begitupula dengan ratu yang tampak tersenyum melihat aksi Baccara. Disisi lain, Shata dan kedua peserta lainnya hanya bisa terdiam melihat aksi yang telah ditunjukkan oleh Baccara.


"Sembilan belas...!" Teriak panitia yang menandakan bahwa kini giliran Shata.


*Splashhh... Splasshh... Splashhh* suara tembakan anak panah Shata.


Shata tidak ingin terlihat lebih lemah dari Baccara. Akan tetapi, berdasarkan hasil pengetukan waktu juri. Baccara lebih cepat daripada Shata. Yang paling membuat terkejut adalah salah satu anak panah Shata meleset dari pusat sasaran. Hal ini terjadi karena Shata yang sudah tidak dapat fokus memanah lagi akibat aksi Baccara sebelumnya. Ini membuatnya sangat kecewa, begitupula para penonton yang sedari awal telah menyanjung namanya.


"Seperti itu saja tidak becus" Ejek Baccara kepada Shata.


Shatapun hanya terdiam dan mengamati gerak gerik Baccara. Sepertinya Baccara benar-benar berhasil membuat Shata Sang Mata Panah penasaran terhadap dirinya.


Perlombaanpun di lanjutkan, peserta nomor enam dan delapanpun juga tidak dapat memanah tepat di pusat sasaran. Sama halnya seperti Shata, mereka juga telah gugup dan tidak dapat fokus memanah akibat aksi dari Baccara.


Hal ini membuat juri mudah untuk menentukan pemenangnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, salah satu panitia langsung memanggil Baccara.


"Dengan ini saya umumkan bahwa pemenang dari perlombaan memanah ini adalah Baaacccaaarrraaa" Teriak panitia sembari memberikan isyarat kepada Baccara untuk mendekat dan menerima mendali. Suasana disekitar arena pun sangat ramai, banyak orang yang menyoraki nama Baccara dan tidak sedikit yang membicarakan kekalahan Sang Mata Panah.


"Selamat Baccara, kamu memang hebat" Ucap Shata kepada Baccara.


"Tentu saja, bukankah aku sudah bilang bahwa akulah yang akan memenangkan perlombaan kali ini" Jawab Baccara yang kemudian meninggalkan Shata dan mengikuti panitia perlombaan untuk mengambil hadiah yang telah di janjikan.


Sesampainya di ruang panitia

__ADS_1


.....


"Baccara ini hadiah 100 jutamu dan ini adalah kertas penobatanmu sebagai bagian dari pasukan khusus keamanan kerajaan. Dua hari lagi akan di adakan upacara pengangkatan, jadi untuk saat ini kamu akan tinggal di kerajaan. Nanti akan ada pengawal kerajaan yang akan membantumu mengemasi barang-barang dan berpamitan pada keluargamu. Untuk itu, bubuhkan cap jarimu disini" Ucap panitia sembari memberikan kertas dan menunjukkan letak pembubuhan cap jari.


"Baiklah, terima kasih. Tapi, apakah tidak boleh jika aku pulang sendirian? Aku berjanji akan segera kembali" Ucap Baccara.


"Tidak bisa, ini merupakan prosedur dari kerajaan yang harus dipatuhi. Akan ada beberapa pengawal yang ikut dengamu" Jawab panitia.


"Hmm... Baiklah, bisa aku pulang sekarang?" Tanya Baccara.


"Ya, tentu. Para pengawal yang akan mendampingimu sudah berada di depan ruangan" Jawab panitia.


Baccarapun hanya mengangguk dan bergegas segera keluar. Dalam batinnya dia sangat kesal karena tidak diberikan izin untuk pulang sendiri, padahal dia sebenarnya juga enggan menjadi bagian dari pasukan khusus keamanan kerajaan dan berniat untuk melarikan diri.


"Mari saya antar menuju kudamu" Ucap seorang pengawal kepada Baccara.


"Kudaku? Apakah aku mendapatkan seekor kuda?"Tanya Baccara dengan kegirangan.


"Tentu saja aku bisa, bahkan aku bisa berlari melebihi kekuatan berlarinya kuda ini" Jawab Baccara.


Sang pengawalpun hanya tersenyum mendengar jawaban dari Baccara. Semua pengawal memberikan pujian kepadanya, terlebih lagi karena dia seorang perempuan. Selama ini belum pernah ada pasukan khusus keamanan kerajaan yang berjenis kelamin perempuan. Hanya Baccaralah satu-satunya anggota pasukan khusus keamanan kerajaan yang berjenis kelamin perempuan.


Disisi lain, Tara menemui Shata sahabatnya yang terlihat sangat lesu. Ini adalah kali pertamanya kalah dalam perlombaan memanah. Tara langsung mengajak Shata menuju kuil untuk menemui ayahnya. Sepanjang jalan dia mendengar orang-orang bergosip tentang dirinya. Orang-orang itu membicarakan kekalahannya dan kini menyanjung nama Baccara.


"Sudah tidak usah di hiraukan, kamu tetaplah Sang Mata Panah" Hibur Tara.


"Sang Mata Panah yang kalah dari seorang wanita? Memalukan" Jawab Shata dengan kesal.


"Sudah... Sudah... Saat ini kamu fokus ke ayahmu saja. Berdoalah semoga beliau mau menemuimu" Jawab Tara sembari menyodorkan roti yang di bawanya.


"Semoga saja dia mau menemuiku" Jawab Shata sembari mengambil roti yang diberikan oleh Tara.


Mereka berduapun bergegas menuju kuil ayah Shata yang jaraknya tidak jauh dari tempat perlombaan. Dibalik kekesalannya, Shata masih menyimpan rasa penasaran yang teramat besar kepada sosok wanita bernama "Baccara" tersebut.

__ADS_1


Ditengah perjalanan, Shata dan Tara melihat ada seorang wanita yang tidak asing baginya. Wanita itu sedang melihat-lihat aksesoris di lapak seorang wanita tua. Mereka berduapun mendekat dan benar saja ternyata wanita itu adalah Alysa.


"Cantik sekali cincin ini" Ucap Alysa.


"Ya, sangat cocok untukmu" Jawab wanita tua sambil tersenyum.


"Haii.. Alysa. Kamu ada disini?" Sapa Shata.


"Eh.. Shata dan Tara. Aku dengar kamu kalah dalam pertandingan" Jawab Alysa.


"Dia bukan kalah, hanya saja mengalah" Sahut Tara sambil tersenyum.


"Hahaha.. Jika kalah ya sudah akui saja" Jawab Alysa.


Shatapun hanya tersenyum.


"Nak, kalian berdua sebaiknya segera pergi dari sini, bukan maksud ingin mengusirmu tapi akan terjadi hal buruk jika kamu berlama-lama disini. Ini ambil gelang ini, anggap hadiah dariku" Ucap penjual tua sembari menunjuk pada Shata dan Tara serta memberikan gelang kepada Shata.


"Ha? Hal buruk apa nek?" Tanya Shata.


"Apa maksud nenek?" Tanya Tara.


"Sudahlah kalian pergilah" Jawab Penjual itu.


Mereka berduapun berpamitan pada penjual wanita tua itu dan Alysa. Mereka berdua bingung dan heran, serta Alysa yang hanya diam saja, seolah olah mengerti maksud dari penjual wanita tua tersebut.


"Sebaiknya kamu tidak usah melibatkan mereka" Ucap penjual wanita tua.


"Melibatkan apa nek? Mereka berdua adalah temanku. Aku tidak mengerti apa maksud nenek" Jawab Alysa.


Merasa tidak enak hati dengan ucapan penjual tersebut, Alysa pun pergi meninggalkan penjual wanita tua itu dan tidak jadi membeli cincin yang dia sukai sebelumnya.


"Dasar nenek-nenek aneh" Batin Alysa.

__ADS_1


__ADS_2