Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 179


__ADS_3

Saat memasuki ruangan tahanan Fazreen semakin bingung karena hampir semua staff ahlinya berada di ruangan itu dengan wajah tertunduk dan lusuh.


Status mereka sebagai tahanan kejaksaan hingga sidang pengadilan nanti membuat mereka harus menunggu hari-hari terakhir kebebasan mereka disini.


Beribu penyesalan mereka bersarang di hati mereka, ya semua mereka lakukan karena tergiur dengan tawaran yang fantastis. Tipikal yang tidak sabaran, atau bisa dibilang rakus. Semua butuh proses, tidak ada yang instan.


Selain dari bagian keuangan beberapa direktur dan staff bagian lainnya juga terjaring kasus yang sama. Memang Tuan Kaisar dan Ayyub juga telah menargetkan mereka sebelumnya karena meskipun cara mereka tidak sehalus bidang keuangan dan tidak sebanyak mereka namun itu cukup merugikan perusahaan.


Baru saja mereka sampai Kiki meminta pisah ruangan dari suaminya yang membuat Fazreen semakin bingung.


Dengan tergesa, wanita itu berjalan menuju ruangan lain tanpa melihat suaminya. Bahkan mukanya kini sudah judes, tidak ada lagi wajah polos dan manja itu.


'Mungkin dia juga sedang stress, salahkan diriku sendiri yang tidak bisa melindunginya sebagai suami. Apa yang sebenarnya terjadi ?' batin Fazreen melihat perubahan sikap istrinya.


Sampai di ruangan baru, Kiki meminta izin untuk menggunakan telepon pada petugas yang berada disana. Ia akan mengabari keluarganya, begitulah kilahnya. Akhirnya petugas itu mengizinkan dia menggunakan telepon kejaksaan.


"Pa, kalian dimana sekarang. Tolong aku segera, aku sedang berada di kejaksaan karena kasus penyelewengan dana dan korupsi" terdengar suara seorang wanita yang tengah gusar.


"Hah ? kamu tertangkap ?" kaget suara dari seberang.


"Iya Pa, makanya cepat keluarkan aku dari sini" ujar wanita itu lagi.


"Tunggulah, Papa dan yang Kakak akan cari cara untuk membebaskanmu. Tapi nanti saat kau ditanya limpahkan saja semua pada suami bodoh kau itu" perintah seorang lelaki diseberang sana.


"Tentu saja, makanya aku meminta pisah ruangan dengan lelaki tak berguna itu" jawab wanita itu lagi.


"Yasudah, kau tunggu saja. Kami akan segera kesana bersama pengacara" putus orang yang ada diseberang telepon.


Sementara di ruangan lain Ayyub dan Hakim juga tengah mendengar percakapan itu bersama penyidik dari kejaksaan.


"Ternyata benar apa yang diduga istrimu Yub" ujar Hakim dengan tersenyum puas.


Memang benar, semua sudah direncanakan oleh Ayyub dan Hakim. Begitu juga saat kedatangan tim kepolisian dan penyidik di kediaman Kaisar hal ini juga yang diminta Ayyub pada petugas tersebut.

__ADS_1


Flasback on


"Mohon maaf sebelumnya Pak, saya ada sedikit permintaan saat nanti bapak sudah membawa mereka ke tahanan kejaksaan" ujar Ayyub pada petugas itu.


"Silahkan Pak, jika itu tidak melanggar hukum dan sesuai dengan kode etik kami. Kami akan sedia membantu" jawab petugas kejaksaan itu.


"Begini Pak, setelah nanti Bapak berdua pergi kami akan menyusul bapak dari belakang dan juga, saya minta Bapak dan tim menyediakan satu sambungan telepon dan menyambungkannya jika nanti istri dari kakak saya meminta izin untuk menelepon" jelas Ayyub.


"Hal ini untuk menambak bukti juga Pak dan kita akan tau nanti saat sama-sama mendengarkannya" tambah Ayyub.


"Baiklah Pak, akan kami laksanakan. Kami akan menunggu bapak di ruangan Jaksa" ujar petugas itu sebelum akhirnya berpamitan.


Setelah petugas itu pergi dan Mama sadar dari pingsannya. Ayyub dan Hakim segera menyusul mereka dengan mobil yang dikendarai oleh Hakim.


"Yub kenapa kamu meminta hal ini pada petugas tadi ?" tanya Hakim yang masih penasaran.


"Begini Bang, sebenarnya Ayyub juga gak terlalu paham tapi tadi saat Ayyub berbincang dengan Neera, dia mengatakan alangkah lebih baiknya jika kita bisa mendengar percakapan Kiki saat di kejaksaan nanti" begitu Bang.


"Neera bilang, biasanya orang yang ketakutan itu akan selalu panik dan berusaha mencari bantuan, saat itulah dia akan lengah dan secara tidak sadar akan mengekspos dirinya sendiri" ujar Ayyub menyampaikan apa pendapat istrinya tadi.


"Jadi itu juga alasanmu datang ke rumah hari ini ?" tanya Hakim.


"Iya Bang, salah satunya. Salah lain ya untuk melihat keadaan" ujar Ayyub.


"Semoga saja mereka masih belum sampai di ruangan, aku sudah berkoordinasi dengan tim disana untuk memperlambat proses masuknya sehingga kita tidak telat" harap Ayyub yang diamini oleh Hakim.


Begitulah akhirnya mereka sampai di kejaksaan dan langsung menuju ruangan jaksa yang bertugas untuk kasus ini dan menunggu telepon tersambung.


Flasback off


"Ternyata benar dugaan anda Pak dan saya juga berterima kasih karena hal ini juga mempermudah penyidikan kami" ujar Jaksa yang bertugas untuk kasus ini.


"Sama-sama Pak, kami juga berterima kasih atas bantuan Bapak dan tim dalam kasus ini. Bagaimanapun ini merupakan perusahaan keluarga kami" balas Ayyub.

__ADS_1


"Bapak tenang saja, kami akan berusaha menyelesaikan kasus ini dan menjatuhkan hukuman pada tersangka" jawab Jaksa itu kembali.


"Terima kasih Pak, kalau begitu kami berdua pamit undur diri karena ada hal lain yang harus kami urus" ujar Hakim.


"Ya, silahkan. Mari Pak saya antarkan keluar" jawab Jaksa itu yang akhirnya berjalan bersama dua bersaudara itu sembari diselingi oleh obrolan ringan.


Ayyub dan Hakim segera menaiki mobil mereka meninggalkan gedung Kejaksaan itu. Mereka berencana akan ke apartemen Ayyub untuk menjemput Neera karena setelah diberitau keadaan Mama, istrinya itu meminta untuk pergi ke kediaman Kaisar untuk membawa makanan yang sudah di buatnya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka sudah memasuki kawan elit tersebut, meninggalkan mobil di lobby untuk diparkirkan petugas dan segera menaiki lift yang akan membawa mereka bertemu Neera dan triplets.


Sambutan hangat mereka dapatkan saat memasuki kediaman mewah yang terasa menentramkan itu. Teriakan dan sorakan triplets seakan mengobati gundah yang mereka rasakan.


"Ayah, Uncle" ketiganya bersorak sembari mengembangkan lengannya meminta untuk digendong yang tentu saja tidak disia-siakan oleh dua lelaki dewasa itu.


Segera mereka rengkuh tubuh kecil itu dan membawanya dalam pelukan. Sementara Neera hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan buah hatinya sembari berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman dan menyajikan beberapa kue hasil karyanya.


"Silakah diminum dulu Uda, Abang Hakim" tawar Neera pada keduanya yang masih asik bermain dengan triplets.


"Iya, makasih adik ipar. Wah ada kue juga nih" jawab Hakim yang segera menuju meja untuk membasahi kerongkongannya yang sedari tadi terasa kering dan perut yang meronta minta diisi.


"Iya Bang, tadi triplets minta di buatkan kue. Kebetulan Neera buat lebih" balas Neera.


"Enak Neera, kalau nasi dan lauk ada tidak ?" cengir Hakim yang memang sudah akrab dengan keluarga kecil adiknya itu.


"Ada Bang, Neera baru selesai masak ini. Uda mau sekalian Neera siapin juga gak ?" jawab Neera sekaligus bertanya pada suaminya.


"Iya sayang, perut Uda juga sudah minta diisi" balas Ayyub dengan wajah melasnya.


Keduanya segera berjalan menuju meja makan sementara Neera sudah menghidangkan beberapa lauk yang masih mengepulkan asapnya.


Akhirnya keduanya makan dalam diam sembari menikmati makanan yang mamang terasa menggoyangkan lidah. Memang tidak diragukan lagi keahlian memasak wanita berdarah minang ini.


Selesai makan dan beristirahat sejenak, selapas dzuhur mereka berangkat menuju kediaman utama Kaisar. Neera juga sudah membawakan banyak makanan hasil masakannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2