
Malam ini semua keluarga Ayyub berkumpul di rumah utama. Mereka sengaja karena hari ini Ayyub pulang.
Semua orang sudah menuju meja makan karena sudah tertata dan siap disantap. Tinggal menunggu Ayyub yang katanya tengah membersihkan diri.
Dengan pakaian santai dan rambut setengah basah Ayyub keluar menuju meja makan.
Semua mata tertuju padanya terutama mata sang kakak yang sejak tadi mempelototi Ayyub.
"Kenapa sih kak gitu banget lihatnya. Makin ganteng ya" celutuk Ayyub.
"Ish bukan itu kali. Katanya kamu gak tau merk itu kenapa kamu punya baju 'Zanee' yang 'H' series lagi. Kamu dapat dimana ?"
"Hah ?! ini kak. Ya beli lah kak"
"Iya, kenapa kamu bisa dapat. Beli dimana, lagian kan ini 'H' series. Kakak dengar dari teman itu husband (suami) kepanjangannya. Kok kamu bisa dapat. Kakak mau beli buat suami kakak gak bisa malah kamu yang dapat. Lagian kan ini baru keluar bulan ini, kamu pesannya dari kapan ?" cecar kakak dengan berbagai tanya.
"Apaan sih kak, ya bisalah. Orang aku tau sama yang punya" santai Ayyub.
"Serius Yub ?! kamu tau sama yang punya. Kenapa gak bilang sih dari tadi. Gosipnya dia perempuan, cantik lagi. Serius kamu beneran kenal sama yang punya atau cuma sama designernya aja ?" antusias kakak Ayyub.
"Sama yang punya lah" ucap Ayyub. 'Orang dia istri aku kok' sambung Ayyub dalam hati sambil senyum tertahan.
"Mana mungkin, coba kakak lihat. Asli kan ini bukan kw ?" tanya kakak sambil memeriksa baju yang dikenakan Ayyub.
"Asli lah, enak aja bilang KW. Mana pernah aku punya begituan. Gak percayaan banget sih kak"
"Iya mana tau. Susah banget tau dapatinnya. Lah kamu tiba-tiba punya bikin kesel. Tau gitu kamu coba dong beliin kakak sama mama yang seri bulan depan. Kakak pengen banget Yub"
"Iya kan aku dapatnya kemarin di UK kak, bisa lah orang aku kenal yang punya brandnya" ucap Ayyub.
"Makanya Yub, kamu beliin kakak dong. Berapapun nanti kakak ambil deh" pinta sang kakak sambil memelas.
"Nanti deh Ayyub coba kalau masih bisa" singkat Ayyub.
"Kalau bisa, sama tasnya ya sekalian" tambah sang kakak.
"Yah sekarepmu lah kak"
"Adek juga mau dong, masa kakak aja" pinta Adek Ayyub.
"Mama juga yah Yub"
"Enak aja, emang Ayyub distributor pakai dipesanin segala"
"Ya mana tau Yub kamu ke UK ketemu langsung. Bikin keluarga senang pahala tau Yub"
__ADS_1
"Iya nanti deh Ayyub coba telpon"
"What ?! kamu punya nomor telponnya ?" tanya semua orang syok.
"Iya" jawab polos Ayyub. Ia sendiri bingung atas reaksi keluarganya.
"Gak mungkin, kamu pasti bohong ini. Kamu ngarang ya ?" selidik kakak Ayyub.
"Dih suuzhon banget sih. Nanti ya habis makan aku telponin"
"Udah, udah makan dulu. Papa sudah lapar nih" lerai papa Ayyub.
"Iya duduk dulu semua" tambah Abang Ayyub.
Sementara Ayyub masih betah dengan senyuman tipis yang berusaha ia tahan. Bagaimana jadinya jika keluarganya tau bahwa pemilik brand yang menjadi rebutan itu adalah istrinya. Menantu di keluarga mereka. Ayyub jadi tidak sabar.
Selesai makan semuanya pindah ke ruang keluarga untuk sekedar berbincang. Sedari tadi semua orang telah menatap Ayyub dengan mata yang lapar.
Baru saja ia mendudukkan pantat sudah dicecar dengan berbagai pertanyaan.
"Kapan kamu kenal dia ?"
"Apa kamu dekat dengannya ?"
"Kenapa kamu bisa kenal ?"
"Aduh, satu-satu dulu. Ayyub bingung mau jawab apa. Masak di bom bardir gini"
"Jadi siapa dia Yub ?" tanya papa mengawali.
"Itu pa, owner 'Zane' yang diributin kakak sama mama"
"Apakah kamu dekat dengannya. Desas-desusnya dia perempuan" sambung kakak.
"Iya dia perempuan dan aku memang dekat dengannya" santai Ayyub.
"Dekat gimana maksud kamu, apa kamu menjalin hubungan dengannya" tanya mama.
"Ya begitulah ma" jawab Ayyub tidak jelas.
"Begitu gimana maksud kamu. Katanya mau cari istri kamu itu, tapi dekat sama yang ini. Udah mendingan kamu sama yang ini aja Yub. Jelas juga kan orangnya, gak ngincerin harta kamu aja"
"Loh emangnya Neera incar harta Ayyub ma, selama nikah aja uang Ayyub gak dipake" sambung papa.
"Itukan karna mama pantau terus pa" bela mama.
__ADS_1
"Dipantau apanya, diperas iya" jawab Ayyub berbisik.
"Apa kamu bilang ?" tanya mama.
"Eh gak ada ma, cuma nyamuk lewat"
"Lagian dia pakai uang Ayyub juga wajar kali ma, malahan itu haknya dia sebagai istri" ucap papa.
"Papa jangan ikut-ikutan deh, mama gak suka aja sama dia. Keluarganya gak jelas" sungut mama.
"Mama gak tau aja, keluarganya yang punya peternakan sapi terbesar di negara kita. Malahan untuk di luar negri saja dia ikut suplay daging" cerita papa.
"Ah masa sih Pap, Papa salah kali. Orang dia tinggal di desa kok"
"Ya jelas lah dia tinggal di desa, peternakan dia disana bahkan hampir keseluruhan wilayah itu kepunyaannya. Belum lagi ayahnya juga arsitek dan dosen" sambung Abang Ayyub.
"Mana mungkin, orang dia kelihatan miskin kok" sambung kakak Ayyub.
"Yasudah kalo tidak percaya. Lihat saja profile perusahaannya. Disana ada foto dan data dirinya. Malahan setau papa Neera itu salah satu ownernya. Dia jantungnya perusahaan itu dan setau papa sih dia pemegang saham terbesar bersama ayahnya" jelas papa Ayyub.
Dalam keadaan syok mereka melakukan pencarian di google mengenai kebenaran berita itu.
Benar saja disana terpampang nyata sebagian mengenai keluarga Neera. Tentu saja hanya berkaitan dengan perusahaannya karena keluarga Neera terbilang tertutup untuk urusan pribadi.
"Berarti sekarang istri kamu di kampung halamannya dong ?" tanya mama Ayyub.
Baru saja Ayyub akan menjawab langsung disambar oleh papa.
"Kalau keberadaan Neera tidak satupun yang tau. Seperti ditelan bumi, tetapi dia masih tetap menjadi otak dari peternakannya. Setau papa dia yang mengatur pakan, gizi dan pengembangan peternakannya. Keluarganya sangat tertutup mengenai hal tersebut"
"Loh, gimana bisa pa. Emang papa tau dari mana semua itu ?" tanya mama.
"Ya bisa, kan bisa lewat internet. Papa cari tau lah, mama pikir papa bakal berpangku tangan saja melihat kepergian menantu. Mana tau ternyata papa sudah punya cucu" ucap Papa sembari melirik Ayyub yang sudah pasi.
Satu hal lagi yang dia tau, mengenai Neera bahwa ternyata istrinya itu pemegang saham terbesar dan otak dari perusahaan keluarganya.
"Yasudah kamu bawa saja dia kemari Yub" putus mama Ayyub.
"Si mama, giliran menantunya udah kaya disuruh kesini, dulu malah diusir. Kenapa gak ngotot lagi sama Vina mom" ujar Abang Ayyub.
"Yah mama gak berharap juga sih, coba aja kalau dia mau kesini" ucap mama gengsi.
"Hmmm yaudah deh, nanti aku coba kalau dia masih mau nerima aku ma" jawab Ayyub sedih.
Semua orang hanya bisa terdiam mendengar penuturan Ayyub yang sebenarnya dalam hatinya berbunga-bunga.
__ADS_1
Tidak perlu ia berkoar malah waktu yang selalu membuktikan siapa wanita luar biasa yang dinikahinya dulu.